Konsepsi Dibaca 1,227 kali

Kap Serviks untuk KB Ibu

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
Kap Serviks untuk KB Ibu

Kap serviks merupakan salah satu metode KB yang bisa dipilih oleh Ibu. Jenis KB ini harus dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim. Tugas dari kap serviks adalah untuk menahan sperma masuk ke dalam rahim. Bentuknya menyerupai topi pelaut yang terbuat dari silikon. Simak yuk tentang hal-hal penting seputar kap serviks yang perlu Ibu ketahui berikut ini.

  1. Tingkat Efektivitas Rendah

    Dibanding jenis KB lainnya, seperti pil KB atau IUDkap serviks memiliki tingkat efektivitas yang lebih rendah. Penelitian menunjukkan penggunaannya hanya 71 persen efektif, ini artinya ada sekitar 29 dari 100 wanita yang menggunakan kap serviks menjadi hamil dalam satu tahun penggunaannya.

    Kap serviks (Femcap) lebih efektif bagi Ibu yang belum pernah melahirkan per vaginam, termasuk Ibu yang belum pernah hamil atau Ibu yang melahirkan melalui operasi caesar. Di antara para Ibu dalam kelompok ini, diperkirakan ada 14 dari 100 yang menggunakan kap serviks mengalami 'kebobolan' alias hamil dalam satu tahun penggunaannya. Karena memiliki tingkat keberhasilan yang rendah, Ibu mungkin perlu menggunakan jenis KB tambahan, seperti kondom saat menggunakan kap serviks.

  2. Kap Serviks Tidak Mempengaruhi Produksi ASI

    Buat Ibu menyusui yang sedang bingung memutuskan pilihan KB, kap serviks bisa diperhitungkan. Meski memiliki tingkat kegagalan yang tinggi, kap serviks cukup bisa diandalkan kok selama Ibu masih aktif menyusui secara eksklusif dan memenuhi semua kriteria penggunaan KB MAL (lactational amenorrhea method). Dalam hal ini, kap serviks akan memberikan perlindungan tambahan untuk mencegah kehamilan. Sayangnya kap serviks tidak bisa melindungi Ibu dari infeksi yang ditularkan melalui hubungan intim.

  3. Ada 3 Ukuran Kap Serviks

    Kap serviks hanya bisa Ibu dapatkan dengan resep dokter. Oleh karena itu, Ibu perlu lebih dulu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kalau Ibu cocok menggunakan alat ini. Kap serviks memiliki 3 ukuran. Biasanya , ukuran kap serviks yang bisa kita dapatkan itu tergantung pada riwayat kehamilan kita.

    • Ukuran terkecil, 22 mm, disarankan untuk wanita yang belum pernah hamil.

    • Ukuran 26 mm untuk wanita yang melahirkan melalui operasi sesar, mengalami keguguran, atau menjalani aborsi.

    • Ukuran 30 mm untuk wanita yang melahirkan vaginal.

    Sayangnya, ada beberapa Ibu yang tidak cocok dengan ketiga ukuran di atas.

    Cara Penggunaan Kap Serviks

    Dokter biasanya akan menunjukkan cara menggunakan kap serviks. Dokter akan meminta Ibu berlatih memasukkannya ke dalam vagina, dan memeriksa apakah kap serviks ini sudah terpasang dengan benar atau belum. Ibu juga harus membaca instruksi pada kemasan dengan hati-hati, memperhatikan diagram pada kap serviks, dan menyimpan ini untuk jaga-jaga jika Dokter membutuhkannya.

    Buat Ibu yang baru melahirkan sebaiknya tunggu 8 sampai 10 minggu sebelum menggunakan kap serviks. Sebelum mengandalkan KB ini, berlatihlah memasukkan dan mengeluarkan kap serviks dari vagina terlebih dahulu. Ibu juga bisa mencoba untuk menggunakan benda ini selama sekitar 6 jam. Ibu perlu memastikan apakah alat ini tetap terasa nyaman dan terus berada di tempat yang tepat meski dipakai berjam-jam. Jika tidak, Ibu perlu kembali berkonsultasi ke dokter.

    Sebelum menggunakan kap serviks, pastikan kondisinya dalam keadaan baik. Jangan gunakan kap serviks bila silikon terlihat usang, terdapat sobekan, goresan, atau lubang. Tidak ada salahnya juga meminta suami untuk menggunakan kondom  selama beberapa minggu pertama ketika Ibu mulai menggunakan kap serviks. Ini harus dilakukan untuk berjaga-jaga demi menghindari masalah tak terduga, seperti tiba-tiba kap serviks keluar saat berhubungan intim.

    Berbeda dengan kondom, kap serviks harus dimasukkan ke dalam vagina setidaknya 15 menit sebelum Ibu mulai terstimulasi. Caranya seperti berikut ini:

    • Saat sudah siap menggunakan kap serviks, kosongkan kandung kemih.

    • Cuci tangan dengan sabun dan air.

    • Masukkan jari ke dalam vagina dalam posisi Ibu sedang berjongkok. Lalu carilah serviks dengan jari. Serviks akan terasa seperti ujung hidung , dan posisinya bervariasi bergantung pada waktu dan posisi tubuh Ibu. Langkah ini sangat penting karena serviks ibaratnya adalah target, dan Ibu harus tahu di mana dan seberapa dalam Ibu perlu menempatkan kap serviks ini.

    • Selanjutnya, gunakan spermisida pada bagian kap, gunakan sekitar ¼ sendok teh spermisida ke dalam bagian cup, lalu balik dan gunakan lagi ½ sendok teh pada lekuk antara pinggir dan lekuk puncaknya.

    • Setelah selesai mengoleskan spermisida, kini waktunya untuk memasukkan kap ke vagina Ibu.

    • Agar lebih mudah, Ibu bisa berjongkok, berbaring dengan lutut diangkat, atau berdiri dengan satu kaki berada di atas kursi.

    • Pegang kap di bagian pinggir dan tekan dua sisinya bersamaan. Lalu lebarkan bibir vagina Anda dan masukkan kap dengan posisi lekuk di bagian bawah.

    • Dorong kap ke dalam vagina agar bagian pinggirnya semakin dalam masuk ke bawah serviks.

    • Periksa diagram di instruksi untuk memastikan kalau Ibu melakukannya dengan benar.

    • Ketika kap sudah masuk, masukkan jari ke vagina untuk memastikan alat ini berada di tempatnya dan bagian lekuknya menutupi serviks Anda.

    • Bila serviks tidak tertutup sempurna atau Anda merasa tidak nyaman, keluarkan kap, tambahkan spermisida, dan coba masukkan kembali.

    • Jika tidak yakin apakah Ibu sudah memasukkannya dengan benar atau Ibu masih juga merasa tidak nyaman, jadwalkan kunjungan ke dokter dan gunakan metode kontrasepsi lain untuk sementara waktu.

    Ibu bisa menggunakan pelumas tambahan ketika berhubungan intim karena kap serviks terbuat dari silikon. Tapi jangan gunakan pelumas berbahan dasar minyak bila suami menggunakan kondom lateks.

  4. Biarkan Kap Serviks Berada di Vagina Selama 6 Jam

    Setelah berhubungan intim, pastikan kap serviks tidak keluar dari vagina. Kap serviks harus berada di posisi yang benar selama setidaknya 6 jam setelah terakhir kali Ibu berhubungan intim agar spermisida memiliki cukup waktu untuk menghancurkan semua sperma yang masuk.

    Kap serviks dinilai aman untuk berada di vagina selama 48 jam setelah Anda memasukkannya, tapi sebaiknya, jangan biarkan kap serviks berada dalam vagina lebih dari 6 jam setelah berhubungan intim. Semakin lama Ibu membiarkan alat ini berada di vagina, semakin tinggi pula risiko toxic shock syndrome, penyakit yang jarang terjadi yang disebabkan oleh bakteri. Ini cukup berbahaya karena dalam kondisi ini, akan ada racun yang dilepas ke aliran darah.

    Bila Ibu ingin kembali berhubungan intim sebelum lewat dari 6 jam sejak pemakaian pertama kap serviks, periksa apakah kap serviks masih berada di tempatnya, tapi jangan dikeluarkan. Berhubung kita tidak bisa tahu seberapa lama spermisida tetap aktif di dalam sana, banyak ahli menyarankan untuk memasukkan dosis tambahan spermisida menggunakan aplikator setiap kali Ibu berhubungan intim kembali. Bila sudah lewat dari 6 jam sejak hubungan intim yang terakhir dan Ibu ingin melakukannya kembali, Ibu bisa keluarkan kap serviks, cuci dan keringkan, gunakan spermisida, dan masukkan lagi ke dalam vagina.

  5. Cara Mengeluarkan Kap Serviks

    Untuk mengeluarkan alat ini, paling mudah dilakukan dalam kondisi berjongkok. Posisi ini akan membuat kap berada di posisi yang nyaman untuk dikeluarkan. Cara mengeluarkannya berikut ini:

    • Cuci tangan dengan sabun dan air

    • Masukkan jari ke dalam vagina. Hati-hati jangan sampai kuku Ibu melukai vagina.

    • Dorong ujung jari Ibu ke arah lekuk kap untuk melepaskan lekatannya.

    • Lalu sangkutkan jari Ibu ke bagian ikatan dan secara perlahan dan lembut tarik ke arah bawah keluar dari vagina.

    • Bila Ibu mengalami kesulitan, lihat instruksi pada kemasan untuk mengeluarkannya.

    Setelah tiap kali digunakan, cuci kap serviks dengan sabun dan air, dan periksa apa ada lubang, goresan, atau tanda kerusakan lain. Keringkan kap dengan kain bersih dan letakkan di dalam wadahnya. Simpan kap di lemari, tapi jangan di dalam kamar mandi. Pastikan lokasi penyimpanannya jauh dari lembap, panas, dan cahaya. Ibu bisa mengecek instruksi untuk penjelasan tentang cara penyimpanannya yang lebih tepat.

(Ismawati)