Balita Dibaca 2,450 kali

8 Perilaku Anak yang Menjengkelkan, tapi Sebetulnya Normal

Share info ini yuk ke teman-teman
Asni

Terakhir diperbaharui 24 Mei, 2019 12:05

8 Perilaku Anak yang Menjengkelkan, tapi Sebetulnya Normal

SETIAP orang tua yang memiliki anak di atas usia 2 tahun pasti sudah tidak asing dengan perilaku anak mereka yang tidak bisa ditebak. Kadang kala, anak menunjukkan perilaku yang manis, penurut, dan bisa diatur, namun hanya selang beberapa saat kemudian mereka berubah menjadi anak yang suka berteriak-teriak, marah, hingga tantrum.

Perilaku anak di atas 2 tahun, atau biasa juga disebut toddlers, memang bisa dikategorikan ajaib. Di usia ini, anak masih harus mendapat arahan dan batasan mengenai baik-dan buruk karena mereka tengah senang-senangnya mengeksplorasi banyak hal, termasuk emosi mereka sendiri.

Toddlers juga masih dalam tahap mempelajari hal-hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa, misalnya cara berbicara dengan orang lain. Anak juga bisa saja terlihat tidak menghiraukan ketika diberi nasehat oleh orang tuanya, tapi percayalah bahwa mereka selalu merekam perkataan ibu di benak mereka.

 

Perilaku Anak yang Menjengkelkan, tapi Sebetulnya Normal

Perilaku anak yang tidak bisa ditebak ini kadang kala membuat ibu frustrasi. Apalagi jika kemudian banyak orang yang berkomentar bahwa perilaku anak ibu sangat menjengkelkan, di luar dari kewajaran, dan tidak seperti anak-anak sebayanya pada umumnya.

Namun, perilaku anak yang dibilang orang sebagai menjengkelkan ternyata bisa jadi adalah hal yang normal lho, Bu. Berikut 8 perilaku anak yang terlihat menyebalkan, tapi sebetulnya merupakan hal yang normal.

 

1. Selalu berkata “tidak!”

Anak yang biasanya penurut, kini sudah bisa membantah dan berkata tidak terhadap kata-kata ibu. Ketika ia berusia 2 hingga 3,5 tahun, anak bahkan sudah bisa menentukan preferensi, misalnya ia lebih suka memakai baju warna biru dan mengatakan bahwa pakaiannya yang berwarna kuning itu jelek. Di fase ini, anak mulai mengerti bahwa ia memiliki kontrol atas dirinya sendiri dan tidak harus selalu bergantung pada orang tua.

Yang bisa ibu lakukan:

Bersabarlah dan jangan menghambat perilaku anak yang tengah suka memberontak ini. Biarkan mereka membuat keputusan sendiri karena dari sinilah mereka belajar untuk menjadi mandiri. Bahkan, ibu kadang kala bisa mendorongnya untuk menentukan sendiri, misalnya, baju apa yang akan ia kenakan ke sekolah. Dengan demikian, anak akan semakin mempercayai ibu sekaligus menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

 

2. Bertanya pertanyaan yang sama terus-menerus

Anak ibu tidak lagi hanya mengatakan hal yang sama terus-menerus, tapi juga menuntut ibu untuk selalu merespon perkataannya. Pada satu titik, anak bisa bertanya “Kenapa kok macet?” berulang-ulang, sekalipun ia sudah mendapatkan jawabannya lima menit yang lalu. Jika orang tua berkata “Kan tadi sudah dijawab,” maka anak bisa kesal dan marah. Hal ini tidak jarang membuat orang tua yang paling sabar sekalipun menjadi kesal.

Mengulang-ulang pertanyaan menandakan bahwa anak tengah berusaha untuk mengingat kosa kata tertentu, sekaligus juga mencari jawaban yang berbeda dari ibu dan ayah. Selain itu, anak mungkin juga tengah mencoba berbagai intonasi dan suara yang keluar dari mulutnya.

Yang bisa ibu lakukan:

This too shall pass! Ingatlah bahwa perilaku anak yang melelahkan ini akan berlalu seiring dengan pertambahan usianya. Ketika anak bertanya hal yang sama berulang-ulang, ia secara tidak sadar tengah melatih kemampuannya berbicara kepada orang lain, meski ia belum mengetahui kalau cara itu cenderung mengesalkan bagi orang dewasa.

Sekalipun mengesalkan, jangan pernah menghardik anak karena bertanya hal yang itu-itu terus. Reaksi negatif ibu akan melukai anak sehingga, jika terus mendapat respon negatif, ia mungkin tidak lagi berani berkomunikasi dengan orang tuanya. Sebaliknya, semangati anak untuk bertanya apapun yang membuatnya tertarik. Dengan demikian, anak akan tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, bahkan memiliki kemampuan public speaking yang bagus.

 

3. Terbangun di malam hari

Ketika anak sering bangun pada malam hari, padahal sebelumnya tidak pernah, bisa jadi menandakan bahwa mereka tengah mengalami gangguan tidur (sleep disorder). Biasanya, hal ini bisa dikarenakan aktivitas fisik yang tidak terjadwal maupun kondisi psikologis anak yang menjadi tidak stabil sebelum tidur.

Aktivitas fisik yang bisa menjadi gangguan tidur misalnya anak terlalu banyak bermain di siang hari sehingga merasa kelelahan dan tidur malam lebih cepat dari jadwal seharusnya. Sedangkan dari segi psikologis, anak yang mengalami gangguan tidur bisa dikarenakan ia baru saja mendapat pengalaman baru, cemas karena dalam waktu dekat akan ikut ujian atau tampil di depan umum, maupun merasa terlalu senang karena akhirnya bisa menguasai keahlian tertentu setelah lama berlatih dan mengalami banyak kegagalan.

Yang bisa ibu lakukan:

Jika gangguan tidur anak dikarenakan aktivitas fisik, tidak ada jalan lain untuk menyudahi gangguan ini dengan mendisiplinkan kembali jam tidur anak dengan membuat jadwal kegiatan anak. Meskipun demikian, mendisiplinkan kembali jadwal tidur anak butuh waktu yang tidak sebentar. Jika anak masih suka bangun di tengah malam, bersabarlah.

Sedangkan jika gangguan tidur anak dikarenakan masalah psikologis, ajak anak bicara baik-baik. Biarkan anak mencurahkan isi hatinya agar kecemasan atau ganjalan di pikirannya berkurang sedikit demi sedikit.

 

4. Tidak mendengarkan kata-kata ibu

Biasanya, anak ibu selalu melakukan rutinitasnya tanpa ribut-ribut. Mereka makan dengan tenang, mandi tanpa paksaan, bahkan bisa memakai bajunya sendiri. Namun, tiba-tiba, mereka mengeluarkan perilaku anak pemberontak, misalnya dengan tidak mau makan, tidak mau mandi, serta tidak ingin berangkat ke sekolah.

Menurut psikolog John Gottman, Ph.D. dalam bukunya Raising an Emotionally Intelligent Child, perilaku anak yang tiba-tiba penuh dengan drama ini menandakan dirinya hanya ingin bermain dengan ibu dan ayah. Pola pikir anak memang masih berkutat pada hal-hal yang menyenangkan dan spontan sehingga rutinitas kadang kala membuat mereka bosan.

Yang bisa ibu lakukan:

Idealnya, orang tua lah yang seharusnya selalu menyesuaikan jadwal mereka dengan jadwal anak. Jika ibu dan ayah merupakan orang tua yang bekerja, ada baiknya untuk bangun lebih pagi dan meluangkan 15 hingga 20 menit untuk bermain dengan anak sebelum berangkat kerja. Dengan demikian, anak-anak akan selalu merasa dicintai dan ditempatkan sebagai prioritas oleh orang tuanya.

 

5. Menangis ketika dilarang

Ketika ibu tengah berbelanja di supermarket, anak biasanya meminta untuk dibelikan permen. Jika ibu melarang, anak akan menangis. Coba diingat-ingat, apakah ibu pernah mengizinkan anak membeli permen di supermarket sebelumnya?

Anak-anak selalu mengingat hal-hal yang pernah menjadi rutinitasnya. Oleh karena itu, ketika rutinitas itu dibatas oleh orang tuanya, anak meluapkan emosi maupun kekesalannya dengan menangis karena ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba hal yang dahulu pernah ia lakukan kini tidak boleh lagi dikerjakan.

Yang bisa ibu lakukan:

Selalu jelaskan alasan logis dibalik larangan yang ibu buat. Jangan mengubah kebiasaan, aturan, atau larangan kepada anak hanya karena ibu bisa melakukannya. Anak akan belajar dari konsistensi yang diperlihatkan oleh orang tua. Misalnya ketika ke supermarket, anak hanya boleh memilih satu barang kesukaannya yang sebelumnya telah disepakati di rumah.

 

6. Suka melempar barang

Melempar barang adalah salah satu perilaku anak yang sebetulnya dilakukan tanpa adanya kontrol dari diri mereka sendiri alias impulsif. Namun di sisi lain, melempar barang merupakan latihan yang bagus untuk perkembangan skill motorik anak karena melempar membutuhkan koordinasi antara otot lengan dengan mata. Selain itu, ketika anak melempar, ia belajar hukum sebab-akibat, yakni ketika ia melempar maka benda tersebut akan jatuh ke lantai.

Yang bisa ibu lakukan:

Jangan larang anak untuk melempar barang, namun jelaskan kepadanya mengenai barang apa yang boleh dilempar dan yang tidak boleh. Anak usia 2 tahun ke atas biasanya sudah bisa memahami perintah ibu ini.

 

7. Anak tidak mau makan

Banyak hal yang menyebabkan anak tiba-tiba mogok makan, misalnya kelelahan, atau mereka sedang tumbuh gigi, atau bahkan memang sedang hanya ingin main. Tetapi, kadang kala anak juga menolak makan jika ibu mengenalkan hal-hal baru kepadanya, seperti alat makan yang baru hingga menu baru karena anak-anak cenderung konservatif dan mungkin butuh waktu untuk beradaptasi dengan hal-hal yang baru dilihatnya.

Yang bisa ibu lakukan:

Tetap tenang ya, bu. Tidak perlu memaksa anak untuk makan hanya karena ibu takut anak menjadi kelaparan. Kadang kala, mogok makan pada anak hanya bersifat sementara yang akan hilang sendiri seiring berjalannya waktu. Lagipula, anak di atas usia 2 tahun biasanya sudah bisa merasakan lapar dan ia akan otomatis meminta makan jika memang sudah merasa lapar.

 

8. Tantrum

Tantrum atau anak mengamuk dengan histeris bisa jadi mimpi terburuk bagi orang tua yang memiliki anak dengan usia 2 hingga 4 tahun, apalagi jika anak tersebut tantrum di tempat umum seperti taman atau tempat perbelanjaan. Awalnya, mereka mungkin hanya menangis karena dilarang ibu membeli mainan kesukaannya, tapi lama-kelamaan menjadi tantrum.

Tantrum bisa disebabkan oleh banyak hal dan biasanya tidak ada penjelasan logis mengapa anak yang biasanya hanya menangis ketika tidak mendapat mainan favoritnya kali ini berubah menjadi tantrum. Ketika dilarang membeli mainan itu, mungkin ia juga sedang dalam kondisi lelah, lapar, atau bosan. Yang jelas, anak memang belum bisa mengontrol emosi sehingga saat mereka merasa ingin marah maka mereka akan marah.

Yang bisa ibu lakukan:

Psikolog maupun praktisi anak tidak menyarankan ibu dan ayah membujuk anak untuk tenang ketika ia tengah tantrum, bahkan kalau bisa anak tidak diajak berbicara saat berada dalam fase ini. Ibu dan ayah boleh saja membiarkan anak melampiaskan amarahnya (asalkan tidak membahayakan diri) hingga emosinya mereda. Ketika sudah reda inilah, orang tua bisa menawari anak untuk melakukan kegiatan yang lain demi mengalihkan perhatiannya.

 

Membentuk Pola Perilaku Anak yang Positif

Meski 8 perilaku anak di atas masih bisa dikategorikan normal, orang tua tetap bisa untuk mengarahkan pola perilaku anak agar menjadi positif di kemudian hari. Hal ini mungkin akan terasa menantang dibanding jika ibu dan ayah membiarkan anak berbuat sesuka hatinya, tapi hasilnya dijamin lebih memuaskan.

Berikut 3 cara sederhana yang bisa membentuk pola perilaku anak yang positif seperti disarankan oleh Asosiasi Dokter Anak Amerika (AAP):

 

1. Orang tua memberi contoh perilaku yang baik kepada anak

Anak selalu mengamati perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang tua. Ketika ibu dan ayah mengerjakan hal yang positif berulang-ulang, bukan tidak mungkin perilaku positif itu akan menular kepada anak, sekalipun jika ibu dan ayah tidak secara sengaja mengajarkannya kepada anak. Berikut 3 nilai cara membentuk perilaku anak yang positif lewat pencontohan oleh orang tua:

 

  • Tunjukkan perilaku positif maupun negatif kepada anak

Hal ini dimaksudkan agar anak lebih bisa membedakan mana baik dan buruk. Misalnya, ketika ibu ingin mengajarkan bahwa menolong orang merupakan hal yang baik, ayah bisa membantu ibu melipat pakaian. Ajak anak untuk melihat kegiatan itu juga sambil ibu mengatakan kepada ayah “Wah ayah baik ya sudah menolong ibu melipat baju. Terima kasih, ayah.”

 

  • Ajari anak cara mengendalikan emosi yang baik

Ketika berada di sekitar anak, ibu dan ayah harus bisa mengontrol emosi agar anak juga terbiasa melakukan hal yang demikian. Misalnya di tengah kemacetan dan ibu merasa kesal, ajak anak untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. “Aduh macet nih, ibu rasanya kesal. Daripada marah-marah, kita nyanyi saja yuk.”

 

  • Ajari anak cara mengungkapkan perasaannya

Kadang kala, ibu tidak tahan untuk memarahi anak karena ia bertingkah menjengkelkan. Ada baiknya ibu menenangkan diri kemudian berkata “Ibu marah kalau kamu bertingkah seperti itu.”

Sebaliknya, ibu juga bisa mendorong anak untuk selalu mengutarakan perasaannya ketika ada yang dirasa mengganjal. Jika perilaku anak seperti ini belum terbiasa, bantu anak dengan memancingnya terlebih dahulu, misalnya dengan berkata “kamu sedang sedih?” Jika salah, ibu bisa minta anak untuk mengoreksi kata-kata tersebut.

 

2. Perilaku anak + perhatian = penguatan perilaku anak

Formula di atas merupakan jawaban dari pertanyaan “Kenapa kok anak tantrum tidak boleh diajak berkomunikasi?”

Sayangnya, kebanyakan orang tua masih menganut prinsip bahwa anak yang sedang rewel harus segera ditenangkan. Padahal, perilaku anak tengah menjengkelkan kemudian orang tuanya memusatkan perhatian kepadanya, maka perilaku anak akan semakin negatif. Misalnya, ketika anak berguling-guling di pusat perbelanjaan agar ibu membelikannya mainan, ibu harus tegas untuk tidak menggubris tindakannya yang demikian. Pasalnya, jika ibu menuruti keinginannya dalam kondisi tantrum, anak cenderung akan melakukan tantrum lebih parah jika keinginannya kembali tidak terpenuhi.

Sebaliknya, ibu seharusnya justru lebih memusatkan perhatian ketika perilaku anak memperlihatkan sinyal positif. Dengan demikian, anak akan cenderung melakukan hal yang sama di kemudian hari sebelum akhirnya menjadi kebiasaan. Misalnya, ketika anak mencuci tangan sebelum makan, ibu bisa menyanjungnya dan mengatakan “Wah bagus sekali kamu cuci tangan sebelum makan, kumannya mati semua deh.”

Menanamkan perilaku positif seperti ini memang agak sulit pada awalnya, tapi ibu akan terbiasa seiring dengan waktu.

 

3. Menjadikan anak pusat perhatian

Ketika anak merasa sudah sangat diperhatikan oleh orang tuanya, ia tidak harus berpura-pura rewel atau tidak mau makan demi mendapatkan waktu bermain dengan ibu dan ayah. Oleh karena itu, selalu sediakan waktu khusus untuk menemani anak bermain setiap hari, sekalipun itu hanya berlangsung lima menit. Menjadi anak pusat perhatian orang tua dapat membentuk perilaku anak menjadi lebih manis lho.

Ketika menemani anak bermain, biarkan ia yang memilih mainan. Sebaiknya, orang tua tidak memberi perintah dan lebih banyak memberi sanjungan atau minimal penggambaran dari apa yang tengah dilakukan oleh anak. Misalnya, ketika ia berhasil menyusun balok, ucapkan “Wah kamu sudah pintar membuat menara ya.”

Cara lain untuk menunjukkan bahwa orang tua memberi cukup perhatian kepada anak ialah dengan melakukan kontak fisik dengannya, misalnya memeluk atau hanya menepuk pundaknya tanda ayah dan ibu bangga terhadap anak. Sikap orang tua yang seperti ini dipercaya bisa membentuk perilaku anak yang juga penyayang serta meningkatkan kepercayaan diri anak.

Seperti dibahas sebelumnya bahwa orang tua bisa mengurangi perilaku anak yang negatif jika tidak menghiraukannya ketika marah atau tantrum. Tetapi, hal ini hanya berlaku ketika ibu dan ayah juga memperhatikan anak ketika ia sedang menunjukkan sikap baiknya.

Cara sederhana dalam mengimplementasikan sikap ‘tidak menghiraukan’ ialah dengan sama sekali tidak mengajaknya bicara, tidak menuruti keinginannya ketika marah, bahkan tidak menatap matanya. Namun sesaat setelah anak selesai marah atau tantrum, ibu dan ayah harus segera kembali memusatkan perhatian kepada anak, misalnya dengan mengatakan, “Kamu sudah marahnya, kalau begitu sekarang boleh bermain dengan balok itu.”

Meskipun demikian, selalu waspada terhadap kemungkinan anak melakukan tindakan berbahaya saat marah ya, Bu.

 

(Asni / Dok. Freepik)