Last update on .

Stop Komentar Negatif Untuk Ibu Yang Berikan Susu Anak Formula!

Salah satu hal yang memprihatinkan di kalangan ibu adalah melihat bagaimana mudahnya sebagian ibu melontarkan komentar negatif yang menghakimi ibu lainnya. Memang, bisa dipastikan akan selalu ada orang yang menghakimi atau menyerang Anda untuk tiap pilihan yang Anda buat.

 

Banyak ibu yang tidak bisa menikmati peran mereka sebagai ibu karena hal ini. Ketika diserang dengan komentar yang menyudutkan, reaksi alami seseorang adalah balik menyerang dan bertahan. Dan ini menjadi awal dari sebuah perang dingin.

 

Di sisi lain, ketika rasa percaya diri bergantung pada pendapat orang lain, ada bencana yang akan terjadi. Setelah kurang tidur, emosi, stres, bahkan depresi atau sedih dengan perjalanan menyusui yang sangat berat, beberapa ibu juga harus berhadapan dengan komentar yang menyakitkan tentang pilihannya untuk beralih ke susu anak.

 

Penyebab Ibu Tidak Bisa Menyusui

Lalu bagaimana kita bisa menghargai ibu lain dengan lebih baik? Jawabannya, dengan berusaha memahami kondisi mereka. Berikut ini alasan kenapa Anda tidak boleh menghakimi ibu lain yang memberikan susu formula.

 

  1. Bayi menolak payudara setelah minum dari botol susu

    Ibu memperkenalkan botol susu ke bayi dan kemudian bayi menolak menyusu di payudara. Ini tentu membuat ibu merasa sedih, terutama bila ia memperkenalkan botol dan mengira akan membantu suami atau kerabat lain untuk dekat dengan bayi, atau agar ia bisa lebih banyak istirahat atau kembali bekerja. Tapi beberapa bayi malah mengalami bingung puting dan tidak mau kembali menyusui di payudara.

     

  2. Pernah mengalami kekerasan seksual

    Kondisi ini tidak terjadi pada banyak wanita. Melontarkan komentar negatif tentang pilihannya memberikan susu anak, lalu Anda tahu ia pernah mengalami kekerasan seksual. Bagaimana menurut Anda perasaannya mendengar komentar Anda? Kemungkinan ia tidak akan memberi tahu kenapa ia menggunakan susu formula atau ia memberi tahu alasan lain. Tapi yang pasti, ini bukan urusan Anda.

     

  3. Berhenti menyusui karena hamil

    Banyak ibu menyusui mengalami penurunan produksi ASI di trimester kedua karena hormon kehamilan, atau bayi tiba-tiba berhenti menyusu karena perubahan rasa pada ASI.

     

    Ini memang tidak terjadi pada semua ibu, sebagian ibu tetap bisa menyusui saat hamil tanpa masalah berarti. Tapi pada wanita lainnya, bayi mereka tidak lagi mau atau tertarik untuk menyusu.

     

    Secara emosi ini bisa terasa berat karena meski merasa senang karena hamil, ibu masih merasa berasalah karena kehamilan menghalanginya untuk menyusui. Bagaimanapun usaha mereka untuk meningkatkan ASI, perlahan mereka merasa lelah dan menyerah karena tidak mendapat hasil yang diinginkan.

     

  4. Menerima saran yang keliru

    Ada banyak cerita tentang saran yang keliru dari teman, kerabat, bahkan petugas kesehatan. Ini termasuk saran yang menyatakan ibu tidak bisa menyusui karena penggunaan antidepressant atau mengatakan ibu perlu memberi bayi susu formula kedelai selama satu minggu karena masalah pencernaan pada bayi. Tentu bayi tidak mau kembali ke payudara lagi setelah seminggu menggunakan botol susu.

     

    Ibu perlu memilih petugas medis yang bisa dipercaya dan sejalan dengan tujuan dan niat Anda. Bila seseorang memberi Anda saran untuk mulai memperkenalkan susu formula, selalu cari pendapat lain, kecuali ada masalah medis yang bersifat mendesak.

     

    Kadang mendengar saran dari petugas medis membuat sebagian wanita mengira hanya itu solusinya. Jadi beberapa ibu mengira mereka melakukan hal yang disarankan medis, dan kemudian menyadari kalau saran itu keliru. Mereka merasa kecewa dan menyesal telah mempercayai saran tersebut. Komentar yang menghakimi hanya akan membuat mereka merasa lebih sedih dan lebih marah.

