Balita Dibaca 3,172 kali

5 Cara Menyapih Anak tanpa harus Dipaksa

Share info ini yuk ke teman-teman
Asni

Terakhir diperbaharui 06 Maret, 2019 00:03

5 Cara Menyapih Anak tanpa harus Dipaksa

USIA 2 tahun merupakan waktu ideal bagi anak untuk tidak lagi menyusu langsung dari payudara ibu atau dikenal juga dengan istilah disapih. Namun, proses itu tidak semudah kedengarannya sehingga ibu harus memikirkan berbagai cara menyapih anak yang tidak menimbulkan trauma bagi anak alias menyapih dengan cinta (weaning with love atau WWL).

Seorang anak dikatakan telah sepenuhnya disapih bila ia sudah mendapat nutrisi sepenuhnya dari sumber selain payudara ibu. Memang ada beberapa anak yang juga menyusu dari botol, namun istilah 'disapih' biasanya merujuk sepenuhnya pada bentuk pemberian nutrisi dari ibu ke bayi melalui payudara.

Satu hal yang harus diingat ialah menyapih bukan berarti menghentikan ikatan (bonding) antara bayi dengan ibu, lho. Menyapih justru merupakan bonding yang dilakukan dengan cara berbeda, asalkan dilakukan dengan cara menyapih anak yang tepat.

Menyusu langsung dari payudara memang merupakan momen spesial bagi bayi, tidak hanya untuk mendapatkan nutrisi, melainkan juga untuk memperoleh kenyamanan, terutama sebelum tidur. Jika bayi disapih, otomatis ia tidak boleh lagi mengempeng di payudara sehingga ada anggapan bahwa bonding antara ibu dan bayi akan terhenti.

Anggapan itu tentu tidak tepat karena bonding bisa juga dilakukan dengan cara lain, semisal untuk membuat anak nyaman sebelum tidur, ibu bisa membacakan buku cerita, mendongeng, atau mengajarkan anak doa-doa maupun lagu anak-anak.


Kapan waktu ideal untuk menyapih anak?

Seperti telah disebutkan di atas bahwa waktu ideal menyapih anak ialah ketika ia berusia 2 tahun. Ini juga sudah sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Tetapi, kapan waktu pasti untuk menyapih anak sebetulnya tergantung kesiapan Ibu dan anak ibu sendiri. Ada ibu yang memang harus menyapih dini sebelum anak berusia dua tahun, ada pula yang ideal, namun tidak sedikit pula ibu yang menyusui langsung anaknya hingga usia 6 tahun. Dan semua itu memang sah-sah saja.

Secara garis besar, terdapat dua alasan untuk memulai proses menyapih:

 

  1. Sinyal menyapih yang ditunjukkan oleh anak (baby-led weaning)

    Beruntunglah bagi ibu-ibu yang anaknya terlebih dahulu memperlihatkan tanda-tanda ingin menyapih dengan sendirinya sebelum ibu harus putar otak untuk menentukan cara menyapih anak. Pasalnya, hal ini akan mempermudah proses menyapih tanpa diiringi oleh drama yang biasanya dihadapi oleh ibu-ibu menyusui lainnya.

    Tanda-tanda yang ditunjukkan ketika baby-led weaning ialah anak yang cepat gelisah ketika menyusu langsung dari payudara ibu, frekuensi menyusu yang kian jarang, serta durasi menyusu yang semakin pendek. Jika ibu menemui sinyal ini saat anak sudah mendekati atau berada di sekitar usia 2 tahun, mungkin ini sudah saatnya ibu bersiap untuk menyapih anak.

    Cara menyapih anak dengan sinyal baby-led weaning pun relatif mudah. Ibu cukup melepas payudara ketika anak memperlihatkan ketiga sinyal di atas.

    Meskipun demikian, ibu harus waspada ketika gejala ini muncul saat anak masih berusia di bawah satu tahun karena itu adalah pertanda nursing strike, bukan baby-led weaning. Nursing strike alias mogok menyusu adalah peristiwa menolaknya anak untuk menyusu langsung dari payudara ibu di usia produktif menyusu sekitar 6 hingga 9 bulan.

