Keluarga Dibaca 571 kali

11 Tips Menjalani Kehamilan dengan Balita

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur
11 Tips Menjalani Kehamilan dengan Balita

Jarak kehamilan yang ideal menurut Journal of the American Medical Associatian minimal adalah 2 tahun dan maksimal 5 tahun. Alasannya, pada rentang usia tersebut anak pertama sudah lepas ASI, sudah bisa melakukan beberapa hal sendiri, Ibu pun lebih siap menjalani kehamilan secara fisik dan mental. Lebih dari 5 tahun, Ibu seolah kembali ke masa-masa pertama hamil karena banyak keahlian ibu baru yang sudah terlupa, kesiapan emosional pun harus disesuaikan lagi. Ini belum menyangkut masalah usia, di mana usia aman kehamilan maksimal adalah 35 tahun.

Sebaliknya, jika kehamilan terjadi dengan jarak kurang dari 2 tahun, anak pertama kemungkinan belum “puas” menerima perhatian dan kasih sayang orang tua serta masih banyak bergantung pada orang tua. Kondisi rahim Ibu pun belum pulih sepenuhnya, apalagi jika Ibu melahirkan anak sebelumnya secara caesar. Dinding rahim dikhawatirkan belum menebal dengan sempurna dan memicu terjadinya persalinan prematur. Menjalani kehamilan jadi lebih berisiko serta merepotkan.

Dengan demikian, kehamilan dengan jarak 2, 3, 4, maupun 5 tahun memiliki satu persamaan: menjalani kehamilan saat memiliki balita. Seru, sudah pasti. Semakin kecil usia balita, semakin seru momen kehamilannya. Lebih dari satu balita? Ibu bisa membayangkan pastinya, ya!

Bagi kehamilan yang direncanakan, Ibu pastinya lebih siap secara fisik dan mental meskipun tidak jaminan Ibu mampu 100% bersabar mengasuh calon kakak si bayi. Bagi yang “kesundulan”, panik mungkin menyergap, namun tidak ada pilihan selain menerima dan menjalani kehamilan sebaik-baiknya. Tidak perlu khawatir, Bu. Segala masalah pasti ada solusinya. Berikut ini adalah beberapa tips mengasuh balita saat sedang menjalani kehamilan.

  1. Libatkan anak 

    Melibatkan balita dalam mempersiapkan berbagai macam keperluan kehamilan maupun kebutuhan sehari-hari bisa membuat balita merasa dihargai dan dipercaya. Syaratnya cuma satu, Ibu harus menomorduakan kesempurnaan. Ketika kita meminta balita untuk membantu mengambil tisu, tetap ucapkan terima kasih meskipun ia mengambil 5 lembar sekaligus. Atau, saat Ibu meminta ia memilihkan pakaian bayi untuk calon adiknya, beli yang ia pilihkan sebagai bentuk penghargaan atas pilihannya. Jika tidak, beri anak pilihan terbatas agar ia tidak kecewa. Begitu juga dengan memilih jenis bantuan yang bisa ia lakukan dengan baik sesuai usianya.

  2. Rencanakan aktivitas anak 

    Menjalani kehamilan memang melelahkan, apalagi dengan balita yang inginnya selalu mengajak Ibu bermain. Untuk menyiasatinya, persiapkan berbagai macam aktivitas yang Ibu ingin lakukan ke anak. Mencari inspirasinya lewat Pinterest, Instagram, buku, atau kreasi sendiri bisa dilakukan. Tidak harus rumit atau menggunakan material yang mahal. Intinya adalah mempersiapkan jenis aktivitas yang beragam dalam sehari agar anak tidak mudah bosan dan ujung-ujungnya merengek minta gadget. Semakin banyak jenis aktivitas semakin baik. Saat Ibu dalam kondisi sangat lelah atau sibuk melakukan sesuatu sementara anak minta ditemani, Ibu rentan tersulut emosi. Nah, jika aktivitas telah direncanakan, Ibu pun bebas panik. Anak tidak akan 24 jam ingin bersama, kok. Ia tetap membutuhkan waktu bermain sendiri, saat itulah Ibu bisa mengerjakan aktivitas lain. 

