Keluarga

10 Tips Menjalani Kehidupan Pernikahan yang Setara dan Bahagia

Yusrina
10 Tips Menjalani Kehidupan Pernikahan yang Setara dan Bahagia

“A happy marriage is about three things: memories of togetherness, forgiveness of mistakes and a promise to never give up on each other,” – Surabhi Surendra.

Pernikahan yang bahagia tidak terjadi begitu aja. Ada upaya dan juga saling memahami antara suami dan istri yang menjadi rahasia pernikahan bahagia. Kehidupan pernikahan bukan hanya tentang mewahnya resepsi, sakralnya acara adat saat akad nikah, berapa banyak mahar yang diberikan atau bagaimana mewujudkan pesta pernikahan impian sejak lama. 

Kehidupan pernikahan juga bukan tentang kisah bulan madu romantis dambaan setiap orang, atau bagaimana romansa terjalin indah. Lebih dari itu, kehidupan pernikahan adalah hubungan antara dua insan yang memerlukan empati, kasih sayang, dan pengorbanan agar terwujud menjadi pernikahan yang bahagia. Ada rahasia dalam setiap kehidupan pernikahan yang menjadikannya bahagia.

Salah satu rahasia pernikahan yang bahagia adalah kesetaraan. Mungkinkah menjalani kehidupan pernikahan yang setara? Ada banyak perspektif terkait hal ini. Sebagian orang mungkin menganggap kehidupan pernikahan adalah beban, karena dipenuhi tanggung jawab dan proporsi tugas yang kadang dilekatkan dengan stereotipe gender. Namun, sesungguhnya pernikahan yang bahagia itu sangat mungkin diwujudkan. Bahkan bisa dibilang mudah diwujudkan, dengan formula yang tepat. 

Mengutip Lutviah dalam Magdalene.co, mewujudkan kehidupan pernikahan yang setara bisa dilihat dari kualitas hubungan antara suami dengan istri. Kualitas hubungan ini antara lain bisa dilihat dari bagaimana suami dan istri membina hubungan dan komunikasi antara kedua belah pihak, misalnya terpenuhinya aspek keterbukaan, saling menghargai, saling menghormati dan saling memberi kesempatan satu sama lain. 

Suami dan istri juga harus setara dan saling berbagi dalam hal pekerjaan domestik, karena itu tidak serta-merta pekerjaan istri saja. Adanya kerja sama dan komunikasi yang baik memungkinkan terealisasinya kesetaraan dalam pernikahan yang bahagia.

“Selain itu, terbukanya ruang diskusi dan negosiasi yang setara antara suami dan istri dalam pengambilan keputusan juga penting dalam mewujudkan rumah tangga yang setara,” ujarnya dalam situs yang mengedepankan isu-isu gender tersebut.

Ingin Rumah Tangga Tentram? Perhatikan Aspek Pernikahan Ini!

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan kehidupan pernikahan yang setara dan bahagia? Dilansir dari Oprah Daily, ada beberapa aspek kehidupan pernikahan yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan. Aspek-aspek tersebut merupakan komponen yang dapat membentuk kehidupan pernikahan yang bahagia dan setara antara suami dengan istri. Beberapa aspek penting dalam pernikahan yang bahagia antara lain:

1. Adu Argumen? Bukan Masalah

Tidak ada pernikahan yang selalu berbahagia sepanjang waktu. Menurut psikolog Erica MacGregor, akan selalu ada naik dan turun dalam setiap hubungan, khususnya dalam kehidupan pernikahan. Pasangan yang menjalani kehidupan pernikahan setara akan menganggap adu argumen sebagai sesuatu yang normal. Sebabnya, mereka memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga ketika berbeda pendapat dapat tetap saling menghormati dan menghargai. Pasangan dalam kehidupan pernikahan setara akan bisa selalu mendengarkan, saling mendukung, dan berdamai dengan perbedaan pendapat. Adanya perbedaan dan ketidaksetujuan merupakan hal biasa, dan bagian dari cara berdemokrasi dalam kehidupan pernikahan.

2. Fokus Pada Kelebihan Pasangan

Dalam buku berjudul Happy Together karya pasangan Suzann Pileggi Pawelski dan James Pawelski, disebutkan beberapa rahasia pernikahan yang bahagia. Suzann menuturkan, fokus pada kelebihan pasangan dapat meningkatkan kepuasan relasional. Artinya, kita akan lebih tertuju pada kelebihan-kelebihan serta apa yang dapat dilakukan oleh pasangan, ketimbang apa yang tidak dapat dilakukannya. Pasangan suami istri dalam pernikahan yang setara umumnya dapat mendelegasikan tugas dengan baik sesuai dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu saja, kelebihan pasangan harus lebih ditonjolkan ya daripada kekurangannya. 

