Balita Dibaca 1,028 kali

6 Gaya Bayi Merangkak dan Cara Menstimulasinya

Share info ini yuk ke teman-teman
Asni

Terakhir diperbaharui 18 Mei, 2019 12:05

6 Gaya Bayi Merangkak dan Cara Menstimulasinya

MENYAKSIKAN bayi merangkak merupakan momen yang tidak ternilai harganya bagi ibu. Bayi yang beberapa bulan lalu seperti tak berdaya dengan hanya berbaring atau tengkurap kini sudah menjadi penjelajah kecil di rumah.

Merangkak ialah kegiatan bayi yang melibatkan kekuatan otot tangan, kaki, punggung, serta kepala bayi. Ketika bayi merangkak, ia belajar untuk mengkoordinasikan otot tangan dan kakinya untuk menopang punggungnya disertai otot leher yang mampu mengangkat kepala anak sambil ia melihat-lihat ke sekeliling lingkungannya.

Rata-rata, bayi mulai merangkak saat usianya menginjak 7 hingga 10 bulan, beberapa bayi mungkin mulai merangkak di usia yang lebih tua. Bahkan ada juga bayi yang melompati milestone ini atau dengan kata lain ia akan bisa duduk tegak kemudian berlatih untuk berdiri dan berjalan. Kasus seperti ini sangat langka, tapi hal itu sah-sah saja kok selama bayi memperlihatkan minatnya untuk berpindah tempat dan menggunakan otot motoriknya dengan aktif.

Jika bayi tidak memperlihatkan tanda-tanda keaktifan ini, ibu harus langsung memeriksakannya ke dokter anak atau (jika ada) klinik tumbuh kembang. Demikian pula jika bayi hanya memperlihatkan keaktifan di salah satu sisi tubuhnya saja.

 

Manfaat Bayi Merangkak

Meskipun merangkak merupakan milestone yang bisa saja dilewati oleh bayi, para ahli setuju bahwa merangkak merupakan salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang bayi. Para ahli tumbuh kembang bahkan melabeli merangkak sebagai titik ‘kelahiran psikologis’ karena bayi seperti melihat dunia dengan cara yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Selengkapnya, berikut 7 manfaat yang bisa didapatkan oleh bayi ketika ia bisa merangkak:

 

1. Melatih otak

Ketika bayi merangkak, ia belajar mengkoordinasikan otot-otot motoriknya serta membuatnya lebih bisa bereksplorasi dan mencoba hal-hal baru yang ada di sekelilingnya. Kegiatan ini sekaligus menyambungkan banyak koneksi di dalam otak bayi. Di awal kegiatan merangkaknya, bayi akan bergerak pelan, tapi seiring banyaknya saraf yang terkoneksi lewat merangkak ini, pergerakan bayi akan semakin cepat secara otomatis.

Ketika bayi belajar banyak soal skill otomatis ini, skill spasial dan kognitifnya juga mulai berkembang. Skill spasial dan kognitif adalah kemampuan bayi untuk mengenali benda lewat indera penglihatan atau peraba. Jadi tidak heran ketika bayi merangkak, ia juga bisa mengambil mainan favoritnya sekalipun ibu meletakkannya di kolong lemari. Selama tempat itu masih bisa ia jangkau, maka bayi akan terus berusaha untuk menjangkaunya.

Kegiatan meraih benda-benda yang diincarnya ini memiliki arti yang lebih kompleks dari sekedar menggapai benda dalam jangkauannya seperti yang pernah ia lakukan saat umurnya masih lebih muda lho, Bu. Kemampuan menggapai objek dengan merangkak membutuhkan koneksi serta koordinasi antar saraf-saraf di otak bayi yang menggerakkan otot lengan dan kakinya serta di saat yang sama mempekerjakan otot-otot mata untuk fokus melihat objek tertentu. Dengan kata lain, bayi sudah tidak lagi asal bergerak, tetapi ia kini bisa bergerak dengan tujuan.

 

2. Cara bonding baru

Ketika bayi merangkak, ibu akan melihatnya sesekali berhenti kemudian menengok kembali ke belakang. Refleks ini merupakan tanda bahwa bayi tengah mencari orang tuanya demi mendapatkan arahan tentang apa atau ke mana ia seharusnya merangkak. Bayi menangkap sinyal ini melalui suara atau ekspresi wajah ibu jadi pastikan ibu memberi stimulasi yang tepat untuk bayi ya. Misalnya saat ia merangkak ke arah tangga, ibu bisa melarangnya sambil memperlihatkan mimik tidak suka maupun sebaliknya.

 

3. Belajar jarak

Saat bayi masih belum bisa bergerak secara mandiri, ia melihat semua benda yang jauh seperti orang dewasa melihat bintang—kelihatan dekat, tapi kenyataannya jauh dan tidak bisa digapai. Nah, saat bayi mulai belajar merangkak, ia akan mengetahui jarak sebenarnya dari benda-benda tersebut sekaligus belajar bahwa ia bisa menggapai yang ini, tapi tidak dengan yang itu. Bayi merangkak juga akan belajar bahwa benda-benda tidak mengecil atau membesar, hanya ada benda yang jaraknya jauh maupun dekat.

 

4. Belajar tata letak ruangan

Ketika bayi merangkak, ia belajar mengingat denah rumah. Misalnya, jika ia belok kanan dari tempat tidurnya, ia akan menemukan keranjang mainan favoritnya, sedangkan jika ia belok kiri akan ada tangga yang menantinya, dan sebagainya.

 

5. Lebih mengenal lingkungan

Bayi merangkak bisa diibaratkan dengan orang dewasa yang berada di dalam mobil. Ketika bayi merangkak, ia bagaikan berada di belakang setir sehingga cenderung mengenali arah maupun bisa menavigasikan dirinya sendiri di lingkungan tertentu. Bayi juga akan ingat cara kembali ke titik tersebut karena merasa pernah merangkak ke sana.

Hal ini berbeda ketika bayi masih mengandalkan ibu atau orang lain untuk menggendongnya ke sana-sini sehingga ia tidak harus mengenal lingkungan karena masih mengandalkan orang lain untuk membuatnya berpindah posisi.

 

6. Belajar mengambil keputusan

Bukan hanya orang tua yang dihadapkan pada pilihan sulit dalam mengambil keputusan, bayi ternyata juga mengalami hal yang sama lho! Saat bayi merangkak kemudian melihat turunan, misalnya, otaknya akan memproses pilihan untuk tetap merangkak atau berbelok atau bahkan berbalik arah.

Di awal fase merangkaknya, bayi mungkin akan tancap gas saja karena belum mengetahui risiko jika ia merangkak ke turunan itu sehingga tidak jarang bayi terjatuh atau sering tersandung di masa-masa awalnya merangkak. Tetapi tidak usah khawatir ya, Bu, karena pengalaman akan membuatnya lebih berhati-hati di kemudian hari. Bayi dengan pengalaman merangkak lebih banyak akan membuat keputusan lebih pintar dan relatif jarang terjatuh di kemudian hari.

 

7. Lebih ekspresif

Jika ibu terbiasa menghadapi bayi yang manis dan penurut di masa-masa awal kelahirannya, maka bersiap untuk menghadapi bayi yang bisa marah maupun tertawa terpingkal-pingkal ketika ia sudah mulai belajar merangkak. Ketika bayi merangkak, ia merasa bisa mengeksplorasi seluruh dunia, namun selalu ada rintangan bahkan dari ibu sendiri ketika mengucapkan “jangan pergi ke sana!” atau “ke situ tidak boleh!”.

Oleh karena itulah, bayi belajar mengartikan emosi ibu, serta sebaliknya bayi belajar mengeluarkan emosinya sendiri. Selain bisa marah, tentu bayi juga bisa merasa sangat senang ketika mampu mencapai mainan favoritnya setelah merangkak jauh atau mengelilingi seisi rumah. Studi bahkan menemukan bahwa bayi cenderung lebih merasa mencintai ibu ketika ia bisa merangkak karena kini sudah bisa bergerak sendiri untuk menjangkau orang-orang yang juga menyayanginya.

 

Tanda Bayi Siap Merangkak

Sebelum bisa merangkak, bayi akan memperlihatkan beberapa tanda, di antaranya:

  • Mampu duduk tegak tanpa disanggah dengan benda tertentu
  • Otot leher bayi sudah tegak dan mampu digerakkan ke kanan maupun kiri untuk melihat ke sekeliling
  • Memiliki otot lengan, kaki, dan punggung yang lebih kuat
  • Bisa menungging dan menggerakkan bokong ke depan dan belakang

Ketika anak sudah mampu duduk sendiri, ia akan belajar untuk bertumpu pada empat titik, yakni dua telapak tangan dan dua lutut. Setelahnya, bayi akan menyadari ketika ia dalam posisi menungging, ia bisa menggerak-gerakkan badannya ke depan dan belakang seperti tengah bersiap untuk berlari.

Saat usianya menginjak 8 atau 9 bulan, bayi mulai menyadari bahwa ia bisa menggerakkan lututnya ke depan sehingga membuatnya berpindah tempat atau yang dikenal dengan istilah merangkak. Seiring keahliannya merangkak, bayi akan belajar untuk kembali ke posisi duduk setelah aktivitas merangkaknya tersebut.

Dokter anak, Dr. William Sears, menyatakan bayi merangkak bisa mengembangkan skill-nya ketika mampu melakukan cross crawling, yakni ketika bayi merangkak menggerakkan tangan kanan diikuti dengan melangkahkan lutut kiri maupun sebaliknya. Mirip gerakan pasukan pengibar bendera ya, Bu.

 

Stimulasi untuk Bayi Merangkak

Ketika ibu melihat tanda-tanda bayi merangkak seperti di atas, ibu bisa mulai memberikannya berbagai stimulasi untuk merangsang agar bayi mulai bisa merangkak. Yang terpenting, ibu tidak memaksa bayi merangkak dalam waktu singkat ya karena merangkak sejatinya adalah kegiatan menyenangkan yang akan dialami oleh bayi mengingat cara pandangnya terhadap sekeliling akan berubah ketika ia sudah mencapai milestone ini.

Berikut stimulasi yang bisa ibu lakukan agar bayi merangkak dengan lancar dan aman seperti direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):

 

1. Kenalkan tummy time

Tummy time ialah waktu bagi anak untuk bermain dengan posisi perut di bawah alias tengkurap. Posisi ini akan melatih kekuatan otot bahu, punggung, leher, dan tangan bayi yang akan diperlukan ketika bayi merangkak di kemudian hari. Selain mempersiapkan bayi merangkak, tummy time juga berfungsi untuk mencegah kepala bayi peyang lho, Bu.

Bayi biasanya sudah bisa tengkurap di usia 3 bulan sehingga stimulasi ini bisa dilakukan sejak usia itu. Tummy time tidak perlu lama, cukup dilakukan beberapa menit dalam satu sesi atau hentikan tummy time ini ketika bayi terlihat tidak nyaman, tapi durasinya bisa ditingkatkan seiring dengan latihan tengkurap. Yang jelas, ibu harus selalu memperhatikan bayi selama berlatih tengkurap ini untuk mencegah ia kehabisan napas karena belum bisa mengkoordinasikan otot leher dengan baik.

 

2. Rangsang dengan mainan

Sebagai langkah awal menumbuhkan minat bayi bergerak, ibu bisa meletakkan mainan favoritnya dengan jarak sejauh jangkauan tangannya. Jika ia tertarik dan berusaha meraihnya, geser sedikit demi sedikit menjauhi jangkauannya dan lihat apakah bayi tertarik untuk terus meraih mainan tersebut.

Asosiasi Dokter Anak Amerika (AAP) juga menyarankan ibu menggunakan bantal atau pagar khusus bayi sebagai penanda teritori bayi ketika belajar untuk bergerak. AAP percaya hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan kecepatan bayi dalam mencoba merangkak.

Hentikan stimulasi ini ketika bayi terlihat kelelahan dan bosan kemudian ibu bisa mengulanginya beberapa jam kemudian maupun keesokan harinya. Jangan lupa untuk selalu mengawasi bayi ya, Bu.

 

3. Beri tumpuan

Ketika otot-otot bayi sudah terlihat kokoh, ibu bisa meletakkan telapak tangan ibu di telapak kaki bayi ketika ia tengah dalam posisi tengkurap. Hal ini bisa memberi ia tumpuan untuk mulai bergerak sekaligus merangsangnya untuk lekas merangkak.

 

4. Utamakan keselamatan

Bayi merangkak bisa menjangkau apa saja jadi pastikan perabotan di rumah ibu aman terhadap bayi ya. Sebelum mengizinkan bayi merangkak dan mengeksplorasi seisi rumah, ada baiknya ibu melakukan langkah-langkah preventif sebagai berikut:

  • Sudut meja yang tajam sudah dilapisi dengan busa pelindung sudut
  • Benda-benda beracun seperti obat nyamuk, cairan pembersih, bahkan minyak wangi dijauhkan dari area eksplorasi bayi merangkak
  • Vas bunga maupun televisi yang berada di atas meja dijauhkan dari jangkauan bayi merangkak
  • Pintu kamar mandi usahakan selalu tertutup untuk menghindarkan bayi merangkak ke tempat tersebut
  • Pastikan pula tidak ada ember berisi air atau kabel yang menjulur di area bayi merangkak
  • Jika ada stop kontak yang sekiranya bisa dijangkau oleh bayi merangkak, pasang pengaman untuk menutupi lubang stop kontak (bisa dengan selotip atau pengaman khusus lubang stop kontak)
  • Jauhkan bayi dari area sekitar tangga atau pasang pagar pembatas bila perlu
  • Jika ibu tidak bisa selalu mengawasi bayi merangkak, tempatkan saja bayi di dalam satu ruangan khusus yang sudah dipastikan keamanannya
  • Pastikan lantai selalu dalam keadaan bersih, terutama dari benda-benda kecil maupun tajam yang berpotensi menarik perhatian bayi serta masuk ke dalam mulutnya.

Apapun langkah preventif yang diambil oleh ibu, pastikan juga untuk selalu mengawasi ke manapun bayi merangkak.

 

5. Perhatikan alat bantu

Stimulasi paling baik untuk anak merangkak ialah secara mandiri, artinya ia dibiarkan mengeksplorasi lingkungan hanya dengan panduan ibu. Tetapi, ibu bisa menggunakan alat bantu lain untuk merangsang bayi merangkak, seperti kursi, bouncer, ataupun gendongan asalkan masih dalam pengawasan ya.

Meskipun demikian, IDAI tidak menyarankan penggunaan baby walker karena rawan mengakibatkan bayi mengalami kecelakaan yang bahkan bisa sampai mengakibatkan bayi meninggal. Dokter spesialis bedah ortopedi Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, Dr. Faisal Miraj, Sp. OT, menambahkan pemakaian baby walker ini justru bisa menghambat kemampuan berjalan si bayi, membuat kaki bayi berbentuk 'O', hingga mengakibatkan kelainan struktur tulang kaki pada bayi.

"Baby walker membuat bayi berjalan lebih cepat (dari sewajarnya) dan menyebabkan kaki 'O' pada bayi," kata Dr. Faisal.

 

Gaya Bayi Merangkak

Kekhawatiran lain dari ibu-ibu terhadap bayinya yang mulai merangkak ialah ketika bayi merangkak dengan gaya yang tidak awam. Mayoritas, bayi merangkak dengan bertumpu pada kedua telapak tangan serta lututnya. Kemudian, ia akan bergerak maju-mundur menggunakan kekuatan di kedua lututnya tersebut sambil kedua telapak tangannya bergerak seperti setir yang mengarahkan ke kanan maupun ke kiri.

Kalau tidak mengikuti gerakan mayoritas itu, apakah bayi ibu bisa dikatakan mengalami kelainan merangkak?

Baik IDAI maupun AAP sepakat bahwa tidak ada penilaian yang benar atau salah dari cara bayi merangkak. Berikut 6 gaya bayi merangkak seperti dirangkum dari AAP:

 

1. Gaya klasik atau cross crawl

Ini adalah gaya bayi merangkak yang paling sering ditemui. Seperti digambarkan sebelumnya, bayi merangkak dengan bertumpu pada 4 titik, yakni dua telapak tangan dan dua lutut. Selanjutnya, ia akan mengkoordinasikan gerakan, yakni ketika tangan kiri maju, maka lutut kanan ikut bergerak sehingga disebut juga sebagai cross crawl (merangkak silang).

Pada awal belajar, bayi mungkin akan terlihat belum stabil, tapi ketika koordinasi motoriknya sudah bagus, ia akan merangkak dengan cepat.

 

2. Gaya komando

Gaya merangkak komando ini mirip dengan gaya klasik, yakni kedua tangan bayi berada di depan untuk persiapan menyetir, namun perut bayi masih menempel di lantai. Bayi merangkak dengan mengandalkan otot lengan untuk pertama kali menggerakkannya ke depan, sedangkan lutut berfungsi meluncurkan badan bayi secara keseluruhan.

Ciri khas bayi merangkak gaya komando ini ialah lantai rumah ibu akan selalu bersih, tapi tidak dengan pakaian si kecil.

 

3. Ngesot

Orang Amerika Serikat menyebut gaya merangkak ini sebagai bum shuffle (bokong berpindah), tapi orang Indonesia mungkin mengenalnya sebagai gaya merangkak ngesot. Pasalnya, bayi berada di posisi setengah duduk dengan kedua lengan bertumpu di lantai, bokong pun menempel di lantai dan kaki bersila di depan perut. Bayi merangkak dengan cara menggerakkan tangan sehingga menarik bokong dan terlihat seperti ngesot.

 

4. Gaya beruang

Posisi bayi merangkak gaya beruang ini mirip dengan gaya klasik, yakni bertumpu pada empat titik. Hanya saja, lengan dan kaki mereka sepenuhnya terangkat sehingga kaki bertumpu pada telapak, bukan lutut. Ketika berjalan, mereka memang mirip dengan bayi beruang lho, Bu.

 

5. Gaya mundur

Seperti namanya, bayi merangkak dengan gaya mundur ini bukannya membuat dirinya maju, melainkan mundur. Kadang-kadang, bayi menangis karena merasa kesal tidak bisa menggapai mainan yang berada di depannya, tapi ia justru bergerak mundur bahkan sampai kolong kursi.

Apakah ini bentuk kelainan? Ternyata tidak karena gaya merangkak seperti ini pun dialami oleh banyak bayi di seluruh dunia. Yang paling penting, bayi memperlihatkan keinginan dan kemampuan untuk bergerak.

 

6. Gaya berguling

Gaya lain bayi merangkak yang sedikit berbeda dibanding bayi pada umumnya ialah gaya berguling. Seperti namanya, bayi memang berguling untuk mencapai tujuannya sehingga ibu bisa merasa khawatir bayi akan merasa pusing. Gaya merangkak berguling ini juga bukanlah kelainan karena, seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa yang terpenting ialah bayi bisa berpindah dari satu titik ke titik lainnya sehingga memperlihatkan bahwa saraf motoriknya memang bekerja maksimal.

 

(Asni / Dok. Freepik)