Keluarga

Si Kecil Mulai Belajar Puasa? Ini Cara Mengajarkan Anak Puasa

Darin
Si Kecil Mulai Belajar Puasa? Ini Cara Mengajarkan Anak Puasa

Para orangtua yang ingin mulai mengenalkan anak dengan puasa dan mencari tahu cara mengajarkan anak puasa tanpa terkesan memaksa, mari merapat! Ketika memasuki bulan Ramadan, biasanya tak hanya orang dewasa saja yang semangat menyambutnya, anak-anak pun tak kalah semangatnya. Kebanyakan dari mereka begitu antusias dengan euforia bulan Ramadan, seperti belanja takjil di sekitaran kompleks, berbuka dengan makanan yang mereka suka, tarawih bersama keluarga, hingga keliling kampung untuk membangunkan orang sahur.

Meski ikut merasakan euforia Ramadan, namun sebenarnya anak-anak (terutama yang belum balig), belum diwajibkan ikut berpuasa, lho, Bu. Walaupun begitu, bukan berarti mereka yang belum wajib berpuasa ini tidak boleh diajarkan untuk puasa. Apalagi kalau mereka ingin mencoba sendiri. Orangtua sebaiknya tidak melarang anak ketika mereka mau mencoba belajar puasa. Justru orangtua perlu membimbing mereka dengan memahami bagaimana cara mengajarkan anak puasa tanpa terkesan memaksa.

Mengajarkan Anak Puasa, Baiknya Sejak Umur Berapa?

Tentang usia anak yang diwajibkan berpuasa, dalam agama Islam sendiri anak-anak baru dikenai kewajiban puasa ketika mereka telah balig. Namun, usia anak diwajibkan puasa bisa berbeda-beda karena usia mereka mencapai balig pun juga berbeda. Tanda anak telah mencapai balig, kalau laki-laki berarti ia sudah mengalami mimpi basah, entah dalam kondisi tidur atau dalam kondisi terjaga. Sedangkan untuk perempuan ketika saat ia sudah mengalami menstruasi atau haid. Mimpi basah pertama anak laki-laki dan menstruasi pertama anak perempuan ini bisa datang kapan saja, maksudnya tidak semua anak akan mengalaminya di usia yang sama. Namun rata-rata antara umur 10-15 tahun.

Ciri lain yang menandakan anak laki-laki atau perempuan sudah balig adalah ketika sudah tumbuh rambut kasar di sekitar kemaluannya. Anak-anak yang sudah balig wajib puasa Ramadan, sesuai dengan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam: “Pena diangkat (gugur kewajiban) dari tiga; Orang gila yang hilang akal hingga sembuh, orang tidur hingga bangun dan anak kecil hingga bermimpi (balig).

Walau harus menunggu balig dulu baru diwajibkan puasa, bukan berarti mereka yang belum balig tidak boleh mencoba belajar puasa, lo, Bu. Bahkan sebaiknya anak diajarkan puasa sejak kecil supaya terbiasa. Usia pasti kapan anak bisa diajarkan puasa sebenarnya tidak ada, karena ini tergantung dari kemampuan mereka berpuasa. Sebagian ulama menetapkan umur 10 tahun, seperti Al-Kharaqi rahimahullah seperti dilansir dari laman Islamqa, yang berkata kalau anak 10 tahun sudah mampu berpuasa, maka sebaiknya dibiasakan.

Patokan umur 10 tahun itu disamakan dengan perintah Nabi kepada orangtua untuk memukul anak di usia tersebut (dengan pukulan yang tidak menyakiti), jika mereka tidak mau salat. Menyamakan puasa dan salat itu lebih baik karena adanya kedekatan antara satu dengan yang lain. Maksudnya keduanya sama-sama disebutkan sebagai kewajiban muslim dalam rukun Islam. Namun, puasa memang lebih berat dan perlu adanya kekuatan. Karena kadang orang yang mampu salat, tidak mampu menjalankan puasa.

Ada juga pendapat lain mengenai hal di atas, yang mengatakan bahwa kalau anak sudah mampu berpuasa selama 3 hari berturut-turut dan dia tidak lemah atau sakit, maka boleh memerintahkannya berpuasa selama 1 bulan. Intinya, sebelum mengajarkan anak puasa, Ibu dan Ayah perlu melihat dulu kesiapan fisik dan mental anak, ya.

Tips Mengajarkan Anak Puasa

Sebelum membahas cara praktis mengajarkan anak puasa, ada baiknya Ibu dan Ayah menanamkan nilai-nilai tauhid serta mengenalkan anak pada konsep rukun Islam dulu. Tauhid dan rukun Islam ini ibarat pondasi bagi setiap ibadah yang kita lakukan sebagai muslim. Apa saja cara mengajarkan anak puasa?

1. Mengajarkan anak konsep tauhid dan memberi contoh tauhid yang baik

Konsep tauhid ini merupakan konsep dasar dalam agama Islam yang terungkap dalam kalimat “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah). Konsep ini berkaitan dengan akidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Sebelum megajarkan anak puasa, Ibu dan Ayah perlu menanamkan nilai-nilai tauhid ini supaya anak menjadi cinta pada Allah, percaya pada keesaan Allah, sehingga ketika nanti ia sudah balig, ia paham bahwa ia beribadah hanya karena Allah. Konsep tauhid ini juga penting sebagai pondasinya dalam bertingkah laku ketika dewasa. Anak yang sejak kecil diajarkan untuk taat pada Allah, ia akan cenderung takut melakukan keburukan.

Ibu dan Ayah tidak hanya perlu mengajarkan konsep tauhid ini kepada anak, melainkan juga harus mengamalkannya sehingga anak bisa belajar dari orangtuanya sendiri. Contohnya misalnya ketika melihat pemandangan yang indah, Ibu bisa mengatakan “Masya Allah” yang artinya “Inilah yang dikehendaki Allah”. Dengan begitu anak akan paham bahwa Allah-lah yang menciptakan pemandangan tersebut atau menghendaki terjadinya suatu peristiwa.

2. Mengajarkan anak tentang rukun Islam serta mengamalkannya


Cara mengajarkan anak puasa juga perlu dimulai dengan mengenalkan anak pada konsep rukun Islam. Pada rukun Islam disebutkan pondasi-pondasi utama dalam agama Islam, yaitu; syahadat (bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan salat, membayar zakat, puasa Ramadan, dan haji ke Baitullah.

Karena puasa merupakan salah satu yang disebutkan dalam rukun Islam, maka Ibu dan Ayah bisa mengenalkan konsep ini dulu kepada anak supaya mereka paham bahwa sebagai seorang muslim, mereka diwajibkan berpuasa.

3. Menjelaskan manfaat-manfaat puasa

Puasa membawa banyak manfaat bagi manusia. Salah satu cara mengajarkan anak puasa bisa juga dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan berpuasa. Selain sebagai bentuk ketaatan pada Allah, puasa juga bisa jadi semacam “perisai” bagi yang menjalankan dari perbuatan buruk. Saat puasa kita diharuskan menahan hawa nafsu dan berkata kotor. Sehingga dengan berpuasa kita jadi dapat lebih menahan diri untuk tidak berbuat tercela.

Selain itu, puasa juga membawa banyak manfaat kesehatan bagi tubuh. Sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat yang satu ini. Ibu bisa menjelaskannya menggunakan kalimat yang ringan dan mudah dipahami anak. Misalnya dengan mengatakan bahwa puasa bisa membersihkan perut kita dari sisa-sisa makanan yang sulit tercerna. Puasa juga otomatis akan mengistirahat perut kita yang sebelumnya mungkin hampir tidak pernah istirahat karena harus mencerna makanan terus menerus. 

Setelah menanamkan nilai-nilai di atas, baru Ibu dan Ayah bisa beralih ke cara mengajarkan anak puasa yang lebih bersifat praktis. Bagaimana caranya?

4. Minta anak untuk berpuasa beberapa jam atau setengah hari dulu


Beberapa anak yang masih di bawah 7 tahun, mungkin akan merasa kesulitan untuk menahan lapar dan haus seharian. Untuk itu jika Ibu mau mengajarkan anak puasa, mulailah dengan memintanya puasa beberapa jam dalam sehari, atau bisa juga puasa setengah hari. Pengenalan puasa secara bertahap ini akan lebih memudahkan anak dalam berpuasa nantinya. Ibu perlu ingat juga kalau anak yang masih di bawah 5 tahun sebaiknya tidak dipaksa puasa karena ia masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga butuh asupan nutrisi yang cukup.

5. Ajak anak untuk puasa makan makanan favoritnya dulu

Selain cara di atas, opsi lain cara mengajarkan anak puasa adalah dengan melatih anak untuk puasa dari makanan atau minuman tertentu saja. Misalnya kalau anak suka minum susu cokelat atau makan ayam goreng, mintalah anak untuk menghindari makanan dan minuman itu selama berpuasa. Cara ini mungkin bisa jadi awal yang baik untuk mengenalkan puasa penuh ketika ia sudah balig nanti. Selain itu, dengan cara ini anak juga bisa belajar untuk lebih menghargai makanan.

6. Alihkan anak dengan kegiatan menyenangkan saat ngabuburit

Saat puasa, rasa lapar akan semakin terasa ketika kita tidak ada kegiatan. Cara mengajarkan anak puasa selanjutnya adalah dengan mengalihkan rasa laparnya lewat berbagai kegiatan menyenangkan. Tapi Ibu perlu membatasi kegiatan yang bisa menguras energi, ya. Pilihlah aktivitas yang membangkitkan semangat anak tanpa membuatnya terlalu banyak bergerak. Lakukan aktivitas ini sambil ngabuburit, karena biasanya jam-jam kritis rasa lapar dan haus melanda adalah ketika sore hari menjelang berbuka.

7. Berikan anak makanan kesukaannya ketika sudah berbuka


Cara mengajarkan anak puasa bisa dengan menyiapkan makanan kesukaannya ketika berbuka. Ini bisa membantunya lebih semangat menunggu waktu berbuka. Atau Ibu dan Ayah bisa mengajaknya ke pasar takjil terdekat dan membebaskan anak memilih jajanan yang ia suka untuk disantap saat azan magrib tiba.

8. Siapkan reward untuk anak

Selain menyiapkan makanan kesukaan anak saat berbuka, cara mengajarkan anak puasa juga bisa dengan memberikan reward kepada anak ketika ia berhasil menyelesaikan puasanya sesuai target. Jika anak baru belajar puasa, target yang ditetapkan tidak harus langsung 30 hari ya, Bu. Ibu bisa memulainya dengan menargetkan anak puasa selama 15 hari, atau bisa juga targetnya puasa setengah hari selama 20 hari. Sesuaikan dengan kemampuan anak.

Ketika anak berhasil meraih targetnya, berikan hadiah sebagai reward atas kerja kerasnya berpuasa. Pastikan kalau reward tersebut tidak membuat anak puasa hanya agar diberi hadiah. Ibu dan Ayah bisa mengatakan kepada anak bahwa hadiah tersebut bukan dari orangtuanya, melainkan dari Allah. Ajarkan juga kepada anak untuk bersyukur atas hadiah tersebut.

9. Tidak memaksa anak meneruskan puasa jika tidak kuat

Anak-anak yang belum balig, sebaiknya tidak dipaksa untuk menyelesaikan puasa sehari penuh. Orangtua sebaiknya melatih anak berpuasa sesuai kemampuan anak. Namun bila ia merasa lapar dan meminta makan, ada baiknya jangan langsung diberi makan dan diizinkan membatalkan puasa. Ibu bisa coba dulu mengalihkan perhatiannya sejenak supaya ia lupa akan rasa laparnya dan ia bisa melanjutkan puasanya sampai datang waktu berbuka. Tapi, jika ia sudah menangis dan tampak lemas atau mengeluh sakit, orangtua sebaiknya mengizinkan anak berbuka dan memberinya makan serta minum. Bila setelah makan dan minum anak mau melanjutkan puasanya lagi sampai magrib tiba, itu lebih baik.

Itulah tips dan cara mengajarkan anak puasa. Puasa memang termasuk ibadah yang berat, apalagi bagi anak-anak yang masih kecil atau belum balig. Selain menerapkan berbagai cara mengajarkan anak puasa di atas, tips lain yang tak kalah penting adalah sabar. Ya, Ibu dan Ayah harus sabar mengajarkan anak puasa. Di awal-awal ketika ia baru belajar, bisa jadi ia berkali-kali menyerah karena tidak kuat. Namun, hendaknya orangtua tidak menyerah begitu saja dan terus mengulangi cara mengajarkan anak puasa di atas. Semangat, ya, Ayah dan Ibu!

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih