Keluarga

Memutus Rantai Body Shaming Mulai dari Teknik Parenting

Memutus Rantai Body Shaming Mulai dari Teknik Parenting

Tanpa disadari, body shaming sudah menjadi lumrah di masyarakat. Bahkan, kita sebagai orangtua pun kerap kali mengucapkan kalimat-kalimat yang mengandung body shaming kepada anak kita sendiri. Sering dipermalukan bahkan oleh orangtuanya sendiri secara tidak langsung bisa membuat si kecil malah menjadi pelaku bullying di saat nanti.

Salah satu hal yang berbahaya adalah saat orangtua tidak sengaja melakukan body shaming saat melarang anak melakukan sesuatu. Apalagi jika si kecil adalah tipe yang bersemangat dan berkemauan kuat. Mereka tipe yang selalu menuruti perintah, tidak peduli bagaimanapun kita berusaha berhubungan baik dengan mereka.

Dalam mendidik anak, terkadang orangtua kehilangan emosi sehingga membuat kita secara tidak sadar mengolok-olok, mempermalukan, bahkan menghukum mereka. Bahkan bisa jadi Ibu kelepasan dan melakukan body shaming terhadap mereka. 

Jangan sampai orangtua menjadi pelaku bullying yang dapat diteruskan oleh sang anak di kemudian hari. Bagaimanakah cara melarang mereka tanpa tidak sengaja menjadi “pelaku bullying” kepada si kecil?

1. Tahan keinginan untuk tidak mengolok-olok

memutusri-rantai-body-shaming-mulai-dari-teknik-parenting-1

Biasanya saat menyuruh anak sesuatu yang tidak mau menurut, kita tersulut untuk mempermalukan mereka. Contoh komentar negatif orangtua:

  • Kepada anak yang sedang main lem: “Tidak mungkin tangan kamu tidak lengket gara-gara main lem”;
  • Saat anak menginginkan sesuatu: “Kamu minta terus padahal mainan kamu sudah banyak, memang tidak cukup?”;
  • Terhadap perasaan anak: “Kamu kan tidak benci abang kamu, jangan katakan hal yang buruk!”; dan
  • Terhadap kebutuhan sang anak: “Emang kamu masih bayi? Ibu kan harus mengurus adik kamu juga!”

Ketimbang melakukan komentar negatif, lebih baik Ibu berempati dan meminimalisasi tanpa menghakimi dan mengkritik.Salah-salah, Ibu juga turut melakukan body shaming. Ibu bisa melihat contoh di bawah ini:

  • “Kamu kehilangan jaket? Ayo kita pikir sama-sama di mana kira-kira kamu meninggalkannya.”
  • “Mainannya bagus ya, kamu pasti ingin banget memilikinya. Tapi nak, kita tidak beli mainan hari ini, mungkin kamu bisa menulis di daftar keinginan kamu sebagai hadiah ulang tahun kamu nanti.”
  • “Tampaknya ada yang bikin kamu kesal makanya kamu marah ke adik kamu.”
  • “Kamu selalu jadi bayi kecil Ibu meskipun kamu udah gede. Mungkin Ibu belum bisa gendong dulu, tapi sini ibu peluk dulu.”

2. Jadilah contoh bagi si kecil

memutusri-rantai-body-shaming-mulai-dari-teknik-parenting-2

Anak-anak pasti melihat contoh di sekelilingnya sebagai panduan berperilaku. Mereka cenderung banyak meniru tingkah laku orang tuanya karena dengan kalian interaksi paling banyak terjadi. Jadi, pastikan Ibu dan Ayah tidak melakukan body shaming.

Itulah sebabnya jika Ibu sering mengkritik dan memarahi si kecil, mereka akan menganggap itu adalah tindakan yang umum serta diterima di masyarakat. Anak akan menganggap marah-marah itu wajar sehingga mereka cenderung akan meniru dan melakukannya kembali secara berulang-ulang. Oleh karena itu, Ibu bersama pasangan harus bekerjasama untuk dapat menahan diri dan memberikan contoh yang baik bagi si kecil.

3. Bisa diajak diskusi untuk hal apa pun

memutusri-rantai-body-shaming-mulai-dari-teknik-parenting-3

Rahasia yang biasanya anak simpan bersifat memalukan. Karena hal tersebut memalukan, mereka cenderung menyimpannya sendiri.

Misalkan sang anak perempuan memiliki tanda lahir yang menurutnya jelek dan memalukan. Ibu bisa memujinya bahwa bagaimanapun ia tetap cantik. Jangan sampai secara tidak sadar melakukan body shaming kepada anak atas kelemahan yang mereka punya. Komunikasikan hal ini saat suasana kondusif. Selalu berbicara sesuai dengan umur pemahaman anak. Beritahu anak kalau mereka bisa berbicara soal apa pun ke Ibu.

4. Berempati kepada anak

Ibu harus memiliki empati saat sedang berbicara dengan anak, terutama jika yang dibicarakan menyangkut hal sensitif dan emosional. Jika Ibu memulai pembicaraan dengan empati terhadap perasaan anak, anak merasa dipahami sehingga level penerimaan terhadap opini dari luar menjadi tinggi. Apabila Ibu memulainya dengan kritik dan penghakiman, anak cenderung menutup dirinya dan tidak dapat menerima masukan apa pun.

5. Tahan diri agar tidak menghukum anak

memutusri-rantai-body-shaming-mulai-dari-teknik-parenting-4

Ibu tidak selalu perlu memberikan hukuman apalagi sampai body shaming kepada anak demi menunjukkan bahwa mereka salah.

Memberi hukuman secara harfiah artinya adalah sebuah tindakan yang bermaksud melukai, baik fisik ataupun emosi dengan tujuan memberikan pelajaran. Hukuman baru akan efektif jika memang sang anak sampai merasa kesakitan. Tapi jika hukuman dilakukan dengan alasan “rasa cinta dalam bentuk disiplin”, anak tidak akan menangkap tindakan tersebut bahwa itu adalah bentuk kasih sayang orangtuanya.

Alih-alih rasa cinta, yang mereka rasakan adalah rasa dipermalukan. Rasa malu karena mereka tidak cukup baik memenuhi ekspektasi orangtua. Rasa malu karena mereka tidak cukup baik. Rasa malu karena mereka tidak dapat mengontrol diri mereka sendiri. 

Pemberian hukuman memberikan respon toksik kepada anak dan secara tidak langsung mengirimkan pesan kepada mereka bahwa mereka adalah anak nakal sehingga yang mereka tangkap adalah orangtua yang harusnya merawat dan melindungi mereka malah menyakiti mereka baik fisik dan emosional.

Akibat penghukuman, bisa jadi sang anak akan berperilaku sangat baik sepanjang hidupnya namun di dalam diri mereka terbentuk kecenderungan untuk depresi. Atau, sang anak akan merespon dengan kemarahan. Jika Ibu menasihati sang anak dan malah direspon dengan kemarahan, ini artinya mereka sudah tumbuh menjadi anak yang defensif dan menolak saran orangtua.

Penghukuman selalu menciptakan rasa malu. Untungnya, Ibu tidak harus menghukum agar si kecil menurut. Buatlah koneksi ketika berbicara dengan mereka. Jadilah motivator bagi mereka dan selalu berempati. 

Itulah 5 tips memutus rantai body shaming dimulai dari teknik parenting. Body shaming dan penghukuman bukanlah opsi agar anak menurut.

Editor: Dwi Ratih