3. Jangan Berharap Pasangan Akan Menyempurnakan

“Kamu membuat hidupku sempurna,” mungkin jadi salah satu kalimat romantis yang pernah diucapkan oleh pasangan. Tetapi tahukah Ibu, ekspektasi bahwa pasangan akan membuat hidup kita menjadi sempurna adalah persepsi yang salah. Sebab pada dasarnya, kehidupan yang kita jalani ini sudah sangat baik dengan sendirinya. Kehadiran pasangan tersebut berperan untuk melengkapi hidup kita, bukan membuat segalanya jadi sempurna. Dengan adanya pasangan setara, kehidupan pernikahan yang bahagia bisa diwujudkan bersama, karena saling melengkapi berbagai kekurangan serta kelebihan yang ada dalam diri.

4. Bersenang-senanglah!

“Jangan lupa bahagia” – Faktanya kita tidak pernah lupa untuk bahagia, namun seringkali lupa bagaimana caranya membahagiakan diri. Berbagai penelitian menunjukkan, pasangan suami istri yang rutin have fun bersama-sama akan lebih bahagia. Bagaimana caranya? Lakukan aktivitas yang menyenangkan dan disukai oleh pasangan. Misalnya, waktu pacaran dulu suka nonton film horror di bioskop, atau wisata kuliner ke tempat-tempat baru, lakukanlah. Meski saat ini masih pandemi dengan segala keterbatasannya, Ibu tetap bisa kok bersenang-senang dengan Ayah meski dari rumah saja. Cobalah kegiatan-kegiatan virtual yang menyenangkan, seperti mencoba permainan baru, board games, atau pamer suara di aplikasi karaoke. Apapun boleh dilakukan selagi itu akan menyenangkan hati dan pikiran. 

5. Selalu Merasa Tertarik Kepada Pasangan

Terkadang, lamanya usia pernikahan menyebabkan ketertarikan kepada pasangan memudar. Tapi tahukah Ibu, krim anti penuaan atau alat yang bisa menghambat kerutan pada kulit bukan solusinya! Yang dibutuhkan agar kehidupan pernikahan bahagia dan langgeng adalah pilihan untuk selalu tertarik kepada pasangan. Apapun kekurangan pada fisiknya, tidak apa, selagi masih dalam ikatan kebersamaan. Berusaha menerima pasangan apapun kondisi dan keadaannya adalah salah satu kunci kehidupan pernikahan yang setara. 

6. Tertawa

Sering-sering tertawa bisa membuat kita panjang umur lho! Jangan ragu ya sering-sering bercanda dan melontarkan lelucon kepada pasangan, selama humor yang dilayangkan positif dan tidak mengandung unsur SARA maupun body shaming. Seseorang yang memiliki selera humor cukup baik dapat dikatakan memiliki perspektif serta tingkat toleransi yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan orang yang selera humornya rendah. Tertawa juga bisa membuat kita rileks, saraf-saraf mengendur dan meningkatkan keakraban serta ikatan emosional dengan pasangan, yang pastinya akan bikin kita lebih bahagia. 

7. Berbuat Baik Satu Sama Lain

Jangan sepelekan dampak sebuah kebaikan. Meski terlihat kecil, sebuah kebaikan dapat membuat pernikahan awet dan bahagia. Dalam menjalani kehidupan pernikahan yang setara, masing-masing individu harus selalu terbuka, dan tidak ragu untuk saling mengalah. Berbuat baik disini bisa dilakukan meski sedikit, asal rutin setiap harinya. Usahakan untuk berbuat baik tanpa diminta, misalnya memberikan semangat atau hadiah kecil sebagai kejutan. Dengan rutin berbuat baik, hormon-hormon kebahagiaan seperti endorphin, dopamine dan oxytocin akan membuat mood jauh lebih happy dan tanpa beban. 

8. Saling Mengapresiasi

Bentuk apresiasi yang bisa dilakukan untuk saling membahagiakan pasangan dalam kehidupan pernikahan, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sadarilah apa yang telah pasangan lakukan untuk kita, dan berterima kasihlah kepadanya. Buat dia merasa bahwa apa yang dilakukannya itu berharga. 

9. Menerima Segala Perubahan yang Terjadi

Satu-satunya hal yang pasti terjadi adalah perubahan. Dalam kehidupan pernikahan, akan selalu terjadi perubahan demi perubahan; bisa mengubah situasi menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Perubahan menjadi bagian dari dinamika hidup yang tidak bisa dihindari, dan pasangan suami istri yang setara harus menyadari hal ini. Mulai dari perubahan mood, perubahan gejolak permasalahan dalam rumah tangga, maupun perubahan pembagian tugas dan peran antara suami dengan istri, semua harus disikapi dengan matang dan terbuka. Berlapang dadalah terhadap segala perubahan yang terjadi, dan hadapilah dengan saling menghargai. 

Dari sembilan aspek tersebut, manakah yang Ibu alami dalam kehidupan pernikahan saat ini? Mungkin, sedikit atau banyak ada hikmah yang bisa dipetik dari aspek-aspek yang disebutkan di atas. Kesetaraan dalam kehidupan pernikahan dapat dimulai dengan langkah-langkah kecil. Yang pasti, berusahalah untuk memanusiakan pasangan dengan kemuliaan dan rasa hormat. Kasih sayang sesungguhnya muncul dari rasa hormat dan syukur karena telah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan pernikahan bersama-sama. 

Nah, setelah mengetahui aspek-aspek apa saja sih yang menjadi formula dalam kehidupan pernikahan yang bahagia dan setara, kita bisa mulai beranjak untuk mengetahui tips-tips pernikahan yang bahagia. Mewujudkan kehidupan pernikahan yang bahagia dan setara tentunya tidak mudah ya Ibu, butuh tips dan trik khusus agar kita bisa tahu celahnya. Berikut tips pernikahan yang bahagia dirangkum dari berbagai ahli dan sumber.

Tips Pernikahan Bahagia, Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Dalam pernikahan yang setara dan bahagia, akan selalu ada honeymoon phase sejak awal. Fase bulan madu ini akan memudar dengan sendirinya, dan tantangan demi tantangan akan mulai bermunculan. Jangan khawatir, meski sudah tidak dalam fase manis manja lagi, Ibu bisa mencontek tips berikut ini untuk pernikahan yang setara, bahagia, dan langgeng. Beberapa tips pernikahan yang bahagia antara lain yaitu:

1. Merayakan Hal-Hal Kecil

Howard Markman, direktur Pusat Studi Perkawinan dan Keluarga di Universitas Denver sekaligus peneliti hubungan pernikahan mengungkapkan fakta menarik. Ia mengatakan, pasangan suami istri yang merayakan hal-hal kecil memiliki sifat yang menyenangkan dan hubungan persahabatan yang lebih kuat. Ini yang membuat pernikahan setara semakin bahagia. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang secara rutin merayakan hal-hal kecil atau momen-momen membahagiakan mereka, akan memiliki tingkat komitmen, keintiman, kepercayaan, dan kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Merayakan hal-hal kecil dan baik yang terjadi setiap hari dapat meningkatkan hubungan pernikahan menjadi lebih sehat dan cenderung lebih stabil. 

2. Rasio 5:1

Dilansir dari Time, ada formula ampuh untuk kehidupan pernikahan bahagia, yaitu rasio perbandingan 5:1. Ini dapat diartikan, setiap 1 kesalahan yang dilakukan, perbaikilah dengan melakukan 5 kebaikan. 

Hasil penelitian dari University of Washington meninjau, dalam pernikahan yang setara dan stabil, setidaknya ada interaksi positif lima kali lebih banyak daripada interaksi negatif. Ketika rasio mulai turun, tingkat perceraian dalam pernikahan pun semakin meningkat. 

Tentu saja dalam kehidupan nyata, tidak ada pasangan yang bisa terus menghitungan perbandingan perilaku positif dan negatif dirinya sendiri. Tapi yang perlu diperhatikan, perbanyak interaksi positif dibanding interaksi negatif untuk menjaga kesetaraan dan kestabilan dalam kehidupan pernikahan.

3. Menjaga Hubungan Baik dengan Keluarga dan Teman

Menjaga silaturahmi atau hubungan baik dengan keluarga dan teman akan sangat dibutuhkan. Pasalnya, pasangan akan membutuhkan keluarga dan lingkar pertemanannya sendiri sebagai bagian dari support system. Membina kehidupan pernikahan yang sehat dan setara artinya juha membina hubungan baik dengan relasi di luar pernikahan itu sendiri. Jangan sampai adanya pasangan dalam kehidupan pernikahan malah membatasi bahkan memutus akses dengan orang-orang yang dicintai.

4. Tidak Berharap Pasangan Akan Membahagiakan

Mengharapkan kebahagiaan dari orang lain merupakan sebuah bentuk hubungan kodependensi yang tidak sehat. Termasuk juga, berharap bahwa pasangan akan membahagiakan kita. Hal tersebut menjadi bagian dari ketergantungan emosional yang bisa menyebabkan berbagai permasalahan, salah satunya konflik dalam kehidupan pernikahan. Sewajarnya, kebahagiaan adalah sesuatu yang datang dari dalam diri sendiri, dan bersifat inheren. Kita dapat menciptakan kebahagiaan kapanpun, dengan cara apapun, selagi itu positif dan tidak merugikan orang lain. 