    Penyebab nursing strike bermacam-macam, mulai dari adanya gangguan di tenggorokan bayi hingga bau badan ibu yang berubah. Nursing strike pun biasanya hanya terjadi beberapa jam hingga satu minggu saja, sedangkan proses menyapih akan membuat anak benar-benar berhenti menyusu langsung dari payudara ibu untuk selamanya.


  2. Ibu yang memulai proses menyapih (mother-led weaning)

    Banyak alasan yang membuat ibu harus menginisiasi proses menyapih bagi anak, salah satunya usia anak yang memang sudah semakin besar. Ibu harus memikirkan berbagai cara menyapih anak jika memulai terlebih dahulu proses menyapih ini karena anak biasanya akan menunjukkan penolakan untuk sepenuhnya melepas payudara ibu.

    Dalam mother-led weaning, hal yang paling dibutuhkan ibu ialah kesabaran. Ibu bisa melepas ketergantungan anak terhadap payudara dengan mengurangi frekuensi menyusunya secara perlahan dan memutar otak untuk mencoba segala cara menyapih anak yang ibu ketahui atau melakukan sedikit improvisasi.


4 Persiapan Menyapih Anak

Proses menyapih anak bukan hanya soal menyudahi ketergantungan anak terhadap payudara ibu. Lebih dari itu, banyak hal terjadi dalam kurang lebih dua tahun masa menyusu, mulai dari bonding yang terjalin antara ibu dan anak hingga rutinitas yang menyertainya seperti rutin memompa ASI untuk disimpan sebagai cadangan ASI perahan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebelum memikirkan cara menyapih anak, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebagai berikut.


  1. Mempersiapkan mental anak

    Anak merupakan aktor utama yang akan ibu ubah kebiasaannya dalam proses menyapih ini. Ada baiknya anak dipersiapkan menyapih sejak usianya belum genap dua tahun atau berjarak beberapa bulan dari target penyapihan yang ibu targetkan.

    Lho kok lama sekali persiapannya?

    Ya, mengubah kebiasaan anak, apalagi terhadap rutinitas yang membuatnya nyaman sejak lahir memang tidak mudah. Perlu kesabaran dan proses yang tidak sebentar, bahkan cara menyapih anak yang inovatif sesuai karakteristik anak, apalagi jika ibu ingin menyapih dengan cinta, bukan dengan keterpaksaan.

    Misalnya, jika ibu ingin anak berhasil disapih di umur 2 tahun (24 bulan), maka sejak usianya 18 bulan, ibu bisa perlahan 'menjauhkannya' dari ASI. Ada baiknya ibu tidak lagi menawarinya untuk minum susu langsung dari payudara ibu, tetapi jangan juga menolaknya jika anak meminta untuk menyusu.


  2. Mempersiapkan mental ibu

    Tidak sedikit ibu yang terkuras emosinya bahkan sebelum menjalani proses menyapih. Ada yang beranggapan menyapih mengakhiri proses bonding yang membuat anak tidak lagi dekat dengan ibu.

    Tidak ya, Bu. Menyapih bukan menjauhkan ibu dari anak, namun justru melanjutkan proses bonding itu dengan cara lain. Ibu tentu tidak ingin anak ibu menyusu di payudara hingga dewasa kan? Oleh karenanya, proses menyapih, cepat atau lambat, harus ibu lalui dan prosesnya bisa dimulai ketika mental ibu sudah siap.

    Yang patut diingat adalah jika ibu merasa cemas dan belum ingin memulai proses menyapih, biasanya anak akan merasakan kecemasan ibu sehingga menjadi sangat sulit untuk disapih. Terlebih, dibutuhkan keteguhan dalam menjauhkan anak dari payudara selama proses menyapih yang tidak akan bisa dilakukan jika ibu belum sepenuh hati untuk menyapih buah hati.


  3. Jangan dengarkan kanan-kiri

    Ketika memulai proses menyapih, bukan tidak mungkin ibu akan mendengar ucapan miring dari kanan-kiri. Misalnya, si anak belum cukup umur untuk disapih, kasihan, atau malah sudah terlambat untuk disapih sehingga ibu akan lebih kewalahan.

