Kelahiran

Bayi Sering Pup? Yuk, Ketahui Frekuensi BAB Normal pada Bayi

Bayi Sering Pup? Yuk, Ketahui Frekuensi BAB Normal pada Bayi

Setiap orangtua perlu mengetahui ciri-ciri BAB normal pada bayi. Ini karena warna maupun bentuk feses bayi dapat menjadi salah satu indikator kesehatan si kecil. Dengan mengetahui tanda BAB normal pada bayi, orangtua jadi bisa lebih waspada jika suatu hari BAB si kecil tidak berwujud seperti biasanya. Mungkin teksturnya yang berubah, atau warnanya yang berbeda. Tanda BAB yang tidak normal ini juga bisa membantu dokter mendiagnosis gejala penyakit yang mungkin diderita si kecil, sehingga penanganannya tidak terlambat.

Tanda BAB normal pada bayi bisa berbeda-beda, tergantung usia bayi. Di satu tahun pertama kehidupannya, bayi akan mengalami perubahan berbagai warna kotoran karena pola makannya yang berubah. Semua tergantung dari apa yang dikonsumsi bayi, termasuk apakah ia hanya minum ASI saja, susu formula, atau kombinasi keduanya. Penting juga untuk dipahami bahwa BAB normal pada orang dewasa tidak serta merta berlaku untuk kotoran bayi. Ini termasuk warna, tekstur, dan frekuensinya.

Frekuensi BAB Normal pada Bayi 0-12 Bulan

Mengetahui berapa kali bayi BAB dalam sehari juga penting, di samping memerhatikan tekstur dan warnanya. Ini karena frekuensi bayi BAB bisa jadi pertanda apakah bayi mendapat asupan cairan yang cukup. Berikut adalah daftar frekuensi BAB normal pada bayi yang berusia antara 0-12 bulan:

  • Bayi usia 0-7 hari

    Dilansir dari laman What to Expect, bayi baru lahir akan mengeluarkan feses berwarna hitam dan agak lengket yang disebut mekonium. Warna hitam diperoleh dari zat empedu yang terkandung dalam feses serta zat lain yang ditelan bayi saat masih dalam kandungan. Selama 24 jam pertama setelah lahir, bayi setidaknya harus BAB satu kali. BAB pertama ini dibantu oleh kolostrum tinggi gula yang terdapat pada ASI yang bisa berfungsi sebagai pencahar sehingga mendorong mekonium keluar.

    Sejak lahir sampai beberapa hari setelahnya, bayi bisa mengalami frekuensi BAB sampai empat kali dalam sehari. Bahkan ada juga yang BAB setiap habis selesai menyusu, atau mencapai 12 kali dalam sehari. Hal ini masih tergolong normal, selama bayi tidak menunjukkan rasa tidak nyaman.

  • Bayi usia 3 bulan

    Saat bayi menginjak usia sekitar 12 minggu, ia bisa BAB satu hingga delapan kali dalam sehari, tergantung bagaimana kondisi sistem pencernaannya. Bayi yang full mengonsumsi ASI seringkali tidak BAB bahkan sampai 1 minggu hingga 10 hari, lo. Jika kondisi ini terjadi, Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir, tentu selama bayi masih merasa nyaman ya. Ini berarti tandanya ASI yang dikonsumsi bayi terserap dengan baik. Sementara untuk bayi yang mengonsumsi susu formula, rata-rata frekuensi BAB-nya bisa dua kali dalam sehari, meski bisa lebih sering juga.

  • Bayi usia 4 bulan

    Umumnya, frekuensi BAB bayi akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia, terlepas dari apakah ia hanya minum ASI, atau ada tambahan susu formula. Bayi usia 4 bulan yang belum makan makanan padat, biasanya akan mengeluarkan feses dua hingga tiga kali dalam sehari. Bryan Vartabedian, M.D., seorang ahli gastroenterologi anak di Houston, seperti dikutip dari laman Parents, mengatakan bahwa frekuensi BAB bayi sebenarnya tidak sepenting tekstur atau warna feses itu sendiri. Menurutnya, tidak apa-apa jika bayi hanya BAB satu atau dua kali sehari, selama fesesnya tetap lunak, berat badannya bertambah, tidak menunjukkan gejala sakit perut atau kembung, serta tidak terlihat tersiksa saat BAB.

