Kelahiran Dibaca 1,638 kali

Mengatasi ASI Berlimpah

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 17 Desember, 2018 08:12

Mengatasi ASI Berlimpah

Ada ibu yang memproduksi terlalu sedikit ASI, tapi ada juga Ibu yang menghasilkan ASI terlalu banyak. Hiperlaktasi terjadi ketika tubuh Bunda memproduksi ASI lebih banyak dari jumlah yang dibutuhkan bayi Anda. ASI bisa keluar dengan cepat sehingga membuat si kecil kesulitan untuk menyusu. Banyak juga Ibu yang hiperlaktasi sering mengalami ASI merembes yang membuat baju basah dan ASI juga sering menyembur saat anak lagi disusui sehingga membuat anak tersedak.


Masalah hiperlaktasi terjadi pada ibu yang memiliki banyak alveoli (kelenjar penghasil ASI) di payudara mereka. Jumlah rata-rata alveoli untuk tiap payudara adalah 100000 hingga 300000. Para ibu yang mengalami hiperlaktasi cenderung memiliki jumlah alveoli di atas angka tersebut.


Bisa jadi seorang ibu memproduksi terlalu banyak ASI karena ia memberi sinyal pada tubuhnya untuk memproduksi ASI lebih banyak, misalnya dengan memompa ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan si bayi. Kondisi hormon tertentu yang tidak seimbang dan pengobatan yang sedang dijalani juga bisa menyebabkan produksi ASI menjadi tinggi.


Tanda Ibu hiperlaktasi yang dapat terlihat pada bayi

Si kecil mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Tapi bila Anda melakukan pelekatan saat aliran ASI lagi deras-derasnya, si kecil mungkin akan menarik diri atau berhenti menyusu saat ASI memuncrat. Atau ia hanya menyusu selama 5 hingga 10 menit lalu menggigit puting Anda karena gemas, yang bisa menyebabkan puting terluka.


Saat mengalami hiperlaktasi, bayi Anda bisa jadi makin ingin sering menyusu atau ia justru menolak untuk menyusu dan menjadi rewel, atau membuat badannya kaku saat menyusu. Ia menjadi sering gumoh setelah menyusu. Gumoh saat hiperlaktasi kadang sering disalahartikan sebagai refluks. Selain itu, si kecil mungkin akan menunjukkan tanda-tanda berikut ini:


  1. Perut bayi bergas

    Bila bayi minum banyak ASI karena ibu punya ASI berlimpah, ini bisa menyebabkan bayi lebih tidak tenang dibanding biasanya. Wajar bila bayi di bawah usia 3 bulan mengalami periode tidak tenang satu atau dua kali tiap 24 jam.

     

    Selama periode tidak tenang, bayi biasanya:

    • Banyak menangis
    • Sulit tenang untuk tidur
    • Ekspresi wajah meringis
    • Menekuk punggung
    • Mengarahkan lutut ke dada

    Bayi yang minum ASI berlebihan karena ibu mengalami hiperlaktasi biasanya sering merasa tidak tenang dan menunjukkan tanda-tanda di atas.


  2. Penambahan berat badan berlebihan

    Bila ibu punya ASI berlimpah, bayi akan mengalami penambahan berat badan lebih dari rata-rata.


  3. Sering pup

    Bila ibu punya ASI berlimpah, bayi akan sangat sering buang air besar. Seolah ketika bayi menyusu, ASI masuk dan langsung keluar melalui pup. Bayi buang air selama, setelah, dan di saat menyusu. Feses bayi mungkin sering berwarna hijau dan berbusa.


  4. Sering pipis

    Bayi yang ibunya punya ASI berlimpah akan sering sekali pipis. Misalnya, kalau ia pakai popok kain, Ibu akan mengganti popoknya 10 kali atau lebih dalam 24 jam.


  5. Sering gumoh

    Meski ini normal dan wajar bila bayi gumoh. Bayi yang ibunya punya ASI berlimpah akan sering gumoh setelah menyusu.


    Refluks memang merupakan kondisi normal. Kadang bayi mengalami gumoh setelah selesai menyusu bahkan sesekali muntah tanpa ada penyebab yang pasti. Beberapa bayi bahkan ada yang gumoh cukup sering dan ini bukanlah suatu indikasi penyakit tertentu.


