Kehamilan

6 Penyebab Pendarahan Saat Hamil

Terakhir diperbaharui

6 Penyebab Pendarahan Saat Hamil
Pasti menakutkan rasanya bila ada darah keluar dari vagina saat hamil, ya Bun? Bila muncul bercak darah atau terjadi pendarahan di saat Anda hamil, segera hubungi dokter atau bidan, walaupun pendarahan sudah berhenti. Hal ini bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan yang serius. Apa yang dilakukan dokter selanjutnya akan bergantung pada kondisi individual Anda.

Bunda mungkin memerlukan evaluasi, yang bisa berupa pemeriksaan fisik, USG, dan tes darah, untuk memastikan Anda dan bayi dalam kondisi baik dan tidak mengalami komplikasi. Segera ke rumah sakit bila pendarahan yang Bunda alami semakin banyak dan muncul rasa sakit yang amat sangat.

Bercak darah dan pendarahan tidak sama ya Bunda. Bercak hanya berupa pendarahan ringan, mirip dengan apa yang Anda alami di awal atau akhir masa menstruasi. Warna darah yang keluar bisa bervariasi dari merah muda hingga kecokelatan (warna darah kering). Jika darah berwarna merah cerah, itu berarti Bunda mengalami pendarahan. Selain itu, bercak tidak membasahi pembalut, tapi pendarahan bisa banyak jumlahnya.

Sebenarnya penyebab bercak dan pendarahan prenatal tidak tentu. Berikut ini adalah beberapa penyebab umumnya:

Infeksi

Bercak darah bisa disebabkan oleh kondisi yang tidak berhubungan dengan kehamilan. Infeksi vaginal seperti infeksi jamur atau bakteri serta infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual seperti gonorrhea, chlamydia, atau herpes bisa menyebabkan serviks menjadi iritasi atau meradang. Serviks yang mengalami peradangan lebih rentan mengalami bercak setelah berhubungan seks atau Pap smear.

Hubungan seks

Selama hamil, akan semakin banyak darah yang mengalir ke serviks, jadi wajar bila muncul bercak darah setelah berhubungan seks. Tumor pada serviks juga bisa menyebabkan bercak atau pendarahan setelah berhubungan seks.

Keguguran atau kehamilan ektopik

Bercak atau pendarahan di trimester pertama, khususnya bila disertai rasa sakit pada perut atau kram, bisa menjadi tanda awal keguguran atau kehamilan ektopik (dimana embrio tertanam di luar rahim, biasanya pada tuba falopi). Kehamilan ektopik bisa mengancam keselamatan, itulah sebabnya sangat penting untuk segera memberi tahu dokter jika Anda mengalami pendarahan atau sakit di trimester pertama.

Hingga seperempat dari wanita hamil mengalami bercak atau pendarahan di awal kehamilan, dan sekitar setengahnya mengalami keguguran. Tapi jika Anda menjalani USG yang menunjukkan detak jantung bayi normal pada kehamilan antara minggu 7 hingga 11, kemungkinan Bunda untuk dapat melanjutkan kehamilan akan lebih besar dari 90 persen.

Pemeriksaan dalam atau Pap smear

Bercak darah juga bisa muncul setelah menjalani Pap smear atau pemeriksaan dalam.

Masalah pada plasenta atau persalinan prematur

Pada trimester kedua atau ketiga, pendarahan atau bercak bisa menjadi tanda untuk kondisi yang serius, seperti placenta previa, abrupsi plasenta (plasenta terpisah dari rahim), keguguran pada minggu 13 dan pertengahan kehamilan, atau persalinan prematur yang bisa terjadi pada pertengahan kehamilan hingga minggu 37.

Penelitian menunjukkan jika bumil mengalami pendarahan di awal kehamilan, akan ada kemungkinan besar untuk mengalami komplikasi, seperti kelahiran prematur atau abrupsi plasenta, khususnya bila terjadi pendarahan berat.

Mendekati waktu persalinan

Bercak atau pendarahan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan. Anda bisa mengeluarkan lendir bila serviks mulai membuka karena tubuh mempersiapkan persalinan. Warnanya menyerupai darah. Jika Bunda telah mencapai usia kehamilan 37 minggu, lendir yang keluar dari vagina bukanlah masalah yang serius.

Bila darah Anda Rh negatif, Anda perlu mendapat suntikan kekebalan globulin Rh ketika mengalami pendarahan vaginal, kecuali Anda tahu pasti darah ayah bayi juga Rh negatif atau pendarahan yang terjadi bukan berasal dari rahim.

Untuk lebih rinci, berikut ini adalah penyebab pendarahan berdasarkan waktu kehamilan.

Pada trimester pertama, pendarahan bisa disebabkan oleh:

  • Kehamilan ektopik, dimana sel telur yang telah dibuahi tertanam di luar rahim, yang segera membutuhkan perhatian medis. Anda akan merasakan sakit yang tajam, kram, disertai mual, muntah, pusing atau lemah.

  • Kehamilan molar, merupakan kondisi yang jarang ditemukan dimana plasenta berubah menjadi kista disertai bentuk embrio yang tidak bagus. Anda akan merasa mual, muntah dan kram yang berat.

Pada trimester kedua atau ketiga pendarahan bisa dikarenakan:

  • Persalinan prematur, atau persalinan yang dimulai setelah minggu 20 dan sebelum kehamilan minggu 37, disertai tanda persalinan lain termasuk kontraksi yang teratur, sakit punggung dan tekanan pada panggul. Jika Anda merasa tanda-tanda persalinan prematur, segera hubungi dokter atau bidan.

  • Abrupsi plasenta, dimana hampir selalu terjadi pada pertengahan kehamilan dan biasanya di trimester ketiga. Abrupsi plasenta berarti terjadi pemisahan plasenta dari dinding rahim. Anda juga merasakan sakit pada perut atau kram serta nyeri pada bagian belakang perut. Jika bersifat ringan, resiko bahaya bagi Anda dan janin masih kecil. Tapi bila sudah parah, resiko bagi bayi bisa lebih tinggi.

Yang perlu diingat, bercak darah ringan umum terjadi saat hamil dan biasanya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan pendarahan berat yang bisa sampai membasahi pembalut menjadi tanda bagi Anda untuk segera menghubungi dokter. Setiap pendarahan yang Anda alami tidaklah selalu menjadi tanda bahwa Bunda akan mengalami keguguran. Beberapa wanita ada yang mengalami pendarahan berat ketika hamil, tapi masih bisa melahirkan bayi yang sehat.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan pendarahan. Yang bisa dilakukan adalah jika Anda merasa khawatir, jangan ragu untuk menghubungi dokter. Bila Anda mengalami pendarahan berat, dokter bisa melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah serviks telah membuka. Jika ya, kemungkinan keguguran memang akan lebih besar. Tapi jika dokter melakukan USG dan detak jantung bayi masih terdeteksi, kemungkinan untuk melanjutkan kehamilan bisa menjadi lebih besar.

Bila pada akhirnya Anda mengalami keguguran, yakinkan diri bahwa tidak ada yang salah dengan diri Anda dan Anda tidak sendirian. Kebanyakan wanita mengalami keguguran setidaknya sekali dalam kehidupan reproduksi mereka. Ada banyak yang mengalaminya bahkan sebelum mereka menyadari kalau sedang hamil.

(Ismawati)