Kelahiran Dibaca 11,257 kali

13 Tips Sukses Power Pumping untuk Ibu Menyusui

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 08 September, 2019 17:09

13 Tips Sukses Power Pumping untuk Ibu Menyusui

Tujuan utama ketika ibu memutuskan memompa ASI menggunakan teknik power pumping adalah untuk mengumpulkan persediaan ASI buat bayi ketika ibu tidak berada di dekatnya. Hal ini penting ketika Ibu kembali bekerja tapi ingin terus memberikan ASI eksklusif.

Power pumping juga berguna bagi para Ibu yang tidak selalu bisa hadir untuk menyusu. Suami atau orang lain bisa memberikan ASI ke bayi dengan botol susu, sehingga Ibu bisa tidur atau beristirahat lebih baik.

Ibu juga bisa  memompa ASI untuk tujuan berikut:

  • Untuk meredakan rasa sakit dan tekanan akibat payudara yang bengkak. Tapi Ibu perlu ingat, terlalu banyak memompa ASI ketika payudara bengkak bisa membuat bengkak lebih parah.

  • Menstimulasi produksi ASI dan meningkatkan persediaan ASI.

  • Mengumpulkan ASI untuk menyusui bayi prematur atau ketika bayi tidak bisa melakukan pelekatan pada payudara.

  • Untuk menjaga persediaan ASI, terutama bila dokter menyarankan Ibu untuk berhenti menyusui sementara waktu. Biasanya hal ini terjadi jika Ibu sedang minum obat yang bisa berbahaya bagi bayi atau Ibu sedang dirawat di rumah sakit dan tidak bisa menyusui.

   

Menggunakan Pompa ASI

Ada baiknya Ibu berlatih memompa selama beberapa minggu sebelum mulai mengandalkan ASI perah untuk bayi. Kebanyakan ibu menyusui berhasil memberikan ASI eksklusif dengan menggunakan pompa ASI elektrik atau manual. Beberapa ibu lebih memilih memerah ASI dengan tangan, tapi kebanyakan dari mereka merasa memompa dengan pompa ASI lebih cepat dan lebih mudah.

Meski awalnya terasa aneh ketika menggunakan mesin untuk mengambil ASI dari payudara, biasanya proses ini tidak butuh waktu lama dan mudah. Untuk menggunakan pompa, posisikan flange atau flensa pada puting, nyalakan mesin, dan biarkan pompa bekerja menghisap ASI ke wadah yang tersedia. Pompa ASI manual juga menggunakan flange, tapi Ibu bisa mengambil ASI dengan mengoperasikan mekanisme memerah atau menarik dengan tangan, bukan dengan mengandalkan motor.
 
Biasanya butuh waktu 10 hingga 15 menit untuk memompa kedua payudara dengan pompa elektrik dan hingga 45 menit ketika menggunakan pompa ASI manual. Pompa yang baik mirip dengan gerakan hisapan bayi dan tidak menyebabkan rasa sakit. Pastikan Ibu menggunakan flange berukuran tepat pada puting dan posisikan dengan benar agar tidak menimbulkan iritasi.

   

Mengenal Power Pumping Untuk Menjaga Produksi ASI

Ide dibalik power pumping adalah trik agar tubuh memproduksi lebih banyak ASI dengan cepat mengosongkan payudara. Ini mirip dengan apa yang bayi lakukan selama periode growth spurt, yakni ketika bayi menyusui langsung di payudara dan memberi signal ke tubuh ibu untuk meningkatkan persediaan ASI. Power pumping tidak dimaksudkan untuk menggantikan semua sesi memompa ASI yang biasa dilakukan ibu menyusui dalam satu hari, tapi hanya untuk mengganti satu sesi pumping saja di hari tersebut.
 
Untuk melakukan power pumping, luangkan waktu 1 jam dalam sehari di mana Ibu bisa memompa tanpa diganggu. Utamakan waktu di pagi hari atau tengah malam sebab persediaan ASI di waktu tersebut sedang banyak-banyaknya. Dalam waktu satu jam ini, gunakan pola memompa berikut:

  • Pompa selama 20 menit, istirahat 10 menit

  • Pompa selama 10 menit, istirahat 10 menit

  • Pompa lagi selama 10 menit.

   

Power Pumping Untuk Siapa?

