Kesehatan

Mengenal Penyakit Hirschsprung, Masalah Buang Air Besar Pada Anak

Terakhir diperbaharui

Mengenal Penyakit Hirschsprung, Masalah Buang Air Besar Pada Anak

Mengganti popok bayi jadi salah satu tugas orangtua yang kurang menyenangkan yang kadang jadi bahan candaan. Tapi ketika bayi tidak bisa buang air besar, ini tidak bisa lagi jadi bahan tertawaan.

 

Bayi yang kesulitan buang air besar kadang mengalami masalah yang disebut penyakit Hirschsprung. Penanganan kondisi ini hampir selalu berupa pembedahan. Untungnya, kebanyakan anak yang menjalani pembedahan bisa sepenuhnya pulih dan bisa buang air besar secara normal.

 

Bunda, penyakit Hirschsprung terjadi pada usus besar bayi baru lahir, bayi, dan batita. Kondisi ini menghambat kotoran sisa makanan melewati usus karena sel saraf pada bagian bawah usus tidak berfungsi, disebabkan oleh cacat bawaan. Sering kali masalah buang air besar berawal saat lahir, meski gejala kasus yang lebih ringan bisa muncul beberapa bulan atau tahun setelah lahir.

 

Penyakit Hirschsprung bisa menyebabkan konstipasi, diare, dan muntah serta kadang memicu komplikasi usus serius, seperti enterocolitis dan toxic megacolon, yang bisa mengancam keselamatan. Jadi penting untuk mendiagnosa penyakit Hirschsprung dan menanganinya sedini mungkin.

 

Penyebab penyakit Hirschsprung

Usus besar menggerakkan material yang dicerna melewati usus dengan sejumlah kontraksi yang disebut peristalsis. Hal ini dikontrol oleh saraf di antara lapisan otot pada usus. Saraf pada usus besar anak yang mengalami penyakit Hirschsprung tidak berfungsi. Sehingga usus tidak bisa menjadi rileks, yang dapat menyebabkan sumbatan sisa makanan dan membuat buang air besar jadi sulit.

 

Penyakit Hirschsprung bisa terjadi pada seluruh bagian usus besar, yang disebut long-segment disease, atau bisa terjadi di bagian usus besar dekat rektum yang disebut short-segment disease.

 

Dokter tidak sepenuhnya mengetahui secara pasti kenapa beberapa anak mengalami penyakit Hirschsprung, tapi penyakit ini bisa menurun dalam keluarga dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Bahkan faktanya, penyakit Hirschsprung sekitar 5 kali lebih umum terjadi pada pria dibanding wanita. Anak dengan Down syndrome dan kondisi genetik jantung juga lebih berisiko mengidap penyakit Hirschsprung.

 

Gejala penyakit Hirschsprung

Gejala penyakit Hirschsprung bisa bervariasi bergantung pada keparahan kondisinya. Anak dengan kasus yang parah biasanya akan menunjukkan gejala dalam beberapa hari pertama usianya. Kasus yang lebih ringan mungkin tidak terdeteksi hingga anak semakin besar.

 

Bayi baru lahir dengan penyakit Hirschsprung bisa menunjukkan tanda sebagai berikut:

  • Tidak bisa buang air besar pada beberapa hari pertama setelah lahir
  • Perut bengkak, kembung, dan bergas
  • Diare
  • Muntah, yang disertai warna hijau atau coklat.

 

Tidak mampu buang air besar pada 48 jam pertama sering menjadi kunci untuk mendeteksi penyakit Hirschsprung pada bayi baru lahir. Tanda ini bisa sangat penting dalam mendiagnosa kondisi Hirschsprung.

 

Pada kasus yang kurang parah, penyakit Hirschsprung bisa tidak terdeteksi atau kadang baru muncul saat penderita menginjak dewasa. Gejala di kasus ini biasanya lebih ringan tapi bisa bertahan lama dan kronis. Beberapa gejalanya bisa berupa:

  • Bengkak yang tidak normal
  • Konstipasi
  • Sulit menambah berat badan
  • Muntah
  • Perut bergas

 

Karena penyakit Hirschsprung bisa mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi, pertumbuhan bisa tertunda pada anak yang lebih besar yang menderitanya.

