Keluarga Dibaca 752 kali

19 Cara Mendidik Anak Perempuan Dengan Baik

Share info ini yuk ke teman-teman
Stephanie

Terakhir diperbaharui 24 Juli, 2019 11:07

19  Cara Mendidik Anak Perempuan Dengan Baik

Pada dasarnya mendidik anak laki-laki dan perempuan sama saja, tapi dilakukan dengan pendekatan yang dilakukan sedikit berbeda. Apa saja, sih, yang mesti diperhatikan tentang cara mendidik anak perempuan agar ia menjadi wanita yang siap menjalani masa depannya?

1. Mencintai Anak dengan Seimbang

Tanpa Ibu sadari, terkadang Ibu suka membandingkan anak yang satu dengan yang lain, atau bahkan membandingkan anak dengan anak orang lain. Juga, nggak, jarang Ibu lebih sering memuji anak yang Ibu anggap paling baik akademisnya atau Ibu paling sering mengabulkan permintaan si bungsu dibandingkan dengan kakaknya. Bu, pada dasarnya setiap anak memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, maka semua anak selayaknya mendapat perlakuan yang sama. Hal ini penting agar anak juga merasa dihargai dan disayang oleh kedua orangtuanya.

Tahukah Ibu, menurut suatu penelitian, mendidik anak dengan cara memberikan rewards dan pujian, bisa menyebabkan anak melakukan sesuatu hanya untuk membuat orang terkesan dan memicu anak menjadi ‘haus’ pujian. Anak akan kehilangan motivasi diri dan bergantung dengan pendapat orang. Selain itu, anak bisa merasa sakit hati ketika hal yang ia lakukan ternyata tidak menuai pujian. 

Di dalam keluarga, pujian dan rewards bisa menimbulkan rasa cemburu dan perselisihan di antara anak. Bahkan, secara tidak disadari, orangtua sering memuji anaknya karena dirinya sendiri ingin dipuji, yaitu dengan ‘memanfaatkan’ kehebatan anak-anaknya.

2. Bangun Kepercayaan Diri Anak

Ada anak yang pintar pada pelajaran matematika, ada anak yang pintar menggambar atau bermain musik. Artinya, keduanya sama baik dan sama pintar, hanya bidangnya saja yang berbeda. Maka keduanya harus diperlakukan setara. Kalau Ibu hanya terkesan bangga pada anak yang pintar matematika, maka si anak yang pintar menggambar bisa kehilangan rasa percaya dirinya. Anak akan merasa minder dan tidak nyaman berada di sekitar anak-anak lain.

Luangkan waktu sejenak untuk mengeksplor apa yang terjadi pada anak, misalnya, bantu selesaikan kesulitan yang mungkin ia temukan dalam pelajaran lain, serta dukung apa yang menjadi minat anak agar ia terus berkembang dan semakin percaya diri

3. Mengajarkan Agama Sejak Dini

Ada banyak cara untuk mengajarkan nilai-nilai agama pada anak sejak usia dini. Salah satunya adalah membiasakan anak ikut berdoa. Misalnya, sekadar membaca ‘bismillah’ sebelum makan atau sebelum tidur. Semakin ia besar, Ibu bisa mengajarinya membaca doa yang lebih panjang dan mengajaknya melakukan ibadah. Mengajari anak untuk mengenal agamanya juga bisa dengan cara yang menyenangkan, yaitu dengan membacakan buku. 

Dengan bekal agama yang memadai, akan membangun kesadaran anak untuk menjalankan kewajibannya dan menjauhi apa yang dilarang. Nggak, perlu khawatir jika Ibu juga merasa memiliki keterbatasan dalam agama, Ibu bisa memasukkan anak ke sekolah agama atau memanggil guru ke rumah.

4. Menjaga Diri

Cara mendidik anak perempuan untuk menjaga diri tidak hanya untuk mencegah tindak kejahatan pada dirinya. Alangkah baiknya memang, jika anak bisa melakukan hal tersebut, karena perempuan, apalagi jika masih anak-anak, memang seringkali menjadi sasaran penjahat. Entah itu ada yang berniat merampas perhiasan yang dipakainya atau menjambret tasnya, karena dinilai lemah.  

Cara mendidik anak perempuan adalah wajib menjaga tubuhnya. Ingatkan anak agar selalu menutup bagian tubuhnya dan tidak membiarkan orang lain untuk menyentuh bagian tubuh tersebut. Pun, kalau ada yang menyentuhnya, anak mesti diajar berani untuk mengatakannya pada Ibu. Contoh lainnya, ajari anak agar tidak mudah diajak ke tempat yang sepi atau tidak sembarang pada orang yang tidak dikenalnya. 

Menjaga diri menjadi lebih penting bagi si anak ketika ia tumbuh dewasa, ketika putri kecil Ibu yang manis, tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ajari anak untuk tidak gampang menerima ‘ajakan’ laki-laki.

5. Membiasakan Anak Membantu Pekerjaan Rumah 

Seorang anak perempuan, tentunya diharapkan bisa membantu meringankan pekerjaan Ibu di rumah, atau bahkan menggantikan Ibu di kemudian hari. Walaupun Ibu memiliki asisten rumah tangga, tetap didik anak untuk belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu bisa memulainya dari hal yang paling sederhana, misalnya memasukkan mainannya kembali ke dalam keranjang, atau menaruh sandal pada tempatnya. Contoh lainnya adalah membantu merapikan tempat tidur dan menyapu.

Sekarang ini, perempuan yang bekerja di kantor adalah hal yang biasa, apalagi jika memang harus untuk membantu mencukupi kebutuhan di rumah, namun anak tidak boleh lupa kewajibannya untuk merawat keluarga di rumah. Karena ia sudah terbiasa sejak kecil, maka setelah ia berkeluarga nanti, ia bisa merawat keluarganya dengan baik.

6. Belajar Memasak

Haruskah bisa memasak? Betul, tidak semua perempuan bisa memasak, tapi memasak adalah tugas yang pada dasarnya menjadi tanggung jawab seorang perempuan. Nggak, semua orang ‘terlahir’ dengan bakat memasak, tapi memasak bisa dipelajari, kuncinya adalah mau mencoba dan terus melatih kemampuan.

Selain bisa memasak, alangkah baiknya jika kita mendidik anak perempuan untuk memiliki pengetahuan tentang mengolah makanan dengan baik, supaya ia bisa menghidangkan makanan yang bergizi untuk keluarganya. Jika kelak anak bisa memasak, maka ia bisa membantu menghemat pengeluaran keluarganya. Bahkan, memasak bisa menjadi keterampilan yang bisa dimanfaatkannya untuk mendapatkan penghasilan.

7. Mengenal Organ Reproduksi

Memasuki pasa puber, anak mulai diajari mengenai perubahan pada tubuhnya dan mengenal organ reproduksinya. Misalnya, ketika payudara dan rambut kemaluannya mulai tumbuh, maka anak harus menggunakan pakaian dalam khusus untuk kebutuhannya. Ajari juga cara merawat dirinya, terutama wajah, karena pada masa-masa ini biasanya wajah anak akan berjerawat. Anak juga mesti diajari tentang menstruasi dan pentingnya menjaga organ intim ini.

8. Pendidikan Seks Sejak Dini

Beda orangtua, beda pendapatnya mengenai pendidikan seks sejak dini pada anak. Sebagian berpendapat, membicarakan tentang seks pada anak adalah hal yang tabu dan justru bisa memicu rasa penasaran anak, sebagian lagi berpendapat, hal ini baik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 

Membicarakan seks dengan anak juga, nggak, gampang dan bakal terasa canggung. Namun apa yang penting untuk diketahui oleh anak? Misalnya, ingatkan anak untuk tidak melakukan kegiatan seks sebelum waktunya dan jelaskan alasannya dengan cara yang mudah ia pahami. Misalnya, melakukan seks sebelum menikah, adalah sebuah dosa yang besar. Seks yang tidak pada tempatnya, juga bisa membuat pelakunya berisiko terkena beragam penyakit menular yang berbahaya sampai risiko hamil di luar pernikahan. Bukankah lebih baik mengingatkan anak sebelum terlambat?

9. Mencari Ilmu Sebanyak-banyaknya

Salah satu cara mendidik anak perempuan adalah dengan memberinya bekal ilmu sebanyak-banyaknya. Walaupun Ibu dan Ayah memberi anak bekal materi yang sangat banyak sekalipun, hal tersebut bisa saja habis jika anak, nggak, bisa mengelola dengan baik, tapi ilmu bisa bertahan. Dorong anak perempuan untuk mencari ilmu sebanyaknya. Tentu saja, Bu, ilmu yang dicari mestilah sesuatu yang sesuai dengan minatnya, agar anak mau belajar dengan maksimal dan sungguh-sungguh. Misalnya, selain sekolah dan kuliah, ikut sertakan anak dalam kelas memasak, kerajinan tangan atau bahkan modeling.

Tidak semua orang betah atau cocok bekerja di kantor. Nah, dengan memiliki ilmu yang beragam seperti ini, ada banyak kesempatan untuk anak menjalankan usaha nantinya.

10. Mengajar Anak Hidup dan Tumbuh Mandiri

Menjadi mandiri bisa diterapkan dalam banyak hal. Contoh pertama, ajari anak untuk bisa mengurus dirinya sehari-hari. Mulailah dari yang paling mudah, seperti membiasakan anak mandi sendiri, bersiap memakai seragam sekolah, menyiapkan roti untuk sarapan dan memakai sepatu. Membiasakan anak mengurus buku-buku sekolahnya sendiri juga bermanfaat untuk mengajarinya bertanggung jawab. 

Setelah lebih besar, ajari anak lebih mandiri lagi, misalnya pergi ke tempat les tanpa mesti ditemani oleh Ibu, atau mengajar anak supaya bisa menyetir kendaraan sendiri. Selain mandiri, Ibu juga mendidiknya menjadi anak yang tanggu.

Ketika ia dewasa, tingkat kemandiriannya akan berkembang dan merangkul lebih banyak hal. Contoh, dukung anak untuk mandiri secara finansial. Dukung anak untuk bekerja dan mencari penghasilannya sendiri. Pun, anak, nggak, mesti bekerja kantoran, kan, mencari penghasilan dari rumah juga bisa. Walaupun betul, setelah ia berkeluarga nanti, anak perempuan akan berhak dinafkahi oleh suaminya, namun, nggak, ada salahnya untuk mendidik anak untuk tetap mandiri, untuk memperkuat ‘kaki-kakinya’ kuat.

Ketika setuju untuk menikah, artinya anak mesti siap untuk apa pun yang akan dia hadapi nanti. Jika ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, maka anak sudah memiliki ‘kekuatannya’ sendiri.

11. Berteman Dengan yang Baik

Berteman itu tidak boleh pilih-pilih, tapi mesti selektif, betul? Artinya, kita mengajari anak untuk tidak pandang bulu dalam berteman, tapi anak harus memilih teman yang bisa membawa dampak positif bagi dirinya. Bagi usia anak-anak, pastinya ia belum memahami seperti apa teman yang baik untuknya, paling, ia hanya bermain dengan teman yang punya minat yang sama dengannya, atau yang dianggapnya tidak mengganggu.

Anak masih kecil, atau pun sudah tumbuh dewasa, peran Ibu terhadap dunia pertemanan anak tidak akan selesai, karena Ibu tetap harus mengawasi dan mengenal siapa yang berteman dengan anak-anak kita. Selain keluarga, teman adalah yang paling berpengaruh pada perkembangan anak.

12. Problem Solving

Mengajari anak kreatif, berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika kita bermain dengan anak-anak laki, katakanlah, baut pada tutup baterai mobil-mobilannya terlepas, maka yang biasa kita lakukan adalah menyuruhnya mencoba memperbaiki mainannya sendiri. Sedangkan pada anak perempuan, jika ada mainannya yang rusak, maka kita akan membantunya atau meminta saudaranya untuk membantu. Mulai sekarang, terapkan hal yang sama, misalnya, ketika salah satu mainannya rusak, ajari anak perempuan untuk membenahinya sendiri.

13. Memiliki Prinsip

Semakin maju teknologi, semakin banyak anak mengenal orang, semakin banyak anak menimba ilmu, maka semakin banyak sesuatu yang bisa mempengaruhi dirinya. Sejak kecil, anak sebaiknya diajarkan untuk memegang prinsipnya. Dimulai dari hal yang kecil, misalnya, belajar untuk tidak berbohong pada orangtua walaupun dipaksa oleh teman-temannya. Semakin anak dewasa, tingkatkan keyakinan anak untuk memantapkan prinsipnya, seperti soal agama dan hak-haknya sebagai perempuan.