  • Bayi usia 6-12 bulan

    Setelah bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), Ibu mungkin akan mulai melihat adanya perbedaan pada frekuensi serta konsistensi BAB si kecil. Di usia ini bayi mungkin akan lebih jarang buang air kecil, tetapi BAB-nya menjadi lebih teratur dari hari ke hari, biasanya satu kali dalam sehari. Meski begitu frekuensi dan volume BAB bayi di usia ini akan sangat bervariasi. Jika Ibu atau Ayah melihat si kecil belum buang air besar atau mengalami diare lebih dari seminggu, segera hubungi dokter karena bisa jadi sistem pencernaannya sedang bermasalah.

Warna BAB Normal pada Bayi

Selain dari frekuensi, mengetahui BAB normal pada bayi juga bisa dilakukan dengan melihat warna fesesnya. Berikut ini warna BAB normal pada bayi dan warna feses yang mengindikasikan penyakit tertentu, seperti dikutip dari Healthline:

  1. Warna BAB hitam

    BAB bayi yang baru lahir kemungkinan besar berwarna hitam dengan konsistensi seperti tar. Feses seperti ini biasa disebut mekonium, mengandung lendir, sel kulit, dan cairan ketuban yang tertelan bayi. Ini termasuk BAB normal pada bayi baru lahir, namun bisa jadi tidak normal jika berlangsung lebih dari beberapa hari.

  2. Warna BAB kuning mustard

    Setelah mekonium keluar, feses bayi yang baru lahir mungkin berwarna kuning mustard. Warna feses ini juga umum terjadi pada bayi yang minum ASI. Teksturnya lembut dan lunak, bahkan agak sedikit cair seperti diare pada orang dewasa. Namun, ini masih tergolong BAB normal pada bayi.

  3. Warna BAB kuning cerah

    Kotoran bayi ASI terkadang juga berwarna kuning cerah. Hal ini masih normal dialami bayi. Namun jika feses berwarna kuning cerah lebih sering keluar dari biasanya dengan tekstur yang sangat encer, bisa jadi ini pertanda diare. Diare yang tidak diobati bisa meningkatkan risiko dehidrasi.

  4. Warna BAB oranye

    Feses bayi berwarna agak oranye muncul karena adanya pigmen yang terkumpul di saluran pencernaan bayi. Warna BAB ini biasa terjadi pada bayi yang diberi ASI dan terkadang susu formula. Ini masih termasuk warna BAB normal pada bayi.

    Warna BAB merah

    Terkadang kotoran bayi juga bisa berubah menjadi merah karena makanan dan minuman berwarna serupa yang telah mereka konsumsi, seperti jus tomat atau bit. Kotoran berwarna merah juga bisa menandakan ada darah di feses si kecil akibat infeksi usus. Darah merah pada kotoran bayi juga dapat terjadi karena alergi susu atau fisura anus. Sebaiknya hubungi dokter anak jika feses bayi berwarna merah. Tapi jika ia baru saja makan makanan berwarna merah, Ibu atau Ayah dapat mempertimbangkan untuk menunggu apakah kotoran berikutnya kembali ke warna normalnya sebelum memutuskan menghubungi dokter.

  5. Warna BAB kombinasi cokelat kehijauan dan kuning

    Bayi yang diberi susu formula mungkin memiliki kotoran yang warnanya merupakan kombinasi dari cokelat kehijauan dan kuning. Kotorannya juga lebih padat dibandingkan kotoran bayi yang hanya menyusu ASI. Tapi ini masih tergolong BAB normal pada bayi kok, Bu.

