Balita Dibaca 887 kali

7 Tips Menghadapi Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur

Terakhir diperbaharui 06 Oktober, 2019 12:10

7 Tips Menghadapi Perkembangan Anak Usia 3 Tahun

Tidak terasa, si kecil kini telah berusia tiga tahun. Rasanya, baru kemarin ia mengucapkan kata pertamanya. Kini, si kecil tidak hanya sudah lancar berbicara, namun juga sudah bisa mengungkapkan pendapatnya dengan jelas. Kemandiriannya pun meningkat pesat. Ibu jadi bisa menghemat tenaga untuk menyuapi, melepaskan pakaiannya, atau mengambilkan berbagai macam benda yang ia minta. Asal diawasi dengan baik, semua terlihat baik-baik saja. Namun, setiap tahap perkembangan yang dicapai anak memiliki tantangannya tersendiri. Sebelum membahas tantangan yang menguji kesabaran saat anak memasuki usia 3 tahun, ketahui terlebih dahulu perkembangan anak usia 3 tahun yang dirangkum dari situs WebMD berikut ini:

Perkembangan bahasa

Perkembangan anak usia 3 tahun dari aspek bahasa dapat dilihat dari kemampuannya menyebutkan nama dan usianya, menjawab pertanyaan sederhana, berbicara dengan jelas meskipun terkadang ia tidak benar-benar memahami apa yang ia ucapkan. Anak usia 3 tahun juga sudah bisa bercerita tentang hal yang dialami atau dilihatnya karena ia sudah mampu berbicara menggunakan 250 sampai 500 kata. Meskipun susunan katanya baru sempurna saat anak berusia 4 tahun, namun ia sudah bisa membuat kalimat yang terdiri dari 5-6 kata.

Perkembangan kognitif

Dilihat dari aspek kognitif, perkembangan anak usia 3 tahun meliputi kemampuan menyebutkan warna dengan benar, mengelompokkan benda berdasarkan ukuran, bentuk, persamaan dan perbedaannya, berhitung dan memahami konsep jumlah benda, serta mengetahui waktu pagi, siang, sore, malam. Kemampuannya mengenali benda dan gambar pun semakin baik. Anak usia 3 tahun juga sudah mampu mengikuti tiga perintah sekaligus, seperti: ambil kertasnya, taruh di meja, lalu warnai gambarnya. Selain itu, ia juga mulai dapat berpura-pura dan berimajinasi dengan lebih kreatif.

Perkembangan motorik kasar (gross motor skill)

Jika anak usia dua tahun sudah bisa membuat Ibu kewalahan karena geraknya yang semakin aktif, maka persiapkan kalori lebih banyak (dan juga stok sabar) untuk mengawasi si 3 tahun ya, Bu! Karena, berdasarkan standar perkembangan anak usia 3 tahun, ananda seharusnya sudah bisa memanjat, menendang-melempar-menangkap bola, berdiri di atas satu kaki selama 5 detik tanpa jatuh, memakai dan melepas pakaian sendiri, berlari dengan mantap, naik turun tangga dengan kaki kanan dan kiri bergantian, serta naik sepeda roda tiga. Namun, jangan bingung jika ada kemampuan yang belum ia kuasai karena masing-masing anak memiliki kecepatan berbeda dalam menguasai keahlian baru. 

Perkembangan motorik halus (fine motor skill)

Perkembangan anak usia 3 tahun dalam aspek motorik halus ditandai dengan semakin lincahnya ia menggunakan jari-jarinya. Menggunakan gunting dengan benar kini bukan lagi hal yang membuatnya frustrasi, asal jangan lupa sesuaikan jenis dan ukuran guntingnya ya! Membuka halaman buku lembar demi lembar juga semakin mudah dilakukan, tanpa harus membuat halaman buku menjadi kusut. Bagi anak yang gemar mencorat-coret di atas kertas, menggambar menjadi semakin menyenangkan karena ia sudah bisa membuat lingkaran, menggambar orang dalam bentuk sederhana, serta menulis huruf kapital. Tidak hanya semakin fasih memegang alat tulis, anak 3 tahun juga bisa memegang benda kecil tanpa kesulitan. Yang perlu diwaspadai, Ibu kini tidak bisa sembarangan menyimpan makanan dalam toples karena anak 3 tahun sudah bisa membuka tutup toples sendiri lho! Begitu juga dengan kenop pintu, kunci motor, pemantik kompor, dan tombol lain yang digerakkan dengan cara diputar.

Perkembangan sosial emosional

Secara sosial, perkembangan anak usia 3 tahun mulai menunjukkan peningkatan dalam hal kemampuan berbagi, bergantian, dan problem solving. Ia pun sudah lebih mandiri secara emosional, di mana berpisah dari orang tua tidak akan membuatnya tantrum seperti saat ia berusia dua tahun. Kemampuan lain yang mulai dikuasai anak usia 3 tahun adalah menirukan perilaku orang lain, menunjukkan perhatian dan kasih sayang, mengetahui arti kepemilikan, serta menunjukkan berbagai jenis emosi. 

Melihat anak dapat melakukan sebagian besar standar capaian anak usia 3 tahun di atas tentu saja membahagiakan. Apalagi, Ibu berharap banyak bahwa setelah fase terrible two yang menguras fisik dan mental, Ibu akan melangkah ke fase yang lebih tenang, dengan anak yang lebih mampu mengkomunikasikan pemikirannya tanpa harus berteriak dan melempar, dan tentu saja lebih mudah diajak bernegosiasi. Dia kan sudah lebih besar? Harusnya kemampuan regulasi dirinya bisa lebih baik, bukan?

Sayangnya, sekali lagi Ibu harus menerima kenyataan bahwa si kecil tetaplah anak kecil yang sedang belajar. Segala aspek perkembangan anak usia 3 tahun yang pelan-pelan ia kuasai membuatnya masuk ke fase baru: threenager.

Apa itu threenager?

Ibu mungkin bisa menebak bahwa threenager berasal dari kata three dan teenager. Betul, threenager dapat diartikan sebagai anak berusia tiga tahun namun bertingkah laku layaknya remaja (teenager) belasan tahun. Sesaat, ia sangat menggemaskan dengan tingkah laku khas balita, membuat Ibu selalu ingin memeluk dan menciumnya. Namun, kemudian ada satu hal yang membuatnya tidak berkenan dan mendadak ia berubah menjadi seperti remaja yang sedang membantah orang tuanya, keras kepala, memerintah. Terkadang, anak bisa dengan sengaja melakukan hal “menyebalkan” meskipun ia tahu bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan, layaknya remaja yang senang melakukan hal menantang. Ibu pun bingung, ke mana hilangnya malaikat kecil itu? 

Adakah contoh situasi yang menggambarkan bahwa anak kita telah memasuki fase threenager?

Mungkin Ibu pernah melihat anak orang lain bertingkah “ajaib” di muka umum, lantas berpikir dalam hati, “Bagaimana bisa orang tuanya membiarkan anak bertingkah seperti itu?”. Padahal, mungkin saja anak tersebut sedang memasuki masa perkembangan anak 3 tahun yang paling menguras stok kesabaran, seperti ini:

  1. Saat Ibu sedang mengetik di laptop, mendadak anak datang dan iseng memencet tombol power sehingga hasil pekerjaan Ibu yang belum di save mendadak hilang.

  2. Anak meminta telur ceplok pakai kecap, namun setelah tersaji ia berubah pikiran menginginkan tanpa kecap. Tidak ada bujukan apapun yang mampu membuatnya makan telur kecap kecuali telur baru tanpa kecap.

  3. Anak tahu bahwa Ibu paling anti kaki kotor naik ke sofa. Maka, sepulang ia dari bermain outdoor, ia duduk di sofa dengan kaki dinaikkan. Melihat Ibu panik, ia malah makin lengket di sofa, seolah ingin menguji sejauh mana Ibu kuat melihat hal yang paling ibu hindari.

  4. Anak bersikeras memakai legging favoritnya yang sudah lusuh di bawah rok tutunya saat Ibu mengajaknya ke acara ulang tahun temannya. Tidak ketinggalan, berbagai macam gelang mainan tergantung di kedua tangannya.

  5. Pertanyaan “kenapa?” menjadi kalimat wajib harian. Terkadang, penjelasan yang satu menuntun pada pertanyaan “kenapa” dan “kenapa” lainnya. Anak tidak bermaksud ingin menguji kesabaran Ibu dengan bertanya terus menerus, melainkan ia berusaha untuk memahami jawaban tersebut sampai benar-benar mengerti.

Adakah penyebabnya?

Menurut Tovah Klein, direktur Barnard College Center for Toddler Development, anak usia 3 tahun ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah besar, sudah memiliki pemikiran sendiri, dan berusaha mewujudkannya dalam tindakan serta ucapan. Meskipun terlihat mampu berkomunikasi dengan orang tua secara lebih dewasa, namun sebenarnya anak usia 3 tahun masih berat meninggalkan dunia kanak-kanaknya yang nyaman, aman, dengan orang-orang yang sudah familiar dengannya. Karena itu, tindakannya sering terlihat kontras hanya dalam hitungan detik.

Dalam situs Motherly juga disebutkan bahwa anak usia 3 tahun mengalami sejumlah perubahan di berbagai aspek yang mungkin membuat ia sedikit kewalahan menghadapinya. Inilah beberapa di antaranya:

1. Anak belum mampu mengontrol emosinya

Anak 3 tahun mulai memahami bahwa ia dapat merasakan berbagai jenis emosi namun belum mampu mengontrolnya. Karena itu, ia bisa spontan tertawa terbahak-bahak karena hal lucu dan menjerit-jerit jika kecewa.

2. Anak belum bisa menahan keinginannya

Saat membuat kesepakatan, ia tahu bahwa setelah menonton TV ia harus mandi. Namun, karena anak 3 tahun belum mampu menunda rasa senang, maka ketika sehabis menonton ia merasa malas mandi, maka ia tidak segan membatalkan kesepakatannya dan berkata “Enggak mau!” dengan entengnya saat diminta mandi yang terkadang, disertai sejumlah argumen.

3. Anak sedang belajar menyelesaikan konflik

Perkembangan anak 3 tahun yang cukup penting adalah belajar menyelesaikan konflik. Ia mulai tahu ketika konflik terjadi dan berusaha menyelesaikannya dengan caranya, seperti mendorong, merebut, menangis karena mereka belum tahu cara yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Misalnya pun mereka sudah tahu, mereka belum tentu bisa menahan diri untuk melakukannya. Di sinilah pentingnya orang tua untuk memberi contoh cara menghadapi konflik, juga mengajak anak berbicara tentang resolusi konflik yang telah mereka lakukan.

4. Anak sedang belajar membuat lelucon

Pernah memerhatikan anak-anak yang suka menggunakan kata-kata seperti “pantat” kemudian terbahak-bahak karena merasa hal tersebut lucu? Dan masih banyak lagi usahanya untuk membuat dirinya pintar melucu agar orang lain tertawa. Jadi, jika lelucon anak ternyata tidak lucu bagi Ibu –atau malah tidak pantas- beritahu dengan sabar ya..

5. Anak sedang belajar berinteraksi dengan orang lain

Anak usia dua tahun bisa bermain “bersama” anak-anak lain: mereka duduk bersama tetapi asyik dengan mainannya sendiri. Nah, perkembangan anak usia 3 tahun menunjukkan bahwa anak sudah dapat bermain “dengan” anak lain alias berinteraksi. Interaksi ini tentu tidak bebas konflik. Terkadang, di sini lah anak mulai menyadari adanya konflik dan mulai belajar menyelesaikannya.

6. Anak belajar empati

Anak usia 3 tahun mulai bisa berbagi dengan sadar karena ia mulai mengembangkan rasa empatinya. Terkadang, ia bisa merasa bersalah jika telah melakukan hal yang menyakiti orang lain, atau turut sedih ketika orang lain sedih. 

Jadi, bagaimana respon yang tepat untuk menghadapi threenager?

1. Jangan diambil hati

Tanamkan dalam pikiran Ibu bahwa mereka masih berusia 3 tahun dan tidak benar-benar memahami bahwa apa yang mereka katakan itu tidak sopan. 

2. Beri ruang untuk membantu

Memperbolehkan anak untuk memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, menyapu, mengambil pakaian kering dari jemuran dapat memuaskan rasa hausnya akan kemandirian. Terkadang, orang tua melarang karena menambah berantakan atau memperlama proses (padahal waktu Ibu terbatas). Padahal, anak sangat senang dilibatkan. Pilih waktu di mana ibu tidak terburu-buru dan biarkan anak membantu. Sedikit merepotkan, namun ibu akan melihat hasilnya di kemudian hari.

3. Jangan langsung turun tangan

Perkembangan anak 3 tahun yang mulai menunjukkan kemandirian dan otoritasnya membuat Ibu harus mampu menahan diri untuk tidak segera membantunya menghadapi kesulitan. Bukan saja agar anak cepat mandiri, namun karena seringnya ia tidak ingin dibantu. Jika perlu, hindari pergi ke suatu acara dengan terburu-buru agar anak dapat melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa harus mendengar Ibu menyuruhnya untuk lebih cepat.

4. Jadilah contoh

Anak belajar merespon situasi dengan cara mencontoh orang dewasa di sekitarnya, karena itu pastikan Ibu dan pasangan mampu menjadi contoh yang baik bagi anak dalam menghadapi situasi yang tidak mengenakkan baginya. Jika Ibu dan orang dewasa di sekitar anak mampu menjadi role model yang tepat, maka anak akan lebih jarang melakukan hal yang memancing emosi orang tua dan mampu melalui fase threenager-nya dengan lebih baik. Sulit memang, namun hasilnya akan sepadan di masa depan.

5. Pastikan kebutuhannya terpenuhi

Mungkin ini trik yang bisa diterapkan untuk semua usia. Hanya saja, untuk kasus threenager, memastikan bahwa anak sudah kenyang, tidak mengantuk, sudah terpenuhi kebutuhan dasar yang biasa ia dapatkan akan meminimalisir tingkah laku yang tidak diharapkan orang tua. Jika anak mendadak bertingkah, stop aktivitas Ibu, lalu cek kembali segala kebutuhan anak. Apabila tidak ada yang kurang, berarti ia ingin perhatian Ibu. Maka, temani ia tanpa interupsi gadget dan hal lain. Namun, jika Ibu sedang tidak bisa menemaninya, katakan dengan jelas dan lembut berapa lama lagi Ibu dapat menemaninya.

6. Pastikan kebutuhan Ibu juga terpenuhi

Sepaham apapun Ibu terhadap teori menghadapi threenager, Ibu tidak akan dapat mempraktikannya saat situasi buruk datang jika kebutuhan Ibu belum terpenuhi. Kurang tidur, belum makan, tidak ada waktu rehat, tidak ada waktu untuk kehidupan sosial dan intelektual merupakan contoh tidak terpenuhinya kebutuhan itu. Karenanya, tetap sediakan waktu untuk diri sendiri agar dapat menghadapi anak dengan segala tingkah lakunya.

7. Kesabaran dan konsistensi

Mau bilang apa lagi? Ibu harus sabar. Mungkin ini berat di awal. Namun, jika frekuensi anak bersikap threenager meningkat, Ibu akan mempertimbangkan untuk selalu bersifat reaktif dan berusaha membuatnya patuh karena hal tersebut tidak hanya melelahkan namun juga memiliki tingkat keberhasilan rendah. Akhirnya, ibu mulai terbiasa untuk menghadapinya dengan biasa saja, tetap bersikap tenang, mengalihkan perhatiannya, menghindar jika mampu, dan kembali lagi saat anak sudah tenang dan siap untuk membicarakan perilaku negatif yang ia lakukan. 

Pada akhirnya, ini hanyalah sebuah fase dari perkembangan anak yang akan terlewati. Tugas Ibu hanya memastikan bahwa anak mampu belajar banyak dari fase ini dengan bimbingan dan contoh dari orang tuanya. 


  
(Menur / Dok.Freepik)