 

Diagnosa penyakit Hirschsprung

Untuk mendiagnosa penyakit Hirschsprung, dokter sering melakukan tes yang disebut barium enema. Barium adalah pewarna yang dimasukkan ke usus besar menggunakan enema. Barium muncul lebih baik pada penyinaran dengan sinar X dan bisa membantu dokter mendapat gambaran usus yang lebih jelas. Pada anak dengan penyakit Hirschsprung, usus biasanya terlihat terlalu kecil di mana sel sarafnya hilang.

 

Pada beberapa kasus, dokter bisa melakukan rectal suction biopsy. Tes ini, yang biasanya dilakukan di rumah sakit, melibatkan penggunaan alat hisap untuk mengangkat sel dari lapisan lendir usus besar. Tes ini bisa mengetahui apakah sel saraf hilang dan membantu membuat diagnosa penyakit Hirschsprung.

 

Untuk anak yang lebih besar, dokter bisa menggunakan tes berbeda seperti manometry atau surgical biopsy. Manometry adalah tes dimana balon dipompa di dalam rektum untuk melihat apakah otot anal menjadi rileks. Bila otot tidak rileks, anak bisa mengalami penyakit Hirschsprung. Pada surgical biopsy, dokter mengambil sampel jaringan dari usus besar untuk diperiksa di bawah mikroskop.

 

Penanganan penyakit Hirschsprung

Pembedahan dianggap menjadi penanganan paling efektif untuk penyakit Hirschsprung. Pembedahan bisa dilakukan pada satu atau dua tahap bergantung pada kondisi keparahannya. Anak yang sangat sakit saat pembedahan karena peradangan usus besar atau nutrisi yang buruk kadang perlu menjalani pembedahan dalam dua tahap.

 

Pembedahan paling umum untuk mengatasi penyakit Hirschsprung melibatkan pengangkatan area usus dan menempelkan bagian usus yang tersisa pada rektum. Sering kali ini dilakukan melalui pembedahan laparoscopic segera setelah penyakit ini terdiagnosa.

Pada beberapa kasus, dokter bisa melakukan pembedahan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, dokter akan mengangkat bagian yang tidak sehat dari usus besar lalu melakukan prosedur yang disebut ostomy. Pada ostomy, dokter membuat lubang kecil atau stoma, di perut anak dan menempelkan area usus atas yang sehat pada lubang.

 

Ada dua jenis ostomy, yaitu:

  • Ileostomy, yaitu mengangkat seluruh usus besar dan menghubungkn usus kecil ke stoma.
  • Colostomy, yaitu mengangkat hanya bagian usus besar.

 

Feses anak melewati stoma ke kantung yang terhubung ke dalamnya dan perlu dikosongkan beberapa kali. Ini membuat bagian bawah usus bisa sembuh sebelum pembedahan sekunder. Di pembedahan kedua, dokter menutup lubang dan menempelkan bagian usus yang normal ke rektum.

 

Setelah pembedahan, anak sering mengalami konstipasi. Obat laksatif bisa mengatasi konstipasi tapi konsultasikan ke dokter apakah baik bila anak menggunakannya. Untuk anak yang sudah cukup besar dan makan makanan padat, pola makan tinggi serat bisa meringankan dan mencegah konstipasi. Minum banyak air putih juga penting, selain membantu mencegah dehidrasi. Usus besar membantu menyerap air dari makanan, jadi dehidrasi bisa jadi masalah untuk anak yang bagian ususnya diangkat.

 

Anak yang terus mengalami gejala atau mengalami gejala baru setelah pembedahan seperti diare, demam, perut bengkak, atau pendarahan dari rektum harus segera mendapat penanganan  medis, karena ini bisa jadi tanda enterocolitis, yakni peradangan pada usus.

 

Kondisi umum anak dengan penyakit Hirschsprung yang ditangani dengan pembedahan biasanya cukup baik. Setelah pembedahan, kebanyakan pasien bisa buang air besar secara normal dan tidak mengalami komplikasi jangka panjang. Tapi beberapa anak bisa mengalami gejala termasuk konstipasi dan masalah mengontrol buang air besar.

 

Kondisi pasien penderita Hirschsprung setelah pembedahan

Efek pembedahan pada kualitas hidup anak dengan penyakit Hirschsprung bergantung pada jenis pembedahan yang dijalani.

 

Pada prosedur ostomy, biasanya anak merasa jauh lebih baik setelah pembedahan karena ia bisa buang air besar dengan lebih mudah. Pada orang dewasa, kualitas hidupnya juga meningkat tapi mereka perlu melakukan penyesuaian untuk menggunakan kantung ostomy. Pasien akan diberitahu dokter bagaimana merawat bukaan perut yang disebut stoma dan juga bagaimana mengganti kantung ostomy. Pasien kemudian bisa menjalani kegiatan normal, meski ada sedikit kecemasan karena merasa berbeda dengan teman-teman seumurannya.

 

Sedangkan pada prosedur pull-through, kebanyakan anak setelah prosedur ini bisa buang air besar secara normal. Tapi mereka bisa mengalami diare untuk jangka pendek meski akan membaik seiring waktu. Beberapa bayi mengalami ruam popok yang bisa diatasi dengan menggunakan krim. Seiring waktu, kualitas feses menjadi normal dan menjadi lebih padat serta buang air besar jadi teratur dengan frekuensi yang berkurang. Pada beberapa kasus, anak bisa mengalami inkontinensi feses tapi setelah mereka tahu cara menggunakan otot anal dengan baik, kondisi ini akan membaik.

 

Komplikasi pasca pembedahan pada anak dengan penyakit Hirschsprung

Beberapa anak yang mengalami penyakit Hirschsprung bisa mengalami infeksi usus pasca pembedahan yang disebut enterocolitis. Beberapa gejala infeksi ini antara lain:

  • Demam
  • Bengkak pada perut
  • Lesu
  • Muntah
  • Diare
  • Pendarahan rektum.

 

Infeksi bisa ditangani di rumah sakit dengan infus dan antibiotik. Usus besar juga dibersihkan secara menyeluruh secara teratur hingga feses terangkat sepenuhnya. Pada beberapa kasus, infeksi bisa mengindikasikan awal masalah yang lebih serius dan pembedahan lanjutan bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi pasien dan mencegah infeksi lebih lanjut.

 

Cara alami meringankan penyakit Hirschsprung

Beberapa obat rumahan bisa Anda coba untuk meringankan penyakit Hirschsprung:

  • Anak perlu diberi makanan yang tinggi serat agar feses terbentuk dengan mudah. Salah satu makanan yang kaya serat adalah gandum utuh. Buah dan sayur juga bisa diberikan dalam jumlah yang cukup. Makanan yang mengandung lemak perlu dihindari.
  •  
  • Tingkatkan asupan cairan yang membantu anak tetap terhidrasi ketika usus di fase penyembuhan karena salah satu fungsinya menyerap air pada tahap akhir pencernaan.
  •  
  • Anak perlu meningkatkan aktivitas fisik dan melakukan gerakan aerobik bila memungkinkan.
  •  
  • Penggunaan laksatif bisa membantu meringankan konstipasi dan meningkatkan gerakan buang air besar.

 

Panduan pola makan untuk melancarkan buang air besar setelah operasi

Penyakit Hirschsprung merupakan kondisi saluran cerna dimana sel saraf yang disebut sel ganglion, tidak terbentuk pada dinding dalam perut. Ketika sel ini hilang, feses tidak bergerak sebagaimana yang seharusnya dan membuat anak sakit.

 

Penyakit Hirschsprung terjadi pada sekitar 1 dari 5000 anak. Anak dengan Down syndrome dan masalah medis lain, seperti cacat jantung kongenital, berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini. Sekitar 1 dari 100 anak dengan Down syndrome juga mengalami penyakit Hirschsprung.

 

Penyakit Hirschsprung merupakan penyakit kongenital atau muncul saat lahir, tapi gejalanya bisa tidak terlihat saat lahir. Bila salah satu anak Anda mengalami penyakit Hirschsprung, kemungkinan anak Anda lainnya mengidap penyakit Hirschsprung lebih besar dibanding orang yang tidak punya anak dengan penyakit Hirschsprung. Juga, bila orangtua mengalami penyakit Hirschsprung, kemungkinan anak lebih berisiko mengalami penyakit ini.

 

Penyakit Hirschsprung biasanya ditangani dengan pembedahan. Tapi setelah pembedahan, anak bisa terus mengalami masalah buang air besar. Berikut ini panduan untuk membantu Anda menyesuaikan pola makan anak dan membantu mengatasi buang air besar, juga meningkatkan kesehatan perut secara umum. Sebaiknya seluruh keluarga mengikuti pola makan serupa agar anak dengan penyakit Hirschsprung tidak merasa sendirian.

 

Penyesuaian pola makan untuk anak dengan penyakit Hirschsprung bisa membantu meningkatkan tekstur feses anak dan menurunkan gas atau kembung. Tujuan penyesuaian pola makan ini adalah setidaknya satu atau dua kali buang air besar setiap hari dengan rasa tidak nyaman seminimal mungkin. Konsultasikan ke tim dokter anak bila buah hati Anda sudah menjalani pola makan tertentu sebelum Anda melakukan panduan di bawah ini.

 

  1. Batasi konsentrasi gula dan alternatif gula

    Gula dan alternatif gula bisa meningkatkan gas dan kembung serta menyebabkan diare.

    • Hindari makanan manis dan mengandung gula seperti permen, kue, soda, jus, minuman olahraga, dan sirup.
    • Hindari alternatif gula seperti sukrosa, sorbitol, dan manitol.
    • Selalu baca label makanan dan pilih makanan dan minuman dengan kandungan kurang dari 10 gram gula per sajian.

     

  2. Konsumsi makanan tinggi serat

    Serat membantu membuat feses jadi lembut, yang mencegah konstipasi. Serat juga membantu mengontrol tingkat gula darah.

    • Perkenalkan serat perlahan, karena bisa menyebabkan gas dan kembung.
    • Pastikan anak minum cukup cairan. Air putih paling baik.
    • Tambahkan produk psyllium pada makanan anak. Bebeberapa produk psyllium bisa menyebabkan tersedak jadi pastikan anak tidak mengalami kesulitan menelan dan minum cukup cairan.

     

  3. Awasi respon anak terhadap produk susu

    Susu dan produk susu mengandung gula yang disebut laktosa. Tubuh menggunakan enzim yang disebut laktase untuk memecah gula ini pada usus. Bila anak tidak memproduksi laktase yang cukup, ia bisa mengalami kesulitan menyerap laktosa dan mengalami gejala seperti kembung, gas, dan diare.

    • Kurangi asupan laktosa anak untuk melihat apakah membantu mengatasi gejala.
    • Coba gunakan produk susu bebas laktosa.
    • Tawarkan yoghurt dan keju keras seperti cheddar pada anak yang lebih mudah diterima dibanding segelas susu.
    • Batasi susu hingga 500 ml sehari setelah anak berusia lebih dari 12 bulan.

     

  4. Makan secara teratur

    • Anak makan 3 kali dan satu atau dua cemilan setiap hari.
    • Makan tiap 3 jam. Makan sepanjang hari akan membuat perut anak bekerja sepanjang hari.

     

  5. Catat perubahan pada gejala anak

    Tidak semua orang bereaksi sama pada makanan. Kemampuan anak untuk menerima makanan bergantung pada:

    • Seberapa besar perut terpengaruh oleh penyakit
    • Apakah ada bagian usus yang diangkat atau mengalami ostomy.

     

Kemungkinan ada periode trial and error ketika Anda belajar mengetahui mana yang terbaik untuk anak. Beberapa orangtua merasa terbantu dengan membuat catatan makanan yang dimakan anak serta bagaimana efeknya pada gejalanya, misalnya efeknya pada frekuensi dan tekstur feses serta apakah anak berkurang keluhan kembung dan bergas.

 

Ada beberapa hal penting yang perlu diingat nih, Bun:

  • Serat tinggi, pola makan rendah gula, dan makan teratur sepanjang hari bisa membantu anak buang air besar lebih mudah.
  •  
  • Mengurangi laktosa pada pola makan anak bisa meringankan kembung, gas, dan diare.
  •  
  • Selalu bicara pada dokter anak sebelum mulai menerapkan pola makan khusus pada anak.
  •  
  • Buat catatan tentang gejala anak ketika mencoba makanan berbeda agar Anda bisa tahu mana yang tepat untuk anak.
(Isma)