    Bayi Anda akan merasa kenyang dan berhenti menyusu setelah mendapat hindmilk yang berada pada saluran ASI yang lebih dalam di payudara. Hal ini bisa mengakibatkan terlalu banyak kandungan laktosa di usus yang bisa menyebabkan perilaku menyerupai kolik, seperti banyak pipis dan buang air besar. Feses si kecil sering kali berwarna hijau dan berbusa. Bayi Anda juga kemungkinan memiliki berat badan yang rendah maupun tinggi.


Tanda hiperlaktasi yang terlihat pada ibu

Payudara Anda terasa sangat penuh, pada kondisi ini Anda memiliki kemungkinan mengalami plugged ducts (penyumbatan saluran ASI) atau mastitis (peradangan payudara). Anda akan merasakan sakit di payudara selama proses pelekatan. Anda mengalami kebocoran ASI di antara waktu menyusui, pakaian selalu basah karena ASI merembes, dan terjadi kebocoran ASI dari payudara yang tidak digunakan saat menyusui.


Gejala seperti ini bisa mulai terjadi pada minggu pertama setelah melahirkan, atau sedikit lebih lambat, yakni sekitar dua atau tiga minggu setelah proses persalinan. Produksi ASI bisa mulai terkendali dengan sendirinya setelah 3 bulan pasca melahirkan, meski tanpa dilakukan perawatan. Menjadi hal yang sangat wajar bila Anda memiliki terlalu banyak ASI dalam 4 hingga 5 bulan pertama setelah melahirkan. Beberapa tanda yang bisa dialami Ibu, antara lain:


  1. Payudara cepat terasa penuh

    Beberapa ibu merasa payudara mereka terisi dengan cepat setelah menyusui. Di beberapa minggu setelah melahirkan, ini bisa terjadi karena payudara bekerja memproduksi ASI berdasarkan jumlah yang bayi minum.


    Setelah minggu-minggu awal, kebanyakan ibu merasa payudaranya lebih nyaman dan tidak terlalu bengkak. Bila payudara terus terisi dengan cepat setelah menyusui, terutama bila bengkak dan terasa sakit, Anda kemungkinan mengalami ASI berlimpah atau hiperlaktasi.


  2. Saluran ASI tersumbat atau mastitis berulang kali

    Bila seorang ibu memproduksi terlalu banyak ASI, kemungkinan sebagian ASI tetap berada di payudaranya meski setelah bayi menyusu. ASI yang tetap di payudara bisa meningkatkan risiko saluran ASI tersumbat atau mastitis.


  3. Refleks let-down yang cepat

    Ibu dengan ASI berlimpah sering mengalami refleks let-down yang cepat. Bila bayi sering melepas payudara di awal menyusu karena batuk atau muntah (Anda bisa lihat ASI memuncrat dari puting ketika ini terjadi), Anda kemungkinan memiliki refleks let-down yang cepat.


Cara mengatasi ASI berlimpah

Hiperlaktasi bisa menjadi tantangan tersendiri selama proses menyusui, tapi pada kebanyakan kasus kondisi ini bisa diatasi dengan cukup mudah.


Ada banyak cara untuk mengatasi hiperlaktasi, kesemuanya fokus pada pengaturan persediaan ASI ibu:

  • Letakkan lap dingin di payudara untuk membantu mengatasi ASI berlimpah, karena air hangat justru mendorong keluarnya ASI.
  •  
  • Dangle feeding bisa membantu mengeringkan payudara dengan lebih efisien sekaligus mencegah masalah seperti saluran ASI tersumbat dan mastitis.
  •  
  • Bila Anda menyusui dan memompa ASI, sebaiknya Anda tidak memompa setelah anak selesai menyusui, karena ini justru bisa makin meningkatkan produksi ASI. Bila payudara bengkak dan terasa tidak nyaman, Anda bisa memerah dengan tangan hingga merasa sedikit lebih nyaman.
  •  
  • Anda bisa menampung ASI yang bocor dari payudara lain selama menyusui anak dengan breast sheels. Ini bisa untuk menambahkan stok ASIP.
  •  
  • Anda bisa juga donasikan ASI ke ibu lain yang membutuhkan.