  3. Beri perhatian positif

    Mengapa disebut perhatian positif? Karena, Ibu memberi perhatian anak saat ia bersikap baik. Entah dengan cara bermain bersama, mendengarkan ceritanya, memeluk, mencium, memuji. Perhatian positif akan membuat anak cenderung berperilaku baik. Sementara itu, perhatian negatif adalah perhatian yang Ibu berikan saat anak berperilaku buruk. Indikatornya adalah Ibu merasa terganggu, hingga akhirnya muncul ancaman, omelan, atau hukuman. Sayangnya, perhatian negatif akan membuat perilaku buruk anak menjadi semakin sering.

    Jadi, beri anak perhatian positif lebih sering sebelum anak meminta perhatian Ibu dengan cara yang membuat Ibu tidak sabar. Dengan demikian, Ibu dapat menjalani kehamilan dengan lebih damai. Janin pun tidak perlu ikut mendengarkan ibu mengomel setiap hari. 

  4. Pillow talk

    Sebenarnya, pillow talk adalah obrolan antara suami istri sebelum tidur, sebelum maupun sesudah berhubungan seks, yang terjadi di tempat tidur. Namun, penggunaan istilah pillow talk meluas dan dapat digunakan untuk menggambarkan obrolan yang terjadi antara ibu dan anak sebelum tidur. 

    Mengapa pillow talk dapat memengaruhi bagaimana Ibu menjalani kehamilan?

    Salah satu alasannya adalah pillow talk dapat digunakan untuk mempererat hubungan Ibu dan balita dengan cara berbicara dari hati ke hati. Biasanya, kondisi pikiran dan fisik Ibu dan balita sudah rileks sebelum tidur. Jika ada hal yang Ibu sesali di siang harinya, Ibu bisa meminta maaf pada balita saat pillow talk. Menggali apa yang dirasakan balita pada hari itu, mengingat kembali apa saja yang Ibu lakukan bersamanya berikut pesan-pesan moral yang ada di balik peristiwa tersebut, atau berbicara topik apa saja yang mendadak dibicarakan balita bisa menjadi saat-saat yang menentukan perilakunya esok hari.

    Meskipun demikian, jangan terlalu banyak menasehatinya ya, Bu. Perbanyaklah mendengar dan merespon dengan positif.  

  5. Ajari mandiri

    Mengajarkan kemandirian pada balita mungkin melelahkan. Inilah mengapa masih banyak orang tua yang menyuapi balita meskipun ia sudah bersekolah. Alasannya, mulai dari malas membersihkan makanan yang tercecer, kalau sudah besar toh bisa makan sendiri, hingga agar tidak terlambat masuk sekolah. Padahal, repotnya mengajari balita untuk melakukan segala sesuatunya sendiri adalah sebuah investasi waktu dan tenaga lho, Bu. Balita yang bisa melakukan beberapa hal sendiri tentu tidak akan bolak balik meminta tolong pada Ibu. Rewelnya balita karena Ibu lambat merespon permintaannya juga bisa dikurangi. Bisa dibayangkan kan, indahnya menjalani kehamilan dengan balita yang sudah mandiri?

    Untuk memulainya, Ibu bisa melihat panduan tahap perkembangan anak seperti kapan bisa makan sendiri, lulus toilet training, melepas dan memakai baju sendiri. Menciptakan rumah yang ramah anak juga membuat proses belajar lebih lancar, misalnya alat makan non-beling, kursi kecil di samping kloset atau bak cuci piring, dan peletakan piranti makan di rak yang rendah. Yang perlu diingat, jangan kritisi anak jika ada yang kurang sesuai standar Ibu karena dapat membuat ia takut mencoba. Apresiasi setiap kemajuan kemandiriannya.

