Balita

Berat Badan Ideal Balita, Lengkap dengan Cara Menghitungnya

Berat Badan Ideal Balita, Lengkap dengan Cara Menghitungnya

Sudah jadi kewajiban setiap orangtua untuk terus memperhatikan berat badan ideal balita. Mengetahui berat ideal balita bisa jadi salah satu cara untuk memantau tumbuh kembang anak. Ya, berat badan balita dapat menjadi tolak ukur apakah ia sudah cukup nutrisi atau belum. Balita yang berat badannya di bawah berat idealnya, mungkin saja mengalami kurang gizi yang bila tidak diatasi bisa mengarah ke stunting atau gagal tumbuh. Begitupun balita yang berat badannya melebihi berat idealnya, ada kemungkinan ia mengalami obesitas yang tentu dapat memicu berbagai penyakit serius di masa mendatang.

Sebenarnya, berat badan ideal balita bisa berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Ini karena berat ideal balita sangat tergantung pada usia dan jenis kelaminnya. Anak lelaki dan anak perempuan di usia yang sama memiliki berat ideal yang berbeda. Begitupun balita berusia 1 tahun dan 2 tahun, tolak ukur berat badannya pun juga berbeda. Berat badan saat lahir juga biasanya berpengaruh. Itulah mengapa ada grafik berat badan balita yang perlu dipantau setiap bulan. Jika berat balita berada di garis hijau, berarti pertumbuhannya termasuk normal.

Selain dari berat badan, kecukupan gizi balita juga bisa diketahui lewat tinggi badan serta lingkar kepalanya. Pengukuran lingkar kepala juga dapat membantu dokter atau tenaga medis mendeteksi penyakit atau ketidakwajaran yang mungkin dialami bayi dan balita. Semakin dini suatu penyakit terdeteksi, semakin cepat juga ia akan mendapat penanganan medis yang sesuai. Karena itu, penting bagi orangtua untuk membawa anak ke posyandu, puskesmas, atau ke dokter anak setiap bulan agar dapat diketahui berat, tinggi, dan lingkar kepalanya.

Berat Badan Ideal Balita Sesuai Jenis Kelamin dan Usia


Seperti yang sudah disinggung di atas, berat badan ideal balita dapat dikelompokkan berdasarkan usia dan jenis kelaminnya. Berikut ini berat badan ideal anak usia 1 sampai 5 tahun menurut rujukan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:

1. Berat badan ideal balita laki-laki

  • Usia 1 tahun (12-24 bulan): 7,7 sampai 12 kg
  • Usia 2 tahun (24-36 bulan): 9,7 sampai 15,3 kg
  • Usia 3 tahun (36-48 bulan): 11,3 sampai 18,3 kg
  • Usia 4 tahun (48-60 bulan): 12,7 sampai 21,2 kg
  • Usia 5 tahun (60-72 bulan): 14,1 sampai 24,2 kg

2. Berat badan ideal balita perempuan

  • Usia 1 tahun(12-24 bulan): 7 sampai 11,5 kg
  • Usia 2 tahun (24-36 bulan): 9 sampai 14,8 kg
  • Usia 3 tahun (36-48 bulan): 10,8 sampai 18,1 kg
  • Usia 4 tahun (48-60 bulan): 12,3 sampai 21,5 kg
  • Usia 5 tahun (60-72 bulan): 13,7 sampai 24,9 kg

Cara Menghitung Berat Badan Ideal Balita


Selain mengacu pada daftar berat badan ideal balita yang dikeluarkan Kemenkes, Ibu dan Ayah juga bisa menghitung sendiri berapa berat ideal si kecil lo. Berikut ini rumus menghitung berat badan ideal balita sesuai panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO):

1. Rumus untuk anak di bawah 12 bulan

Rumus: (n  : 2) + 4

Keterangan: (n) adalah usia anak dalam bulan.

2. Rumus untuk anak 1 - 10 tahun

Rumus: (2 x n) + 8

Keterangan: (n) adalah usia anak dalam tahun.

Masih bingung, Bu? Mari kita masuk ke simulasi ya...

Anggap usia anak Ibu 2 tahun 11 bulan, berarti kita akan menggunakan rumus yang nomor dua. Dalam rumus ini usia anak harus ditulis dalam satuan tahun yang berarti menjadi 2,11. Sesuai rumus, 2,11 harus dikalikan dengan 2, berarti sama dengan 4,22. Namun setelah itu jangan langsung ditambah dengan 8, ya. Ibu perlu mengubahnya lagi menjadi satuan tahun. Angka 4,22 di atas artinya 4 tahun 22 bulan. Nah, 22 bulan itu berarti 1 tahun 10 bulan, yang berarti harus ditulis 1,10. Tambahkan dulu 4 dan 1,10, hasilnya 5,10. Baru 5,10 ditambahkan lagi dengan angka 8, yang berarti berat badan ideal anak Ibu adalah 13,10 kg.