Pilihan power pumping tepat untuk ibu yang khawatir akan produksi ASInya dan ingin meningkatkannya. Penelitian menunjukkan cara terbaik untuk meningkatkan persediaan ASI adalah dengan sering menyusui si kecil langsung pada payudara. Memang ini bukan pilihan untuk semua ibu, tapi pilihan mengeluarkan ASI dengan pompa sangat memungkinkan jika Ibu punya masalah pelekatan dengan si kecil. Sebelum mencoba power pumping ini, pastikan Ibu memang memiliki masalah dengan persediaan ASI, ya!

Banyak ibu menyusui yang khawatir produksi ASInya kurang, padahal sebenarnya mereka memproduksi ASI dengan jumlah yang normal lho. Saat melakukan power pumping, Ibu harus ingat, peningkatan jumlah ASI tidak terjadi saat itu juga. Tapi baru terasa dalam beberapa hari atau minggu setelah ibu melakukan power pumping 3 hari berturut-turut. Setelah 3 hari, Ibu bisa kembali menjalankan rutinitas memompa ASI yang biasanya.

  

Durasi Power Pumping

Beberapa ibu lebih menyukai power pumping dengan durasi gabungan 20 dan 10 menit seperti yang direkomendasikan di atas. Namun, ada beberapa Ibu yang memilih periode 10 menit untuk memompa dan istirahat. Sedangkan lainnya memilih periode 15 menit sehingga sesi power pumpingnya bertambah menjadi 1,5 jam, seperti pola berikut ini:

  • Memompa 15 menit

  • Istirahat 15 menit

  • Memompa 15 menit

  • Istirahat 15 menit

  • Memompa 15 menit

  • Istirahat 15 menit.

   

Sebaiknya Power Pumping Memakai Pompa ASI Ganda Atau Tunggal?

Banyak ibu bertanya apakah bisa menggunakan pompa elektrik tunggal untuk power pumping? Pada dasarnya, Ibu sangat dianjurkan untuk menggunakan pompa ASI elektrik ganda agar bisa memompa ASI dari kedua payudara di waktu bersamaan dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memompa.
 
Tapi power pumping dengan pompa ASI tunggal masih tetap memungkinkan kok Bu. Berikut ini caranya:

  • Pompa payudara kanan selama 10 menit

  • Istirahatkan payudara kanan, pompa payudara kiri selama 10 menit

  • Istirahatkan payudara kiri, pompa payudara kanan selama 10 menit

  • Istirahatkan payudara kanan, pompa payudara kiri selama 10 menit

  • Istirahatkan payudara kiri, pompa payudara kanan selama 10 menit

  • Istirahatkan payudara kanan, pompa payudara kiri selama 10 menit.

Total waktu yang dibutuhkan untuk power pumping dengan pompa ASI tunggal adalah 1 jam. Jadi Ibu cukup menghabiskan waktu 1 jam untuk memompa, alih-alih 10 menit istirahat di antara waktu memompa. Ibu bisa berganti sisi, terus memompa, dan ulangi hingga tiap payudara dipompa sebanyak 3 kali.

  

Inilah Waktu Paling Tepat Melakukan Power Pumping

Biasanya para Ibu memilih waktu melakukan power pumping ketika minim gangguan di sekitarnya. Misalnya lakukan power pumping ketika:

  • Bayi tertidur (malam hari atau dini hari)

  • Bila Ibu sedang jauh dari bayi. Ibu bisa gantikan salah satu rutinitas pumping dengan sesi power pumping. Beberapa Ibu ada lho yang memilih datang lebih awal ke kantor agar bisa melakukan power pumping.

  • Beberapa ibu lainnya memadukan jadwal power pumping dengan rutinitas harian. Ini biasanya dilakukan oleh Ibu yang memutuskan melakukan power pumping selama 2 jam. Bila bayi ingin menyusu pada jadwal power pumping tersebut, Ibu bisa memompa dan menyusui sekaligus atau menyusui lebih dulu hingga bayi kenyang lalu lanjutkan memompa.

  • Tingkat prolaktin (hormon yang membantu dalam menyusui) biasanya paling tinggi setelah tengah malam hingga awal pagi, maka beberapa ibu memilih power pumping di waktu ini.

Selain itu, power pumping membutuhkan komitmen waktu dan keberhasilannya sangat bergantung pada beberapa faktor, misalnya:

  

  • Seberapa lama Ibu berkomitmen melakukan power pumping

    Bila Ibu melakukan power pumping hanya untuk 1 hari, lalu berhenti, kemungkinan besar Ibu tidak akan berhasil. Hasil terbaik bisa didapat dengan melakukan power pumping selama minimal 2 hari berturut-turut. Beberapa ibu biasanya melihat hasilnya setelah satu atau dua minggu.

      

  • Usia bayi

    Semakin besar usia si kecil, maka semakin stabil produksi ASI Ibu. Ini berarti payudara tidak lagi memproduksi sel pembuat ASI, sehingga butuh waktu lebih lama untuk melihat hasil power pumping. Pada waktu tertentu, ibu bisa berhenti merespon stimulasi dari pompa ASI sehingga power pumping tidak lagi terlalu membantu.

      

  • Seberapa efektif pengosongan ASI selama power pumping

    Tujuan power pumping adalah mengosongkan payudara sesering mungkin. Prinsip utama dari produksi ASI adalah supply dan demand. Semakin sering Ibu mengosongkan payudara, semakin cepat pula tubuh memicu produksi ASI. Bila payudara tidak dikosongkan sepenuhnya selama memompa ASI, hasil power pumping tidak akan maksimal juga.

      

  • ​Batasan tubuh ibu

    Beberapa ibu tidak bisa memproduksi ASI yang cukup karena memiliki sel yang membuat tubuh kesulitan memproduksi ASI. Kondisi ini dikenal dengan istilah insufficient glandular tissue (IGT). Bagi para ibu yang mengalami ini, ada batasan sel-sel ASI yang bisa dihasilkan oleh tubuh dan karena itulah produksi ASI jadi sangat terbatas. Satu-satunya cara yang bisa mengatasi kondisi ini adalah dengan meningkatkan frekuensi memompa. Tapi tetap saja, cara ini tidak menjamin ibu-ibu dengan IGT punya produksi ASI yang sama banyaknya dengan ibu yang tidak mengalami IGT.

Bila Ibu merasa memiliki masalah dengan persediaan ASI, sebaiknya kunjungi konsultan laktasi ya, Bu. Komunikasi dengan ahli laktasi akan membantu Ibu menentukan langkah selanjutnya. Beberapa sumber juga meyakini power pumping hanya efektif pada 12 minggu pertama setelah bayi lahir.

 

13 Tips Sukses Power Pumping, Dijamin Mudah!

Berikut ini beberapa tips dan trik untuk membuat power pumping lebih mudah dan meningkatkan kemungkinan keberhasilannya:

  1. Bila Ibu ingin melakukan power pumping selama 48 jam, simpan bagian pompa di lemari pendingin dan cuci di malam hari.

  2. ASI bisa bertahan di suhu ruang hingga 8 jam, jadi Ibu tidak perlu mengganti botol atau mencuci bagian pompa di antara sesi memompa. Bila Ibu tidak nyaman dengan rentang waktu 8 jam, mengganti botol dan mencuci bagian pompa tiap 4 hingga 6 jam biasanya cukup aman.

  3. Gunakan pompa ASI ganda elektrik berkualitas bagus. Memang, Ibu juga bisa melakukan power pumping dengan pompa ASI tunggal, tapi ini akan memakan waktu lebih lama dan melelahkan untuk Ibu.

  4. Gunakan pelembab sebelum memompa ASI untuk menghindari rasa sakit pada puting. Selain itu, kompres hangat juga bisa membantu menstimulasi aliran ASI.

  5. Gunakan bra hands-free untuk memompa. Ibu bisa membuatnya sendiri atau menggunakan bra menyusui khusus.

  6. Pastikan payudara sepenuhnya dikosongkan dengan menggunakan teknik memerah ASI dengan tangan setelah selesai memompa dengan pompa ASI.

  7. Jangan khawatir dengan jumlah ASI yang Ibu dapat selama power pumping. Mungkin awalnya Ibu hanya mendapat beberapa tetes ASI saja ketika melakukan power pumping, tapi ini bukan masalah kok. Tujuan power pumping adalah memberi signal ke tubuh untuk menghasilkan lebih banyak ASI, bukan untuk mengumpulkan banyak ASI dalam waktu singkat.

  8. Gunakan jeda di antara waktu memompa untuk melakukan rutinitas. Bila Ibu melakukan ini di pagi hari, berarti Ibu bisa mandi, sarapan, bersiap ke tempat kerja, dan sebagainya.

  9. Bila Ibu memutuskan menggunakan jadwal satu jam, pilih waktu saat bayi tidur atau ketika ada orang lain yang menjaga si kecil. Dengan begitu, Ibu tidak akan terganggu untuk melakukan power pumping.

  10. Ingat ya Bu, esensi dari power pumping adalah meniru frekuensi menyusu bayi selama growth spurt. Bila Ibu tidak bisa memompa langsung selama satu jam, bagi sesinya menjadi 2 kali 30 menit atau gabungkan aktivitas memompa dan menyusui, atau bisa juga memompa tepat setelah Ibu menyusui meski hanya selama 5 menit. Ibu tidak perlu mengikuti jadwal orang lain lho, carilah cara yang ideal bagi Ibu.

  11. Jadikan power pumping sebagai “me time.” Daripada menganggapnya sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan, gunakan kesempatan ini untuk memanjakan diri. Gabungkan power pumping dengan menonton film atau acara TV favorit atau kesempatan untuk menyapa teman di media sosial.

  12. Jangan menyerah. Setidaknya alokasikan waktu satu hingga dua minggu untuk melihat hasilnya. Gabungkan usaha Ibu dengan menjaga pola makan yang sehat, serta pastikan tubuh Ibu senantiasa terhidrasi.

  13. Berpikir positif dan hindari stres. Mungkin saat ini Ibu masih mudah merasa tertekan, tapi ingat ya Bu, stres bisa mengganggu persediaan ASI. 

Percaya deh, ketika Ibu sudah melakukan segala yang terbaik untuk memberikan ASI eksklusif, maka Ibu patut berbangga. Hebat!

    

Mengenal Cluster Pumping

Cluster pumping berarti memompa ASI selama 5 hingga 15 menit, beristirahat, lalu kembali memompa, beristirahat, dan seterusnya selama beberapa jam. Misalnya, Ibu memompa ASI selama 10 hingga 15 menit mulai dari jam 8 pagi, memompa selama 5 menit pada pukul 8.30, memompa selama 10 menit pada jam 9, dan terus hingga jam 11. Meski jadwal memompa seperti ini bisa memakan waktu, cara ini mirip dengan cluster feeding dan bisa meningkatkan persediaan ASI eksklusif Ibu.
 
Selain cluster pumping, Ibu bisa membantu meningkatkan persediaan ASI eksklusif dengan cara lain. Ada makanan tertentu yang bisa Ibu konsumsi untuk membantu meningkatkan produksi ASI, seperti gandum utuh dan oatmeal. Juga pastikan mendapat cukup istirahat, makan makanan yang sehat untuk menggantikan 500 sampai 800 kalori yang terbakar tiap hari melalui menyusui, serta hindari stres! Bila Ibu menggunakan kontrasepsi, konsultasikan ke dokter tentang efek sampingnya pada menyusui, karena beberapa penelitian menunjukkan alat kontrasepsi hormonal memiliki efek merugikan pada produksi ASI.

   

Cermati, Hal Berikut Bisa Menyebabkan Penurunan Jumlah ASI!

Ketika Ibu perlu memompa lebih banyak untuk menyediakan ASI untuk si kecil, hal pertama yang perlu diperiksa adalah kondisi pompa ASI:

  • Berapa usia pompa ASI? Bila Ibu memiliki pompa elektrik yang sudah lama (khususnya lebih dari satu tahun), atau bila Ibu memompa lebih sering dibanding rekomendasi penggunaan yang dianjurkan pada produk pompa ASI, maka bagian motor pompa kemungkinan akan rentan rusak.

  •  Apakah Ibu menggunakan pompa ASI yang tepat untuk sesi memompa?

  • Apakah Ibu memiliki jenis pompa yang bagiannya bisa disterilkan dengan cara dididihkan?

  • Sering kali penurunan hasil pompa adalah karena bagian pompa yang perlu diganti. Sudahkah Ibu periksa pompa dan mengganti bagian yang rusak atau belum diganti selama 3 hingga 6 bulan terakhir?

  • Bagi beberapa ibu, berganti ke pompa ASI yang lebih besar berdampak pada kenyamanan dan hasil ASI yang diperoleh.

  

Itu dia beberapa tips agar power pumping berjalan mudah dan memberikan hasil optimal. Selamat mencoba, Ibu!

(Ismawati, Yusrina / Dok. Pixabay)