  6. Berbagi tugas dengan suami

    Menjalani kehamilan tanpa bantuan support system akan menjadi sangat melelahkan. Suami sebagai support system utama (jika tinggal di kota yang sama) dapat membuat kehamilan lebih mudah dijalani. Sebelum berbagi tugas dengan suami, diskusikan terlebih dahulu apa yang sanggup suami lakukan. Ada suami yang cakap di urusan bebersih rumah, namun ada juga yang lebih telaten mengurus balita. Pastikan tugas suami sesuai dengan keahliannya. Jangan bebani suami lebih dari yang ia sanggup karena suami dan istri yang sama-sama lelah bisa membuat suasana rumah menjadi cepat panas.

    Jika suami mampu tapi enggan berbagi tugas pengasuhan, kemukakan alasan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan balita dapat meningkatkan kepercayaan dirinya dan membentuk konsep diri positif yang bermanfaat saat remaja nanti. 

  7. Membacakan buku tentang memiliki adik baru 

    Ibu pasti melihat antusiasme balita saat perut Ibu mulai membesar dan ia paham bahwa sebentar lagi akan ada adik kecil yang menemaninya. Momen ini bisa Ibu gunakan untuk mempersiapkan mental calon kakak agar kelak proses adaptasi dengan kelahiran adiknya bisa lebih mulus. Membacakan buku tentang memiliki adik baru bisa menjadi salah satu solusinya.

    Jadikan cerita tersebut sebagai jalan pembuka untuk memberikan gambaran lebih detil tentang perbedaan yang kelak balita alami saat adiknya lahir. Misalnya, “Kalau adik lahir, dia nggak bisa minum sendiri kaya kakak, nggak bisa pipis di toilet, dan belum bisa bilang mau apa. Jadi, Ibu bakal sering bantuin adik. Kalo gitu, kakak mulai besok latihan makan sendiri yuk, biar nggak harus nunggu Ibu selesai bantu adik.”

    Nah, lewat buku tersebut, Ibu bisa mulai melatih kemandirian anak. Lebih mudah menjalani kehamilan dengan balita yang mulai memahami bahwa kelak Ibunya akan lebih sedikit membantu. Namun, sesuaikan dengan usianya karena batita akan tetap membutuhkan banyak bantuan dibanding dengan balita usia sekolah. 

  8. Aktivitas fisik yang cukup

    Lagi hamil, tapi balita mengajak main ke luar? Lelah pastinya ya, Bu. Namun, jangan buru-buru disodori gadet atau televisi. Menurut The National Association of Sports and Physical Education, batita (usia 1-3 tahun) aktvitas minimal hariannya adalah 30 menit berupa kegiatan terencana yang dipandu orang dewasa, serta 60 menit aktivitas fisik tidak terencana (bermain bebas). Untuk balita (usia 3-5) tahun, aktivitas fisik terencana minimal 60 menit dan bermain bebas minimal 60 menit. Jika dibandingkan dengan waktu tidurnya yang 12-14 jam, waktu 2 jam tentu tidak terlalu lama.

    Dalam buku Parents Guide: Growing Up Usia 2 Tahun disebutkan bahwa anak yang aktif terstimulasi fisiknya akan lebih pesat pertumbuhan fisiknya, lebih sehat, jauh dari serangan penyakit ketika dewasa, serta tumbuh menjadi pribadi yang aktif dan percaya diri. Tidak perlu membayangkan aktivitas yang berat. Ibu bisa duduk dengan meluruskan kaki sementara balita melompati kedua kaki Ibu, atau menari berdua dengan iringan musik. Tidak hanya sehat, hubungan Ibu dan balita pun makin erat. 

  9. Beri mainan yang dapat dimainkan sendiri 

    Sebelum meminta bantuan gadget kala Ibu kewalahan menjalani kehamilan dengan balita, coba cermati berbagai mainan yang ada di pasaran. Ada sejumlah mainan yang bisa membuat balita sibuk sendiri hingga tidak membutuhkan bantuan Ibu, karena itu disebut busy book atau busy bag. Mainan seperti ini mengasah motorik halus anak seperti menempel, menulis, menganyam, melepas pasang gambar, sekaligus mengasah logika berpikirnya. Biasanya, sebuah busy book memiliki minimal 5 aktivitas seperti mencocokkan bentuk, klasifikasi warna, identifikasi angka, dan lainnya. Jika sesuai dengan usia balita, maka hanya dengan sekali instruksi saja anak dapat melakukannya sendiri. 