Dalam konteks ini, berharap pasangan akan membahagiakan kita, atau memenuhi ekspektasi kita, merupakan perspektif yang kurang tepat dan tidak sehat. Kita hanya akan bisa membahagiakan pasangan jika kita sudah membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. Ingat, gelas yang kosong tidak bisa menuangkan isinya ke gelas yang lain. 

5. Rutin Lakukan Hubungan Intim

Percaya tidak percaya, rutinitas hubungan intim turut berkontribusi membuat kehidupan pernikahan semakin bahagia. Tidak ada patokan seberapa sering berhubungan intim agar kehidupan pernikahan semakin bahagia. Tetapi, bukti ilmiah menunjukkan pasangan yang jarang atau berhenti melakukan aktivitas seksual akan rentan terhadap amarah, emosi yang tidak stabil, cenderung pada perselingkuhan sebelum akhirnya berakhir pada perselingkuhan. 

Dikutip dari Healthline, kehidupan seksual pasangan akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang berbeda: usia, gaya hidup, kesehatan masing-masing pasangan dan libido alami dan, tentu saja, kualitas hubungan mereka secara keseluruhan. Pasangan yang bahagia biasanya akan menjadikan hubungan intim sebagai aktivitas rutin yang menyenangkan, setidaknya seminggu sekali. 

6. Rajin Mengapresiasi dan Mengucapkan Terima Kasih

Seperti halnya seni berkomunikasi dengan pasangan, sering-sering mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih merupakan kunci kehidupan pernikahan yang setara. Kalimat yang apresiatif dan ucapan terima kasih merupakan bentuk respect dan gratitude yang menjadi hak mendasar bagi pasangan dalam setiap hubungan pernikahan. Tidak ada manusia yang ingin diabaikan atau tidak dihargai, maka sering-seringlah mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada pasangan.

7. Belajar Lebih Jujur

Kejujuran sangat mahal harganya. Selain cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan, dalam kehidupan pernikahan diutamakan nilai-nilai kejujuran sebagai fondasi yang kuat. Kejujuran ini mencakup beberapa aspek di dalamnya, seperti keterbukaan, transparansi, rasa saling mengalah, dan tidak segan untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan. Sebaliknya, kebohongan bisa membuat hubungan dalam kehidupan pernikahan semakin runyam dan tidak harmonis. 

8. Menjaga Penampilan

Tips menjaga penampilan disini bukan berarti merombak tampilan diri habis-habisan dan mengikuti standar kecantikan normatif masyarakat ya Ibu. Menjaga penampilan disini berarti menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, agar nyaman dan juga sehat. Kebanyakan pasangan yang tidak mempedulikan penampilan serta kebersihan, berpotensi menimbulkan kekecewaan serta konflik yang mestinya bisa dihindari. Berusahalah tampil sebersih dan semenarik mungkin, gunakan parfum yang wanginya disukai oleh pasangan kita, atau sesederhana menggunakan pakaian yang rapi di sekitar mereka. 

9. Diam Itu (Momen) Emas

Tidak selamanya diam itu petaka. Dikutip dari Huffpost, diam juga bisa berarti momen berharga seperti emas. Comfortable silence atau momen-momen hening yang bisa dirasakan saat bersama pasangan akan menimbulkan kenyamanan tersendiri. Lepaskan segala beban, nikmati waktu bersama pasangan tanpa banyak berkata-kata. Menikmati waktu diam bersama pasangan juga bisa melatih kita untuk lebih menghargai personal space yang dibutuhkan pasangan, dan tetap mensupport secara moril.

10. Saling Menyesuaikan Diri

Tips berikutnya agar bisa mewujudkan kehidupan pernikahan yang bahagia dan setara, adalah dengan meningkatkan kemampuan untuk saling menyesuaikan diri. Menjalani kehidupan pernikahan tak ubahnya menjadi nahkoda dalam sebuah kapal. Kadang kala, kita harus bertukar peran dengan pasangan, dan itu tidak masalah. Sesuaikan diri terhadap segala situasi, dan bersiaplah untuk membentuk team work yang solid dengan pasangan! 

Siapa bilang, pernikahan yang bahagia tidak bisa setara? Kehidupan pernikahan yang adil tanpa mendominasi pasangan itu sangat mungkin diwujudkan kok.  Lakukan tips-tips di atas dan buktikan sendiri yuk!

Penulis: Yusrina
Editor: Dwi Ratih