Faktor yang Memengaruhi Berat Badan Ideal Balita


Faktor genetik memang memainkan peran penting dalam perkembangan berat badan anak. Namun, ternyata ada faktor lain yang juga turut memengaruhi berat dan tinggi badan anak. Apa saja? Berikut daftarnya seperti yang dikutip dari laman Baby Center:

1. Waktu kehamilan

Jika si kecil lahir melewati tanggal jatuh tempo atau Hari Perkiraan Lahir (HPL), kemungkinan ia akan memiliki berat lebih besar dibanding rata-rata. Sebaliknya, jika ia lahir prematur, ia juga mungkin akan memiliki berat di bawah rata-rata.

2. Kesehatan Ibu selama kehamilan

Kesehatan Ibu selama hamil juga berpengaruh terhadap berat badan balita setelah lahir. Ibu yang merokok atau memiliki pola makan yang buruk selama kehamilan, cenderung akan melahirkan bayi yang beratnya kecil. Jika berat badan Ibu bertambah banyak saat hamil atau mengalami diabetes gestasional, kemungkinan Ibu akan melahirkan bayi yang lebih besar.

3. Jenis kelamin bayi

Bayi perempuan cenderung sedikit lebih kecil, baik bobotnya maupun panjangnya, saat lahir dibanding bayi laki-laki. Jadi jenis kelamin juga turut berpengaruh ya, Bu.

4. Bayi diberi ASI atau susu formula

Di awal kelahiran, bayi yang diberi ASI saja akan mengalami pertambahan berat badan yang lebih lambat dibanding bayi yang diberi susu formula. Bayi ASI baru akan bertambah beratnya lebih cepat ketika usianya mencapai 3 bulan. Namun, pada usia 2 tahun, baik bayi ASI maupun bayi sufor akan memiliki berat badan hampir sama.

5. Hormon

Jika si kecil mengalami ketidakseimbangan hormon, seperti kadar hormon pertumbuhan yang rendah atau kadar tiroid yang rendah, hal itu bisa memperlambat pertumbuhannya.

6. Pengaruh obat-obatan

Obat-obatan tertentu, seperti penggunaan kortikosteroid secara rutin, ternyata dapat memperlambat pertumbuhan balita.

7. Ada masalah kesehatan tertentu

Anak-anak yang menderita penyakit kronis seperti kanker, penyakit ginjal, masalah pencernaan, atau penyakit apapun yang dapat memengaruhi kemampuannya makan atau menyerap nutrisi, kemungkinan pertumbuhannya juga akan mengalami gangguan.

8. Kondisi genetik tertentu

Di luar susunan genetik umum anak yang mengikuti orangtuanya, ada sejumlah anak yang memiliki kondisi genetik tertentu seperti down syndrome, noonan syndrome, turner syndrome, dan lain sebagainya, yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

9. Pola tidur

Anak yang memiliki pola tidur yang buruk kemungkinan juga akan mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini karena bayi akan melalui proses perkembangan di tubuhnya saat ia tidur. Jadi pastikan anak juga tidur cukup!

Cara Menaikkan Berat Badan Balita


Lalu, bagaimana kalau ternyata si kecil memiliki berat badan lebih rendah dari rata-ratanya? Sebenarnya, tidak semua anak yang beratnya di bawah berat badan ideal balita itu pasti mengalami gizi buruk. Tentu hanya dokter yang dapat mendiagnosis kondisi tersebut. Namun, bila memang berat badan balita kurang, Ibu bisa mencoba cara-cara di bawah ini untuk membantu menaikkan berat badannya!

1. Memberikannya makanan tinggi kalori

Salah satu kunci jika ingin menaikkan berat badan adalah menambah asupan kalori yang dibutuhkan tubuh. Bila berat anak kurang, Ibu dapat memberinya makanan atau camilan tinggi kalori seperti pasta carbonara, mac and cheese, roti isi keju, dan lain-lain. Sedangkan untuk camilan, Ibu bisa memberikan alpukat, pisang, atau pancake dengan saus madu di sela-sela makan beratnya.

2. Menambah asupan lemak

Lemak juga jadi asupan penting yang dibutuhkan balita jika beratnya kurang. Lemak juga sangat baik bagi perkembangan otak. Beberapa makanan dengan kandungan lemak tinggi seperti keju leleh, mentega, butter, minyak zaitun, atau mayones. Perlu diingat juga kalau lemak itu tidak selalu baik ya, Bu. Jadi pastikan kalau lemak yang Ibu beri untuk anak itu lemak baik, bukan lemak jahat yang justru bisa menyebabkan kolesterol.

3. Lebih fokus pada kualitas makan dibanding kuantitas

Berat badan ideal balita juga akan lebih mudah dicapai jika Ibu fokus pada kualitas makanan, bukan kuantitas. Banyak orangtua yang senang jika anaknya makan banyak, tanpa peduli kandungan nutrisi di dalam makanan si kecil. Padahal, kurangnya gizi atau nutrisi pada makanannya bisa jadi salah satu penyebab berat badan balita kurang. Untuk itu, sebaiknya Ibu perlu memerhatikan kualitas makanan anak. Berikan makanan dan camilan sehat yang kaya nutrisi kepada anak, ya.