  6. Warna BAB hijau tua

    Kotoran berwarna hijau tua paling sering terjadi pada bayi yang memulai makanan padat berwarna hijau, seperti bayam dan kacang polong. Suplemen zat besi juga dapat menyebabkan kotoran bayi menjadi hijau. Jadi warna BAB hijau tua termasuk BAB normal pada bayi, ya!

  7. Warna BAB putih

    Warna feses berubah menjadi putih dapat menjadi pertanda bahwa bayi tidak menghasilkan cukup empedu di hatinya untuk membantunya mencerna makanan dengan baik. Ini masalah serius. Kotoran bayi berwarna putih yang dialami bayi di usia berapapun harus segera mendapat penanganan dokter anak.

  8. Warna BAB abu-abu

    Seperti kondisi feses berwarna putih, kotoran bayi berwarna abu-abu bisa mengindikasikan adanya gangguan tertentu dalam sistem pencernaan anak. Segera hubungi dokter jika warna BAB bayi abu-abu atau mirip warna kapur.

Bentuk dan Tekstur BAB Normal pada Bayi


Orangtua juga penting untuk mengetahui bagaimana bentuk dan tekstur BAB normal pada bayi. Kombinasi antara warna dan tekstur feses bayi dapat memberi informasi tentang kesehatan bayi dan kemungkinan penyakit yang ia alami. Bagaimana bentuk dan tekstur BAB normal pada bayi?

  1. Konsistensi BAB bayi baru lahir

    Feses bayi baru lahir memiliki konsistensi yang tebal seperti tar. Hal ini normal, dan akan berubah menjadi agak lembek dan menguning beberapa hari setelah ia lahir. Hubungi dokter jika BAB bayi tidak kunjung berubah setelah usianya seminggu lebih, karena bisa jadi ini pertanda bahwa ia tidak mendapat cukup ASI.

  2. Konsistensi BAB bayi full ASI

    Bayi yang diberi ASI memiliki feses yang lebih lembek atau cair dan mungkin mengandung zat yang bentuknya menyerupai biji. Ini termasuk BAB normal pada bayi ASI dan bukan berarti ia sedang diare.

  3. Konsistensi BAB bayi yang diberi susu formula

    Bayi yang diberi susu formula cenderung memiliki kotoran lebih padat berwarna cokelat atau cokelat dengan sedikit warna hijau dan kuning. Si kecil juga mungkin mengalami konstipasi jika ia terlihat berusaha keras saat buang air besar dengan feses yang juga keras.

  4. Konsistensi BAB bayi yang baru makan makanan padat

    Setelah bayi mulai makan makanan padat, konsistensi BAB-nya mungkin mulai tampak seperti feses orang dewasa. Baunya juga mulai menusuk akibat gula dalam buah atau sayuran yang mengubah jumlah dan jenis bakteri di usus besar anak.

  5. Potongan makanan pada BAB bayi

    Setelah bayi mulai makan makanan padat, Ibu mungkin melihat potongan makanan muncul di kotorannya. Ini karena beberapa makanan tidak dapat dicerna dan akan dengan cepat melewati sistem pencernaannya.

Bagaimana Bentuk dan Tekstur BAB yang Tidak Normal pada Bayi?


  1. Konsistensi BAB bayi yang sembelit

    Feses bayi yang sedang mengalami sembelit bisa jadi sangat keras dan sulit dikeluarkan. Terkadang kotorannya juga menyerupai kerikil berwarna cokelat tua. Jika si kecil mengalami sembelit dan terlihat lebih rewel dari biasanya, segera hubungi dokter ya, Bu!

  2. Konsistensi BAB bayi yang diare

    Kebalikan dari sembelit, bayi yang mengalami diare akan mengeluarkan tinja yang encer. Ia juga akan BAB lebih dari sekali setiap setelah makan. Sebenarnya agak sulit menentukan diare pada bayi yang belum makan makanan padat, karena ia memang biasa BAB lebih dari sekali dalam sehari. Tidak ada salahnya Ibu atau Ayah berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apakah si kecil mengalami diare atau tidak.

  3. BAB berlendir atau berbusa

    Tekstur BAB yang berlendir atau berbusa, terkadang dapat terjadi saat bayi mengeluarkan air liur karena tumbuh gigi, kemudian menelan air liurnya kembali. Namun, jika bayi Ibu tidak dalam fase tumbuh gigi akan tetapi fesesnya berlendir atau berbusa, bisa jadi ada indikasi infeksi bakteri di usus bayi sehingga si kecil memerlukan perawatan khusus.

  4. BAB berdarah

    Darah yang terdapat pada feses bayi bisa muncul karena ia mengejan terlalu keras saat mengalami sembelit. Sedikit darah juga mungkin akan ditemukan di fesesnya jika bayi tidak sengaja menggigit puting Ibu hingga berdarah dan menelan darahnya. Selain itu, darah di tinja juga bisa mengindikasikan adanya penyakit serius pada anak. Jangan ragu untuk menghubungi dokter ya!

Kapan Orangtua Perlu Waspada?


Sejatinya, warna, tekstur, dan frekuensi BAB bayi itu berfluktuasi. Semua itu dipengaruhi oleh asupan yang ia konsumsi dan usia bayi. Berikut beberapa gangguan kesehatan yang berhubungan dengan feses bayi dan kapan orangtua perlu menghubungi dokter:

  • Kemungkinan diare

    Jika tinja si kecil berubah menjadi encer, berair, dan frekuensi BAB lebih sering dari biasanya, kemungkinan besar ada virus di pencernaannya. Diare parah biasanya berlangsung sekitar 10-12 hari. Penyebabnya bisa dari tangan yang kotor, alergi susu atau makanan, perubahan pola makan dari Ibu yang masih menyusui, asupan jus yang berlebihan, atau penggunaan antibiotik tertentu.

    Hubungi dokter jika konsistensi BAB bayi encer dan berair selama lebih dari tiga hari, terlebih jika si kecil masih berusia di bawah 3 bulan, atau jika diare disertai dengan muntah, bahkan sampai ada darah di fesesnya. Sebenarnya diare dengan kasus ringan akan hilang sendiri dalam 2 hingga 5 hari. Namun, jika si kecil menolak minum, ia bisa berisiko dehidrasi. Segera bawa ke dokter kalau Ibu atau Ayah menemukan tanda-tanda dehidrasi seperti ada titik cekung di kepala, mata cekung, menangis tanpa air mata, mulut kering, jarang buang air kecil, kulit berubah warna atau jadi keriput, lesu, dan menolak makan.

  • Kemungkinan konstipasi

    Bayi kerap mengalami konstipasi yang disebabkan sejumlah faktor, seperti konsumsi susu formula kedelai, perubahan pola makan, atau asupan susu yang berlebihan. Ini dapat menyebabkan feses menjadi keras, sulit dikeluarkan, disertai frekuensi BAB yang menjadi jarang.

    Jika si kecil belum BAB dua sampai tiga hari, tekstur tinja keras dan kering, serta ia terlihat berusaha ekstra saat mengejan, kemungkinan bayi mengalami konstipasi. Orangtua dapat melakukan pertolongan pertama dengan memberi bayi minum lebih banyak. Jika bayi berumur 6 bulan ke atas, tawarkan yoghurt atau jus apel yang dicampur dengan sedikit gula. Gula yang terkandung di dalamnya dapat membantu melunakkan kotoran. Hindari penggunaan obat pencahar tanpa saran dari dokter. Segera hubungi dokter jika BAB anak mengeluarkan darah dan ia tampak kesakitan saat mengejan.

Selain itu, bentuk dan tekstur BAB bayi yang tidak normal seperti yang sudah disebutkan di atas juga bisa jadi pertanda adanya gangguan pada kesehatan si kecil. Segera konsultasikan ke dokter anak bila Ibu atau Ayah menemukan BAB yang tidak biasa itu pada bayi ya!

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih