Kesehatan

Sebabkan Lumpuh, Ini Cara Mencegah Penyakit Polio pada Bayi

Kristal
Sebabkan Lumpuh, Ini Cara Mencegah Penyakit Polio pada Bayi

Anak kecil sangat rentan terserang virus dan penyakit karena sistem imun yang belum terbentuk sempurna. Risiko terpapar bahkan makin tinggi jika status vaksin si anak belum lengkap. Salah satu penyakit yang kerap mengintai anak-anak adalah polio. Sebenarnya, apa sih polio itu? Apa sebabnya? Dan bagaimana cara pencegahan penyakit polio pada bayi? Simak terus sampai selesai ya, Bu…

Polio merupakan penyakit yang terjadi akibat serangan pollovirus di sistem saraf pusat manusia. Kerusakan pada sistem motorik inilah yang akhirnya menyebabkan penderita polio mengalami kelumpuhan otot. Polio sempat menjadi wabah global yang mematikan pada tahun 1940-an. Setelah vaksin ditemukan pada tahun 1954, tercatat kasus penyakit polio dunia turun drastis hingga 99%.

WHO sendiri menyatakan per 2014 Indonesia bebas penyakit polio, meskipun pada 2019 lalu sempat ditemukan KLB kasus polio di Papua. Polio ini nggak cuma rentan dialami oleh anak-anak lho Bu, tapi juga bayi, balita, orang dewasa, dan bahkan ibu hamil yang punya sistem imun lemah. Nah, kali ini Ibupedia akan fokus membahas soal bagaimana cara pencegahan penyakit polio pada bayi, ya…

Apa Itu Polio pada Bayi dan Penyebabnya?


Seperti dikutip dari Mayo Clinic, polio merupakan sejenis infeksi yang disebabkan oleh poliovirus. Penyakit yang dalam dunia medis dikenal dengan sebutan poliomyelitis ini tergolong penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi.

Penularan polio pada bayi bisa terjadi akibat kontak langsung dengan si terinfeksi, transmisi melalui benda mati, air dan makanan, atau lewat bersin atau batuk lho, Bu. Penyebabnya karena virus polio hidup di tenggorokan—meski kasus ini terbilang kurang umum.

Nggak cuma itu, Bu, bayi atau anak-anak yang tinggal di daerah dengan akses air bersih terbatas dan mereka yang memakai toilet umum bersama-sama juga berpotensi tinggi tertular polio akibat kontaminasi air oleh kotoran manusia yang terinfeksi. Balita, apalagi yang belum mendapat vaksinasi, juga berisiko lebih tinggi terserang polio.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terpapar polio yaitu:

  • Bepergian ke daerah endemik polio;
  • Tinggal serumah dengan penderita polio;
  • Merawat penderita polio;
  • Riwayat tonsilektomi (prosedur operasi untuk mengobati peradangan pada amandel);
  • Stres berkepanjangan sehingga sistem imun menurun dan tubuh menjadi gampang terserang virus polio;
  • Kondisi lingkungan yang kumuh; dan
  • Sistem drainase buruk.

Gejala Polio pada Bayi. Orang Tua Wajib Waspada


Virus berbahaya seperti polio kadang-kadang tidak menunjukkan gejala apa pun. Itulah kenapa penderita sering kali nggak sadar kalau dirinya sudah terinfeksi. Meski begitu, virus yang ada dalam tubuhnya tetap bisa menular ke orang lain di sekitarnya. Nah, gejala polio pada bayi atau orang dewasa ini dibedakan menurut jenisnya, yaitu:

  1. Polio Paralitik 

    Polio yang menyebabkan kelumpuhan permanen pada otak dan saraf sumsum tulang belakang. Kasus polio paralitik ini terbilang sangat jarang terjadi, terutama setelah ditemukan vaksin polio. Gejala umumnya meliputi:

    • Refleks tubuh hilang;
    • Lumpuh layu;
    • Otot tegang dan nyeri; dan
    • Tungkai dan lengan melemah.
  2. Polio Nonparalitik

    Yaitu penyakit polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Polio ini juga biasanya disebut dengan polio abortif. Gejala biasanya muncul 6-20 hari sejak pertama kali terpapar dan akan hilang dengan sendirinya. Gejala yang dimaksud biasanya berupa gangguan ringan seperti:

  3. Sindrom Pascapolio

    Setelah dinyatakan sembuh dari polio, seseorang tetap berisiko mengalami masalah kesehatan lanjutan yang dinamakan sindrom pascapolio alias post-polio syndrome. Gejalanya bisa muncul puluhan tahun setelah penderita dinyatakan sembuh dari polio. Keluhan yang dialami umumnya berupa:

    • Nyeri dan lemah pada otot dan persendian;
    • Kelelahan berlebihan, bahkan saat tidak beraktivitas;
    • Massa otot berkurang drastis;
    • Gangguan pernapasan atau saat menelan;
    • Sleep apnea berupa gangguan pernapasan; dan
    • Intoleransi pada suhu dingin.
    • Jika Ibu mendapati gejala-gejala seperti di atas, segeralah buat janji temu dan konsultasi dengan dokter. Untuk menegakkan diagnosis dan mengetahui ada tidaknya virus polio dalam tubuh bayi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dengan mengambil sampel dahak, feses, atau cairan otak.

    Pemeriksaan fisik dan pengobatan penunjang juga dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan pada refleks tubuh. Pengobatan yang dimaksud biasanya berupa:

    • Pemberian antibiotik. Tujuannya untuk membunuh bakteri sekunder yang muncul setelah virus polio ditemukan dalam tubuh;
    • Pemberian obat penghilang nyeri (ibuprofen);
    • Pemberian obat untuk mengatasi kaku otot;
    • Fisioterapi;
    • Olah gerak; dan
    • Penggunaan alat bantu napas.
    • Jangan sampai terlambat ke dokter ya, Bu. Tujuannya adalah untuk menghindari risiko komplikasi seperti patah tulang, dehidrasi, pneumonia, gagal napas kronis, serta osteoporosis.

Bagaimana Cara Pencegahan Penyakit Polio pada Bayi?


Polio tergolong kondisi kesehatan yang berbahaya. Itulah kenapa kita wajib melakukan langkah-langkah preventif untuk menjauhkan si kecil dari penyakit ini. Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana cara pencegahan penyakit polio pada bayi?

Menurut ahli dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), saat ini satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit polio pada bayi dan anak-anak/orang dewasa adalah dengan pemberian vaksin. Di Indonesia sendiri ada 2 jenis vaksin polio yang digunakan, yaitu:

  • IPV (Inactivated Polio Vaccine)

    IPV merupakan jenis vaksin yang dibuat dari virus polio yang telah dimatikan. Artinya vakin tersebut tidak mengandung virus hidup. Imunisasi ini dilakukan dengan cara menyuntikkan vaksin ke tubuh anak. Jadwal pemberiannya menurut IDAI 2020 adalah minimal 2 kali sebelum bayi berumur 1 tahun.

  • OPV (Oral Polio Vaccine)

    Berbeda dengan IPV yang diberikan dengan cara disuntik, vaksin polio OPV diberikan sebagai obat oral yang langsung diteteskan ke mulut anak. bOPV-0 atau bivalent oral polio vaccine ini sebaiknya diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir.

Selain pemberian vaksin, polio pada bayi juga bisa dicegah dengan cara menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Tujuan utamanya adalah meminimalisir angka penularan. Caranya sebagai berikut:

  • Mandi rutin 2 kali sehari;
  • Mencuci tangan sebelum makan;
  • Mencuci tangan setelah beraktivitas;
  • Menjaga kebersihan lingkungan;
  • Minum air matang yang sudah dimasak hingga mendidih;
  • Tidak sembarang BAB di WC umum;
  • Menjaga sanitasi air dan udara tetap bersih; dan
  • Konsumsi makanan bergizi tinggi.

Reaksi Alergi Setelah Pemberian Vaksin IPV


Vaksin polio IPV biasanya akan memunculkan reaksi alergi pada sebagian anak (bayi) atau orang dewasa dengan kondisi tertentu. Penyebabnya karena vaksin IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik jenis streptomisin, polimiksin B, dan neomisin. Ini artinya vaksin polio jenis IPV tidak disarankan untuk diberikan kepada mereka yang bereaksi terhadap obat-obatan tersebut.

Jika telanjur diberikan, reaksi vaksin IPV pada mereka yang menderita alergi adalah:

  • Kesulitan bernapas;
  • Lemas;
  • Suara serak atau mengi;
  • Detak jantung tak beraturan;
  • Gatal-gatal; dan
  • Kepala pusing.

Jika Anak Telanjur Terkena Polio…


Melihat anak terkena polio pastinya bikin orang tua sedih. Tentu tak ada satu pun orang tua di dunia yang ingin anaknya sakit kan, Bu? Namun, bagaimana jika si kecil telanjur terserang polio? Adakah asupan nutrisi khusus yang mesti diberikan agar ia kembali sehat seperti sedia kala?

Perlu diketahui nih Bu bahwa tidak ada jenis asupan atau nutrisi khusus untuk diberikan kepada bayi atau anak yang menderita penyakit polio. Jenis pengobatan dan terapi yang dijalani pun semata bertujuan untuk meminimalisir risiko komplikasi, meredakan nyeri, serta meningkatkan kualitas hidup si anak.

Kesehatan anak yang menderita polio ini bisa ditunjang dengan pemberian makanan bergizi seimbang. Ya, meskipun menyerang saraf dan otot tulang, pemberian protein atau kalsium dalam jumlah lebih tinggi dari kadar normal tetap tidak akan membantu kesembuhan. Sebab polio muncul karena virus, bukan gizi buruk.

Jangan lupa juga untuk selalu memberikan dukungan moral kepada si kecil ya, Bu. Support dan afirmasi positif dari orang-orang sekitarnya inilah yang akan membuat anak tetap semangat menjalani hari-harinya karena merasa bahwa dirinya bahagia, dicintai, dan berharga apa pun kondisinya…

Bisakah Penyakit Polio Dideteksi Sejak dalam Kandungan?

Pertanyaan tentang bagaimana cara pencegahan penyakit polio pada bayi seringnya juga diikuti dengan pertanyaan preventif lain seperti “apakah polio bisa dideteksi sejak bayi masih dalam kandungan?”. Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, penyakit polio nggak bisa nih Bu dideteksi sejak dalam kandungan.

Untuk mengetahui apakah bayi positif polio atau tidak, dokter perlu melakukan pemeriksaan langsung atas gejala-gejala yang timbul, misalnya seperti kaki yang membentuk huruf O. Nah, pemeriksaan ini cuma bisa dilakukan saat bayi sudah lahir ya...

Bolehkah Ibu Hamil Divaksin Polio?


Untuk menekan risiko penularan virus polio pada bayi, ibu hamil mungkin mempertimbangkan diri untuk mendapat vaksinasi polio. Namun, apakah pemberian vaksin polio pada ibu hamil dianjurkan? Jika boleh, apa saja efeknya?

Masih menurut CDC, sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian vaksin polio membahayakan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Tapi… Vaksinasi polio pada ibu yang sedang hamil tetap nggak direkomendasikan lho, Bu. Apalagi kalau Ibu punya riwayat alergi atau kondisi kesehatan tertentu.

Kalau memang Ibu nggak punya catatan atau background khusus yang mengharuskan Ibu untuk vaksinasi polio, maka pemberian vaksin dalam hal ini statusnya nggak urgent alias boleh ditinggalkan. Sebaliknya nih, kalau Ibu berisiko tinggi terpapar polio (misalnya karena tinggal dengan keluarga yang menderita polio), maka pemberian vaksin IPV diperbolehkan dengan catatan tertentu.

Yup, kesimpulannya adalah Ibu harus selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan apa pun, ya. Semata demi keselamatan Ibu sendiri dan si kecil yang masih berada dalam kandungan.

Jika memang khawatir terpapar virus polio, vaksinasi bisa dilakukan sebelum hamil, misalnya saat Ibu masih merencanakan program hamil. Imbangi juga dengan perilaku hidup sehat agar senantiasa fit dan jauh dari penyakit ya, Bu… Semoga bermanfaat!

Penulis: Kristal Pancarwengi
Editor: Dwi Ratih