4. Sajikan makanan sesuai porsi anak

Memberikan makan sesuai porsi anak juga ternyata bisa membantu meningkatkan nafsu makannya, lo. Dengan porsi yang sesuai, anak jadi merasa mampu untuk menghabiskannya, ketimbang langsung memberikannya dalam jumlah banyak, yang justru dapat membuat anak malas makan. Porsi makan yang lebih kecil juga bisa memberi kesempatan anak untuk menambah makanannya, sehingga berat badannya pun bisa bertambah.

5. Membiarkan anak makan sendiri

Memasuki usia 1 tahun, anak akan mulai mencoba menyuap makanannya sendiri. Ia juga sering ingin terlibat dalam proses mempersiapkan makanannya. Saat anak ingin banyak bereksplorasi, biarkan ia makan sendiri walau mungkin banyak makanan yang tercecer dan meja jadi lebih berantakan. Orangtua juga perlu menciptakan suasana makan yang tenang dan nyaman supaya ia jadi lebih semangat melahap makanannya.

6. Memberi suplemen atau vitamin tambahan

Dalam menghadapi anak yang susah makan, sebagian dokter mungkin akan merekomendasikan pemberian vitamin penambah nafsu makan. Beberapa vitamin seperti vitamin A, C, D, dan zat besi juga dapat mendukung tercapainya berat badan ideal balita. Khususnya zat besi, yang ternyata mampu membantu meningkatkan nafsu makan anak. Namun, jangan sembarangan memberi suplemen atau vitamin tambahan kepada anak tanpa lebih dulu konsultasi ke dokter, ya!

Cara Menurunkan Berat Badan Balita


Tak hanya kekurangan berat badan, masalah kelebihan berat badan juga bisa dialami balita. Kedua kondisi itu sama-sama bisa membuat orangtua khawatir akan kesehatan anaknya. Jika si kecil memiliki berat badan melebihi berat idealnya, Ibu dan Ayah mungkin bisa mencoba cara-cara di bawah ini untuk membantu menurunkan berat badannya.

1. Membatasi waktu menyantap camilan

Salah satu penyebab balita obesitas adalah karena ia memiliki pola makan yang buruk. Terlalu banyak ngemil, bisa membuat balita kelebihan berat badan, apalagi jika camilan yang disantapnya kurang sehat, misalnya kue manis atau keripik kentang. Agar berat badan balita ideal, Ibu perlu mengawasi waktu nyemilnya. Eliminasi camilan-camilan tidak sehat dan ganti dengan yang lebih sehat, seperti buah-buahan dan sayuran. Pastikan juga jumlahnya tidak terlalu banyak.

2. Hindari makan sambil menonton TV

Anak yang makan dengan distraksi di sekitarnya mungkin jadi tidak bisa mengenali rasa kenyang di perutnya. Untuk itu, Ibu dan Ayah perlu menciptakan suasana makan yang bebas distraksi, termasuk makan sambil nonton TV, sambil main gadget, atau sambil mainan. Bantu anak belajar mendengarkan sinyal tubuhnya untuk memberi tahu dia ketika dia sudah merasa kenyang.

3. Hindari terlalu banyak minuman tinggi gula

Tidak sedikit orangtua membiarkan anak-anak mereka minum soda atau jus buah banyak-banyak. Padahal minuman tinggi gula juga bisa menyebabkan anak kelebihan berat badan. Selain itu, konsumsi gula berlebih juga bisa berbahaya bagi kesehatan anak di masa mendatang, lo. Sebagai gantinya, berikan hanya air putih bagi anak-anak yang sudah terlanjur obesitas.

4. Batasi pemberian makanan tinggi kalori

Berat badan ideal balita yang obesitas dapat dicapai dengan membatasi asupan makanan tinggi kalori. Beberapa makanan yang mengandung kalori tinggi seperti kentang goreng, keripik kentang, roti, kue kering, es krim, dan jus buah. Tak hanya itu, Ibu juga perlu menghindari camilan buah-buahan yang berkalori tinggi, seperti alpukat, mangga, atau durian.

5. Meningkatkan aktivitas fisik anak

Membuat anak bergerak lebih banyak juga bisa jadi kunci tercapainya berat badan ideal balita, lo. Tidak harus dengan kegiatan yang berat-berat, Ibu atau Ayah bisa memulainya dengan mengajak anak berjalan-jalan sore, bermain sepeda memutari komplek, atau bisa juga dengan melibatkannya pada pekerjaan rumah, misalnya menyapu, mengepel, atau mencuci baju. Bila balita sudah mulai sekolah, Ibu juga bisa memintanya bergabung ke kegiatan ekstrakurikuler olahraga.

Intinya kurangi aktivitas yang membuat anak jadi banyak duduk atau berbaring, seperti menonton TV atau bermain gadget. Tapi, bukan berarti orangtua harus melarang anak untuk tidur, ya. Karena bagaimanapun, anak-anak terutama bayi dan balita sangat membutuhkan waktu tidur yang cukup demi pertumbuhan dan perkembangannya.

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih