Balita

Ayah Ibu, Yuk, Kenali Perkembangan Bahasa Anak di Tiap Usia!

Ayah Ibu, Yuk, Kenali Perkembangan Bahasa Anak di Tiap Usia!

Tahap perkembangan bahasa merupakan suatu fase yang tak kalah penting untuk diketahui orangtua terkait tumbuh kembang anaknya. Di samping pertumbuhan secara fisik seperti pertambahan berat badan, tinggi badan, atau lingkar kepala, anak juga akan melalui tahapan non-fisik, salah satunya perkembangan bahasa yang dimulai bahkan sejak anak baru lahir. Ya, walau ia belum bisa mengucapkan suatu kata apapun, perkembangan bahasa anak tetap bisa dilihat dari caranya menangis saat menginginkan sesuatu, atau kemampuannya dalam merespons suara orang dewasa.

Karena perkembangan bahasa anak merupakan suatu rangkaian atau proses, maka tentu saja anak tidak akan langsung bisa berbicara menggunakan bahasa manusia. Secara garis besar, perkembangan bahasa anak terbagi menjadi dua tahap. Seperti dilansir dari laman Highline College, berikut dua tahapan tersebut:

  1. Tahap pralinguistik

    Tahap pralinguistik merupakan bentuk perkembangan bahasa anak yang ia alami saat masih baru lahir. Di tahap ini, anak baru belajar mengekspresikan simbol-simbol tertentu seperti menangis, berteriak, atau tertawa. Ia belum bisa menirukan suara orang dewasa atau merangkai suara-suara tertentu menjadi kata-kata yang tepat.

    Tahap perkembangan bahasa anak ini biasanya dilalui anak dari umur 0 hingga 13 bulan. Di rentang usia tersebut anak belum bisa berkomunikasi lewat bahasa, ia akan menyampaikan perasaannya, mulai dari senang, sedih, takut, atau tidak nyaman lewat berbagai ekspresi seperti tangisan, rengekan, jeritan, atau tawa. Bentuk-bentuk komunikasi tersebut juga digunakan saat mereka menginginkan sesuatu, misalnya makan, minum, tidur, digendong, diganti popoknya, diajak berinteraksi, dan banyak lainnya.

    Tahap perkembangan pralinguistik ini dibagi lagi menjadi 4 kategori:

    • Suara vegetatif (0-2 bulan): suara alami yang dibuat bayi, seperti serdawa atau menangis;

    • Tertawa dan menderu (2-5 bulan): suara yang dibuat bayi saat senang atau menunjukkan kepuasan, dapat terdiri dari suara vokal atau konsonan;

    • Permainan vokal (4-8 bulan): rangkaian suara vokal atau konsonan yang lebih panjang; dan

    • Mengoceh (6-13 bulan): anak mulai mampu menghasilkan rangkaian suku kata vokal konsonan seperti ma-ma, da-da, pa-pa, walau biasanya anak belum memahami arti ocehannya tersebut

  2. Tahap linguistik

    Di tahap perkembangan bahasa anak ini, anak sudah mulai bisa mengucapkan bentuk kata-kata yang lebih mudah dimengerti, walaupun bentuknya belum jelas. Ia juga mulai belajar merangkai kata untuk menyampaikan sesuatu kepada orang dewasa di sekitarnya. Ada enam periode perkembangan bahasa linguistik:

    • Periode awal perkembangan bahasa anak di tahap linguistik adalah ketika anak mulai menggunakan kombinasi suara tertentu secara konsisten untuk menyebut sesuatu. Misalnya anak akan mengatakan ‘ja’ untuk menyebut meja, atau ‘cucu’ saat meminta susu. Periode ini dimulai sekitar usia 12-19 bulan.

    • Periode selanjutnya dimulai sekitar usia 14-24 bulan. Pada tahap ini, kata-kata yang digunakan oleh anak sudah dapat diidentifikasi, dan ia mulai menamai dan memberi label pada orang dan benda di lingkungannya, misalnya ‘papa’, ‘mama’, ‘gukguk’, ‘dada’, dan lain sebagainya.

    • Berikutnya adalah periode perkembangan bahasa dua kata. Sesuai dengan namanya, di periode ini, anak akan mulai menggabungkan dua kata menjadi satu frase sederhana, seperti 'ibu duduk' atau 'papa mamam'. Periode dua kata biasanya dimulai dari usia 20-30 bulan.

    • Selanjutnya adalah periode tiga kata yang dimulai sekitar usia 28-42 bulan. Selama periode ini, seorang anak menambahkan setidaknya satu kata lagi ke frasa mereka dan mulai menggunakan kata ganti. Mereka juga mungkin mulai dapat mengurutkan kalimat menjadi subjek-predikat-objek (SPO). Contohnya adalah ‘mama makan ayam’, ‘kucing mimik air’, dan sebagainya.

    • Pada usia sekitar 34-48 bulan, periode empat kata dimulai. Saat ini, anak akan mulai menggunakan kombinasi empat hingga enam kata. Mereka akan menggunakan lebih banyak preposisi. Anak juga mulai mampu menyebutkan kata sifat. Contohnya adalah 'Sasa punya anjing kecil' atau 'Oma tidur di kursi besar’.

    • Periode terakhir perkembangan bahasa linguistik adalah periode pengucapan yang kompleks. Ini dimulai sekitar usia 48-60 bulan. Pada saat ini, seorang anak secara teratur menghasilkan frasa yang panjangnya lebih dari enam kata, dan mereka mulai mengekspresikan konsep masa lalu dan masa depan. Contohnya adalah 'Ayah pulang kerja besok' dan 'Aku melihat kelinci di taman kemarin.' Mereka mungkin juga mulai menggunakan kontraksi, seperti 'tidak bisa' atau 'tidak'. Peneliti tidak bisa memastikan kapan periode ini selesai dan kapan struktur kalimat orang dewasa bisa tercapai. Tapi sebagian menganggap periode ini berkisar antara 5 tahun hingga 12 tahun.

Pencapaian dalam Tahap Perkembangan Bahasa Anak

Supaya lebih mudah memahami perkembangan bahasa anak, Ibu juga bisa mencocokkan pencapaian anak dengan tahap perkembangan bahasa yang dibagi sesuai usia. Di sini perlu diketahui bahwa kemampuan mendengar sangat penting untuk perkembangan bicara dan perkembangan bahasa anak agar tepat. Masalah pendengaran kemungkinan dicurigai sebagai penyebab ketidakmampuan anak merespons suara atau ketika kemampuan bahasa mereka tidak berkembang dengan baik. Berikut pedoman perkembangan bahasa anak sesuai usia yang dapat membantu orangtua untuk memutuskan apakah si kecil mengalami masalah pendengaran, mengutip dari laman Stanford Children’s Health.

  1. Usia 0 sampai 5 bulan

    • Menderu (cooing);
    • Tertawa, cekikikan, menangis, rewel; dan
    • Mengeluarkan suara saat diajak bicara.
  2. Usia 6 sampai 11 bulan

    • Memahami konsep larangan “no-no”;
    • Berceloteh “ba-ba-ba”;
    • Mengucapkan “ma-ma” atau “pa-pa” tanpa arti;
    • Mencoba berkomunikasi menggunakan gerak tubuh;
    • Mencoba mengulangi suara orang dewasa; dan
    • Mengucapkan kata pertama.
  3. Usia 12 sampai 17 bulan

    • Mampu menjawab pertanyaan sederhana secara nonverbal, seperti misalnya saat ditanya “Di mana mainannya?”, ia menjawab dengan menunjuk;
    • Mengucapkan 2 hingga 3 kata untuk melabeli orang atau subjek, meski pengucapannya mungkin belum jelas;
    • Mencoba meniru kata-kata sederhana; dan
    • Kosakata meningkat 4 hingga 6.
  4. Usia 18 sampai 23 bulan

    • Kosakata bertambah jadi 50 kata walau pengucapannya masih seringkali tidak jelas;
    • Mampu meminta makanan umum dengan nama;
    • Menirukan suara binatang, seperti “moo” untuk sapi, atau “mbeek” untuk kambing;
    • Mulai menggabungkan kata-kata, seperti “Mau cucu lagi”;
    • Mulai menggunakan kata ganti seperti “Punyaku”; dan
    • Menggunakan frasa 2 kata.
  5. Usia 2 sampai 3 tahun