     

  5. Merasa tidak memiliki ASI yang cukup

    Ini jadi situasi yang sering kita dengar, ibu merasa panik dan mengira tidak memiliki ASI yang cukup, lalu beralih ke susu anak. Terlebih lagi, perusahaan susu formula mempekerjakan orang marketing untuk membuat para ibu merasa perlu menggunakan produk mereka. Sayangnya, ada beberapa asumsi keliru tentang persediaan ASI yang sedikit.

     

  6. Bayi berhenti menyusu dengan sendirinya

    Kadang bayi memilih untuk berhenti menyusu, dan Anda tidak bisa menentukan kapan ini terjadi. Beberapa bayi berhenti menyusu lebih cepat, sedang bayi lain tidak ingin disapih hingga bertahun-tahun kemudian.

     

    Bila bayi berhenti menyusu lebih cepat dan tanpa sebab, ini akan terasa sangat menyedihkan bagi ibu, terutama bila terjadi lebih awal dari yang direncanakan. Jangan membuatnya semakin bertambah sedih dengan komentar negatif Anda.

     

  7. Tidak mendapat dukungan

    Sebuah penelitian di Australia menyatakan hanya 50 persen bayi yang eksklusif menyusu di usia 2 bulan. Penyebab utamanya karena kurang dukungan dan beda pendapat dengan pasangan.

     

  8. Lelah menyusui

    Beberapa wanita berusaha siang-malam memenuhi kebutuhan ASI untuk bayi mereka. Ini bisa menimbulkan variasi masalah yang menyebabkan stres, lelah, tidak makan dengan baik, serta depresi, yang membuat ibu merasa tidak sanggup lagi.

     

    Bila ibu berusaha menyusui terlalu keras hingga  bahkan tidak bisa menutrisi tubuhnya sendiri, ia akan menjadi semakin hancur. Anda tidak pernah tahu seperti apa kondisi ini  hingga Anda mengalaminya sendiri.

     

    Anda tidak tahu kalau kerabatnya baru saja meninggal, atau ia baru saja berpisah dengan suaminya, bermasalah dengan mertua, atau hal pribadi lainnya.

     

  9. Masalah kesehatan karena berusaha keras menyusui

    Ada ibu yang sangat keras berusaha menyusui sehingga puting luka, rusak, berdarah, pecah, dan harus menangis tiap kali menyusui. Ibu yang sangat sering memompa membahayakan tubuh mereka sendiri.

     

    Setelah berkonsultasi dengan konsultan laktasi, kadang wanita ini memutuskan untuk beralih ke susu formula. Ini sepenuhnya jadi keputusannya. Ia telah melakukan yang ia bisa. Kadang kita harus memulihkan tubuh sendiri lebih dulu sebelum menggunakannya untuk menutrisi bayi.

     

  10. Mengalami kondisi medis tertentu

    Beberapa wanita berusaha menyusui ketika ia atau bayinya mengalami kondisi medis seperti hypoplasia (masalah pada jaringan atau organ payudara) atau mengonsumsi obat yang mempengaruhi persediaan ASI.

     

    Beberapa wanita bisa terus menyusui dengan kondisi medis tertentu, ini bisa jadi karena ia mendapat dukungan profesional yang bisa secara akurat mendiagnosa dan merawatnya. Ditambah lagi ada keluarga dan teman yang memberi dukungan.

     

    Tapi bisa juga ibu mendapat informasi keliru tentang masalah medis yang tidak memungkinkan untuk menyusui sehingga ia menyerah.

     

  11. Bayinya adalah anak adopsi

    Mengadopsi anak semakin umum terjadi di beberapa negara, bahkan terjadi di seluruh dunia.

     

Kondisi Medis Yang Tidak Memungkinkan Untuk Menyusui

Tidak semua ibu bisa menyusui. Meski begitu, Anda mungkin penasaran ibu mana yang sebenarnya tidak bisa menyusui dan apa yang jadi penyebabnya. Tentu ada kondisi individual yang menyebabkan tidak menyusui jadi pilihan terbaik.

 

Tapi apa sebenarnya kondisi medis yang membuat ibu tidak bisa menyusui atau harus menggunakan susu anak? Berikut ini penjelasannya.

