Kesehatan

Waspadai Roseola Pada Bayi

Terakhir diperbaharui

Waspadai Roseola Pada Bayi

Beberapa penyakit pada bayi dan balita biasanya memiliki ciri bercak merah pada kulit. Tak jarang Bunda keliru mengidentifikasi jenis penyakit yang sedang diderita sang buah hati: apakah campak, campak Jerman atau rubella, atau justru penyakit lain.

 

Nah, salah satu penyakit dengan ciri bercak merah yang kerap menjangkiti bayi usia 6 bulan hingga 2 tahun adalah roseola. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini juga dikenal sebagai sixth disease, exanthern subiturn, dan roseola infantum.

 

Gejala roseola

Sepintas, roseola memiliki gejala yang hampir sama dengan campak. Ditandai dengan demam tinggi selama beberapa hari (terkadang hingga di atas 39,5 derajat Celcius), diikuti munculnya ruam-ruam. Yang membedakan, ruam merah pada roseola baru tampak setelah anak tidak lagi demam, sedangkan ruam pada campak justru terjadi ketika penderita sedang demam tinggi.

 

Mungkin anak terjangkit virus tanpa terlihat sakit, tapi roseola biasanya berawal dengan demam tinggi yang tiba-tiba antara 102 sampai 105 derajat F. Demam biasanya berlangsung selama 3 hingga 7 hari dan bisa berakhir tiba-tiba.

 

Ruam bisa berlangsung selama beberapa hari atau hanya dalam hitungan jam. Warnanya pink tapi bercak ini bisa berubah putih bila Anda menekannya. Ruam tidak terasa gatal atau tidak nyaman, dan kontak dengan ruam tidak menyebarkan penyakit. Biasanya ruam terlihat  di leher, tapi bisa juga pada lengan, kaki, dan wajah.

 

Gejala lain dari roseola bisa berupa:

  • Diare. Satu gejala paling umum dari masalah perut adalah diare, yakni feses encer yang berbeda tampilan dan frekuensinya dibanding yang bayi alami sebelumnya. Kebanyakan diare karena infeksi disebabkan oleh virus yang lebih umum ditemukan di musim panas, meski bisa terjadi kapan saja. Infeksi biasanya berlangsung beberapa hari.
  •  
  • Kebanyakan batuk akan hilang dengan sendirinya, tapi Anda bisa lakukan hal berikut untuk membuat anak merasa nyaman:
  •  
  • Minta anak memperbanyak asupan cairan untuk membuat jalan udara lembab dan anak terhidrasi
  • Nyalakan humidifier terutama bila rumah sangat kering
  •  
  • Duduk bersama anak di kamar mandi tertutup ketika keran air panas dibuka, ini akan meringankan batuk, terutama sebelum waktu tidur.
  •  
  • Rewel
  •  
  • Mengantuk
  •  
  • Selera makan buruk
  •  
  • Kelopak mata bengkak atau turun
  •  
  • Hidung berair
  •  
  • Sakit tenggorokan
  •  
  • Bengkak di lehar

 

Beberapa anak bisa mengalami seizure atau kejang ketika demam muncul di tahap awal penyakit. Bila ini terjadi, baringkan anak di tempat tidur atau lantai dengan kepala ke arah samping agar muntah atau liur bisa mengalir. Anak bisa jadi tidak sadarkan diri dan tangan serta kaki menghentak-hentak, selama  dua atau tiga menit. Anak juga bisa kehilangan kontrol kandung kemih.

 

Bila bayi mengalami seizure, segera hubungi dokter bila:

  • Anak tidak minum, lesu, atau demam tidak juga turun
  •  
  • Muncul ruam, tanda infeksi, dan demam memburuk bahkan semakin parah
  •  
  • Gejala memburuk
  •  
  • Ruam berlangsung lebih dari seminggu.

 

Meski seizure ini terlihat menakutkan, jarang bersifat serius atau berbahaya. Tapi penting untuk menghubungi dokter segera setelah seizure. Selain itu, bila memungkinkan coba awasi berapa lama seizure berlangsung, karena dokter perlu mengetahuinya. Hubungi rumah sakit bila seizure tidak berhenti setelah 5 menit.

