Keluarga Dibaca 381 kali

12 Insecurities Penyebab Ibu Tak Percaya Diri dan Solusinya

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi
12 Insecurities Penyebab Ibu Tak Percaya Diri dan Solusinya

Akhir-akhir ini Ibu pasti sering mendengar istilah insecureInsecure diartikan sebagai perasaan bersalah, minder, dan kurangnya kepercayaan diri yang menjangkit seseorang. Biasanya dialami seseorang usai suatu hal baru yang terjadi dalam hidupnya. Tapi rupanya, dari artikel di laman Psychology Today, ada sebagian orang yang mengalami insecurity di waktu-waktu tertentu saja dan sebagian lainnya mengalami insecurity setiap saat. Peristiwa seperti trauma masa lalu, kejadian-kejadian di masa kecil, kejadian yang baru-baru ini dialami, tekanan dari lingkungan bahkan memiliki orangtua atau pasangan yang terlalu banyak mengkritik dan menuntut, adalah contoh dari hal yang menyulut munculnya insecurity pada diri seseorang. Bahkan, sifat perfeksionis pada seseorang juga menciptakan perasaan insecure.

Sebagai seorang Ibu, perasaan insecure juga berpotensi besar untuk dialami. Kebanyakan Ibu merasa insecure dalam hal parenting dan anak-anak. Ada tiga hal yang memicu terjadinya insecurity pada Ibu:

  • Kegagalan

    Kehamilan dan kelahiran adalah proses alami yang melibatkan perubahan hormon. Perubahan hormon secara otomatis akan mempengaruhi mood seseorang. Apalagi ditambah fase kehidupan baru yang harus dijalani tanpa sebelumnya mengerti tentang hal baru ini.

    Ibu-Ibu yang baru saja melahirkan biasanya memiliki rasa insecure yang bervariasi. Misalnya, Ibu yang melahirkan dengan operasi caesar merasa insecure karena tidak bisa melahirkan normal. Sedangkan Ibu yang melahirkan normal merasa insecure karena masih trauma dengan proses kelahiran dan biasanya juga karena luka jahitan dalam.

    Ibu-Ibu ini merasa bersalah pada pasangannya, kenapa ia tidak bisa melahirkan normal; merasa tidak percaya diri pada pasangan karena luka jahitan yang ‘menurut’ Ibu tidak bagus; dan merasa usahanya tidak maksimal dalam proses melahirkan. Proses melahirkan yang sarat trauma inilah yang kemudian tumbuh menjadi insecurity yang menyerang para Ibu baru.

  • Tekanan dari Masyarakat

    Sebagai Ibu baru, Ibu mungkin sering kebingungan harus melakukan apa saat merawat bayi yang baru lahir. Meski banyak Ibu menyiapkan diri dengan segudang pengetahuan tentang merawat bayi dan panduan parenting lainnya, seringkali saat mulai merawat bayi baru lahir, Ibu tiba-tiba merasa tidak tahu apa-apa. Nah, kebingungan ini biasanya dimanfaatkan oleh lingkungan sekitar untuk menceramahi Ibu dengan berbagai macam nasihat yang belum tentu semuanya benar. Ditambah lagi, nasihat-nasihat tersebut juga seringkali memaksa Ibu harus melakukan apa yang disarankan jika tidak ingin kualat atau terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya.

    Tekanan dari masyarakat inilah yang kemudian mengacaukan pikiran Ibu, membuat Ibu merasa insecure dan tidak becus mengurus anak sendiri. Tidak adanya dukungan dari pasangan juga bisa menjadikan perasaan ini semakin menjadi-jadi.

  • Dipengaruhi Perfeksionisme

    Insecurity pada Ibu, utamanya Ibu baru, juga bisa muncul dari standar dan ekspektasi yang terlalu tinggi. Standar tinggi ini dipicu dari sifat perfeksionis yang Ibu tunjukkan karena ingin memberikan yang terbaik untuk bayi Ibu. Misalkan, Ibu merasa sudah mengetahui bahwa bayi tidak perlu memakai bedak tabur. Ibu tetapkan standar bahwa bayi Ibu tidak boleh disentuh sama sekali dengan bedak tabur. Lalu ketika sang nenek atau pengasuh lainnya yang merawat, bayi Ibu dipakaikan bedak tabur. Seketika itu juga ibu merasa insecure, merasa bersalah pada bayi dan merasa gagal menjadi Ibu. Menyesali mengapa tidak merawat sendiri bayi Ibu agar si bayi tidak kena bedak sedikit pun.

    Padahal dengan bersikap se-perfeksionis itu ternyata tidak selalu baik untuk mental Ibu sendiri. Cukup ingatkan nenek atau pengasuh untuk memakaikan bedak di badan. Bila nenek memaksa memakaikan di wajah, maka cukup mintalah untuk berhati-hati agar risiko bedak masuk ke saluran napas lebih kecil. Langkah yang lebih besar, Ibu bisa menyodorkan referensi yang Ibu jadikan patokan atau ikut membawa serta keluarga saat ke dokter agar turut mendengarkan dari ahli medis terpercaya. Jadi Ibu tidak perlu merasa terlalu down hanya karena hal yang bisa dicari solusinya. 

    Akan tetapi, perasaan insecure  ternyata juga bisa berdampak positif bagi seseorang jika muncul beberapa kali saja dan bukan merupakan hal yang terus menerus terjadi. Dampak positifnya adalah Ibu bisa termotivasi dengan perasaan tersebut untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi, jika insecurity dialami terus menerus dan berulang, maka yang ada hanyalah dampak negatifnya saja. Ibu jadi depresi dan selalu berburuk sangka pada diri sendiri dan orang lain.

Lebih lanjut, insecurity pada Ibu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, Ibu perlu mengetahui hal apa yang membuat Ibu dapat dikategorikan sebagai Ibu yang mengalami insecurity dan bagaimana cara mengatasinya.

  1. Tidak Percaya Diri dengan Kondisi Fisik Setelah Melahirkan

    Perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan seringkali menjadi hal yang paling sensitif bagi wanita. Apalagi para Ibu yang memilih fokus pada bayi kecil yang menganggap ibu adalah dunianya. Merawat diri dan menjaga bentuk badan terkadang tidak sempat dilakukan. Selain itu, nafsu makan yang meningkat saat menyusui juga membuat Ibu seringkali tidak percaya diri dengan berat badan.

    Pengaruh sosial media juga semakin memperbesar rasa insecurity Ibu. Bagaimana tidak? Banyak selebgram dan artis ibukota yang juga hamil dan melahirkan, tapi bentuk badannya sudah kembali seperti semula. Mulai deh, Ibu jadi kesal dan menyalahkan diri sendiri, kenapa nggak bisa kurus, kenapa perut nggak bisa kecil, kenapa paha besar, dan segudang keluhan lainnya.

    Cara Mengatasinya:

    Terimalah kekurangan diri Ibu dengan berpikir positif bahwa ini adalah hal alamiah yang wajar terjadi. Hadirnya si kecil adalah hadiah yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Bersabarlah hingga selesai masa menyusui atau saat si kecil mulai agak besar. Saat itulah Ibu bisa mulai memikirkan cara untuk menjaga kondisi fisik sesuai dengan yang Ibu inginkan. Terlebih, sebenarnya kondisi fisik tidak seharusnya menjadi persoalan besar yang mengurangi kebahagiaan Ibu. Bagaimana pun kondisi fisik seseorang, semestinya tidak menjadi patokan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain.

    Jika memang diperlukan untuk alasan kesehatan, Ibu bisa mulai mengubah pola makan dengan memperbanyak sayuran, protein hewani, kacang-kacangan dan buah-buahan serta mengganti jenis karbo dengan yang lebih sehat. Faktanya, pola makan seperti ini akan menurunkan berat badan tanpa mengurangi kualitas ASI. Ibu juga bisa menambahkan konsumsi herbal seperti minyak zaitun, saffron, habbatussaudah,dan madu untuk menjaga imunitas dan stamina.

  2. Insecure dengan Status Janda Setelah Bercerai dengan Suami

    Status janda memang menjadikan banyak wanita berkurang kepercayaan dirinya karena merasa kehilangan pendamping dan kawan hidup. Belum lagi tekanan untuk menghidupi buah hati seorang diri sebagai single parent. Ditambah lagi omongan kanan kiri tentang status janda yang sering dicap negatif.

    Cara Mengatasinya:

    Tutup telinga Ibu dari omongan negatif orang lain dan melangkah lebih percaya diri dengan apa pun keadaan Ibu saat ini. Ibu perlu tahu bahwa tidak ada siapa pun yang berhak menganggap Ibu bernilai kurang karena orang lain tidak tahu bagaimana perjuangan Ibu. Pikirkan saja tentang buah hati Ibu yang lebih membutuhkan perhatian lebih dari siapa pun.

  3. Insecure Tidak Lagi Bekerja dan Tidak Mandiri Secara Finansial

    Berubahnya kehidupan sebelum dan sesudah memiliki momongan membuat banyak Ibu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bekerja dan fokus merawat anak. Alasannya banyak. Bisa karena tidak ada yang mengasuh, atau Ibu terlalu khawatir untuk menggunakan jasa baby sitter karena belum percaya pada orang lain. Namun dibalik keputusan resign, tentu ada kondisi keuangan yang berubah. Apalagi sekarang sudah ada bayi yang membutuhkan banyak pengeluaran. Di momen inilah Ibu terpapar rasa insecure. Ibu mulai minder melihat wanita karier lain, mulai insecure karena wanita-wanita itu mandiri secara finansial, dan mulai timbul pemikiran “andai aku bekerja lagi, pasti kebutuhan anak lebih bisa terpenuhi”.

    Cara mengatasinya:

    Luangkan waktu untuk bisa me time. Pemikiran minder dan iri melihat wanita karier lain yang bekerja biasanya didasar atas keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Meskipun tak bisa dimungkiri bahwa kebutuhan ekonomi memang banyak memengaruhi keputusan Ibu nantinya. Ibu ingin tetap melakukan pekerjaan sesuai passion sekaligus tidak ingin melewatkan menjadi saksi setiap milestone yang dicapai oleh anak. Bicarakan dengan Ayah agar untuk sementara waktu, Ayah yang mengasuh anak. Ibu bisa mengaktualisasikan diri dengan belajar resep baru, sekedar ke salon, melakukan hobi atau pekerjaan paruh waktu, dan membuat handicraft. 

  4. Tidak Percaya Diri Karena Jerawatan

    Breakout pada wajah banyak dialami wanita sebab perubahan hormon kehamilan dan setelah melahirkan. Naik turunnya hormon inilah yang menyebabkan jerawat, kulit muka kusam dan banyak keluhan wajah lainnya. Wanita mana pun meski tidak hamil, saat wajah breakout pasti merasa kecil hati, begitu juga dengan Ibu. Perasaan insecure sudah pasti muncul. Apalagi kalau sudah waktunya kumpul keluarga, bertemu teman, dan pergi kondangan.

    Cara Mengatasinya:

    Ibu bisa melakukan perawatan wajah dan kulit seperti saat gadis dulu, ke salon maupun perawatan di rumah. Pilihlah skincare yang aman untuk ibu menyusui, dan gunakan dengan rutin. Akan butuh waktu untuk mengembalikan wajah ke keadaan semula. Tapi jangan putus asa dan teruslah gunakan skincare yang Ibu pilih. Bila keuangan pas-pasan untuk membeli skincare, belilah produk paling dasar seperti sabun cuci muka dan krim untuk menutrisi kulit wajah. Sisihkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli skincare yang Ibu mau. Selain untuk menjaga kesehatan kulit wajah, hal ini bisa sebagai reward pribadi bagi Ibu. Memberi diri sendiri reward merupakan langkah yang baik bagi kewarasan seorang Ibu.

  5. Insecure Tidak Punya Banyak Waktu Dengan Anak Karena Bekerja

    Bila stay at home mom merasa insecure karena tidak mandiri secara finansial, working mom juga memiliki rasa insecure yang sepadan karena waktu mengasuh anak jadi terbatas. Di satu sisi nggak bisa resign karena mungkin ada kebutuhan, di sisi lain ingin banget bisa banyak waktu mendampingi si kecil dan menyaksikan sendiri tumbuh kembangnya.

    Cara Mengatasinya:

    Buatlah waktu yang sedikit itu menjadi amat berharga bagi Ibu dan anak. Bagi Ibu bekerja, quality time jauh lebih penting daripada quantity time. Maka, jauhkan HP dan gadget lainnya, lalu fokuslah bersama anak. Stimulasi anak dengan main bersama dan melakukan aktivitas outdoor. Manfaatkan hari libur untuk mencurahkan segala perhatian pada si kecil. Mulai dari masak makanannya, menemaninya bermain, dan berjalan-jalan di taman saat pagi bersama Ayah.

  6. Ragu Sudah Menjadi Ibu yang Baik atau Belum Bagi Si Kecil

    Keraguan seperti ini banyak dialami para Ibu karena tidak fokus pada satu patokan keteladanan. Ibu jadi bingung apakah yang dilakukan sudah benar, baikkah untuk anak, atau burukkah bagi tumbuh kembangnya.

    Cara Mengatasinya:

    Bila Ibu telah mempelajari hal-hal berkaitan dengan pengasuhan si kecil, tetapkan berkiblat pada satu panduan. Sesuaikan ekspektasi dengan kondisi si kecil sehingga saat ibu melakukan kesalahan, Ibu tidak akan merasa bersalah. Teruslah membuat banyak kenangan bersama anak dan singkirkan keraguan tentang baik tidaknya Ibu dalam mengasuh anak.

  7. Tiba-tiba Merasa Blank dan Tidak Tahu Harus Berbuat Apa

    Seringkali Ibu kehilangan konsentrasi karena perubahan hormon yang drastis. Hilangnya konsentrasi ini membuat Ibu seolah tidak tahu harus berbuat apa. Ini juga bisa memicu insecurity karena Ibu merasa tidak bisa melakukan apapun untuk si bayi.

    Cara Mengatasinya:

    Minta suami untuk bekerja sama dalam pengasuhan agar saat Ibu tiba-tiba blank, ada suami yang bisa mengingatkan.

  8. Merasa Sendirian dan Tidak Ada yang Mendukung

    Sendiri di tengah keramaian. Kemungkinan Ibu juga akan merasa seperti ini. Apalagi jika apa yang Ibu lakukan untuk bayi tidak didukung oleh sekitar, baik itu suami maupun orang terdekat. Insecurity bisa timbul di tengah perasaan seperti ini.

    Cara Mengatasinya:

    Tenangkan pikiran dan coba bicarakan dengan orang sekitar pola pengasuhan seperti apa yang Ibu inginkan. Banyak-banyaklah curhat dengan teman yang supportif atau suami agar perasaan lebih lega.

  9. Insecure karena Gagal Menyusui

    Di era millennial yang disebut-sebut sebagai era “Penyembah ASI” ini, Ibu yang gagal menyusui biasanya akan merasa insecure dan sangat bersalah pada bayinya. Meski sejatinya ASI adalah makanan terbaik dan merupakan hak anak, Ibu harus memahami jika ada kondisi tertentu yang membuat Ibu tidak bisa sukses menyusui.

    Cara mengatasinya:

    Upayakan terlebih dahulu ASI untuk bayi. Banyak berkonsultasi dengan konselor laktasi dan dokter juga langkah yang baik. Bila dirasa semua upaya sudah dilakukan namun masih tidak berhasil menyusui, maka jangan takut untuk minta saran dokter dalam pemberian susu formula.

  10. Tidak Percaya Diri karena Stretchmarks 

    Munculnya stretchmarks akan membuat Ibu merasa insecure karena bekasnya memang terlihat mengerikan. Ibu jadi tidak percaya diri dan terkadang merasa malu karena penampilan fisik tidak lagi semulus dulu.

    Cara Mengatasinya:

    Minta support dari Ayah agar Ibu lebih menerima diri Ibu apa adanya. Tak ada salahnya minta Ayah untuk memuji Ibu. Ibu bisa berusaha untuk memudarkan stretchmarks dengan berbagai krim atau minyak pelembab yang banyak dijual di pasaran.

  11. Ragu Apakah Si Bayi Menyayangi Ibu

    Perasaan seperti ini seringkali terjadi saat bayi rewel terus-menerus meski sudah coba digendong, diayun, atau diberi susu. Ibu akan menganggap apakah mungkin si bayi tidak mencintai Ibu seperti Ibu mencintai bayi Ibu? Padahal bisa saja bayi Ibu rewel karena hal lain. Tapi memang perubahan hormon sering bikin Ibu baper kok.

    Cara Mengatasinya:

    Singkirkan pikiran negatif apa pun tentang bayi Ibu. Bisikkan kata-kata ‘I Love You’ atau ‘Ibu sayang kamu’ pada bayi. Secara naluriah, bayi akan memahami cinta dari Ibu dan membalasnya dengan cara manisnya, seperti memberi Ibu senyuman saat menatap mata Ibu.

  12. Membandingkan Bayi Ibu dengan Bayi Lain

    Membandingkan bayi Ibu dengan bayi lain adalah salah satu pemicu insecurity yang akan Ibu rasakan. Ibu tidak percaya diri dengan apa yang Ibu lakukan sehingga Ibu membandingkan bayi Ibu dengan bayi lain yang seolah terlihat lebih hebat.

    Cara Mengatasinya:

    Lakukan detoks media sosial untuk membantu Ibu mengurangi kecenderungan membandingkan bayi Ibu dengan bayi di media sosial. Tutup telinga juga jika tetangga membandingkan ini dan itu. Cukup pantau saja kesehatan dan perkembangan bayi Ibu dengan saran dokter. Sesuaikan standar ekspektasi dengan kondisi si kecil dan keluarga, lalu yakinlah bahwa Ibu sudah melakukan hal terbaik untuk bayi Ibu.

(Dwi Ratih)