Balita

Anak Tantrum Ternyata Bagus Untuk Perkembangannya

Terakhir diperbaharui

Anak Tantrum Ternyata Bagus Untuk Perkembangannya

Batita cenderung egosentris, “Saya ingin ini, saya ingin itu.” Kondisi ini disertai dengan perkembangan kemampuan bahasa ekspresif yang tidak seimbang dibandingkan dengan kemampuan bahasa reseptif anak. Kemampuan bahasa reseptif pada anak usia 2 tahun jumlahnya ribuan, sedangkan kemampuan bahasa ekspresif umumnya hanya 150 sampai 200 kata. Kemungkinan yang membuat si batita frustrasi adalah kemampuannya untuk memahami struktur kalimat kompleks sedang ia hanya bisa mengungkapkan keinginannya dalam 2 hingga 3 kata saja.

 

Dunia batita penuh dengan eksplorasi. Anak kecil belajar melalui observasi dan berulang kali mencoba. Ketika keinginan orangtua untuk menjaga keamanan anak berbenturan dengan usaha anak untuk mandiri dan kemampuan bahasanya yang terbatas, tantrum hampir tidak bisa dihindari.

 

Kenapa tantrum penting bagi anak?

Percaya tidak Bunda? Tantrum penting loh untuk  kesehatan emosional anak. Tantrum pada batita jadi satu aspek paling menantang bagi orangtua. Kita cenderung merasa sebagai orangtua yang baik ketika si kecil senang dan tenang, tapi merasa tak berdaya dan kewalahan ketika anak berada di lantai sambil menendang-nendang dan berteriak. Tapi percaya deh Bun, tantrum pada anak jadi bagian penting untuk kesehatan emosionalnya, dan kita bisa belajar untuk jadi lebih tenang ketika menghadapinya. Berikut ini alasan kenapa tantrum penting bagi batita:

 

  1. Lebih baik diekspresikan daripada dipendam

    Air mata mengandung kortisol, yang merupakan hormon stres. Ketika kita menangis, kita sebenarnya melepaskan stres dari tubuh. Air mata diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kondisi emosi. Anda bisa lihat ketika si kecil tantrum, tak ada yang benar menurutnya. Ia marah, frustrasi, atau merajuk. Anda juga lihat setelah tantrum berlalu, ia berada di mood yang jauh lebih baik. Sebaiknya orangtua membiarkan anak tantrum tanpa mencoba mengganggu prosesnya sampai anak tuntas.

     

  2. Menangis membantu anak belajar

    Seorang anak bermain lego dan mulai tantrum karena kesulitan membuat konstruksi yang tinggi. Tapi setelah anak tantrum, ia duduk dan memperbaiki legonya. Ketika anak mengalami kesulitan dan kemudian ia mengungkapkan frustrasinya, ini membantunya menjernihkan pikiran sehingga bisa belajar hal baru.  

     

    Belajar bagi anak sealami bernapas. Tapi ketika anak tidak bisa berkonsentrasi atau mendengarkan, biasanya ada masalah emosi yang menghambat proses ini. Agar proses belajar berjalan, anak harus senang dan rileks, dan mengekspresikan emosi jadi bagian dari proses ini.

     

  3. Anak jadi tidur lebih baik

    Masalah tidur sering terjadi karena orangtua mengira pendekatan terbaik untuk tantrum adalah mencoba menghindarinya. Seperti orang dewasa, anak juga terbangun karena stres atau berusaha memproses sesuatu yang terjadi di hidupnya. Membiarkan anak mengakhiri tantrum meningkatkan kondisi emosi dan bisa membantu anak tidur sepanjang malam. 

     

  4. Orang tua mengatakan “tidak,” dan ini sikap yang tepat

    Kemungkinan besar anak tantrum karena orang tua mengatakan “tidak.” Dan ini hal bagus. Mengatakan “tidak” memberi anak batasan yang jelas tentang perilaku yang bisa diterima dan yang tidak bisa diterima.

     

    Kadang kita menghindari mengatakan “tidak” karena kita tidak mau berurusan dengan masalah emosi. Tapi orangtua harus tetap tegas dengan batasan ketika menawarkan, berempati dan memberi pelukan. Mengatakan “tidak” berati Anda tidak takut berantakan.

     

  5. Anak merasa aman mengatakan apa yang ia rasakan

    Pada kebanyakan kasus, anak tidak menggunakan tantrum untuk memanipulasi atau mendapat apa yang mereka mau. Sering kali anak menerima kata “tidak,” dan tantrum adalah ekspresi perasaannya tentang hal ini.

     

    Anda bisa tegas dengan kata “tidak,” dan berempati dengan kesedihan anak. Kesal karena kuenya hancur atau warna kaos kaki yang salah hanya awalnya, yang ia butuhkan adalah cinta dari Anda.

     

  6. Tantrum membantu menjalin kedekatan

    Mungkin sulit untuk mempercayai hal ini tapi tunggu dan buktikan sendiri. Anak yang marah sepertinya tidak menghargai keberadaan Anda, tapi tidak demikian. Biarkan ia melewati badai perasaannya tanpa Anda mencoba memperbaikinya atau mencoba menghentikannya. Jangan banyak bicara, tapi ucapkan kata yang menenangkan. Tawarkan pelukan. Anak akan merasakan penerimaan Anda yang tanpa syarat dan merasa lebih dekat dengan Anda setelahnya.

     

  7. Tantrum membantu perilaku jangka panjang anak

    Kadang emosi anak dalam bentuk lain seperti agresi, sulit berbagi, atau menolak bekerja  sama untuk tugas sederhana seperti memakai baju atau menggosok gigi. Ini adalah tanda umum kalau anak kesulitan dengan emosinya. Tantrum membantu anak melepaskan perasaan yang bisa mengganggu perilaku kooperatif alami.

     

  8. Bila tantrum terjadi di rumah, berkurang kemungkinan tantrum terjadi di tempat umum

    Ketika anak sepenuhnya mengungkapkan emosinya, maka ia akan sering memilih untuk tantrum di rumah, di tempat di mana ia merasa orangtua lebih mendengarkan. Semakin banyak kita punya waktu dan ruang untuk mendengarkan perasaan anak yang kesal di rumah, semakin sedikit perasaan anak yang tidak terungkapkan.

     

  9. Anak melakukan apa yang banyak orang lupa bagaimana melakukannya

    Ketika anak bertambah besar, ia jadi semakin jarang menangis. Ini karena anak belajar untuk mengatur emosi. Bisa juga karena ia belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak begitu menerima ekspresi emosi. Ketika kita marah atau stres pada anak, sering kali karena kita butuh menangis juga. Sulit bagi orang dewasa, khususnya pria, untuk melepaskan perasaan ini. Jadi biarkan anak mengalami tantrum agar emosinya bisa mengalir bebas.

     

  10. Meningkatkan rasa percaya diri

    Selama masa batita, anak mulai mengerti kalau mereka terpisah dari orangtua. Mereka mengembangkan rasa otonomi, menyadari kalau mereka bisa mengatakan “tidak” untuk menunjukkan kemandirian. Tantrum bisa jadi kepanjangan dari pengetahuan ini, ketika anak di antara membutuhkan Anda dan merasa nyaman melakukan semua sendiri.

     

  11. Tantrum “menyembuhkan” bagi orang tua juga

    Ketika kita mendampingi saat anak tantrum, ini bisa menghilangkan sebuah perasaan besar dalam diri kita. Ketika kita kecil, orangtua mungkin tidak mendengarkan kemarahan kita dengan berempati. Anak kita yang tantrum bisa memicu memori bagaimana kita diperlakukan yang mungkin kita tidak menyadarinya. Menjadi orangtua bisa jadi cara menyembuhkan masalah emosi dalam diri bila kita mendapat dukungan dan kesempatan untuk mendengarkan diri sendiri.

     

    Setelah momen emosional bersama anak, luangkan waktu untuk menyembuhkan diri, bicaralah pada teman, tertawa, dan mungkin menangis sendiri. Untuk bisa tetap tenang butuh latihan tapi ketika kita berhasil, kita mengirim pesan ke otak untuk jadi lebih tenang dan jadi orangtua yang lebih damai.

 

Fakta menarik seputar anak tantrum

Fakta berikut ini akan membantu Anda lebih memahami tantrum pada anak:

  • Tantrum adalah perilaku yang umum pada anak usia 2 hingga 4 tahun. Meski menjengkelkan bagi orangtua, tantrum merefleksikan keinginan mandiri batita yang normal disertai kemampuan neurologikal yang belum matang (seperti kemampuan mengungkapkan bahasa) di rentang usia ini.
  •  
  • Orangtua bisa mengatasi tantrum dengan tetap bersikap tenang dan objektif serta tidak memberi reward untuk perilaku anak. Meninggalkan anak selama tantrum mengajarkan ke anak kalau pendekatan yang ia lakukan tidak berhasil. Time out juga jadi alat efektif yang bisa dicoba orangtua.
  •  
  • Ada beberapa strategi untuk mencegah anak tantrum. Ekspektasi perilaku yang realistis, membiarkan anak menentukan pilihan dalam aktivitas sehari-hari dan memberi reward untuk perilaku baik jadi teknik yang efektif.
  •    
  • Tantrum yang ekstrim dan berlebihan, berlangsung lama serta melibatkan kekerasan terutama yang diarahkan ke adik kecil atau anak lain, atau orangtua kehilangan kontrol, membutuhkan perhatian dokter anak.
  •    
  • Tantrum mengikuti pola yang bisa diprediksi. Mungkin terlihat seperti kekacauan, tapi tantrum sebenarnya lebih seperti simfoni, dengan puncak dan akhir yang bisa diprediksi. Fase satu terjadi ketika anak berteriak, fase dua anak melempar benda atau menjatuhkan diri ke lantai. Meski meronta-ronta di fase dua sepertinya puncak tantrum, sebenarnya ini tanda tantrum sudah melewati puncaknya dan mulai menurun, masuk ke fase tiga, ketika anak menangis dan merajuk. Orangtua perlu menunggu hingga fase tiga sebelum turun tangan menenangkan anak. Lalu apa yang Anda lakukan untuk menghadapi fase dua dan tiga?
  •    
  • Abaikan tantrum agar hilang dengan sendirinya. Cara paling cepat untuk mengakhiri tantrum adalah dengan tidak menambah bahan bakarnya, yang berarti Anda perlu mengabaikannya. Berpaling dari anak bila memungkinkan dan jangan menjadi marah atau emosi, karena dari perspektif anak, perhatian negatif lebih baik dibanding tidak ada sama sekali. Ini memang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tapi semakin Anda mengabaikan anak, semakin cepat tantrum berlalu. Ketika orangtua tetap diam, teriakan anak semakin berkurang.
  •  
  • Sebenarnya ada tiga tipe tantrum. Attention tantrum adalah tipe dimana anak bermain tenang tapi meledak-ledak segera setelah Anda mengalihkan perhatian saat menerima telepon. Tangibles tantrum, anak tantrum ketika ia ingin sesuatu yang tidak bisa ia miliki, seperti permen saat berada di minimarket. Command avoidance tantrum terjadi ketika anak menolak mengubah apa yang ia lakukan, seperti mandi atau tidur. Untuk dua tipe pertama, yang paling baik adalah mengabaikannya karena perhatian Anda adalah yang anak inginkan. Untuk command avoidance tantrum, Anda perlu bersikap lebih tegas. Katakan, “Bunda akan hitung sampai 5. Di hitungan ke-5, kamu harus membereskan mainan dan ganti baju untuk tidur.” Menghitung jadi cara yang bagus karena anak tidak bisa segera beralih ke aktivitas yang enggan dilakukan, dengan menghitung berarti memberi anak waktu untuk menyesuaikan. Bila di hitungan kelima anak tidak melakukan yang Anda minta, letakkan tangan Anda pada anak dan bimbing ia untuk melakukan permintaan Anda. Batita biasanya tidak suka dikontrol dengan cara ini dan akan mencoba menghindarinya di lain waktu.
  •  
  • Bila Anda merasa terdesak, seperti terlambat ke suatu acara dan anak merajuk minta permen, kadang yang terbaik untuk kewarasan Anda adalah menyerah dan mengikuti kemauan anak. Tapi jangan menyangkal permintaan anak lalu menyerah, karena ini mengajarkan anak ketika ia bersikap gigih dan keras kepala, ia akan mendapat apa yang diinginkan.

 

Bisakah kita mencegah anak agar tidak tantrum?

