Kehamilan

4 Hal Yang Menyebabkan Pendarahan Saat Hamil

4 Hal Yang Menyebabkan Pendarahan Saat Hamil

Pendarahan saat hamil bisa menjadi situasi yang menegangkan bagi seorang wanita. Tapi Ibu harus tahu, pendarahan saat hamil tidak selalu berarti Anda akan mengalami keguguran. Pendarahan saat hamil cukup wajar terjadi. Sekitar 20 hingga 25 persen ibu hamil mengalami pendarahan saat hamil, ini berarti terjadi pada 1 dari 4 atau 5 wanita. Sekitar setengah dari jumlah ibu hamil ini akan terus mengandung janin yang sehat dan setengah lainnya mungkin ada yang mengalami keguguran. Biasanya pendarahan saat hamil paling sering terjadi pada trimester awal kehamilan. Beberapa ibu hamil ada yang mengalami pendarahan saat hamil sekali saja, sedang lainnya ada yang mengalaminya sepanjang kehamilan.

Semua bentuk pendarahan saat hamil yang Ibu alami harus dikonsultasikan pada dokter atau bidan. Semua darah yang keluar dari vagina wanita yang hamil sebelum usia kandungan 24 minggu bisa diistilahkan dengan “ancaman keguguran”. Pendarahan yang terjadi setelah usia kehamilan 24 minggu dianggap sebagai “ante-partum haemorrhage.” Ibu perlu konsultasi dengan dokter atau bidan dalam 72 jam setelah pendarahan terjadi, khususnya jika Ibu memiliki golongan darah dengan rhesus negatif (misalnya O-, A-), untuk melihat apakah ada pencampuran darah Ibu dengan si bayi atau tidak.

Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa penyebab pendarahan saat hamil. Perlu Ibu ingat kalau setiap pendarahan tidak selalu menjadi ancaman bagi kehamilan Anda. Jika pendarahan saat hamil diikuti dengan kram atau ada sensasi tegang di perut, bicaralah pada dokter atau bidan secepatnya, meski kram yang terasa sangat ringan.

  1. Keguguran atau ancaman keguguran

    Penelitian mengindikasikan bahwa sekitar 1/3 kehamilan berakhir dengan keguguran (dalam kedokteran disebut aborsi spontan). Tapi jangan putus asa, jumlah ini merujuk pada kehamilan yang berada di usia 12 minggu pertama. Kejadian ini tentu menjadi kasus keguguran yang sangat dini. Saking dininya, kita mungkin belum sadar kalau sedang hamil. Sering kali keguguran ini terjadi karena janin tidak dapat berkembang sempurna atau karena tubuh Anda menolak kehamilan karena mengetahui kondisi janin yang tidak normal.

    Begitu usia kehamilan mencapai minggu ke-14 hingga 16, Anda boleh merasa cukup yakin bahwa kehamilan Anda dalam kondisi yang baik-baik saja. Ada baiknya jika kita menahan diri dulu untuk memberitahukan orang-orang kalau sedang hamil hingga usia kandungan menginjak 12 minggu. Memang, Ibu hamil pasti tidak sabar mengabari orang terdekat tentang kehamilannya, namun ini bisa membuat Ibu stres jika mengalami keguguran karena Ibu harus menjelaskan ke orang-orang tersebut tentang kondisi Ibu. 

    Tanda-tanda umum keguguran biasanya meliputi pendarahan, kram, sakit punggung, dan sakit perut. Ibu hamil biasanya tidak mengalami gejala kehamilan lagi ketika mengalami keguguran dan pendarahan. Tidak ada lagi rasa mual karena morning sickness atau nyeri payudara. Jika Anda mengalami pendarahan dan merasa gejala kehamilan mendadak menghilang, maka kemungkinan Anda mengalami keguguran. Bila Anda mengalami pendarahan saat hamil, tapi gejala kehamilan masih terasa, maka kondisi janin kemungkinan masih baik dan pendarahan terjadi karena hal lain. Untuk mengetahui kondisi pasti ibu, sebaiknya lakukan USG di dokter kandungan.

    Namun, Ibu perlu ingat, keguguran juga bisa terjadi tanpa adanya pendarahan. Kondisi ini sering disebut dengan “missed abortion,” di mana janin mati tapi tertahan oleh tubuh Anda. Pada kondisi ini, tanda kehamilan biasanya benar-benar menghilang, tapi tidak ada pendarahan. Dan kita mungkin akan tahu kalau janin sudah tiada saat dokter tidak menemukan detak jantung janin saat melakukan USG. Bila ini terjadi, biasanya Anda perlu menjalani proses kuret untuk membersihkan rahim.

  2. Pendarahan setelah berhubungan seks

    Pendarahan saat hamil juga bisa terjadi setelah berhubungan intim. Kondisi ini benar-benar tidak berbahaya dan biasanya disebabkan oleh asupan darah yang meningkat, serta serviks yang melunak selama kehamilan. Meski bentuk pendarahan ini tidak serius, tetaplah untuk bicarakan hal ini ke dokter. Bersiaplah ketika Anda mendapat pertanyaan yang sangat pribadi dari dokter, seperti “Apakah Anda baru saja berhubungan intim?” Ini mungkin akan membuat kita malu, tapi ini akan jadi pertanyaan pertama yang mungkin diajukan dokter atau bidan saat kita memberitahukan mereka bahwa kita mengalami pendarahan. Selama dokter menyatakan kalau hubungan intim tetap aman dilakukan, Ibu tidak perlu takut untuk melakukannya. Jika suami yang tidak menginginkannya, Ibu perlu menenangkan suami dan katakanlah kalau hubungan intim selama hamil tidak akan menyakiti janin. Janin terlindungi di rahim dengan aman.

  3. Kehamilan ektopik

    Penyebab pendarahan saat hamil selanjutnya adalah karena kehamilan ektopik alias hamil di luar kandungan. Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang dibuahi tertanam dengan sendirinya di luar rahim, biasanya pada tuba falopi. Saat mengalami kehamilan ektopik, Anda akan merasa rasa sakit yang luar biasa di sisi perut bagian bawah, atau merasa ingin pingsan dan mual. Rasa sakit bisa tiba-tiba menghilang jika tuba pecah, tapi ini bisa kembali terasa dalam beberapa jam atau hari kemudian.

    Kehamilan ektopik merupakan kondisi darurat karena bisa mengakibatkan tuba falopi pecah dan menyebabkan pendarahan internal, kerusakan tuba, dan maternal collapse. Tuba falopi Anda perlu diangkat tapi ini tidak berarti Anda akan mengalami kesulitan untuk hamil di masa mendatang.

  4. Pendarahan dari plasenta

    Pendarahan saat hamil yang tidak disertai dengan rasa sakit bisa terjadi akibat posisi plasenta yang tidak tepat dalam kandungan. Kadang posisi plasenta bisa berada di bawah dinding rahim, kadang juga posisinya bisa berada tepat di atas leher rahim. Kondisi ini disebut dengan istilah placenta previa dan terjadi pada sekitar 2 persen wanita. Placenta previa menyebabkan pendarahan saat hamil, biasanya terjadi setelah usia kandungan 20 minggu. Keparahan dari plasenta previa biasanya berbeda-beda, dan ini hanya bisa dilihat dengan USG untuk mendapatkan diagnosa yang akurat. Jika Ibu mengalami kondisi ini, Ibu biasanya diwajibkan untuk istirahat total, bahkan diminta untuk merencanakan persalinan dengan induksi atau operasi caesar jika posisi plasenta tetap berada di serviks menjelang hari kelahiran demi mencegah resiko pada bayi Anda.

    Penyebab lain pendarahan saat hamil yang berhubungan dengan plasenta adalah placental abruption yang terjadi pada sekitar satu dari 200 kehamilan. Kondisi ini terjadi saat sebagian atau seluruh plasenta tidak menempel di dinding rahim. Gejala dari pabrupsi plasenta meliputi rasa sakit dan pendarahan berat. Anda memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalaminya jika Anda merokok saat hamil, menderita tekanan darah tinggi, masalah ginjal, atau pre-eclampsia. Saat mengalami kondisi ini, Anda harus segera dibawa ke rumah sakit. Biasanya Ibu akan diwajibkan untuk istirahat total, diinduksi, atau menjalani operasi sesar.

Terlepas dari apapun penyebab pendarahan saat hamil, segeralah cari bantuan medis jika terjadi pendarahan dan usia kehamilan Anda lebih dari 20 minggu. Jangan gunakan tampon ketika Anda mengalami pendarahan atau kapanpun selama hamil. Bila pendarahan bersifat ringan dan tidak terasa sakit, hubungi bidan atau dokter. 

Jika pendarahan sifatnya berat dan disertai kram perut, sakit punggung, dan rasa sakit lainnya, segera hubungi rumah sakit. Meski menakutkan, tetaplah mencoba untuk tetap tenang. Ketahui bahwa yang keluar adalah darah Anda, bukan darah si janin dan masih ada kemungkinan untuk melanjutkan kehamilan Anda dalam kondisi sehat.

(Ismawati)