Balita Dibaca 187 kali

Mempersiapkan Si Kecil Masuk Sekolah

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 12 Januari, 2019 06:01

Mempersiapkan Si Kecil Masuk Sekolah

Ketika si kecil pertama kali bersekolah, entah preschool atau TK, tentu Anda diliputi kecemasan sekaligus ekspektasi apakah ia akan sukses di hari pertamanya bersekolah atau justru sebaliknya. Sebagai orang tua, tentunya Anda berharap si kecil merasa senang di sekolah dan dapat berinteraksi dengan teman maupun pengajar dengan baik.

Tanda Anak Siapa Masuk Sekolah

Kebanyakan preschool menerima siswa mulai usia sekitar 2,5 tahun, tapi ini tidak berarti anak Anda siap untuk masuk sekolah di usia ini. Kesiapan masuk sekolah lebih menitik-beratkan pada perkembangan anak. Apakah ia siap secara sosial, emosi, fisik, dan kognitif untuk berpartisipasi pada program harian sekolah yang terstruktur bersama anak lain?

Cara terbaik untuk memutuskan apakah buah hati siap masuk sekolah adalah dengan meluangkan waktu untuk berpikir tentang kemampuan anak dan berbicara pada orang lain yang juga mengenalnya, seperti pasangan, dokter anak, dan pengasuh anak Anda.

Beberapa pertanyaan berikut akan membantu Anda mengetahui faktor paling penting dalam kesiapan anak masuk sekolah:

  1. Apakah anak dirawat orang lain selain Anda?

    Bila anak dirawat oleh pengasuh atau kerabat, ia akan lebih baik siap terpisah dari Anda ketika bersekolah. Anak yang terbiasa terpisah dari orang tuanya biasanya tidak bermasalah ketika masuk preschool. Bila anak belum punya kesempatan untuk terpisah dari Anda, coba jadwalkan anak tinggal bersama neneknya selama satu minggu, atau sehari bersama kakak Anda dan anak-anaknya.

    Tapi jangan terlalu khawatir bila Anda belum dapat melatih anak terpisah dari Anda. Banyak juga anak yang pertama kali bersekolah dan tidak mengalami masalah. Triknya adalah membantu anak menyesuaikan diri. Banyak preschool membolehkan orangtua menemani anak selama satu atau dua jam selama beberapa hari pertama. Anak tak perlu lagi didampingi setelah terbiasa dengan lingkungan barunya.


  2. Apakah si kecil cukup mandiri?

    Preschool menuntut anak memiliki kemampuan dasar tertentu. Misalnya, kebanyakan preschool menginginkan anak sudah menguasai potty training. Anak harus bisa memenuhi sendiri beberapa kebutuhan dasar seperti mencuci tangan setelah melukis, makan tanpa bantuan, dan tidur sendiri.


  3. Apakah ia siap berpartisipasi di aktivitas kelompok?

    Banyak aktivitas preschool, seperti kegiatan melingkar, membuat semua anak di kelas berpartisipasi di waktu yang bersamaan. Interaksi ini memberi anak kesempatan untuk bermain dan belajar bersama, tapi juga mengharuskan anak untuk duduk tenang, mendengar cerita, dan bernyanyi. Ini bisa sangat sulit untuk anak di bawah usia 3 tahun yang memang sangat aktif bereksplorasi dan tidak selalu siap untuk bermain dengan anak lain. Bila si kecil tidak terbiasa dengan kegiatan kelompok, Anda bisa mulai memperkenalkannya. Ajak ia ke acara membaca cerita atau bermain bersama anak lain.


  4. Apakah ia terbiasa dengan jadwal yang teratur?

    Preschool biasanya memiliki rutinitas yang teratur, seperti kegiatan melingkar, bermain, makan cemilan, hingga makan siang. Dengan begitu anak cenderung merasa lebih nyaman dan memiliki kontrol ketika hal yang sama terjadi pada waktu yang sama setiap hari.

