Balita Dibaca 2,201 kali

9 Obat Herbal Ini Bisa Mencegah Gejala Difteri Pada Si Kecil

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 08 September, 2019 06:09

9 Obat Herbal Ini Bisa Mencegah Gejala Difteri Pada Si Kecil

Difteri merupakan infeksi yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Infeksi bakteri ini menyebar dengan mudah dan terjadi dengan cepat. Gejala difteri awalnya menyerang hidung dan tenggorokan. Risiko terkena infeksi difteri lebih rentan pada anak di bawah usia 5 tahun serta orang dewasa di atas usia 60 tahun. Selain itu, gejala difteri biasanya tampak pada orang-orang yang tinggal di lingkungan terlalu padat dan tidak higienis, mereka yang kurang nutrisi, serta anak dan orang dewasa yang tidak tanggap melakukan imunisasi. 

     

Waspada Gejala Difteri Pada Anak

Bakteri difteri bisa masuk ke tubuh anak melalui hidung dan mulut. Bakteri juga bisa masuk melalui kulit yang terluka. Infeksi menyebar melalui cairan yang mengandung bakteri difteri dari orang yang terinfeksi ketika batuk, bersin, atau tertawa.
 
Gejala difteri pada anak terjadi 2 sampai 4 hari setelah kontak dengan bakteri. Gejala bisa berbeda pada tiap anak tapi paling umum berupa:

  • Sakit tenggorokan

  • Suara serak

  • Terdapat selaput membran putih yang melekat di tenggorokan

  • Sulit bernafas

  • Pembesaran kelenjar pada leher

  • Demam

  • Terdengar suara ketika bernafas

  • Hidung berair

  • Detak jantung meningkat

  • Bangkak pada langit-langit mulut.

Gejala difteri bisa mirip seperti kondisi kesehatan lain. Di awal pemeriksaan, dokter akan bertanya tentang gejala yang dialami anak dan riwayat kesehatannya. Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap anak. Baru setelah itu dokter mengambil kultur dari mulut untuk memastikan hasil diagnosanya.

    

Tanda dan Gejala Difteri

Pada tahap awal, difteri bisa mirip dengan sakit tenggorokan yang berat. Demam tingkat rendah serta kelenjar leher yang bengkak jadi gejala awal lainnya. Racun, yang disebabkan oleh bakteri bisa memicu lapisan tebal atau membran di hidung, tenggorokan, serta jalan udara, yang membuat infeksi difteri berbeda dengan jenis infeksi lain yang kerap menyebabkan sakit tenggorokan. Lapisan membran ini biasanya berwarna abu atau hitam serta bisa menyebabkan masalah pernafasan serta kesulitan menelan.
 
Inilah yang terjadi ketika gejala difteri meningkat menjadi infeksi:

  • Kesulitan bernafas atau menelan

  • Kulit pucat dan dingin, detak jantung cepat, berkeringat dan mengeluhkan masalah penglihatan

  • Bicara tidak jelas

Tak hanya menyebabkan infeksi tenggorokan, racun difteri menyebar melalui aliran darah dan bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam keselamatan dan mempengaruhi organ lain seperti jantung dan ginjal. Racun bisa menyebabkan kerusakan pada jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk memompa darah atau kemampuan ginjal untuk membersihkan kotoran. Racun juga dapat menyebabkan kerusakan saraf dan perlahan memicu kelumpuhan. Hingga 40 sampai 50 persen penderita difteri yang tidak diobati meninggal dunia. Aduh, seram ya Bu! Rajin membekali diri dengan wawasan tentang gejala difteri akan sangat membantu kesehatan si kecil.

   

Pencegahan Difteri

Pencegahan difteri bergantung hampir sepenuhnya pada pemberian vaksin diphtheria/tetanus/pertussis pada anak (DPT) dan DPT pada orang dewasa. Setelah pemberian satu tetes DPT, orang dewasa harus menerima suntikan vaksin susulan difteri/tetanus (Td) tiap 10 tahun. Kebanyakan kasus difteri terjadi pada orang yang belum menerima vaksin sama sekali. Vaksin DPT juga direkomendasikan pada semua wanita hamil, termasuk yang sudah atau belum menerima vaksin sebelumnya.
 
Jadwal imunisasi difteri:

  • Vaksin DPT pada usia 2, 4, dan 6 bulan

  • Dosis booster diberikan pada usia 12 hingga 18 bulan

  • Dosis booster kembali diberikan pada usia 4 sampai 6 tahun

  • Vaksin DPT diberikan pada usia 11 sampai 12 tahun

  • Suntikan booster DPT diberikan tiap 10 tahun setelahnya untuk menjaga pelindungan

  • Vaksin DPT selama kehamilan

Kadang vaksin menyebabkan efek samping ringan seperti kemerahan atau bengkak di area suntik, demam rendah, atau rewel. Namun, komplikasi yang parah seperti reaksi alergi, justru jarang terjadi.
 
Selain itu, vaksin yang Ibu dapat sebelum dan selama hamil tidak hanya berperan penting dalam melindungi kesehatan Ibu tapi juga kesehatan bayi. Kekebalan tubuh Ibu adalah garda pertahanan pertama bayi terhadap penyakit serius tertentu. Jadi, bila Ibu hamil atau berencana hamil, sekarang waktunya untuk memastikan vaksin Ibu sudah diperbaharui.
 
Tapi tidak semua vaksin aman selama hamil ya, Bu. Vaksin terdiri dari 3 bentuk; virus hidup, virus mati, dan toksoid (protein kimia yang tidak berbahaya dan diambil dari bakteri). Wanita hamil tidak boleh menerima vaksin dari virus hidup seperti  vaksin kombinasi measles, mumps, dan rubella (MMR), karena ada kemungkinan bahaya pada janin. Vaksin yang dibuat dari virus mati seperti vaksin flu dan vaksin toksoid seperti DPT dianggap aman.

   

Faktor Risiko Difteri

Anak-anak di Amerika Serikat dan Eropa secara rutin menerima vaksin difteri, sehingga kondisi ini jarang terjadi di negara-negara ini. Tapi sayangnya, difteri masih umum terjadi di negara berkembang di mana tingkat imunisasi masih rendah. Di negara seperti ini, anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa lebih dari usia 60 tahun berisiko terkena difteri.
 
Orang juga berisiko lebih tinggi menunjukkan gejala difteri apabila mereka:

  • Mengunjungi negara yang tidak menyediakan imunisasi

  • Tidak memperbaharui vaksin yang diterima

  • Memiliki gangguan sistem kekebalan, seperti AIDS

  • Tinggal di lingkungan padat dan tidak bersih.

 

Penularan Difteri

Hati-hati, difteri sangat menular! Difteri dengan mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui bersin, batuk, atau bahkan tertawa. Bakteri juga bisa menyebar ke orang yang mengambil tissue atau gelas minuman yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi.
 
Orang yang sudah terinfeksi bakteri, meski tidak menunjukkan gejala difteri, bisa menginfeksi orang lain hingga 4 minggu. Masa inkubasi (waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi terinfeksi setelah terpapar) untuk difteri adalah 2 hingga 4 hari, meski bisa bervariasi dari 1 sampai 6 hari.

  

Penanganan setelah Muncul Gejala Difteri

Anak dan orang dewasa dengan gejala difteri perlu ditangani di rumah sakit. Setelah dokter mengonfirmasi diagnosa melalui kultur tenggorokan, orang yang terinfeksi menerima anti racun khusus, yang diberikan melalui suntikan atau infus. Hal ini berguna untuk menetralisir racun difteri yang sudah bersirkulasi di tubuh, serta antibiotik untuk membunuh bakteri difteri yang masih ada.
 
Bila infeksi bersifat serius, orang dengan difteri membutuhkan alat bantu bernafas. Pada kasus di mana racun telah menyebar ke jantung, ginjal, atau sistem saraf pusat, pasien membutuhkan cairan infus, oksigen, atau obat jantung. Orang dengan difteri harus diisolasi. Anggota keluarga yang belum diimunisasi atau berusia sangat kecil atau manula, harus dilindungi dari kontak dengan orang yang menderita difteri. Jika keluarga terlanjur melakukan kontak dan menunjukkan gejala difteri, segera periksakan ke dokter!
 
Sigap menerima pertolongan medis membuat kebanyakan pasien bisa sembuh dari difteri. Setelah antibiotik dan anti racun bekerja, orang dengan difteri harus bed rest selama 4 sampai 6 minggu atau hingga sembuh. Bed rest khususnya penting bila seseorang mengalami myocarditis (peradangan pada otot jantung) yang merupakan komplikasi dari difteri.
 
Ingat ya Bu, difteri merupakan penyakit serius yang membutuhkan perawatan rumah sakit. Segera ke ICU apabila penderita mengalami gejala difteri seperti gangguan pernafasan.
 

  1. Antitoxin

    Langkah paling umum dalam penanganan difteri adalah pemberian anti racun difteri. Anti racun ini dibuat dari serum kuda dan bekerja dengan menetralisir eksotoksin yang beredar di tubuh. Dokter pertama akan memeriksa pasien apakah sensitif terhadap serum hewan.
     