14. Pandai Mengatur Keuangan

Sejak kecil, biasakan anak menabung. Misalnya, dengan menyisihkan uang jajannya atau hadiah dari Ibu untuk rapornya yang bagus. Nggak, hanya menabung, tapi anak juga mesti diajari cara yang bijak dalam menggunakan uang jajan dan tabungannya dengan baik, yaitu dengan berhemat dan belajar memiliki prioritas. Hal ini diharapkan akan membuatnya pandai mengatur keuangannya ketika ia besar nanti.

15. Menjadi Pribadi yang Lembut

Cara mendidik anak perempuan adalah dengan mengajarinya pribadi yang lembut. Ajari anak untuk memaafkan, untuk berbagi dengan sesama dan peduli dengan sekitarnya. Di hari liburnya, ajak anak untuk merawat kebun di rumah, ajak anak berbagi makanan dengan teman-temannya yang berada di panti asuhan dan ajari anak untuk memaafkan temannya. Bergaul dan berteman juga menjadikan anak menjadi supel dan ramah.

16. Jadi Anak yang Berani

Melatih anak untuk menjadi pemberani memang, nggak, gampang, tapi bisa dibiasakan, kok. Contoh, dorong anak untuk berani ikut tampil di depan orang banyak atau mengikuti perlombaan. Misalnya, ikut sertakan anak dalam lomba menggambar atau bernyanyi. Tentunya, untuk berani tampil, anak mesti memiliki self confidence yang baik. 

17. Merawat Diri

Merawat diri adalah salah satu bentuk dari menghargai diri dan bersyukur atas apa yang kita miliki. Setiap orang selayaknya memang merawat dirinya, seperti tubuh yang bersih dan pakaian yang rapi. Merawat diri juga disertai dengan pola hidup yang sehat, seperti mengajak anak untuk aktif berolahraga, dan mengonsumsi makanan sehat. Apalagi bagi seorang perempuan, pasti akan semakin sedap dipandang, sudah tingkah lakunya baik, penampilannya menarik pula.

18. Hidup Apa Adanya

Ajari anak agar mampu hidup sederhana dan apa adanya. Sebagai orangtua, kita pastinya ingin memberi semua yang terbaik untuk anak, mulai dari menyekolahkan anak di sekolah yang terbaik, membelikan anak barang-barang bagus hingga pergi liburan ke luar negeri. Sebetulnya hal ini juga, nggak, salah, sih. Tapi ada baiknya untuk tidak memanjakan anak dengan kemewahan. 

Harta berlimpah, belum tentu selamanya kita miliki, bisa saja, suatu hari nanti, harta milik kita ‘hilang’, sedangkan si anak sudah terbiasa dengan kemewahan. Jika anak bisa berbesar hati menerimanya, pastinya akan sangat baik, tapi jika tidak? Dikhawatirkan anak akan melakukan segala untuk memenuhi gaya hidup mewahnya.

19. Memberi Contoh yang Baik

Dari semua hal yang Ibu ajarkan pada anak, ada satu hal yang, nggak, kalah penting, yaitu memberi contoh yang baik. jadilah role model yang baik bagi anak. Sederhana saja, Bu, anak akan berpikir, ‘Kalau Ibu, nggak, mau membereskan tempat tidur, kenapa aku harus?’ Karena, pada dasarnya anak belajar dengan mencontoh, anak menyerap sesuatu seperti spons. 

Anak selalu memerhatikan apa yang ada di sekitarnya. Balita, memelajari segala sesuatu dengan mengobservasi dan mencontoh. Coba Ibu perhatikan gaya berjalan anak, biasanya akan mirip dengan gaya berjalan Ibu atau Ayah, begitu juga dengan gaya bicara anak, karena itulah yang dilihat dan ditirunya. Jadi, jika Ibu ingin anak untuk rajin beribadah, maka anak mesti melihat Ibu beribadah, jika Ibu ingin anak menjadi pribadi yang lembut, maka Ibu juga mesti mendidiknya dengan lembut.

Mari belajar untuk mendidik dan mengasihi anak dengan cara yang baik, bukan yang menurut kita benar, karena apa yang kita yakini benar tersebut, belum tentu benar. Jadikan pengalaman kita dan orang-orang di sekitar sebagai pembelajaran, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari kita, dan dengan kehidupan yang lebih indah.

(Stephanie / Dok. Freepik)