Kehamilan Dibaca 20,276 kali

6 Penyebab Pendarahan Saat Hamil

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
6 Penyebab Pendarahan Saat Hamil

Pasti menakutkan rasanya bila ada darah keluar dari vagina saat hamil. Jika kondisi ini terjadi, Ibu harus segera menghubungi dokter atau bidan, walaupun pendarahan yang dialami sudah berhenti. Pendarahan saat hamil bisa menjadi tanda dari masalah kehamilan yang serius, meski memang pada sebagian besar kasus pendarahan bukanlah masalah yang perlu dikhawatirkan.

Saat berkonsultasi ke dokter, Ibu mungkin akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan fisik, USG, dan tes darah untuk memastikan Ibu dan bayi dalam kondisi baik dan tidak mengalami komplikasi. Segeralah ke rumah sakit bila pendarahan saat hamil yang Ibu alami semakin banyak dan muncul rasa sakit yang amat sangat.

Bercak darah dan pendarahan tidak sama ya, Bu. Bercak darah saat hamil biasanya hanya berupa pendarahan ringan, mirip dengan apa yang Ibu alami di awal atau akhir masa menstruasi. Warna darah yang keluar bisa bervariasi dari merah muda hingga kecokelatan (warna darah kering). namun, jika darah berwarna merah cerah, itu berarti Ibu mengalami pendarahan saat hamil. Selain itu, bercak darah biasanya tidak sampai membasahi pembalut, tapi pendarahan bisa banyak jumlahnya.

Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab bercak dan pendarahan saat hamil, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

  1. Infeksi

    Bercak darah saat hamil bisa disebabkan oleh kondisi yang tidak berhubungan dengan kehamilan. Infeksi vaginal seperti infeksi jamur atau bakteri, serta infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, seperti gonorrhea, chlamydia, atau herpes, bisa menyebabkan serviks menjadi iritasi atau meradang. Serviks yang mengalami peradangan lebih rentan mengalami bercak darah setelah berhubungan intim saat hamil.

  2. Hubungan intim

    Selama hamil, aliran darah yang mengalir ke serviks semakin deras. Jadi wajar bila muncul bercak darah setelah berhubungan intim saat hamil. Tumor pada serviks juga bisa menyebabkan bercak atau pendarahan setelah berhubungan intim.

  3. Keguguran atau kehamilan ektopik

    Bercak atau pendarahan saat hamil, khususnya di trimester pertama, yang disertai rasa sakit pada perut atau kram, bisa menjadi tanda awal keguguran atau kehamilan ektopik (di mana embrio berada di luar rahim, biasanya pada tuba falopi). Kehamilan ektopik bisa mengancam keselamatan, itulah sebabnya sangat penting untuk segera memberi tahu dokter jika Ibu mengalami pendarahan saat hamil atau nyeri pada perut di trimester pertama.

    Sekitar seperempat dari ibu hamil di dunia biasanya mengalami bercak atau pendarahan di awal kehamilan, dan sekitar setengahnya mengalami keguguran. Namun, jika Ibu sudah menjalani USG yang menunjukkan detak jantung bayi normal pada kehamilan antara minggu 7 hingga 11, Ibu punya peluang lebih dari 90% di mana kehamilan dapat dilanjutkan dalam kondisi sehat untuk.

  4. Pemeriksaan dalam atau pemeriksaan vagina

    Bercak darah saat hamil juga bisa muncul setelah menjalani pemeriksaan dalam atau pemeriksaan vagina.

  5. Masalah pada plasenta atau persalinan prematur

    Pada trimester kedua atau ketiga, bercak atau pendarahan saat hamil bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang serius, seperti placenta previa, abrupsi plasenta (plasenta terpisah dari rahim), keguguran pada usia kehamilan13 minggu dan pertengahan kehamilan, atau persalinan prematur yang bisa terjadi di  pertengahan kehamilan hingga usia kehamilan 37 minggu.

    Penelitian menunjukkan jika bumil mengalami pendarahan di awal kehamilan, biasanya akan ada kemungkinan besar untuk mengalami komplikasi kehamilan, seperti kelahiran prematur atau abrupsi plasenta, khususnya bila terjadi pendarahan berat.

  6. Sudah mendekati waktu persalinan

    Bercak atau pendarahan saat hamil tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan. Ibu juga bisa mengalami pendarahan bila serviks mulai terbuka saat tubuh mempersiapkan persalinan. Jika Ibu telah mencapai usia kehamilan 37 minggu, bercak darah yang keluar dari vagina bukanlah masalah yang serius.

    Bila darah Ibu Rh negatif, Anda perlu mendapat suntikan kekebalan globulin Rh ketika mengalami pendarahan vaginal, kecuali Ibu tahu pasti darah ayah bayi juga Rh negatif atau pendarahan yang terjadi bukan berasal dari rahim.

Penyebab Pendarahan Saat Hamil Berdasarkan Usia Kehamilan

  1. Pada trimester pertama, pendarahan saat hamil bisa disebabkan oleh:

    • Kehamilan ektopik, di mana sel telur yang telah dibuahi berada di luar rahim. Kondisi ini sangat membutuhkan perhatian medis. Jika mengalami ini, ibu akan merasakan sakit yang menusuk-nusuk, kram, disertai mual, muntah, pusing atau lemah.

    • Kehamilan molar, merupakan kondisi yang jarang ditemukan, di mana plasenta berubah menjadi kista, disertai bentuk embrio yang tidak bagus. Saat mengalami ini, Ibu akan merasa mual, muntah dan kram yang berat.

  2. Pada trimester kedua atau ketiga pendarahan saat hamil bisa dikarenakan:

    • Persalinan prematur, atau persalinan yang dimulai setelah usia kehamilan 20 minggu dan sebelum usia kehamilan 37 minggu, disertai tanda persalinan lain, termasuk kontraksi yang teratur, sakit punggung dan tekanan pada panggul. Jika Ibu merasa tanda-tanda persalinan prematur, segera hubungi dokter atau bidan.

    • Abrupsi plasenta, di mana hampir selalu terjadi pada pertengahan kehamilan dan biasanya di trimester ketiga. Saat mengalami abrupsi plasenta, ada pemisahan plasenta dari dinding rahim. Ibu juga akan merasakan sakit pada perut atau kram serta nyeri pada bagian belakang perut. Jika bersifat ringan, risiko bahaya bagi Anda dan janin terbilang kecil. Tapi bila sudah parah, risiko bagi janin bisa lebih tinggi.

Yang perlu diingat, bercak darah ringan umum terjadi saat hamil dan biasanya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan pendarahan berat yang terjadi sampai membasahi pembalut bisa menjadi tanda bagi Ibu untuk segera menghubungi dokter. Setiap pendarahan yang Anda alami tidaklah selalu menjadi tanda bahwa Ibu akan mengalami keguguran. Beberapa Ibu hamil ada yang mengalami pendarahan berat saat hamil, tapi masih bisa melahirkan bayi yang sehat.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan pendarahan. Yang bisa Ibu lakukan saat mengalami pendarahan saat hamil adalah segera menghubungi dokter. Bila Ibu mengalami pendarahan berat, dokter bisa melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah serviks telah membuka. Jika sudah terbuka, kemungkinan keguguran memang akan lebih besar. Tapi jika dokter melakukan USG dan detak jantung bayi masih terdeteksi, kemungkinan untuk melanjutkan kehamilan bisa menjadi lebih besar.

Bila pada akhirnya Anda mengalami keguguran, yakinkan diri bahwa tidak ada yang salah dengan diri Anda dan Anda tidak sendirian. banyak Ibu yang juga mengalami keguguran, setidaknya sekali dalam kehidupan mereka. Bahkan banyak Ibu yang mengalami keguguran bahkan sebelum mereka sadar kalau sedang hamil.

(Ismawati)