 

Penyebab roseola

Kira-kira apa penyebab roseola ya, Bunda? Virus jawabannya. Dua virus umum penyebab roseola adalah human herpesvirus (HHV) tipe 6 dan kemungkinan pula tipe 7. Virus-virus ini termasuk dalam family yang sama, yang dikenal sebagai herpes simplex viruses (HSV). Hanya saja, HHV-6 dan HHV-7 tidak menyebabkan infeksi herpes genital seperti yang dihasilkan HSV.

 

Bayi atau batita yang terkena penyakit ini biasanya juga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diikuti gejala demam tinggi seperti yang disebutkan di atas tadi, selama 3-7 hari. Kadang-kadang demam tinggi tersebut mengakibatkan anak kejang-kejang. Data menyebutkan, sekitar 10-15% anak  mengalami kejang-kejang akibat demam tinggi saat menderita roseola.

 

Pada masa ini, anak biasanya cenderung lebih rewel atau mudah marah dan yang sering membuat sedih para Bunda adalah menurunnya nafsu makan dan timbul kelenjar di leher.

 

Selanjutnya, demam tinggi kerap turun secara tiba-tiba. Nah, saat sudah tidak demam itulah muncul ruam kemerahan yang secara cepat menyebar ke seluruh tubuh. Durasi penyebaran bisa hanya dalam hitungan jam, namun bisa juga sekitar 2 hari. Ruam kemerahan pada roseola, yang biasanya menyebar mulai leher, wajah, tangan, hingga kaki ini jika ditekan akan berubah putih.

 

Apakah roseola menular?

Ya. Roseola dapat ditularkan melalui sedikit tetesan cairan dari hidung atau tenggorokan mereka yang terinfeksi virus ini. Cairan ini dapat keluar ketika penderita bicara, batuk, tertawa, maupun bersin. Nah, anak lain yang menghirupnya atau menyentuh hidung dan mulut anak yang terinfeksi roseola kemudian menyentuh hidung dan mulutnya sendiri bisa ikut terinfeksi.

 

Apakah ada tes untuk mendeteksi roseola pada bayi

Ada, tapi biasanya tes ini tidak dibutuhkan. Dokter anak bisa mengambil darah untuk memeriksa antibodi roseola, yang menandakan bayi terinfeksi, tapi tidak perlu serumit ini, karena roseola adalah penyakit ringan yang akan membaik dengan sendirinya.

 

Faktor risiko roseola

Anak yang lebih kecil berisiko paling tinggi mengalami roseola karena belum punya cukup waktu untuk mengembangkan antibodi sendiri terhadap banyak virus. Ketika berada di dalam rahim, bayi menerima antibodi dari ibu yang melindunginya dari terjangkit infeksi saat lahir, seperti roseola. Tapi kekebalan ini menurun seiring waktu. Usia yang paling umum terjangkit roseola adalah antara usia 6 sampai 15 bulan.

 

Bagaimana pencegahan roseola?

Tak ada cara pasti untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Namun karena infeksi biasanya lebih cepat menyebar pada anak, memperkuat daya tahan tubuh anak bisa jadi solusinya. Anak yang sudah terkena roseola biasanya tidak akan terinfeksi lagi, meski pada beberapa kasus bisa saja terjadi.

 

Dalam penanganan roseola, dokter biasanya melakukan diagnosa setelah demam turun dan ruam muncul, sehingga dokter mungkin meminta pasien melakukan tes untuk meyakinkan bahwa demam yang terjadi tidak diakibatkan oleh infeksi lainnya.

 

Roseola biasanya juga tidak memerlukan perawatan profesional. Seandainya diperlukan, kebanyakan perawatan difokuskan pada bagaimana menurunkan demam tinggi. Ingat ya Bunda, antibiotik tidak dapat digunakan untuk perawatan roseola karena penyakit ini disebabkan oleh virus bukan bakteri.

 

Untuk perawatan di rumah, ibuprofen (seperti Advil atau Motrin) dan acetaminophen (seperti Tylenol) dapat membantu mengurangi demam anak. Jangan sekali-kali memberikan aspirin untuk anak yang menderita penyakit akibat virus karena penggunaan aspirin dapat memicu gagal hati.