    Jadi bila buah hati Anda tidak memiliki jadwal kegiatan harian yang teratur, ada baiknya membuat standar untuk kegiatan hariannya sebelum ia masuk preschool. Mulailah dengan menawarkan makanan pada waktu yang teratur. Anda bisa juga rencanakan bermain di taman pada tiap sore hari, dan disiplin dengan rutinitas menjelang waktu tidur seperti membacakan buku cerita.


  5. Apakah anak bisa menyelesaikan tugas sendiri?

    Preschool biasanya memiliki banyak kegiatan yang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan untuk fokus pada tugas individu. Bila di rumah anak suka menggambar atau bermain puzzle serta melakukan aktivitas lain sendiri, berarti ia sudah bisa masuk preschool.

    Tapi meski anak Anda termasuk yang banyak meminta bantuan, Anda bisa mulai mempersiapkannya dengan melakukan permainan yang bisa menghibur selama sekitar 30 menit. Misalnya ketika Anda mencuci piring, dorong anak untuk membuat sesuatu dari play dough. Perlahan biarkan ia bermain sendiri. Tujuannya adalah membuat anak memiliki aktvitas yang bisa ia lakukan sendiri tanpa terlalu banyak bergantung pada Anda.


  6. Apakah stamina fisik anak siap untuk masuk sekolah?

    Sekolah setengah hari atau sehari penuh, keduanya membuat anak sibuk. Ada kegiatan seni yang perlu diikuti, kunjungan ke berbagai tempat, dan area bermain untuk dieksplorasi. Apakah anak Anda mampu menjalani aktivitas seperti ini atau ia kesulitan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain tanpa merengek?

    Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana dan kapan anak tidur siang. Preschool biasanya menjadwalkan tidur siang setelah makan siang. Bila anak masih membutuhkan tidur di pagi hari, mungkin saat ini belum tepat baginya untuk mulai sekolah.

    Tapi Anda bisa membantu membangun stamina anak dengan memastikan ia mendapat tidur yang cukup di malam hari. Bila pihak sekolah tidak keberatan, anak bisa mengikuti program sekolah setengah hari saja untuk membuatnya terbiasa dengan kehidupan sekolah dan perlahan tambah durasi sekolahnya ketika ia merasa lebih nyaman.

     


  7. Kenapa Anda ingin memasukkan si kecil ke sekolah?

    Pikirkan dengan matang tujuan Anda memasukkan anak ke preschool. Apakah Anda hanya membutuhkan tempat penitipan untuk anak atau waktu untuk diri sendiri? Mungkin ada pilihan lain bila anak terlihat tidak siap untuk masuk sekolah.

    Apakah Anda khawatir bila anak tidak dimasukkan ke preschool ia tidak akan siap masuk TK? Kebanyakan ahli sepakat kalau ada banyak cara bagi anak untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan agar sukses masuk sekolah, termasuk dengan masuk preschool atau menghabiskan waktu di rumah bersama ibu atau pengasuh.  

    Sebuah penelitian menunjukkan kalau anak akan lebih baik bila dirawat oleh orang yang benar-benar peduli tentang kondisi dan perkembangannya serta orang yang memastikan anak melakukan aktivitas yang bervariasi  sesuai usianya. Anak tidak perlu masuk preschool untuk mendapat semua ini.

    Bila Anda merasa alasan utama memasukkan anak ke preschool adalah karena anak ingin mempelajari banyak hal baru dan bereksplorasi, di rumah ia tidak mendapat stimulasi  yang cukup, atau ia terlihat siap untuk memperluas lingkungan sosial dan berinteraksi dengan anak lain, kemungkinan saat ini jadi waktu yang tepat baginya untuk mulai sekolah.

Memilih Sekolah Yang Tepat

Ketika menemukan sekolah yang sepertinya cocok untuk buah hati Anda, ada baiknya melakukan kunjungan untuk melihat aktivitas kelas dan bertemu dengan guru-gurunya. Saat berada di sekolah, Anda bisa bertemu kepala sekolah, guru, serta orang tua lain untuk mendapat gambaran tentang keterlibatan orangtua serta lingkungan belajar anak.

Kesiapan sekolah juga perlu dipertimbangkan ya Bun. Orangtua  perlu memikirkan kondisi tertentu seperti kebutuhan khusus berupa penyakit atau keterbatasan lain yang bisa mempengaruhi emosi anak ketika mulai sekolah. Ketika anak atau keluarga memiliki kebutuhan khusus, penting untuk memastikan pihak sekolah bisa memfasilitasinya dan mendukung kebutuhan anak.

Tips Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

Memang wajar jika Anda cemas tak karuan menjelang buah hati Anda masuk sekolah pertama kali. Sebab kesuksesan di hari pertama sekolah sangat berpengaruh pada hari, bulan, dan tahun-tahun berikutnya.

Nah, supaya si kecil betah dan semangat pergi ke sekolah setiap hari, Anda perlu membekalinya jauh-jauh hari sebelum hari H sekolah tiba. Bagaimana mempersiapkan si kecil agar sukses bersekolah di hari pertama dan minggu-minggu pertamanya? Berikut kiat-kiatnya:

  • Pastikan si kecil mendapat tidur yang cukup. Ini penting sekali Bunda, karena anak bisa tidak mood bersekolah karena kelelahan atau kurang tidur. Mulai biasakan si kecil tidur cukup menjelang hari H sekolah dan terus lakukan kebiasaan tersebut saat anak sudah bersekolah. Di pagi hari, jangan membangunkan si kecil pada injury time berangkat sekolah karena ini bisa membuat anak rewel, bahkan mogok sekolah.

  • Biasakan sarapan. Ini juga tak kalah penting. Sarapan yang baik akan membantu anak berkonsentrasi di sekolah. Kalau si kecil termasuk yang pilih-pilih makanan, coba siapkan sarapan yang memang menjadi kesukaannya.

  • Bantu ajari si kecil. Di sekolah nanti buah hati Anda akan diajari membaca dan menulis. Agar ia tidak terlalu kaget saat di sekolah, biasakan belajar di rumah meski tidak seperti di sekolah. Rutinitas membacakan dongeng sebelum tidur baik untuk mengasah kemampuannya belajar. Setelah membaca dongeng, cobalah buat sedikit tanya-jawab yang membutuhkan jawaban lebih dari sekadar “ya” atau “tidak.” Jika si kecil gemar bernyanyi, Anda bisa juga mengajarinya beberapa lagu anak.

  • Buat permainan yang mendidik. Di sekolah, si kecil juga akan belajar berhitung. Karena itu, persiapkan dirinya untuk menghadapi pelajaran tersebut dengan membuat permainan angka. Misalnya menghitung jumlah mainannya, bermain percikan air sambil menghitung jumlah percikannya, dan sebagainya. Anda bisa juga meminta anak membantu Anda memotong kue atau pizza sambil menghitung jumlah potongannya. Atau jika sedang berbelanja, Anda bisa meminta si kecil menunjukkan angka-angka yang ada di daftar harga.

  • Beri pujian. Ingat, meski sudah bersekolah, buah hati Anda tetaplah anak-anak. Mereka belajar melalui permainan. Bersekolah juga bukan berarti ia harus langsung pintar dan berprestasi. Biarkan ia menikmati proses belajarnya dan ketika ia berhasil, berikan pujian. Hal ini akan membuatnya merasa dihargai. Namun jika sekolah membuat anak Anda gelisah dan tidak nyaman, coba bicarakan dengan gurunya.

  • Latih agar anak bisa duduk tenang. Bersekolah adalah salah satu pengalaman baru terbesar bagi anak dan itu tidak mudah. Tidak sedikit anak yang tidak mau duduk manis selama pelajaran dan memilih berlari-larian dan mengacak-acak ruangan seolah-olah ia masih di rumah atau di playground. Tugas Anda adalah menjelaskan kepada si kecil agar ia mau duduk tenang dan mendengarkan instruksi guru. Katakan padanya bahwa Anda percaya ia akan menjadi siswa yang baik jika ia mau mencoba. Coba latih kemampuan duduk tenang anak dengan sering mengajaknya ke perpustakaan atau museum.

  • Latih anak memahami instruksi. Agar si kecil terbiasa dengan instruksi dari gurunya, Anda perlu mengajarinya soal ini. Cobalah membuat permainan instruksi, ketika anak mengerti instruksi Anda, berikan hadiah. Misalnya dengan membuat permainan mencari harta karun. Minta anak mendengar baik-baik petunjuk dari Anda, lalu anak mencari “harta karun” yang telah Anda siapkan.

  • Jangan terlambat. Anak butuh waktu untuk masuk ke kelas sendiri dari pintu gerbang sekolah. Karena itu, usahakan datang lebih awal sehingga anak tidak terburu-buru masuk ke kelas.

  • Jangan emosi ketika anak nakal. Anda tentu gemas jika anak bertingkah di dalam kelas, menjahili temannya, dan melakukan tindakan usil lainnya. Tapi jangan emosi, ya Bunda. Justru Anda perlu membantunya memahami mengapa tidak boleh melanggar peraturan sekolah. Jelaskan pada si kecil bahwa peraturan dibuat agar anak-anak di sekolah aman dan tenang dalam belajar. Gunakan kata-kata yang positif, bukan larangan. Misalnya, kata “Ayo jalan” lebih enak didengar daripada “Jangan lari.” Biasakan mengatakan hal-hal positif seperti ini di rumah.

  • Jangan mempermalukan anak. Ketika anak tidak mau masuk ke dalam kelas atau berbuat masalah di pintu gerbang sekolah, hindari berteriak dan marah-marah saat itu juga. Anak akan merasa dipermalukan di depan teman-temannya. Jadi sebaiknya Anda membawanya ke tempat sepi lalu bicaralah dengan perlahan.

  • Minta bantuan guru jika si kecil di-bully. Ini cukup penting untuk diperhatikan para Bunda. Bullying adalah salah satu masalah terbesar yang kerap dialami anak di sekolah. Coba Anda perhatikan ketika anak pulang sekolah. Jika ia tampak gelisah, tidak nyaman, malas bersekolah keesokan harinya, bisa jadi ia di-bully temannya. Jika ini terjadi, segera diskusikan dengan guru kelasnya. Nantinya, guru anak Anda akan mengingatkan para siswa di kelas tentang bahaya mem-bully dan di-bully. Bullying sangat tidak dibenarkan dan harus segera dihentikan.

  • Mengulang pelajaran di rumah lewat permainan. Terkadang anak tidak menyukai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, atau bisa jadi ia merasa terlalu banyak informasi yang ia terima di kelas sehingga merasa bingung. Misalnya, ia benci pelajaran menggambar atau berhitung. Bagaimana menghadapi masalah anak seperti ini? Coba cari tahu mengapa si kecil tidak suka pelajaran-pelajaran tersebut. Bisa jadi alasannya karena ia menggambar atau berhitung tidak sebagus teman-temannya. Jika itu alasannya, coba ulangi pelajaran tersebut di rumah, namun dengan konsep menyenangkan. Tidak usah lama-lama, lima menit saja dalam sehari sudah cukup. Tentu, Anda baru bisa melakukan ini ketika anak tidak merasa lelah.

  • Beri tantangan untuk si pintar. Terkadang anak terlampau pintar untuk pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah. Ia merasa apa yang diajarkan sudah sangat dikuasainya. Jika anak Anda seperti ini, bicaralah dengan gurunya. Minta agar anak Anda diberikan tantangan lebih di kelas. Begitu di rumah, Anda bisa memberinya buku-buku yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari yang ia pelajari di sekolah.

  • Jadikan guru anak Anda sebagai sahabat. Guru adalah orangtua si kecil di sekolah. Karena itu jalinlah hubungan baik dengan guru anak Anda. Selalu berdiskusi dengan guru anak tentang apa saja yang terjadi di sekolah dan bagaimana perkembangan anak Anda dari hari ke hari. Sebaliknya, Anda juga harus bisa bekerja sama dengan guru ini. Jika Bu guru meminta Anda selalu menulis diary sekolah si kecil, lakukanlah. Jika guru meminta Anda membantunya membacakan buku setiap malam, kerjakanlah. Hubungan sekolah-rumah yang konstruktif akan membantu anak lebih baik lagi di sekolah. Setuju, kan, Bunda?
(Ismawati)