Meski tidak realistis bila orangtua ingin menghilangkan semua tantrum anak, masih bisa menurunkan frekuensi dan intensitasnya. Berikut ini beberapa saran dari para ahli:

  • Orangtua perlu belajar bagaimana mengatasi frustasi dan kemarahan sendiri dengan cara yang efektif, karena anak belajar dengan mengamati.
  •  
  • Buat ekspektasi yang realistis untuk perilaku anak di rentang usianya. Mengharap batita tetap duduk tenang selama sesi ibadah atau ketika berada di restoran mewah hanya akan memicu frustrasi bagi orangtua dan anak.
  •  
  • Bantu anak menemukan cara verbal yang tepat untuk mengekspresikan frustr Anda bisa katakan, “Bunda tahu kamu marah waktu Bunda nggak membolehkan kamu main pisau, tapi kamu nanti bisa luka.”
  •  
  • Berikan reward ketika melihat perilaku baik anak.
  •  
  • Kurangi situasi yang berpotensi tantrum dengan memberi pemberitahuan lebih dulu. Misalnya, “Kita pergi dari taman ini setelah kamu main perosotan dua kali.” Ini memberi anak kesempatan untuk mengontrol situasi dan mengembangkan pendekatan alternatif untuk peristiwa yang menimbulkan frustrasi.
  •  
  • Batita menginginkan kontrol. Berikan pilihan sederhana dan beri pujian untuk apapun yang jadi pilihannya. Misalnya, “Kamu mau apel atau pisang? Apel, Bunda juga suka apel.” Tak perlu katakan, “Kalo kamu nggak makan apel ini, kamu nggak boleh kemana-mana sampe apelmu habis.” Hampir tiap orangtua tahu kalau ancaman ini tidak dapat diterapkan.
  •  
  • Sebisa mungkin buat perencanaan lebih dulu dan hindari situasi yang memicu konflik. Misalnya, perjalanan ke pasar selama satu jam di siang hari terasa berat untuk Anda dan si kecil. Lakukan di pagi hari, dengan catatan anak boleh main di taman bila berperilaku baik.

 

Bagaimana seharusnya orangtua menghadapi anak yang tantrum?

Selama bertahun-tahun, orangtua dan psikolog telah mengembangkan sejumlah saran untuk membantu mengatasi tantrum, antara lain:

  • Jangan terpicu emosi karena situasi. Tetap tenang dan jangan emosional. Bila memungkinkan, misalnya di rumah, beritahu anak kalau Anda tidak mengerti omongannya ketika ia berperilaku tantrum dan tinggalkan ruangan. Informasikan ke anak kalau ia mau tenang Anda akan bicarakan apa yang ia inginkan.
  •  
  • Coba alihkan dan arahkan anak. Banyak orangtua merasa kalau strategi ini lebih berhasil pada anak yang lebih kecil.
  •  
  • Disiplin perlu diaplikasikan dan tanpa emosi orangtua. Rekomendasi time out satu menit per usia anak bisa diterapkan. Berikan penjelasan verbal singkat seperti, “Kamu akan dapat time out karena mencubit adik. Kita tidak mencubit karena bikin sakit.”
  •  
  • Sadari kalau tantrum adalah cara anak menguji batas Anda serta cara untuk melampiaskan emosi. Bila anak menyadari kalau ia lebih mungkin berhasil di kondisi tertentu, misalnya ketika antre di pusat perbelanjaan, ia akan bertahan di lokasi ini. Orangtua bisa sangat frustrasi oleh tantrum anak di tempat umum. Jangan khawatir, hampir semua orangtua pernah mengalami hal serupa.
  •  

 

Apakah anak perlu dihukum karena tantrum?

Tantrum pada anak usia 2 hingga 4 tahun dianggap jadi bagian yang normal dari perkembangannya. Di usia 4 tahun, kebanyakan anak telah mengembangkan kemampuan kontrol diri serta kemampuan bahasa yang akan mengurangi frekuensi dan intensitas tantrum. Anda bisa bicarakan ke dokter anak bila anak mengalami tantrum lebih dari 3 kali dalam satu minggu.

 

Ketika tantrum semakin jarang terjadi, anak memiliki kemampuan ekspresif verbal yang meningkat. Selain itu, anak juga mengembangkan teknik yang lebih berhasil untuk mencapai tujuannya. Proses pematangan ini membutuhkan peran orangtua sebagai contoh bagi anak. Bila orangtua menaikkan suara, melempar benda, atau menggunakan kekerasan fisik, anak akan melihat ini sebagai contoh bagaimana orang dewasa mengatasi frustasi.

(Ismawati)