Bila Anda terus mengalami ASI berlimpah setelah mencoba metode di atas, hubungi konselor laktasi yang punya pengalaman mengatasi masalah yang sama. Akan ada beberapa saran yang diberikan konsultan laktasi untuk Anda lakukan. Misalnya, sebelum menyusui, pompalah ASI Anda untuk melambatkan alirannya. Anda bisa menyimpan ASI yang dipompa untuk digunakan nanti. Ibu juga bisa melakukan hal-hal berikut ini:


  1. Susui bayi  sebelum ia benar-benar lapar

    Susui bayi Anda sebelum ia benar-benar lapar (atau segera setelah ia bangun tidur). Pada kondisi ini bayi Anda akan menghisap payudara lebih lambat. Hisapan yang lebih lembut tidak akan terlalu menstimulasi payudara dan tidak membuat aliran ASI sangat deras.


  2. Daun kubis bisa membantu menurunkan persediaan ASI

    Meski hanya ada sedikit penelitian yang mendukung hal ini, banyak wanita merasa penggunaan daun kubis yang konsisten bisa efektif menurunkan persediaan ASI.


    Cuci beberapa daun kubis lalu buang bagian yang keras, kemudian letakkan di dalam bra hingga layu. Hati-hati karena suhu dingin bisa berlebihan menurunkan persediaan ASI. Yang direkomendasikan, gunakan daun kubis selama 20 menit, tiga kali sehari, dan hentikan setelah ASI mulai menurun.


  3. Posisi menyusui

    Posisi menyusui tertentu juga bisa membantu bayi Anda mengatasi aliran ASI yang deras dengan lebih baik. Coba posisikan bayi menghadap Anda. Anda perlu melenturkan kepalanya sedikit ke belakang, agar gravitasi bisa melambatkan aliran ASI.


    Posisi lain adalah dengan menyandarkan punggung Anda dengan bayi langsung menghadap ke payudara, perutnya berada di atas perut Anda. Atau susui bayi dengan posisi miring ke salah satu sisi, dan biarkan ASI yang menetes terserap oleh handuk.


    Hentikan sesi menyusui saat bayi Anda terlihat meneguk ASI terlalu cepat atau berusaha mengatasi aliran ASI yang deras. Sendawakan si kecil terlebih dahulu lalu biarkan ia kembali menyusu. Beberapa Ibu ada yang mencoba menggunakan nipple shield untuk membantu bayi mengatasi aliran ASI. Konselor laktasi bisa menunjukkan bagaimana cara menggunakannya dan memonitor kondisi Anda.


  4. Biarkan bayi menentukan durasi menyusu

    Biarkan bayi berhenti menyusu di satu payudara saja selama satu sesi menyusu. Ini dapat memastikan anak cukup mendapatkan hindmilk pada payudara tersebut. Anda bisa memerah sedikit ASI juga agar payudara tidak terlalu bengkak, tapi jangan berlebihan karena akan makin memperparah hiperlaktasi.


  5. Waspadai masalah kesehatan

    Pastikan bayi tidak mengalami masalah kesehatan yang menyebabkan ia tidak mampu mengatasi aliran ASI. Bayi dengan refluks, tongue tie, bibir sumbing, masalah pernapasan, masalah integrasi sensori, dan sebagainya bisa memicu masalah menyusui tanpa peduli berapa banyak ASI yang Anda produksi. Jadi, sebelum melakukan apapun untuk menurunkan jumlah ASI yang Anda produksi, periksakan bayi ke dokter.


  6. Memompa ASI

    Untuk membantu mengurangi produksi ASI, mulailah dengan memompa kedua payudara hingga kosong. Lalu susui bayi Anda hanya pada satu payudara selama 2 atau 3 kali sesi menyusui berturut-turut. Susui bayi Anda sesering ia menginginkannya, tapi hanya gunakan payudara yang sama. Anda bisa memompa payudara yang satunya (tapi hanya sedikit) untuk mengurangi tekanan aliran ASI. Teknik ini biasanya berhasil dalam waktu 24 hingga 48 jam.

    Bila Anda memompa untuk menyimpan ASI bagi si kecil, hentikan sesi memompa hingga persediaan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi Anda. Berhati-hatilah dengan penyumbatan saluran ASI atau tanda peradangan payudara. Penyumbatan saluran ASI antara lain dikarenakan penggunaan pompa ASI yang tidak cukup kuat, penggunaan bra menyusui yang tidak sesuai, serta posisi tidur tengkurap. Jika Anda mengalami masalah ini, Anda perlu mengobatinya sebelum mulai mengurangi produksi ASI.


  7. Lakukan block feeding

    Di metode ini, Anda akan menyusui hanya di satu sisi untuk jangka waktu tertentu. Mulailah dengan block feeding selama 3 jam. Kapanpun bayi lapar selama waktu ini, susui di payudara yang sama. Lalu ganti ke payudara lain di 3 jam selanjutnya.


    Anda hanya memerah ASI untuk merasa nyaman bila payudara yang tidak digunakan terasa sangat penuh. Bila Anda tidak mengalami peningkatan setelah melakukan ini selama beberapa hari, tingkatkan jumlah jam untuk block feeding. Beberapa ibu ada yang melakukan ini untuk durasi 12 jam.


  8. Coba full drainage block feeding (FDBF)

    Metode ini berarti sebisa mungkin mengosongkan payudara. Jadi sekitar satu jam sebelum bayi menyusu, pompa kedua payudara hingga Anda tidak lagi melihat ASI menetes. Lalu lakukan block feeding. Daripada memerah untuk merasa nyaman, tunggu hingga payudara lain jadi sangat penuh, dan ganti ke sisi itu untuk block feeding selanjutnya.


    Untuk mengurangi risiko saluran ASI tersumbat, Anda bisa kembali memompa lebih dari satu kali dalam sehari. Setelah melakukan ini selama beberapa hari, Anda kemungkinan tidak lagi perlu memompa tapi masih perlu melakukan block feeding.


  9. Obat dan herbal bisa digunakan bila dibutuhkan

    Contoh tanaman herbal yang bisa menurunkan persediaan ASI antara lain peppermint dan melati. Bila Anda ingin mencobanya, konsultasikan dengan orang yang punya pengetahuan tentang dosis dan efek samping herbal ini.


    Pseudoephedrine, bahan yang ditemukan pada kebanyakan obat flu, juga bisa menurunkan persediaan ASI. Alat kontrasepsi hormonal seperti pil KB, mengandung estrogen dan progesteron yang menyebabkan penurunan persediaan ASI. Bila Anda telah mencoba cara lain, obat ini bisa jadi alternatif.


  10. Hubungi dokter atau konselor laktasi

    Bila tidak ada cara yang berhasil, temui dokter atau konsultan laktasi Anda. Di kasus yang sama, pengobatan bisa dilakukan untuk membantu mengurangi produksi ASI yang berlebih. Harus diingat Bunda, ketidakmampuan si kecil untuk menerima aliran ASI Anda yang deras bukan berarti penolakan terhadap diri Anda.


Satu hal yang menggembirakan adalah hiperlaktasi merupakan tanda kalau tubuh Anda memproduksi banyak makanan yang bayi Anda butuhkan. Sayangnya, bayi yang ibunya memproduksi terlalu banyak ASI kadang mendapat lebih banyak foremilk dibanding hindmilk. Kondisi ini bisa mengakibatkan perut banyak mengandung gas dan menimbulkan gejala kolik.


Beberapa bayi lain tidak bisa mendapat ASI yang cukup karena mereka tidak bisa mengatasi aliran ASI yang cukup deras. Ini bisa menimbulkan masalah jika terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama sehingga mempengaruhi asupan gizinya.


Jika Anda masih terus memproduksi ASI yang terlalu banyak setelah mengikuti saran  yang disebutkan tadi, coba hubungi ahli laktasi kembali. Anda juga perlu mengawasi pertumbuhan si kecil, jadi beritahukan juga hal ini pada dokter bayi Anda.


Meski mengalami hiperlaktasi, Anda masih tetap bisa menyusui. Menyusui bisa menjadi solusi untuk masalah Anda, meski Bunda perlu mencoba berbagai teknik untuk membuat produksi ASI Anda sesuai dengan kebutuhan si kecil.

(Ismawati)