 

Untuk mencegah dehidrasi akibat demam, upayakan anak mendapat asupan cairan yang cukup. Minum air putih atau ASI yang banyak agar anak tidak kekurangan cairan dan lemas. Jika dalam kondisi seperti ini anak sulit minum, ada baiknya segera bawa buah hati Bunda ke dokter.

 

Penanganan untuk roseola

Tidak ada penanganan spesifik untuk roseola. Yang paling penting yang perlu Anda lakukan adalah memastikan anak beristirahat dan mendapat banyak cairan untuk menghindari dehidrasi.

 

Cara lain untuk menurunkan demam anak dan membuatnya merasa nyaman adalah dengan mengelap tubuhnya dengan air suam-suam kuku, bukan air dingin, atau memandikannya di air hangat. Jangan bungkus tubuhnya dengan selimut, biarkan kering dengan sendirinya, uap air dari kulit akan membantu menurunkan suhu tubuh. Anak bisa menggigil dan merasa dingin ketika tubuhnya basah, tapi ini bisa jadi cara efektif untuk meredakan rasa tidak nyaman karena demam tanpa menggunakan obat. Jangan berikan aspirin ke anak karena bisa memicu sindrom Reye, gangguan yang jarang terjadi tapi berpotensi fatal.

 

Roseola dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah

Roseola jadi kekhawatiran pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya terganggu, seperti mereka yang baru saja menerima transplantasi organ. Mereka bisa terkena kasus roseola baru, atau infeksi sebelumnya bisa kembali ketika sistem kekebalan tubuh melemah. Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh cenderung mengalami kasus infeksi lebih parah dan lebih sulit melawan penyakit.

 

Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah yang terkena roseola bisa mengalami komplikasi yang berpotensi serius akibat infeksi, seperti pneumonia atau encephalitis (peradangan pada otak yang mengancam nyawa).

 

Karena tidak ada vaksin untuk mencegah roseola, cara terbaik untuk mencegah penyebaran roseola adalah dengan menghindari paparan anak terhadap anak yang terinfeksi. Bila anak sakit karena roseola, jauhkan ia dari anak lain hingga demam reda.

 

Kebanyakan orang punya antibodi untuk roseola saat usia sekolah, sehingga kebal pada infeksi kedua. Meski begitu, bila salah satu anggota keluarga terkena virus ini, pastikan semua anggota keluarga sering mencuci tangan untuk mencegah penyebaran virus pada siapapun yang tidak kebal terhadap penyakit ini.

 

Orang dewasa yang tidak pernah terkena roseola ketika kecil bisa terinfeksi nantinya, meski penyakit ini cenderung ringan pada orang dewasa yang sehat. Tapi, orang dewasa yang terinfeksi bisa menularkan virus pada anak.

 

Ada beberapa penelitian menyatakan anak yang punya sistem kekebalan tubuh lebih kuat akan sembuh lebih cepat dari roseola dan penyakit virus lainnya. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak, pastikan pola makannya baik dan ia mendapat tidur yang cukup.

 

Yang paling penting adalah memastikan anak sering mencuci tangan menggunakan pembersih atau sabun dan air. Anda juga perlu memberitahunya untuk tidak berbagi minum dan makanan dengan teman atau saudara kandung yang demam. Ingat, kalau anak sudah mengalami ruam, ia tidak lagi menularkan penyakit.

 

Obat rumahan dan cara alami untuk meringankan roseola

Setelah demam reda, anak akan merasa lebih baik. Tapi demam bisa membuat anak merasa tidak nyaman. Untuk mengatasi demam anak di rumah, dokter bisa merekomendasikan:

 
  • Perbanyak istirahat. Biarkan anak beristirahat di tempat tidur hingga demam reda.
  •  
  • Perbanyak cairan. Bujuk anak untuk minum cairan jernih, seperti air putih, kaldu, atau larutan elektrolit serta minuman olahraga untuk mencegah dehidrasi. Hilangkan gelembung gas dari minuman karbonasi. Anda bisa lakukan ini dengan mengocok, menuang, atau mengaduk minuman karbonasi. Menghilangkan karbonasi berarti anak menghindari rasa tidak nyaman tambahan dari cegukan dan gas yang disebabkan oleh minuman karbonasi.

 

Obat alami dan  makanan dengan kandungan anti virus bisa membantu anak kecil yang menderita penyakit ini. Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter sebelum memilih pengobatan alami ini. Selain itu, pastikan juga untuk memperhatikan pola makan anak.

 

  1. Mandi dengan chamomile

    Satu cara alami yang paling sederhana dan paling efektif untuk mengatasi roseola adalah mandi dengan chamomile. Chamomile merupakan herba yang dikenal sebagai Matricaria Recutita. Herba ini bagus untuk pencernaan dan menenangkan sistem saraf. Fungsi penting lain dari chamomile adalah bisa digunakan untuk menyembuhkan masalah kulit seperti ruam.

     

    Anak bisa dimandikan dengan chamomile yang dicampur air. Tambahkan beberapa tetes herba chamomile ke air mandi lalu gunakan untuk mandi. Ini akan mengurangi ruam yang jadi gejala utama roseola.

     

  2. Jus jeruk dan lemon

    Sari buah jeruk sangat efektif mengatasi gejala roseola. Buah jeruk kaya vitamin C atau asam askorbat yang dikenal dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Jus jeruk dan lemon keduanya kaya vitamin C. Vitamin C menjadi antioksidan yang bisa memperkuat tubuh dan menangkis infeksi virus. Jus ini juga mencegah dehidrasi dan menghilangkan rasa lelah yang disebabkan oleh penyakit ini.

     

  3. Menghirup uap minyak kayu putih

    Cara alami yang efektif lainnya adalah menggunakan beberapa tetes minyak kayu putih ke vaporizer dan biarkan anak menghirup uapnya. Anda bisa tambahkan beberapa tetes minyak kayu putih ke humidifier dan pastikan anak menghirupnya.

     

    Anda bisa juga tambahkan beberapa tetes minyak zaitun ke minyak kayu putih untuk melarutkannya sebelum digunakan di vaporizer atau humidifier. Minyak kayu putih memiliki kandungan antivirus dan juga dapat mengencerkan lendir yang menyebabkan gejala roseola seperti hidung berair atau hidung tersumbat.

     

  4. Sup

    Penting bagi anak untuk mendapat banyak cairan. Satu bahaya terbesar dari penyakit ini adalah anak mengalami dehidrasi karena kehilangan cairan dari tubuh. Anda bisa buat sup yang bergizi dari kaldu yang mengandung ayam dan sayuran.

     

    Beri anak banyak cairan dalam bentuk minuman panas juga. ini bisa memperkuat tubuh anak dan membuatnya sembuh lebih cepat. Air putih dan cairan lain juga mengeluarkan racun dan bakteri dari tubuh, sehingga menjadi obat alami yang dianjurkan untuk roseola.

     

  5. Echinacea

    Echinacea Augustifolia disebut juga Purple Cone Flower. Herba ini bisa meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, juga bertindak sebagai anti virus. Karena kedua kandungan ini, Echinacea bagus untuk menyembuhkan roseola. Echinaea meningkatkan jumlah sel darah putih di tubuh manusia. Sel darah putih sangat penting untuk melawan infeksi virus seperti roseola. Echinacea bisa dikonsumsi dalam bentuk ekstrak atau suplemen. Konsultasikan ke dokter untuk dosis yang tepat bagi anak.

     

  6. Lidah buaya

    Lidah buaya memiliki kandungan anti virus, antiseptik, dan anti peradangan. Karena alasan ini, lidah buaya jadi obat alami yang tepat untuk roseola. Gel lidah buaya bisa diambil dari lapisan bagian dalam daunnya dan dioleskan pada kulit anak untuk menyembuhkan ruam yang disebabkan oleh roseola. Tes gel dengan menggunakannya di area kecil kulit anak untuk memastikan anak tidak alergi.

     

    Anda bisa juga gunakan jus lidah buaya pada ruam untuk penyembuhan lebih cepat. Ekstrak atau kapsul lidah buaya bisa diberikan ke anak juga, tapi Anda perlu perhatikan dosis yang tepat untuknya sebelum menggunakan obat alami ini. Konsultasikan ke dokter sebelum Anda memberikan obat ini ke anak.

(Dini & Ismawati)