    Bagi Ibu yang balitanya tidak terlalu tekun beraktivitas dengan jari, coba amati mainan yang disukainya. Terkadang, bermain air dan kotor-kotoran bisa sangat disukainya. Ibu hanya perlu mengawasi dan membersihkan. Misalnya, sebaskom berisi figurin hewan kesukaannya dengan pewarna makanan, gelembung sabun, tepung untuk membuat playdough, dan jenis messy play lainnya. Jangan lupa tentukan area bermainnya ya Bu. Jangan sampai area yang harus Ibu bersihkan meluas hingga ke seisi rumah. 

  10. Kenalkan dengan rutinitas

    Meskipun belum masuk usia sekolah, balita yang sudah dikenalkan dengan rutinitas akan lebih kooperatif dan cepat mandiri. Perubahan yang muncul seiring dengan tumbuh kembang balita membuat ia takut. Rutinitas ada untuk membuat balita merasa lebih aman karena aktivitasnya dapat ia terprediksi: makan setelah mandi pagi, tidur setelah bermain di siang hari, dan sebagainya. 

    Mengenalkan rutinitas pada balita saat menjalani kehamilan tidak selalu mudah, apalagi jika perut sudah membesar, mata sudah ingin terpejam, dan balita sudah mengantuk namun belum pipis dan sikat gigi. Namun, hasilnya akan sangat meringankan Ibu kelak ketika balita sudah dapat mandiri tanpa harus diingatkan untuk menyikat gigi. Begitu juga dengan rutinitas bangun pagi yang bisa membuat anak lebih mudah beradaptasi dengan jam masuk sekolah kelak. Jangan lupa, ajak suami dan keluarga lain di rumah (jika ada) untuk menerapkan rutinitas. Jangan sampai rutinitas makan snack setelah makan nasi menjadi buyar ketika ayahnya memberi kudapan kapanpun anak meminta. 

  11. Turunkan ekspektasi

    Terkadang yang membuat Ibu berat menjalani kehamilan saat memiliki balita adalah ekspektasi yang terlalu tinggi. Lupakan rumah yang selalu rapi dan perhatian penuh dari suami seperti saat hamil pertama dulu. Kini, ada balita yang bisa membuat hasil bebersih rumah tak berbekas lagi, serta selalu meminta perhatian Anda. Jangan harapkan berjalan-jalan ke mall dengan santai kecuali suami mau mengasuh anak di rumah untuk beberapa jam, karena ketika harapan tersebut gagal tercapai, drama pun dimulai.

    Menurunkan ekspektasi bisa menjadi solusi saat menjalani kehamilan kedua dan seterusnya. Membeli lauk atau delivery makanan, sesekali membiarkan anak menonton gadget lebih lama, menggunakan jasa laundry, tidak mengepel lantai setiap hari, tidak akan menjadikan Anda Ibu yang buruk. Anak belum bisa membereskan mainan sendiri dan meninggalkan ruangan berantakan hingga pagi, tidak apa-apa. Yang penting, Ibu tahu (dan suami pun demikian) sampai batas mana energi yang Ibu miliki, fisik dan mental. Kebahagiaan hati dan kesehatan janin jauh lebih penting daripada rumah rapi, bukan?

Semua tips ini dapat Ibu pertahankan saat bayi baru telah lahir. Beberapa tips mungkin tidak akan seberhasil sebelumnya mengingat balita dapat mengalami perubahan sikap dan emosi dengan lahirnya anggota baru dalam keluarga. 

Tetaplah sensitif akan kebutuhan sang kakak ya, Bu. Jika Ibu merasa balita menjadi lebih berulah, mungkin saja dalam sehari belasan pelukan dan ciuman yang mendarat di pipinya kini tinggal tersisa 3-4 saja. Selebihnya, adik bayi yang mendapatkannya. Semoga saja Ibu bisa menjalani kehamilan dengan penuh sukacita, berapapun usia (dan jumlah) balita.

(Menur)