    Dosis antitoxin bervariasi dari 20,000 sampai 100,000 unit, bergantung  keparahan dan panjang waktu gejala terjadi sebelum pengobatan. Anti racun difteri biasanya diberikan melalui infus.

      

  2. Antibiotik

    Antibiotik diberikan untuk menghilangkan bakteri, mencegah penyebaran penyakit, dan melindungi penderita difteri dari pneumonia. Antibiotik tidak menggantikan pengobatan dengan antitoksin. Baik orang dewasa maupun anak kecil bisa diberikan penicillin, ampicillin, atau erythromycin.
     
    Erythromycin lebih efektif dibanding penicillin dalam mengobati pembawa difteri karena penetrasi yang lebih baik ke area yang terinfeksi. Difteri kulit biasanya ditangani dengan membersihkan luka menggunakan sabun dan air dan pemberian antibiotik selama 10 hari.

       

  3. Perawatan pendukung

    Orang yang mengalami difteri membutuhkan bed rest disertai perawatan intensif, termasuk monitoring untuk masalah jantung, sumbatan jalan udara, atau gangguan pada sistem saraf yang mungkin terjadi. Orang yang mengalami difteri laring ditempatkan di lingkungan yang tinggi kelembabannya dan kadang membutuhkan penghisapan tenggorokan atau bedah darurat bila jalan udara tersumbat.
     
    Orang yang sedang dalam masa penyembuhan dari difteri harus beristirahat di rumah selama setidaknya 2 sampai 3 minggu, terutama bila mengalami komplikasi jantung. Mereka yang telah sembuh dari difteri masih perlu menerima vaksin difteri untuk mencegahnya kembali datang karena tidak ada jaminan kekebalan seumur hidup dari penyakit ini.

      

Segera hubungi dokter bila salah satu anggota keluarga mengalami gejala difteri ya, Bu! Tapi juga jangan lantas mudah panik ketika keluarga mengalami infeksi tenggorokan. Bisa jadi itu bukan gejala difteri karena infeksi tenggorokan mengarah ke berbagai penyakit lain.
 
Kunjungi dokter bila Ibu tidak yakin kalau si kecil telah menerima vaksin difteri. Juga pastikan imunisasi booster Ibu sudah diperbaharui. Penelitian menunjukkan orang dewasa lebih dari usia 40 tahun tidak terlindungi dari difteri dan tetanus. Jadi jika anak Ibu menampakkan gejala difteri, Ibu juga harus menjaga diri ya!

   

Pencegahan Komplikasi Infeksi Difteri

Pasien dengan difteri dan mengalami myocarditis bisa ditangani dengan oksigen dan obat untuk mencegah ritme jantung yang tidak beraturan. Pasien dengan kesulitan menelan bisa diberi makan melalui selang yang dimasukkan ke perut melalui hidung. Orang yang tidak bisa bernafas biasanya dipasangi alat bantu nafas mekanis.

4 Tipe dan Gejala Difteri ini Wajib Ibu Ketahui!

Tanda dan gejala diteri sangat bergantung  pada lokasi infeksi, seperti berikut ini:

  

  1. Difteri nasal (Difteri pada rongga hidung bagian depan)

    Difteri nasal menghasilkan beberapa gejala selain kotoran yang berdarah dan encer. Pada saat pemeriksaan, ada membran kecil yang terlihat pada saluran nasal. Infeksi nasal jarang menyebabkan komplikasi, tapi menjadi masalah kesehatan yang umum karena penyebaran penyakit ini lebih cepat dibanding difteri bentuk lainnya.

      

  2. Difteri faring

    Pharyngeal diphtheria menyerang faring, yakni bagian dari tenggorokan atas yang menghubungkan mulut dan saluran nasal dengan kotak suara. Difteri faring merupakan bentuk difteri paling umum yang menyebabkan karakteristik membran tenggorokan. Membran sering berdarah bila tergores. Jangan mengeluarkan membran karena trauma bisa meningkatkan penyerapan tubuh terhadap eksotoksin. Tanda dan gejala lain dari difteri faring adalah sakit tenggorokan ringan, demam di suhu 38 derajat, detak jantung cepat, dan tubuh terasa lemah.

      

  3. Difteri laring

    Laryngeal diphtheria, melibatkan kotak suara atau laring, menjadi bentuk yang paling mungkin menyebabkan komplikasi serius. Demam biasanya lebih tinggi pada difteri bentuk ini (39 sampai 40 derajat celsius) dan penderita menjadi sangat lemah. Orang bisa mengalami batuk berat, kesulitan bernafas, dan kehilangan suara. Gangguan jalan udara dapat menyebabkan masalah pernafasan dan kematian.

      

  4. Difteri kulit

    Bentuk difteri ini disebut sebagai cutaneous diphtheria, terjadi sekitar 33 persen dari semua kasus difteri. Difteri kulit terutama ditemukan pada orang dengan kebersihan yang buruk. Luka pada kulit bisa menjadi terinfeksi difteri. Jaringan yang terinfeksi berkembang dan membran difteri terbentuk pada luka, meski tidak selalu ada. Luka lambat sembuh dan bisa menjadi kebas atau tidak sensitif ketika disentuh.

       

9 Obat Herbal ini Berguna untuk Mencegah Gejala Difteri Menjadi Infeksi

Jika keluarga mulai menampakkan gejala difteri, Ibu bisa memeriksa bahan-bahan herbal di dapur yang sekiranya bisa dijadikan obat. Beberapa obat rumahan untuk difteri antara lain jus bawang, garam meja, dan asap tembakau. Ada banyak lagi obat herbal yang bisa dicoba. Banyak negara masih berusaha menanggulangi penyakit ini yang merupakan penyakit bakteri akut yang mempengaruhi tenggorokan, hidung, serta kulit.
 
Untungnya, ada beberapa penanganan serta obat rumahan sederhana yang telah berhasil menyembuhkan penyakit ini. Berikut beberapa obat ala rumahan yang bisa Ibu coba bila mulai tampak gejala difteri:

  

  1. Jus bawang putih

    Bawang putih dikenal dapat menyembuhkan banyak penyakit mematikan. Untuk menjadikan bawang putih obat difteri, ambil satu sendok dari 2 sampai 3 siung bawang putih yang telah dihancurkan. Kunyah di mulut sebentar kemudian telan. Terus ulangi cara ini beberapa kali.

       

  2. Asap tembakau

    Gunakan pipa tembakau, hirup asapnya ke mulut, dan tarik ke lubang hidung. Proses ini aman dan mudah dilakukan untuk menurunkan gejala difteri. Merokok berbahaya bagi kesehatan. Menghisap tembakau sebagai obat difteri hanya digunakan pada jangka waktu pendek saja. Merokok tembakau hanya sebagai pilihan pengobatan, bukan solusi preventif dan permanen.

       

  3. Campuran herbal

    Buat pasta dari campuran daun kastor, bawang puting, dan daun kelor. Setelah pasta siap, biarkan penderita difteri menghirupnya. Ibu juga bisa berkumur dengan pasta ini menggunakan air hangat.

       

  4. Kulit kayu mangga

    Kulit kayu mangga efektif mengobati difteri. Cairan yang diekstrak dari kayu mangga bisa digunakan pada tenggorokan dari bagian luar. Cairan ini juga bisa digunakan sebagai obat kumur. Campurkan 10 ml jus kayu mangga di gelas air hangat untuk berkumur.

       

  5. Garam meja

    Garam biasanya jadi pilihan tepat untuk sakit tenggorokan. Mudah sekali, Ibu cukup minum segelas air dengan campuran garam! Campuran garam dan air ini akan membantu menurunkan efek difteri, juga mengatasi masalah pernafasan yang biasanya terjadi karena kurangnya garam pada tubuh.

       

  6. Jus lemon

    Lemon dikenal memiliki kandungan detoksifikasi karena kandungan potasiumnya yang tinggi. Bakteri difteri bisa hancur dengan konsumsi jus lemon. Minum satu gelas air dicampur dengan 1 sampai 2 sendok teh perasan lemon segar akan sangat membantu mencegah gejala difteri berkembang menjadi infeksi.

       

  7. Jus jeruk

    Orang yang menderita difteri perlu minum jus jeruk karena kandungannya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan membantu membunuh bakteri.

       

  8. Pepaya mentah

    Jika Ibu punya pepaya mentah, cobalah membuat jus sendiri di rumah. Cukup tambahkan satu sendok teh jus pepaya, satu sendok teh madu, lalu campur jadi satu di gelas air untuk berkumur. Ini untuk mengatasi membran dan mencegah infeksi menyebar.

       

  9. Nanas segar

    Nanas segar juga dianggap sebagai pilihan obat efektif untuk meningkatkan dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh lho, Bu! Jika gejala difteri mulai tampak pada salah satu anggota keluarga, Ibu bisa menghidangkan nanas di meja untuk melindungi kesehatan keluarga Ibu agar tidak mudah tertular.

       

Orang yang menderita difteri mungkin kesulitan makan makanan padat, jadi perlu diberikan makanan yang lunak. Jangan lupa ya Bu, cuci tangan secara teratur dan jaga pola makan sehat dilengkapi dengan suplemen. Sebab langkah awal pencegahan munculnya gejala difteri adalah menjaga kebersihan badan dan rumah.

(Ismawati, Yusrina / Dok.Pixabay)