    Cukup direspon dengan senyum saja ya, Bu. Tidak usah stres karena kapan dan bagaimana cara menyapih anak memang berbeda-beda.

    Tidak usah pasang target kapan anak harus sukses disapih, tidak usah juga memaksanya untuk segera menyapih hanya karena teman sebayanya sudah banyak yang lepas dari payudara ibu, tidak usah pula menyamakan cara menyapih anak ibu dengan anak tetangga. Jangan menakut-nakuti anak dalam proses menyapih, apalagi sampai menggunakan kalimat-kalimat negatif seperti "kalau adek nenen, nanti nggak punya teman lho!"


  4. Jangan gunakan jalan pintas

    Ibu mungkin pernah mendengar nasehat yang mengatakan cara menyapih anak itu jangan dibikin repot. Olesi saja puting susu dengan jamu yang pahit, atau coreti payudara dengan spidol sehingga menjadi aneh dan membuat anak menjadi tidak nyaman, atau olesi puting susu dengan cairan berasa aneh seperti pedas atau asam yang dapat membuat anak tidak suka untuk menghisapnya, atau titipkan anak di nenek atau kakeknya selama beberapa waktu, nanti anaknya pasti menolak sendiri.

    Atau cara yang paling ampuh: hamil kembali! Saat hamil, maka rasa ASI akan berubah menjadi tidak nikmat lagi sehingga akan lebih cepat membuat anak berhenti menyusu selama ibu hamil.

    Dengan menggunakan cara menyapih anak di atas, ibu mungkin akan mengalami periode menyapih yang lebih singkat. Namun, jalan pintas itu bisa beresiko membuat psikologis anak terguncang, sedangkan ibu dapat mengalami mastitis alias pembengkakan payudara akibat penghentian aliran ASI secara tiba-tiba.


5 Cara Menyapih Anak

Ketika semua persiapan sudah dilakukan, ibu bisa mulai merancang berbagai cara menyapih anak dengan cinta. Setiap ibu memiliki metodenya sendiri-sendiri, tapi beberapa cara menyapih anak yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) berikut ini bisa menjadi acuan dasar bagi ibu.


  1. Lakukan perlahan dan bertahap

    Cara menyapih anak pertama yang bisa ibu jalankan ialah memangkas frekuensi menyusu anak, Jika biasanya anak menyusu tiap 2 atau 3 jam, coba memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam.

    Cara menyapih anak seperti ini mungkin dilakukan maju-mundur di awal pengenalan proses menyapih, namun ibu harus konsisten melakukan penjarakan ini. Prinsipnya, jangan menawarkan, tapi juga jangan menghardik anak ketika ia meminta menyusu langsung dari payudara.

    Ibu juga bisa mulai tidak menyodorkan payudara ibu ketika anak tidur siang. Dibanding tidur malam, anak cenderung lebih bisa dikontrol sehingga bisa diberikan pengertian untuk tidak menyusu langsung. Jika sudah berhasil, mulailah coba untuk menyapihnya saat tidur di malam hari.


  2. Alihkan perhatian anak

    Cara menyapih anak ini membutuhkan skill dan keteguhan dari ibu. Ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara. Jika anak mengeluh haus, ibu bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang diberikan lewat gelas (boleh gelas dengan sedotan alias sippy cup).

    Ibu juga bisa mulai memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Namun, hindari penggunaan dot ya, Bu.


  3. Peran ayah

    Proses menyapih bisa jadi momen ayah untuk lebih bonding dengan buah hatinya. Anak bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak. Nah, saat inilah ayah bisa mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.


  4. Komunikasi

    Apapun cara menyapih yang ibu terapkan, jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikannya dengan anak ya. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.


  5. Kondisi anak

    Hindari melanjutkan proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Ibu juga bisa menunda proses menyapih jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

    Bersabarlah dan coba lagi dengan cara menyapih anak lainnya di lain waktu.

    Setelah sukses menjalankan cara menyapih anak di atas, ibu akan dihadapkan pada kondisi di mana air susu ibu masih diproduksi di dalam payudara. Ibu mungkin akan mengalami ASI yang masih mengalir dan kondisi ini normal terjadi yang baru sukses menyapih buah hatinya.

    Semakin lama ibu menyusui anak, semakin lama juga asi akan kering dari payudara ibu. Hal ini disebabkan oleh kondisi hormonal yang berbeda-beda di tiap ibu menyusui. Selama ASI masih diproduksi di payudara, ibu cukup membersihkan ASI dengan memompanya sekali-sekali.

    Tidak perlu sampai mengosongkan payudara pun tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai payudara ibu terasa penuh karena langkah ini dilakukan hanya untuk mencegah terjadinya penyakit seperti pembengkakan payudara maupun mastitis.


4 Kondisi yang Mengharuskan Menyapih Dini

Terkadang, semua hal sudah ibu lakukan, semua cara menyapih anak pun sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Namun, ibu tetap tidak bisa mencegah terjadinya proses menyapih dini. Berikut 4 faktor yang membuat ibu harus menyapih dini sebelum anak berusia 2 tahun.


  1. Kurangnya support lingkungan

    Ketidaktahuan ibu atas rekomendasi WHO maupun IDAI untuk menyusui anak selama 2 tahun merupakan faktor utama terjadinya penyapihan dini terhadap anak-anak sebelum usia mereka menginjak 2 tahun. Tidak jarang, lingkungan seperti memberi sugesti kepada ibu untuk beralih menggunakan susu formula.

    Faktor ini bisa dicegah dengan ibu yang aktif belajar mengenai proses menyusui bagi bayi mulai dari lahir hingga siap untuk disapih. Ibu bisa mencari informasi lewat bergabung dengan grup di media sosial maupun mengikuti seminar atau mendatangi langsung ke Puskesmas atau Posyandu untuk bertanya dengan tenaga medis setempat.


  2. Kembali bekerja

    Tantangan terbesar bagi ibu bekerja yang memiliki anak ialah terus menyusui bayi hingga satu tahun atau lebih, apalagi jika ibu bekerja di luar pulau atau bahkan luar negeri yang mengakibatkan ibu berpisah dengan bayi dalam waktu lama hingga berhari-hai atau malah berbulan-bulan.

    Sedangkan untuk ibu bekerja yang masih bisa bertemu anak setiap hari pun tantangannya tak kalah berat. Ia harus memiliki komitmen untuk selalu patuh dengan jadwal memerah payudara sehingga ASI tidak kering sebelum waktunya sehingga tidak sedikit ibu yang akhirnya menyerah dengan keadaan ini dan memilih untuk melakukan penyapihan dini.

     

  3. Suplai ASI yang sedikit

    Beberapa ibu tidak seberuntung ibu-ibu lainnya yang memiliki suplai ASI berlimpah karena justru harus berjuang memperkaya jumlah ASI yang dimilikinya. Sedikitnya suplai ASI ini bisa dikarenakan faktor keturunan, bisa juga dikarenakan manajemen ASI yang salah.

    Ibu yang memiliki suplai ASI sedikit karena keturunan biasanya memang memiliki glandular tissue yang lebih sedikit dari biasanya. Hal ini hanya bisa diperbaiki dengan jalan operasi atau ibu memilih untuk melengkapi ASI dengan susu formula.

    Sedangkan bagi kebanyakan kasus, suplai ASI sedikit yang dialami ibu menyusui disebabkan oleh buruknya manajemen perah ibu itu sendiri. Idealnya, ibu melakukan pemerahan payudara setiap dua jam, baik melalui hisapan langsung bayi maupun diambil dengan pompa ASI, mengingat sistem produksi ASI di dalam tubuh ibu menganut prinsip supply and demand. Semakin sering payudara diperah, semakin banyak ASI yang diproduksi.


  4. Ibu sakit

    Dalam beberapa kasus penyakit berat, seperti kanker, ibu memang harus menyetop proses menyusui dan segera menyusun cara menyapih anak. Pasalnya, misalnya ketika ibu divonis mengidap kanker, ibu harus menjalani kemoterapi dan mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi kualitas ASI dan dikhawatirkan membahayakan kondisi bayi.

    Jika menghadapi kondisi di atas, ibu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis yang kompeten mengenai cara menyapih anak sebelum berusia 2 tahun agar ia tetap mendapat nutrisi yang cukup ya.


(Asni / Dok. Freepik)