Kelahiran

12 Ciri Bayi Rewel dan Cara Menghadapinya

Terakhir diperbaharui

12 Ciri Bayi Rewel dan Cara Menghadapinya

Ibu punya bayi yang sering menangis? Atau maunya nempel ibu terus? Atau mungkin bayi ibu sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan bahkan pengasuh baru? Well, mungkin bayi ibu termasuk bayi rewel, lebih tepatnya merupakan bayi dengan kebutuhan tinggi alias high need baby.

Mungkin ibu pernah melihat ada bayi yang sangat mudah tertidur dan sulit bangun meski berada di tengah suasana ribut. Ada juga bayi yang tetap tenang ketika berpindah gendongan ke orang yang belum dikenal, misalnya sahabat ibu.

Bayi yang relatif tenang pun bisa terlihat nyaman meski duduk di stroller sepanjang waktu jalan-jalan di mall. Atau dengan manisnya membolak-balikkan mainannya ketika didudukkan di high chair restoran sambil ibu menyantap makanan dengan tenang.

"Bayi saya kok tidak bisa seperti itu?"

Ketika pertanyaan tersebut spontan terbesit dalam benak ibu, mungkin bayi ibu termasuk tipe bayi rewel atau high need baby. Secara garis besar, bayi seperti ini memiliki kriteria yang berbeda 180 derajat dibanding gambaran di atas.

Tetapi tidak usah sedih karena ibu bukan satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki tipe bayi dengan kebutuhan tinggi ini.


3 Penyebab Bayi Rewel


  1. Bawaan lahir

    Istilah 'bau tangan' sering dijadikan kambing hitam jika ibu memiliki bayi rewel. Setiap anak menangis, ibu selalu menggendongnya sehingga, konon kabarnya, anak jadi terlalu lengket dengan ibunya.

    Benarkah?

    Ternyata itu cuma mitos lho, Bu. Para ahli berkesimpulan bahwa high need baby bukan tercipta karena kesalahan pola asuh ibu, namun karakter bayi berkebutuhan tinggi memang sudah terbentuk sejak di dalam kandungan, atau bahasa kerennya 'sudah dari sananya.'

    Jadi, ibu tidak perlu merasa bersalah ya jika si bayi terbangun di malam hari dan menangis keras. Tidak salah juga jika ibu langsung menggendong dan menyusuinya agar anak menjadi tenang, bahkan dua hal itulah yang direkomendasikan oleh dokter maupun praktisi anak di seluruh dunia.


  2. Ibu hamil yang stres di trimester ketiga 

    Beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Amerika Serikat, Elysia Poggi Davis, menunjukkan adanya hubungan antara stres saat hamil dengan bayi rewel ini. Hasil riset ini pun sudah dipublikasikan, semisal di Jurnal Psikologi dan Psikiatri Anak di mana bayi mungkin terpapar hormon stres dari ibu yang juga mengalami kecemasan berlebihan saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga.

    "Stres yang ibu hamil rasakan membuat bayi yang dilahirkan cenderung lebih cepat merasa takut atau cemas," kata Dr Chua Mei Chien, konsultan senior di Departemen Neonatologi di KK Women’s and Children’s Hospital (KKH), Singapura.


  3. Pola pikir

    Merupakan sifat alamiah bayi untuk selalu merasakan kehangatan ibu, apalagi di masa-masa awal kehidupannya. Ibu hanya harus tutup kuping terhadap komentar-komentar miring setiap kali bayi rewel.

    Hal lain yang perlu diingat adalah bayi rewel bukanlah pertanda bahwa ia adalah anak yang lebih nakal dibanding bayi yang relatif tenang. Rewel atau tidak hanya masalah pola pikir orang tua ditambah pengalaman dalam mengasuh anak.

    Saat mengasuh anak pertama, ibu mungkin menganggap bayi rewel ialah yang selalu menangis setiap kali diajak ke tempat ramai. Namun, orang tua yang sama bisa menganggap hal itu biasa-biasa saja ketika mengasuh anak kedua, atau malah sebaliknya.


12 Ciri-Ciri Bayi Rewel

Pada dasarnya, semua bayi merupakan high need baby. Namun, bayi A bisa memiliki tuntutan yang berbeda dibanding bayi B, atau bayi A dan B punya tuntutan yang sama tapi bayi A bersuara lebih keras sehingga dicap sebagai bayi yang lebih rewel. 

Secara garis besar, Dr. William Sears menyebut ada 12 karakteristik bayi rewel yang masuk kategori high need baby sebagai berikut:

  1. Intens

    Perawat bayi berpengalaman biasanya sudah bisa memberi cap bahwa bayi tertentu akan menjelma menjadi high need baby atau tidak sejak masih berada dalam ruang perawatan. Pasalnya, bayi rewel susah untuk tenang ketika berada jauh dari ibunya sehingga kerap menangis histeris.

    Tangisan tersebut menandakan bahwa bayi butuh penanganan segera. Yang paling awam, mereka butuh berada di dekat ibu untuk lekas menyusu.

    Mereka pun cenderung mengeluarkan energi berlebih jika punya keinginan seperti ini, yaitu menangis keras-keras, menyusu dengan rakus, dan terlihat kesal ketika keinginan mereka tidak terpenuhi. Sikap mirip keras kepala ini juga terlihat lewat body language, yaitu tangan mengepal, badan meregang, dan otot-otot seperti menyembur keluar kulit.


  2. Hiperaktif

    Bayi hiperaktif senang sekali membuat segala kegiatan seakan senam kesegaran jasmani. Dipeluk, tidak mau. Digendong, malah meloncat-loncat seperti ingin lepas dari gendongan. Disusui, malah membuat ibu serba salah dengan berganti-ganti payudara seakan ASI tidak cukup (padahal tidak ada istilah ASI tidak cukup).

    Kalau sudah begini, ibu hanya harus banyak bersabar dan jangan dengar kata kanan-kiri. Sama seperti stigma high need baby, memiliki anak hiperaktif bukan sepenuhnya salah ibu karena ini merupakan gangguan konsentrasi yang dibawa sejak lahir.

    Kata 'hiperaktif' itu sendiri tidak berkonotasi negatif meski kamus kesehatan menyatakan ini adalah salah satu bentuk gangguan mental pada anak. Tetapi, kadang kala ia hanya merupakan label yang diberikan oleh lingkungan ketika bayi atau anak kita bergerak lebih banyak dibanding teman-teman bermainnya yang lain. 

    Ibu dengan bayi hiperaktif pun tak perlu berkecil hati karena beberapa orang sukses di dunia dulunya divonis hiperaktif. Mereka adalah ilmuwan Albert Einstein, peraih medali emas cabang renang asal Amerika Serikat Michael Phelps, pebasket Michael Jordan, maupun aktris Emma Watson.


  3. Melelahkan

    Merawat bayi sudah pasti membuat ibu dan ayah kelelahan. Nah, bayangkan kelelahan itu berlipat dua kali lebih banyak jika orang tua memiliki high need baby.

    Jika sudah begini, ibu perlu mengasihani diri sendiri dengan beristirahat saat bayi juga tengah istirahat. Berdamailah dengan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, ataupun kompor yang tak pernah lagi dipergunakan untuk memasak.

    Adalah hal yang manusiawi jika ibu merasa kelelahan setelah seharian menggendong, menyusui, hingga menyanyikan lagu nina bobo. Menjadi ibu dengan bayi rewel seperti tidak ada waktu istirahatnya, tapi hari-hari tertentu akan terasa lebih ringan seiring dengan pengalaman yang ibu rasakan setiap hari.


  4. Sangat sering menyusu

    Normalnya, ibu hanya harus menyusui 10 hingga 12 kali per hari (dengan jeda 2 jam sekali). Namun dengan bayi berkebutuhan tinggi, ibu bisa menyusui hingga 30 kali sehari dengan interval bisa jadi hanya per 30 menit.

    Selain lebih sering, high need baby juga menyusu lebih lama. Hal ini sering disalahartikan ibu sebagai sinyal ASI kurang, padahal anak hanya merasa nyaman dengan keberadaan ibu sehingga tidak ingin melepaskan payudara ibu. Jadi, jangan buru-buru menyodorkan botol dot berisi susu formula ya.

    Jika sudah begini, ada baiknya ibu tidak membatasi diri dalam menyusui bayi dan memberi ASI sesuai demand si bayi. Tidak jarang, high need baby seperti ini baru bisa disapih di atas usia 2 tahun.


  5. Penuntut

    Ketika bayi berkebutuhan tinggi menginginkan sesuatu, mereka akan mengkomunikasikannya dengan keras dan lantang. Ibu pun harus sigap memenuhi tuntutannya jika tidak menginginkan bayi berakhir dengan meraung-raung. 

    Karakteristik ini bisa meningkatkan level stres ibu, terlebih bayi belum bisa mengekspresikan kemauannya sehingga ibu hanya bisa menebak, sedangkan bayi rewel akan langsung mengamuk jika keinginannya tidak terpenuhi.

    Tetapi, rupanya karakteristik ini bisa jadi merupakan tanda awal intelegensia bayi yang tinggi. Bayi penuntut tahu apa yang ia mau, cara mendapatkannya, dan konsisten dengan keinginannya. Jika ini diarahkan dengan benar, bukan tidak mungkin ia menjadi orang sukses di kemudian hari.


  6. Sering terbangun

    Bayi rewel seakan selalu ingin merasakan semua hal di dunia, kecuali tidur. Solusinya, ibu harus pintar memanfaatkan waktu, termasuk ikut tidur ketika bayi tidur seperti diutarakan di poin 4.


  7. Tidak pernah puas

    Mendengar bayi rewel terus-menerus menangis kadang membuat ibu frustrasi. Apalagi, segala cara sudah dicoba, mulai dari menyusui, menggendong, nina bobo, mengganti bajunya, popok, dan sebagainya tetapi tidak ada yang berhasil.

    Duh, Ibu harus bagaimana?

    Pertama-tama, jangan merasa bahwa ibu telah gagal mengasuh anak hanya karena masalah ini. Karena, ingat, anak rewel itu 'sudah dari sananya!'

    Yang harus ibu lakukan adalah jangan menyerah untuk mencoba banyak hal untuk membuat bayi rewel berhenti menangis. Sabar adalah kunci.


  8. Tidak bisa diprediksi

    Jangan kaget bila high need baby mengalami perubahan suasana hati alias mood swing yang drastis. Hari ini ia bisa diajak berbelanja di pasar swalayan dengan riang gembira, namun keesokan harinya bisa menangis sejadi-jadinya ketika di bawa ke tempat yang sama.


  9. Super sensitif

    Jangan pula stres ketika anak tidak mau masuk ke rumah orang lain yang belum pernah ia kunjungi, sekalipun itu adalah rumah neneknya atau saudara sendiri. High need baby memang memiliki perasaan yang sangat sensitif terhadap teritorinya.

    Ia akan merasa kurang aman dan nyaman ketika datang ke tempat baru. Sisi positifnya, sifat ini bisa tumbuh menjadi rasa peka maupun empati yang tinggi saat anak sudah beranjak dewasa. 


  10. Tidak bisa ditaruh

    Bayi rewel sangat haus akan kontak dengan ibu, jadi siapkan tenaga untuk menggendongnya setiap saat, bahkan mungkin memangkunya sambil menggoyang-goyangkan kaki karena high need baby tidak ingin diam saja. Meninggalkannya di high chair atau stroller dalam waktu lama juga bukan pilihan karena ia ingin selalu bergerak bersama ibu.


  11. Tidak bisa menenangkan diri sendiri 

    Pernah lihat bayi yang bisa tidur sendiri tanpa ibu harus menggendong atau menyusuinya? Well, itu pasti bukan tipe high need baby karena bayi rewel pasti berlaku sebaliknya.

    Mereka lebih pintar daripada ponsel pintar yang memainkan musik agar ia bisa tidur sendiri. Bayi rewel juga tidak mungkin minum susu dari botol dot yang disanggah bantal. Ia hanya ingin didekap oleh ibu sebagai pengantar tidurnya.


  12. Susah pisah

    Sekejap saja ibu hilang dari pandangannya, saat itu juga bayi akan berteriak agar ibu kembali ke hadapannya. High need baby mudah merasa insecure tanpa kehadiran ibu sehingga ia biasanya langsung menangis ketika digendong oleh orang baru yang belum dikenalnya. 


8 Tips Menghadapi Bayi Rewel

Bayi rewel mungkin memiliki sejuta keinginan yang harus dipenuhi segera. Tetapi, jangan lupakan bahwa ibu juga manusia yang punya keperluan.

Menyeimbangkan kebutuhan ibu dengan bayi merupakan kondisi ideal orang tua, sekalipun bagi mereka yang memiliki high need baby. Ada baiknya ibu melakukan 8 tips berikut dalam menghadapi bayi rewel:


  1. Menghilangkan ekspektasi bayi ideal

    Memiliki bayi yang tenang merupakan dambaan setiap orang tua, tapi tentu ibu tetap harus survive ketika diberi amanah berupa bayi berkebutuhan tinggi. Ada baiknya, ibu menghilangkan pikiran mengenai bayi ideal versi ibu dan berdamai dengan bayi rewel sehingga hari-hari yang berat akan terasa lebih ringan.


  2. Belajar bahasa isyarat bayi

    Mengingat bayi belum bisa bicara, ada baiknya ibu belajar untuk mengerti bahasa isyarat yang dikeluarkan oleh bayi. Misalnya, bayi menangis keras dengan suara putus-putus menandakan haus, atau menangis keras hingga melengking karena ingin digendong, dan sebagainya.

    Ibu mungkin akan banyak menebak-nebak di awal periode perkenalan, tapi anggap saja ibu sedang belajar jadi detektif ya.


  3. Kenali bayi ibu sendiri

    Saat bayi rewel, nasehat mungkin datang dari segala penjuru. Tidak salah untuk mendengarkan mereka, tapi semua keputusan berpulang kepada ibu karena ibu adalah orang yang paling tahu kebutuhan bayi ibu sendiri, bukan mereka. Terlebih, solusi untuk bayi si X belum tentu cocok diterapkan untuk bayi ibu lho.


  4. Minta tolong

    Meminta bantuan orang lain untuk merawat bayi berkebutuhan tinggi tidak membuat ibu dicap gagal menjalankan peran sebagai ibu seutuhnya. Ibu juga punya kebutuhan dasar seperti makan, mandi, maupun beribadah yang harus dipenuhi, tapi nyaris tidak mungkin dijalankan tanpa bantuan orang lain.

    Jangan lupa berikan pengertian kepada calon asisten bahwa bayi ibu merupakan bayi rewel alias high need baby. Jika ia merasa tidak masalah dengan kondisi tersebut, maka tidak ada salahnya ibu mengambil bantuan itu.


  5. Keluar rumah

    Kadang kala, bayi menjadi rewel hanya karena bosan berada di rumah. Berjalan-jalan ke luar rumah bukan hanya memberi suasana baru bagi bayi, ibu juga bisa mencari udara segar. Siapa tahu, ibu juga bisa menemukan orang tua yang juga memiliki high need baby sehingga bisa saling berbagi pengalaman maupun tips. 


  6. Libatkan ayah

    Keterlibatan ayah dalam mengasuh bayi rewel sangat vital. Jika anak tidak mau digendong oleh ayah, setidaknya ayah bisa membantu pekerjaan domestik seperti bersih-bersih rumah maupun memasak.


  7. Satu tim

    Umur bayi tidak akan terulang, maka nikmati saat-saat ketika bayi sangat membutuhkan kehadiran ibu. Ingat bahwa high need baby sangat butuh ibu dan ibu juga patut bersyukur karena memiliki bayi yang sudah mengetahui keinginannya sejak kecil


  8. Siapkan nomor darurat

    Jika ibu betul-betul sudah mati kutu dalam menghadapi bayi rewel, tidak ada salahnya menghubungi seseorang yang bisa dimintai tolong. Ibu juga bisa melakukan konsultasi dengan tenaga ahli di bidangnya semisal dokter anak maupun psikolog anak.


Kapan harus menghubungi dokter?

Jika anak ibu terus menangis, sudah dicoba segala cara untuk menenangkannya, tapi tetap tidak berhasil, ada baiknya ibu segera menghubungi dokter karena dikhawatirkan ada penyakit di balik tangisnya itu.

Kolik, misalnya, bisa ditandai dengan bayi di bawah usia 4 bulan yang menangis berjam-jam tanpa henti. Penyakit lain yang mungkin mengikutinya ialah infeksi saluran telinga, terutama jika dibarengi atau ada riwayat demam dalam sepekan terakhir.


(Asni / Dok. Freepik)