    • Mulai memahami beberapa konsep spasial seperti “di dalam”, di luar”;
    • Mengetahui bentuk kata ganti seperti “kamu”, “aku”, atau “dia”;
    • Mengetahui kata-kata deskriptif seperti “besar”, “sempit”, “senang”;
    • Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 3 kata;
    • Kemampuan bicaranya mungkin sudah mulai mendekati akurat, tapi biasanya masih belum dapat dipahami orang asing. Hanya orang-orang terdekat saja yang terkadang mengerti apa yang dibicarakan;
    • Mampu menjawab pertanyaan sederhana;
    • Mulai menggunakan lebih banyak kata ganti, seperti “kamu” atau “aku”;
    • Mampu melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan kepemilikan seperti “mainanku?”; dan
    • Mulai menggunakan bentuk jamak untuk menyebut benda, seperti “bolanya banyak”, “permennya banyak”, dan mulai memahami konsep lampau, seperti “kemarin Ibu masak ayam”.
  6. Usia 3 sampai 4 tahun

    • Dapat mengelompokkan benda, misalnya yang tergolong makanan yang mana saja, pakaian yang mana saja, dan lain sebagainya;
    • Mampu mengidentifikasikan warna;
    • Pengucapan kata semakin jelas, tapi mungkin masih belum bisa mengucapkan suara yang lebih sulit seperti l, r, s, sh, ch, y, v, z, th. Suara ini mungkin belum sepenuhnya dikuasai sampai anak menginjak usia 7 atau 8 tahun;
    • Mampu menggunakan konsonan di awal, tengah, dan akhir kata. Beberapa konsonan yang lebih sulit mungkin kurang jelas pengucapannya, tetapi biasanya ia akan mencoba untuk mengatakannya;
    • Orang asing mulai dapat mengerti lebih banyak apa yang dikatakan;
    • Dapat menjelaskan penggunaan benda seperti sendok, gelas, atau sepeda;
    • Mulai mengenal absurditas bahasa, jadi jangan kaget kalau anak tiba-tiba mengucapkan hal-hal random seperti “Kucing di atas kepala”, “Apel makan ayam”;
    • Mampu mengekspresikan ide dan perasaan;
    • Mampu menjelaskan apa yang sedang ia lakukan, misalnya “Aku lagi jalan kaki”, “Adek lagi makan kentang”;
    • Dapat menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Kalau lapar kita harus ngapain?”, “Kalau ngantuk?”; dan
    • Mengulangi kalimat yang diucapkan orang lain.
  7. Usia 4 sampai 5 tahun

    • Memahami konsep spasial, seperti "di belakang" atau "di samping";
    • Memahami pertanyaan kompleks;
    • Ucapan dapat lebih dimengerti, tetapi masih sering salah mengucapkan kata-kata yang panjang, sulit, atau rumit;
    • Menggunakan beberapa kata kerja lampau tidak beraturan;
    • Menjelaskan bagaimana melakukan sesuatu, seperti menggambar;
    • Mampu mengelompokkan benda sesuai kategori, seperti hewan, atau kendaraan; dan
    • Menjawab pertanyaan “mengapa”.
  8. Usia 5 tahun ke atas

    • Memahami urutan waktu, misalnya apa yang terjadi pertama, kedua, atau ketiga;
    • Menyebutkan arah;
    • Memahami rima;
    • Terlibat dalam percakapan;
    • Mengucapkan kalimat yang terdiri dari 8 kata atau lebih;
    • Menggunakan kalimat majemuk dan kompleks;
    • Menjelaskan objek; dan
    • Menggunakan imajinasi untuk membuat cerita.

Cara Menstimulasi Perkembangan Bahasa Anak

Meski perkembangan bahasa anak berbeda-beda antara satu dengan yang lain, alangkah baiknya bila orang tua terus membantu si kecil mengasah kemampuan bahasanya. Simak yuk cara menstimulasi perkembangan bahasa anak di pembahasan berikut:

  1. Tahun-tahun pertama

    Di awal-awal bayi baru lahir, Ibu dapat menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan menanggapi suara yang dikeluarkan bayi secara verbal. Bersikap aktif dan rajin mengajak bayi berbicara walau ia belum bisa memahami perkataan kita, sangat berguna merangsang kemampuan bicaranya, seperti dilansir dari Child Development Institute. Saat bayi berusia 6 bulan, gunakan bahasa isyarat atau gerak tubuh saat mengobrol dengannya. Tunjuk dan sebutkan hal-hal yang mereka lihat. Gunakan suara atau nada yang berlebihan supaya lebih ekspresif saat Ibu mendeskripsikan sesuatu.

  2. Balita dan anak usia pra-sekolah

    Saat anak mulai menginjak usia 2 tahun atau saat ia berada di usia pra-sekolah, Ibu dan Ayah dapat merangsang perkembangan bahasa anak dengan memulai percakapan dan menanyakan peristiwa yang baru mereka lakukan. Misalnya ketika anak baru selesai menggambar, pancing ia dengan pertanyaan “Adek gambar apa? Oh, gajah ya. Gajah suaranya gimana sih, dek?”. Hal ini tidak hanya merangsang perkembangan bahasa anak, tetapi juga kemampuan berpikir, berkreasi, dan rasa humor.

    Tingkatkan kerumitan tata bahasa dan kosakata yang Ibu gunakan untuk berkomunikasi secara bertahap. Beri anak informasi terkait suatu peristiwa atau hal-hal yang mereka lihat dan perasaan yang mereka rasakan. Ajak anak membaca buku bersama, dan bacalah secara interaktif untuk melibatkan partisipasi mereka. Ajukan pertanyaan secara dramatis, dan biarkan mereka menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tunjuk gambar lalu minta anak  untuk melakukan hal yang sama.

  3. Anak usia sekolah dan sesudahnya

    Saat anak sudah mulai bisa mengucapkan beberapa kata dan merangkainya dalam kalimat utuh, jangan berhenti untuk menstimulasi perkembangan bahasa anak, karena proses ini masih akan terus berlangsung hingga ia dewasa. Buat pertemuan rutin bersama keluarga, seperti misalnya makan bersama di meja makan. Beri kesempatan setiap anggota untuk menceritakan apa pun, misalnya saat makan malam, tanyakan kepada anak bagaimana hari-harinya di sekolah. Dorong anak mengungkapkan apa yang ia sukai dan tidak sukai saat di sekolah.

    Ketika waktu makan bersama tiba, non-aktifkan gadget dan televisi agar masing-masing anggota keluarga fokus pada percakapan yang berlangsung. Ajak anak rutin membaca buku, misalnya sebelum tidur. Saat ia sudah menyelesaikan sebuah buku, tanyakan tentang pikiran dan perasaan mereka tentang cerita dalam buku tersebut.

Apa Ciri-ciri Adanya Gangguan Perkembangan Bahasa Anak?

Orangtua sering merasa khawatir saat anaknya belum bisa fasih bicara seperti anak tetangga atau anak lain di keluarganya. Namun, sebelum memutuskan menemui tenaga ahli untuk berkonsultasi, sebaiknya Ibu dan Ayah mengobservasi dulu apakah ada gangguan pada perkembangan bahasa anak dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah anak kurang bisa fokus dan perhatian jika diajak berinteraksi?
  2. Apakah ucapan mereka sulit dimengerti?
  3. Dapatkah mereka memahami petunjuk sederhana?
  4. Apakah mereka kurang bisa bersosialisasi?
  5. Apakah anak tampak tidak tertarik jika Ibu atau Ayah membacakan buku untuknya?
  6. Apakah mereka bisa mengulangi apa yang Ibu katakan atau mengatakan hal yang sama berulang kali?
  7. Apakah mereka kurang berempati terhadap perasaan orang lain?
  8. Apakah mereka tampak tidak menikmati percakapan?
  9. Apakah mereka hanya tertarik untuk berbicara atau membaca tentang satu topik?
  10. Apakah anak tidak menyukai fantasi atau kurang memiliki selera humor?

Penting untuk diingat bahwa perkembangan bahasa anak bisa jadi berbeda antara satu dengan yang lainnya. Anak-anak punya milestone-nya masing-masing. Namun, jika Ibu atau Ayah curiga adanya gangguan pada perkembangan bahasa anak  dan anak tampak tidak menunjukkan perkembangan kemampuan bicaranya yang signifikan, tidak ada salahnya menemui penyedia layanan kesehatan yang mumpuni. Yang terpenting, selalu peka terhadap pertumbuhan dan perkembangan si kecil ya, Bu, termasuk perkembangan bahasa anak.

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih