Balita

Bukan Penakut Atau Pemalu! Kenali Beragam Tipe Anak Bertemu Orang Baru

Bukan Penakut Atau Pemalu! Kenali Beragam Tipe Anak Bertemu Orang Baru

Ada macam-macam reaksi anak bertemu orang baru. Hampir semuanya nggak bisa langsung ‘klik’ dan enjoy.

Nggak sedikit juga orang tua yang keburu malu sama teman atau kerabat yang ditemui, sehingga keburu cepat-cepat melabeli anak sebagai ‘penakut’ atau ‘pemalu’. Padahal sebisa mungkin hindari melakukan ini, ya Bu.

Ketika anak bertemu orang baru, memang membuat ia juga butuh waktu untuk beradaptasi. Jarang sekali ada anak yang langsung klik seperti apa yang Ibu mau. 

Jadi, ketimbang melabeli anak penakut atau pemalu, ada baiknya ketahui dulu yuk beberapa tipe anak bertemu orang baru dalam ulasan berikut ini.

Perlu penyesuaian saat anak bertemu orang baru


Seperti yang kita tahu, kita sendiri sebagai orang dewasa butuh waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan atau orang yang baru kita temui. Dalam dunia anak, bertemu dengan orang baru bahkan lebih sulit dari yang dialami orang dewasa.

Mereka punya cara sendiri dalam bereaksi ketika bertemu orang baru. Hal ini sangat wajar terjadi ketika kalau anak takut bertemu orang baru. Karena selama ini hanya mengenal orang tua dan beberapa orang terdekatnya sebagai dunianya.

Sehingga orang baru berarti ‘dunia baru’ untuk mereka. Mereka tentu akan memilih dunia yang membuatnya nyaman dan sudah mereka kenal.

Melansir dari Raising Children, umumnya bayi atau anak bertemu orang baru dan merasa lebih takut ketika mereka berusia 5-6 bulan. Ini akan semakin intens ketika berusia 7-19 bulan.

Kelihatannya seperti gampang rewel dan susah bertemu orang baru. Tapi, di usia 18 bulan hingga 2 tahun frekuensi ketakutan ketika anak bertemu orang baru akan menurun.

Seiring berjalannya waktu, dengan bimbingan kepercayaan diri yang tepat, selepas 2 tahun anak sudah tidak lagi rewel atau takut saat bertemu orang baru. Pada beberapa anak memang masih terus berlanjut, namun bukan menjadi kasus yang umum.

Tipe reaksi anak bertemu orang baru


1. Ngumpet dulu

Maunya sembunyi di belakang Ayah atau Ibu sambil curi-curi pandang.

2. Tutup muka

Pokoknya nggak mau lihat dan nggak suka dilihat. Kalau udah menjauh, baru deh buka mata.

3. Auto nangis

Buru-buru peluk Ayah atau Ibu biar merasa aman. Orang baru cenderung bikin perasaan tak menentu. Apalagi mereka nggak tau bagaimana karakter orang baru itu.

4. Cuek di awal

Tipe-tipe anak bertemu orang baru yang bakalan diem aja waktu ditanya dan menghindar saat didekati. Nah, kalau udah gini, kasih waktu aja dulu, Bu. Pelan-pelan nanti akan terbuka juga.

5. Si ramah

Langsung terbuka saat anak bertemu orang baru. Si friendly yang selalu menjawab saat diajak ngobrol, meski kadang jawabannya pendek-pendek.

6. Si suka cerita

Udah kayak kran bocor, ngalir terus cerita-ceritanya. Semua bahkan dengan lantang bisa diceritakab olehnya, sampai bikin ketar-ketir kalau kelepasan ngomong soal internal keluarga.

Ya, begitulah keunikan masing-masing anak, Bu. Kita nggak bisa memaksakan mereka harus langsung mau cerita-cerita sama orang baru.

Setiap anak punya caranya sendiri dalam beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru. Sekalian aja Ibumin kasih tipsnya untuk membersamai anak bertemu orang baru, yuk Bu!

Tips menyiapkan anak bertemu orang baru


1. Persiapan sebelum bertemu

Laman Zero to Three menyarankan, agar orang tua membuat persiapan sebelum anak bertemu orang baru. Ceritakan tentang situasi yang akan dihadapi anak dan siapa yang akan anak temui nantinya. Bila perlu, gunakan buku atau foto untuk memberi gambaran singkat pada anak ketika bertemu orang baru nantinya.

2. Komunikasikan secara positif

Gaya berkomunikasi yang positif akan membatu anak membangun kepercayaan dirinya. Anak akan yakin kalau nggak apa-apa kok bertemu orang baru selain Ibu dan Ayah. Parents will be there too and they will be fine.

Melansir dari Parenting Science, komunikasi yang positif membangun hubungan sosial anak dengan orang lain. Termasuk di antaranya dengan terbuka pada anak, tidak menggunakan ancaman atau kekerasan dan selalu berdiskusi dengan anak tentang sesuatu.

Coba deh, Ibu bandingkan antara 2 kalimat ini:

  • “Kakak besok kita ketemu sama Om Banyu, ya. Om Banyu itu sepupu Ibu. Awas lo ya nggak boleh nakal, harus salim dan nggak boleh malu-malu”
  • “Kakak, besok kita mau ketemu Om Banyu, sepupu Ibu. Kakak baru pertama kali ketemu Om Banyu. Waktu ketemu nanti, Kakak boleh pilih mau sapa Om dengan cara apa, asalkan tetap sopan, ya. Kalau Kakak masih malu, boleh bilang sama Ibu, ya. Nanti Ibu temani Kakak sampai Kakak siap ngobrol bareng sama Om Banyu.”

Komunikasi positif di kalimat kedua lebih menegaskan pada anak kalau saat anak bertemu orang baru mereka akan baik-baik saja, ada orang tuanya, dan mereka boleh mengeskpresikan cara mereka dengan pilihan mereka sendiri.

3. Bantu anak kelola emosinya

Anak masih belajar mengelola emosinya. Orang tua bisa bantu mengarahkan. Saat anak merasa belum siap bertemu dengan orang baru, respon orang tua terhadap emosi anak akan memengaruhi sikap dan perilaku anak berikutnya.

Disebutkan dalam Parenting Science bahwa, sebuah penelitian di tahun 1997 menunjukkan lemahnya kemampuan anak mengelola diri dan emosinya ketika orang tuanya merespon emosi anak secara negatif.

Ketika anak masih belum siap menyapa orang baru lalu orang tua langsung melabeli “anak penakut” atau “anak pemalu”, anak akan menangkap ini sebagai dirinya yang sebenarnya. Di momen lain pun anak akan mengulang hal ini lagi dan tidak percaya diri ketika berada di situasi baru.

4. Biasakan anak dengan situasi serupa

Sering membawa anak bertemu orang lain juga bisa jadi solusi lho, Bu! Anak akan semakin terbiasa bertemu dengan orang baru dan menikmati momen yang ada.

Dari sini kita bisa mengetahui, kalau ternyata proses anak bertemu orang baru tidak sekali atau dua kali. Latihannya berkali-kali, melibatkkan peran pengajaran orang tua di rumah dan pendampingan yang telaten.

Tak perlu berkespektasi tinggi, santai saja saat menyiapkan ini. Bila tips-tips sudah dilakukan dan anak masih takut saat bertemu orang baru, tak perlu dongkol atau risau, Bu.

Beri anak waktu sedikit lebih banyak untuk menyesuaikan diri. Selebihnya anak akan terbiasa sendiri.

Editor: Aprilia