Balita Dibaca 19,457 kali

Cara Mengatasi Anak Yang Histeris Saat Marah

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 29 September, 2017 03:09

Cara Mengatasi Anak Yang Histeris Saat Marah
Seringkali orang tua menganggap perilaku anak yang suka marah-marah adalah cara ia mencari perhatian. Padahal, ada banyak penyebab mengapa anak Anda menunjukkan kemarahan yang meluap-luap atau biasa disebut dengan temper tantrum.
Temper tantrum sendiri adalah kemarahan yang datang secara tiba-tiba, tidak direncanakan, dan seringkali terlihat begitu 'heboh'. Biasanya anak akan menangis, menjerit-jerit, atau mengayunkan tangan dan kakinya selama 30 detik hingga 2 menit. Terkadang, kemarahan anak akan berlangsung lebih lama dengan 'atraksi' berlebihan seperti menggigit, memukul, atau melempar barang-barang.
Namun, jika si kecil berusaha melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan diri mereka, maka bisa jadi merupakan tanda-tanda ia mengalami masalah serius. Temper tantrum biasa dialami oleh anak pada usia satu hingga 4 tahun dan dapat terjadi setiap harinya. Beberapa orang dewasa juga kerap kali mengalami temper tantrum yang menyebabkan mereka kehilangan kendali diri dan bersikap temperamental.

Mengapa anak-anak memiliki temper tantrum?

Kemarahan adalah respon yang normal saat anak merasa bahwa independensi dan keinginannya melakukan sesuatu terhalang. Anak kecil belum mampu mengekspresikan rasa marah dan frustasinya dengan bentuk yang lain kecuali mungkin menangis atau berteriak. Misalnya saja, saat ia tidak bisa mengancingkan baju atau tidak bisa disuruh tidur, maka ia malah akan menangis karena merasa gagal melakukan perintah Bunda. Ada banyak faktor yang membuat seorang anak memiliki tingkat kemarahan di atas kawan-kawan sebayanya, misalnya saja:
  • Usia anak
  • Masalah lain yang menyangkut mental, emosional, serta fisik sang anak
  • Tingkat level stres atau frustasi si kecil
  • Tingkat kelelahan anak
Selain itu, cara orang tua memperlakukan anak mereka juga merupakan poin penting mengapa anak mudah marah. Biasanya si kecil akan mengembangkan temper tantrum apaila orang tua mereka bereaksi terlalu keras tiap kali sang anak melakukan kesalahan.

Bagaimana cara mengatasi temper tantrum?

Cara terbaik untuk mengatasi kemarahan anak yang meledak-ledak adalah dengan mengabaikannya kata-kata atau perlakuan kasarnya. Jangan ambil hati jika ia memukul sambil berkata bahwa ia sangat membenci Anda, karena terkadang anak-anak tidak benar-benar memahami apa yang ia katakan. Bantulah sang buah hati mengatasi kemarahan dan frustasinya dengan cara-cara yang lembut.
Perhatikan apa saja hal-hal yang membuatnya mudah marah. Dengan mengenali pemicu temper tantrum si kecil, maka Anda akan lebih mudah menenangkannya. Terkadang kemarahan yang tidak terkendali akan mengaburkan permasalahan yang sebenarnya.
Misalnya saja, sebenarnya ia hanya sebal karena tidak bisa mengancingkan baju, namun ia justru menangis meraung-raung hingga Bunda bingung sendiri. Penyebab temper tantrum memang kerap kali terlihat sepele, oleh karena itu Anda harus bersabar dan jeli melihat pemicunya. Ingat, jangan sekali-kali bereaksi negatif atau balik memarahi anak setiap ia mulai rewel.
Jika si kecil berusia 2 tahun bahkan lebih, maka sudah saatnya Bunda bersikap lebih tegas dan tidak lagi menolerir temper tantrum sang buah hati. Cara terbaik adalah dengan menerapkan metode time out untuk anak 2 tahun. Yakni, Bunda hanya memberikan ia waktu 2 menit untuknya meredakan marah. Jika si kecil tetap saja rewel, maka katakan 'time out' dan beri ia hukuman seperti meletakkan ia di pojok ruangan seorang diri selama 2 menit.
Bunda harus menunjukkan bahwa temper tantrum bukanlah perilaku yang dapat diterima. Jika ia menginginkan sesuatu, maka ajarkan ia untuk berbicara alih-alih marah. Pada usia di atas 2 tahun, seharusnya si kecil sudah mampu berkomunikasi dengan cukup baik. Membiarkan ia memaksakan keinginan atau mengekspresikan diri dengan marah hanya akan membuat ia berkembang menjadi pribadi yang temperamental.

Apakah setiap anak selalu memiliki temper tantrum?

Ya, kebanyakan para orang tua akan mengalami masa-masa dimana anak sering berteriak, menangis, dan membanting barang karena kesal akan sesuatu. Namun, seiring berjalannya waktu, anak akan mulai belajar bagaimana mengatasi suatu masalah dengan cara yang positif. Nah, mengajarkan anak untuk mengontrol emosi harus dimulai sejak dini dengan cara memberikan ia contoh. Jika Bunda sering marah-marah kepada pembantu atau sang ayah suka bersuara dengan nada tinggi, maka tidak heran jika anak akan meniru perilaku Anda dan suami.
Apabila si kecil berusia 4 tahun ke atas namun masih memiliki temper tantrum, maka ia membutuhkan penanganan khusus dari dokter. Apalagi jika selama masa sekolah sang buah hati kerap kali marah-marah, maka bisa saja ia mengalami masalah belajar atau tidak dapat bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk meluangkan waktu bercengkerama dengan anak mereka. Tanyakan apa saja yang terjadi di sekolah, perhatikan apakah ia bahagia dengan kehidupan sosialnya, serta jangan buru-buru marah kalau ia mendapatkan nilai buruk.
Seorang anak yang terus menerus dipaksa belajar di luar kemampuannya akan lebih mudah merasa frustasi. Kasihan kan kalau si kecil merasa dirinya tidak mampu namun Anda terus menerus menyuruhnya mendapatkan nilai A? Be wise ya, Mom. Dengan menunjukkan bahwa Bunda mengetahui rasa frustasi pada diri anak, maka ia akan merasa dipedulikan dan dicintai. Anak akan lebih tenang dan membuka diri untuk berkomunikasi perihal hal-hal yang membuatnya frustasi. Katakanlah bahwa ia tidak perlu malu untuk mengutarakan apa masalahnya. Peluk dan katakan betapa Anda sangat mencintainya. Kemudian, saat ia sudah dapat meredakan amarahnya, beri ia hadiah kecil seperti mengajaknya makan es krim.
Terkadang hal-hal sepele seperti salah memberikan makanan akan membuatnya menangis meraung-raung. Misalnya saja ia meminta Anda membelikan burger tapi Anda justru memberinya sandwich. Padahal, Anda sengaja tidak membelikannya fast food karena efeknya yang buruk bagi kesehatan. Namun, si kecil mana mau tahu karena ia menganggap semua keinginannya harus Anda penuhi.
Nah, di saat seperti itulah Anda harus menunjukkan siapa yang lebih berkuasa. Bunda sebagai orang tua harus bersikap tegas dan jangan sekali-kali bernegosiasi dengan segala keinginan anak yang di luar batas. Biasanya dengan cara mengacuhkan si kecil, kemarahannya akan reda begitu saja. Namun, jika ia semakin keras berteriak, ajak dia ke kamar mandi dan suruh ia berteriak sepuasnya. Jadikan kamar mandi sebagai tempatnya melampiaskan emosi. Atau, Bunda juga bisa loh meredakan amarah anak dengan cara tertawa. Percayalah, saat ia marah dan Anda malah menyanyikan sesuatu yang terdengar lucu, maka ia perlahan akan tertular tawa.
Jika semua cara sudah Anda lakukan untuk meredakan temper tantrum si kecil namun tak juga berhasil, mungkin sudah saatnya Bunda meminta bantuan dokter. Segera periksakan si kecil apabila hal-hal berikut ini terjadi:
  • Anak Anda sudah berusia lebih dari 4 tahun namun masing sering meluapkan emosinya secara tak terkendali
  • Anda merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak, terlebih apabila Anda mulai berpikir untuk mengambil jalur kekerasan dalam mendisiplinkan si kecil.
  • Temper tantrum anak telah mengarah ke tingkat kekerasan yang dapat mengganggu keselamatan dirinya sediri, orang lain, maupun obyek tertentu. Misalnya saja, ia sering menggedor-gedorkan kepalanya ke dinding ketika sedang marah atau melempar vas bunga kesayangan Bunda.
Bagaimanapun, kemarahan adalah ekspresi frustasi yang sebaiknya segera ditangani agar tidak berlarut-larut.  Disinilah peran Bunda dibutuhkan untuk membantu mengenali penyebab amarah anak serta mengajarkan si kecil mengelola emosinya sejak dini.
(Yusrina)