 

Kondisi medis yang membuat bayi membutuhkan susu formula

Kondisi bayi yang tidak memungkinkan untuk menyusu dan membutuhkan susu anak antara lain:

 

  1. Penyakit urin sirup maple (maple syrup urine disease)

    Penyakit urin sirup maple adalah kondisi gangguan metabolik yang jarang terjadi. Bayi dengan gangguan ini mengalami kesulitan metabolisme asam amino, leusin, isoleusin, dan valina yang ada di ASI. Bayi dengan gangguan ini membutuhkan susu anak yang bebas dari asam amino.

     

  2. Galactosaemia

    Galactosaemia adalah gangguan metabolik di mana bayi mengalami masalah dalam proses metabolisme gula galaktosa. Karena laktosa di ASI terbagi menjadi glukosa dan galaktosa, bayi tidak bisa menerima ASI dan membutuhkan susu anak yang bebas galaktosa.

     

  3. Phenylketonuria Phenylketonuria (PKU)

    Bayi dengan PKU membutukan susu anak yang bebas dari asam amino phenylaline. Bayi dengan PKU kadang masih bisa menyusu di bawah monitoring medis yang seksama.

     

Kondisi medis yang membuat ibu tidak bisa menyusui

Kondisi berikut menghalangi ibu untuk menyusui bayinya:

 

  1. Herpes simplex virus tipe 1 disertai luka pada payudara

    Bila ibu mengalami herpes simplex virus tipe 1 disertai luka pada payudara, kontak langsung antara luka dan mulut bayi harus dihindari hingga semua luka sembuh.

     

  2. HIV

    Wanita dengan HIV positif tidak dianjurkan menyusui bayinya. Anjuran ini berlaku di berbagai negara. Menyusui jadi kontraindikasi ketika ibu diketahui HIV positif.

     

    Terdapat bukti dari negara-negara berkembang kalau ada tingkat transmisi HIV yang rendah dari bayi yang eksklusif menyusu dan yang ibunya menerima obat antiretroviral  (obat untuk perawatan infeksi). Dari satu transfusi darah dengan HIV positif, ada sekitar 90 persen tingkat transmisi. Ada hanya 0,6 sampai 4 persen tingkat transmisi HIV pada bayi yang eksklusif menyusu sejak lahir hingga usia 6 bulan dari ibu yang HIV positif melalui ASI.

     

  3. Menjalani penanganan kanker payudara

    Menyusui tidak dibolehkan bila ibu  terdeteksi kanker payudara selama hamil dan menjalani kemoterapi. Jika ibu tidak menjalani kemoterapi, melanjutkan menyusui perlu dievaluasi berdasakan kondisi individual.

     

  4. Tuberkulosis aktif

    Bila ibu mengalami tuberkulosis aktif dan adanya risiko transmisi pernafasan, kontak dekat dengan bayi tidak dibolehkan hingga ibu menyelesaikan 2 minggu pengobatan. Ibu bisa memerah ASI dan memberikannya ke bayi. Tapi bila ibu memiliki luka di payudara atau TB mastitis, ia hanya boleh memberi ASI pompa ke bayi setelah luka sembuh atau TB mastitis pulih.

     

  5. Luka sifilis pada payudara atau puting

    Bila ibu menderita sifilis, kontak dekat dengan bayi dan menyusui bisa dilakukan setelah 24 jam pengobatan, dengan syarat tidak ada luka di sekitar payudara atau puting. Bila ada luka, menyusui bisa dilakukan setelah pengobatan selesai dan luka sembuh.

     

  6. Brucellosis yang tidak diobati

    Bila ibu mengalami brucellosis yang tidak ditangani, ia tidak bisa menyusui sampai penanganan medisnya selesai.

 

Obat  Yang Bisa Mengganggu Proses Menyusui

Menyusui bisa dilanjutkan meski ibu menerima obat untuk penyakit tertentu. Tapi ada kondisi khusus di mana menyusui sebaiknya tidak dilakukan, terutama bila ada alternatif yang lebih baik.

 

Ada beberapa obat yang bisa menurunkan persediaan ASI. Obat-obat berikut ini menghalangi ibu menyusui bayinya:

 

  1. Radioactive iodine-131

    Penggunaan radioactive iodine-131 terkait dengan energi nuklir, diagnosa medis, dan prosedur pengobatan. Sebaiknya dihindari bila ada alternatif yang lebih aman.

     

  2. Obat sedatif psychotherapeutic, obat anti epilepsi, opioid, dan kombinasinya

    Obat-obat ini bisa menyebabkan efek samping seperti mengantuk, lelah, atau depresi pernafasan dan lebih baik dihindari bila ada alternatif yang lebih aman.

     

  3. Cytotoxic chemotherapy

    Cytotoxic chemotherapy merupakan obat untuk menghancurkan sel kanker, membuat ibu harus berhenti menyusui selama menjalani terapi.

     

  4. Penggunaan topical iodine atau iodophor yang berlebihan

    Penggunaan obat ini terutama pada luka terbuka atau membran lendir bisa menyebabkan supresi tiroid atau elektrolit abnormal pada bayi yang menyusu.

     

Tambahan Susu Anak Untuk Bayi

Tambahan susu anak bisa dibutuhkan karena kondisi tertentu. Yang digunakan sebagai susu tambahan berupa ASI perah, donor ASI, atau susu formula, bergantung pada alasan kenapa makanan tambahan dibutuhkan.

 

Kadang kebijakan rumah sakit berdampak pada pilihan ibu berkaitan dengan bentuk susu tambahan yang dibutuhkan. Semua rumah sakit seharusnya memiliki kebijakan tentang donor ASI agar ibu membuat keputusan berdasarkan informasi yang cukup, termasuk tentang risiko susu formula dan donor ASI.

 

Berapa lama susu tambahan digunakan bergantung pada kenapa makanan tambahan ini dibutuhkan. Ada beberapa alasan medis di mana susu tambahan bisa dibutuhkan, antara lain:

 

  1. Dehidrasi berat

    Makanan tambahan bisa dibutuhkan bila bayi menunjukkan tanda dehidrasi berat, antara lain berat badan bayi berkurang 10 persen, sodium tinggi, susah menyusu, serta lelah.

     

    Bila ASI terlambat keluar, misalnya setelah 5 hari atau lebih, dan bayi beratnya turun 8 sampai 10 persen, susu anak tambahan perlu diberikan.

     

  2. Hypoglycaemia (gula darah rendah)

    Bayi dengan hypoglycaemia meski tidak menunjukkan gejala tapi tes darah menunjukkan hypoglycaemia membutuhkan susu tambahan bila ia tidak merespon menyusui dengan baik. Bayi yang menunjukkan tanda hypoglycaemia harus ditangani dengan infus glukosa.

     

  3. Buang air besar tertunda atau mekonium terus keluar 5 hari setelah lahir

    Bila bayi mendapat cukup ASI, buang air besarnya juga cukup. Bila bayi baru lahir sering buang air besar atau masih mengeluarkan mekonium setelah beberapa hari pertama kelahirannya, saran medis menyatakan perlunya susu tambahan.

     

  4. Asupan bayi tidak mencukupi tapi persediaan ASI cukup

    Hanya karena bayi ada di payudara, tidak berarti ia mendapat cukup ASI. Bantuan dari konsultan laktasi bisa memastikan apakah bayi efektif mengambil ASI dari payudara.

     

    Pada awal menyusui, bayi menghisap dan menelan dengan cepat ketika ASI mengalir dengan memicu refleks let-down. Setelah itu, ia akan menghisap dan menelan lebih dalam dan lebih lambat. Dagu yang terlalu turun berarti mulutnya penuh dengan ASI.

     

  5. Rasa sakit saat menyusui

    Meski telah mendapat bantuan untuk mengoptimalkan posisi menyusui, ibu kadang tetap mengalami rasa sakit selama menyusui sehingga susu tambahan dibutuhkan.

     

  6. Hyperbilirubinemia (tingkat bilirubin tinggi)

    Semua bayi baru lahir mengalami peningkatan bilirubin yang relatif normal. Ini karena bayi baru lahir mulai memecah sel darah merah yang dibawa sejak lahir ketika tidak lagi dibutuhkan saat ia mendapat oksigen dengan bernafas setelah lahir.

     

    Ketika sel darah merah terpecah, bilirubin terbentuk dan ini yang membuat bayi mengalami penyakit kuning. Biasanya kondisi ini membaik dalam 7 sampai 10 hari. Tapi ada situasi di mana bayi yang mengalami penyakit kuning membutuhkan susu anak tambahan.

     

Perlu diketahui ya Bunda, daftar di atas tidak menjadi kondisi yang sepenuhnya membuat menyusui tidak memungkinkan. Ada kemungkinan muncul kondisi lain, yang perlu dilihat kasus per kasus. Bila Anda merasa ragu, bicaralah pada dokter. Atau untuk mendapat bantuan tentang menyusui, hubungi konsultan laktasi.

(Ismawati)