Kehamilan Dibaca 870 kali

10 Fakta Menarik Plasenta pada Ibu Hamil

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 30 September, 2019 21:09

10 Fakta Menarik Plasenta pada Ibu Hamil

Ibu hamil pastinya memiliki banyak pertanyaan seputar kandungan dan seluk beluk persalinan. Mulai dari hal-hal krusial hingga fakta-fakta trivial yang menarik untuk dikulik. Salah satu hal yang sering membuat Ibu hamil penasaran adalah soal plasenta. Semua Ibu hamil pasti tahu dong pentingnya plasenta, tapi faktor-faktor apa saja sih yang bisa mempengaruhi kondisi plasenta?

Apa yang dimaksud plasenta?

Ketika Ibu hamil pertama kali, sel berkembang menjadi janin dan plasenta. Plasenta menjadi garis kehidupan bagi janin. Plasenta memberi nutrisi, oksigen, dan cairan yang bayi butuhkan. Aliran darah yang mengalir ke plasenta berisi nutrisi dan oksigen. Tapi darah Ibu dan darah janin tidak tercampur, karena Ibu dan janin memiliki sistem sirkulasi masing-masing. Uniknya, tali pusar membawa nutrisi dari plasenta langsung ke aliran darah bayi.

Bagaimana kerja plasenta pada Ibu hamil?

Plasenta merupakan organ yang berkembang di rahim selama Ibu hamil. Plasenta memberi oksigen dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang dan mengangkat sisa kotoran dari darah bayi. Plasenta menempel pada dinding rahim. Pada kebanyakan kehamilan, plasenta menempel pada bagian atas atau sisi rahim.

Bagaimana plasenta dikeluarkan?

Bila Ibu melahirkan secara normal, Ibu juga melahirkan plasenta selama tahapan ketiga persalinan. Setelah melahirkan bayi, Ibu akan terus mengalami kontraksi yang ringan. Dokter mungkin memijat perut bawah Ibu untuk mendorong rahim berkontraksi dan mengeluarkan plasenta.

Ibu akan diminta mendorong satu kali lagi untuk mengeluarkan plasenta dan biasanya ia keluar bersama semburan darah kecil. Plasenta umumnya keluar dalam waktu 5 menit. Pada beberapa kasus, bisa butuh sekitar 30 menit. Bila Ibu hamil menjalani bedah sesar, dokter akan mengangkat plasenta dari rahim  selama prosedur bedah.

Dokter akan memeriksa plasenta untuk memastikannya masih utuh. Bagian yang tertinggal harus diangkat dari rahim untuk mencegah pendarahan dan infeksi. Bila tertarik, Ibu bisa minta diperlihatkan plasenta setelah keluar dari rahim. Pada beberapa budaya di Indonesia, keluarga mengubur plasenta di tempat khusus, seperti di halaman belakang rumah. Beberapa wanita ada yang memasak dan memakan plasenta, praktik ini dikenal dengan istilah human placentophagy.

Bila ada masalah plasenta selama Ibu hamil, bicaralah pada dokter. Beliau akan dengan senang hati membantu Ibu hamil memahami peran plasenta dengan lebih baik.

Fakta menarik tentang plasenta pada Ibu hamil

Berikut ini beberapa fakta menarik tentang plasenta yang harus diketahui oleh Ibu hamil:

1. Plasenta seperti kelenjar

Pernahkah ketika Ibu hamil, ada perasaan seperti tidak menjadi diri sendiri saat usia kandungan baru 1 bulan? Di usia ini, janin masih berukuran sangat kecil tapi bagaimana ini bisa mempengaruhi apa yang Ibu rasakan? Plasenta bekerja seperti kelenjar yang mensekresi semua hormon penting yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh, serta membantu mempersiapkan ibu untuk menyusui. Beberapa hormon yang disekresi plasenta yaitu:

  • Human Chorionic Gonadotropin (hCG). hCG mendorong produksi estrogen dan progesteron hingg selama 10 minggu, kemudian plasenta mengambil alih mensekresi hormon tersebut. Tingkat hCG terus meningkat dan mencapai puncaknya pada sekitar akhir trimester pertama. Lalu tingkat hCG menurun dan tetap stabil hingga akhir kehamilan. hCG juga terkait dengan morning sickness, itu sebabnya keluhan ini cenderung menurun setelah trimester pertama.

  • Produksi estrogen meningkatkan aliran darah dan menstimulasi pertumbuhan rahim pada Ibu hamil. Produksi ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan janin yang sedang tumbuh. Estrogen juga menstimulasi pertumbuhan jaringan payudara untuk persiapan menyusui.

  • Produksi progesteron membantu menjaga lapisan rahim untuk implantasi dan mendukung kehamilan. Progesteron membantu menjaga lingkungan yang baik untuk janin yang tumbuh.

  • Human placental lactogen. Hormon ini bertanggung jawab dalam mempercepat metabolisme ibu hamil karena mengandung banyak energi. Human placental lactogen juga membantu mempersiapkan tubuh Ibu hamil agar kelak mampu menyusui.

2. Plasenta mengalirkan nutrisi ke bayi

Makanan yang Ibu makan tidak langsung menjangkau bayi karena terlebih dahulu tubuh memecah makanan dan protein masuk ke aliran darah. Selama Ibu hamil, nutrisi di aliran darah melewati plasenta dan tali pusar untuk masuk ke aliran darah bayi. Ini sebabnya penting bagi calon ibu hamil untuk makan makanan yang bernutrisi. Tapi makan terlalu banyak bisa meningkatkan risiko diabetes gestasional, yang bisa bermasalah bila meningkat.

3. Plasenta bekerja keras meski Ibu sedang beristirahat

Pada tiap menit kehamilan, sebanyak 500 ml darah terkirim ke rahim untuk memberi nutrisi melalui plasenta. Meski ketika Ibu hamil sedang beristirahat, plasenta tetap bekerja keras. Mungkin ini sebabnya Ibu hamil mudah sekali merasa kelelahan.

4. Plasenta bernafas untuk bayi

Meski paru-paru bayi berkembang dan menjadi matang sebelum kelahiran, plasenta memenuhi 100 persen kebutuhan oksigen bayi. Ketika tubuh memberi oksigen ke semua organ dan jaringan melalui aliran darah, tubuh mengirim oksigen ke bayi. Jadi ketika Ibu hamil sedang bernafas, Ibu juga bernafas untuk bayi.

Bayi menghirup dan menelan cairan ketuban ketika berada di dalam rahim, tapi bayi tidak menerima oksigen ketika menghirup cairan ketuban. Plasenta memberi oksigen yang dibutuhkan ke tali pusar bayi dan masuk ke aliran darah bayi.

5. Plasenta jadi bagian dari ayah dan ibu

Ketika sperma membuahi sel telur, sel mulai berkembang dengan cepat. Sel telur dan sperma menjadi blastocyst. Blastocyst menjadi plasenta dan janin. Banyak orang mengira plasenta sebagai organ ibu, tapi sebenarnya plasenta terbentuk dari kedua orangtua. Proses kehamilan memang sangat mengagumkan, ya Bu. Dari satu sperma dan satu sel telur terbentuk plasenta yang memiliki semua yang dibutuhkan untuk tumbuh dan menutrisi bayi.

6. Plasenta memberi perlindungan kekebalan dan infeksi

Pada beberapa situasi, plasenta bisa membantu melindungi bayi dari infeksi saat berada di rahim. Bila ibu hamil mengalami infeksi bakteri, plasenta membantu melindungnya. Pada beberapa kasus infeksi virus yang serius, plasenta tidak bisa memberi perlindungan. Tapi perawatan kehamilan yang baik dan kebiasaan hidup sehat bisa membantu dokter menjaga kesehatan Ibu dan bayi.

Sebelum lahir, bayi menerima antibodi melalui plasenta. Antibodi membantu memberi perlindungan kekebalan untuk bulan-bulan awal kehidupan bayi. Setelah beberapa bulan awal ini, bayi yang menyusu terus menerima antibodi ibu melalui ASI.

7. Plasenta berfungsi tanpa kontrol langsung dari sistem saraf

Plasenta berkembang dari sperma dan sel telur. Plasenta berfungsi tanpa kontrol langsung dari sistem saraf. Plasenta tidak mengandung sel saraf, jadi tidak bisa dikontrol oleh otak atau sumsum tulang belakang. Selain itu, plasenta berkembang dan berfungsi tanpa terhubung ke otak Ibu.

8. Plasenta merupakan organ yang akan dibuang

Tentu, kita memiliki beberapa organ yang kita bisa bertahan hidup tanpanya, tapi hanya plasenta yang memang harus dibuang. Plasenta berkembang bersama bayi dan dirancang untuk secara alami keluar setelah bayi lahir. Plasenta tercipta untuk satu tugas jadi setelah melaksanakan tugasnya plasenta akan meninggalkan tubuh. Tiap kehamilan yang sehat melahirkan bayi yang berpasangan dengan plasentanya.

9. Ketika plasenta keluar, produksi ASI dimulai

Meski bukan plasenta yang memproduksi ASI, tapi plasenta tetap memiliki peran. Ketika plasenta terlepas, ini memicu produksi prolaktin. Prolaktin adalah hormon yang bertanggung jawab untuk produksi ASI.

10. Plasenta bisa menjadi suplemen

Sebagian orang berpendapat plasenta memberi manfaat tidak hanya untuk janin. Placentophagy (memakan plasenta) telah dilakukan di tahun 1500-an di tradisi pengobatan Cina. 

Tidak ada banyak penelitian tentang manfaat memakan plasenta, tapi banyak sumber menyatakan manfaatnya seperti:

  • Menyeimbangkan hormon pasca melahirkan

  • Meningkatkan energi

  • Menggantikan zat besi

  • Menurunkan pendarahan pasca persalinan

  • Meningkatkan persediaan ASI

Kehamilan memang merupakan proses yang mengagumkan ya, Bu? Plasenta menjadi satu bagian dari pengalaman mengagumkan yang dialami Ibu hamil. Seperti sudah dijelaskan, plasenta menyediakan semua kebutuhan bayi dan sebagian kebutuhan Ibu setelah melahirkan.

Fungsi penting plasenta selama kehamilan

Plasenta memiliki peran penting di semua trimester kehamilan dan memastikan bayi lahir dengan aman. Plasenta memiliki fungsi penting sebagai berikut:

  • Plasenta fungsi utamanya menyalurkan nutrisi yang cukup ke janin. Sebelum darah dari Ibu menjangkau bayi, darah menuju plasenta untuk mencapai tali pusar yang menghubungkan Ibu dan bayi.

  • Tapi fungsi penting plasenta adalah bertindak seperti ginjal, menyaring darah untuk menghindari kandungan berbahaya yang mungkin membahayakan kesehatan janin.

  • Plasenta juga menjadi paru-paru bayi dan memudahkan transisi oksigen ke bayi.

  • Plasenta membawa kembali buangan pada sistem sirkulasi bayi yang kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui urin.

  • Plasenta bertindak sebagai penyaring yang menyelamatkan bayi dari infeksi dengan memisahkan darah dari Ibu hamil dan bayi

  • Banyak hormon diproduksi dari plasenta untuk memaksimalkan jumlah laktosa plasenta yang memastikan Ibu hamil memiliki tingkat glukosa yang cukup di darah yang memungkinkan sirkulasinya ke janin.

  • Plasenta juga memecah partikel makanan yang dikonsumsi oleh Ibu hamil untuk memungkinkan nutrisinya menggapai bayi lebih cepat.

  • Plasenta membentuk hormon seperti progesteron dan estrogen untuk menghentikan kontraksi rahim sebelum janin cukup umur untuk dilahirkan. Plasenta juga mempersiapkan jaringan dan rahim untuk kelahiran bayi.

Apa saja yang mempengaruhi kesehatan plasenta?

Berbagai faktor bisa mempengaruhi kesehatan plasenta selama Ibu hamil, seperti:

  • Usia ibu. Gangguan plasenta tertentu lebih umum terjadi pada wanita yang berumur di atas usia 40 tahun.

  • Ketuban pecah sebelum waktu. Selama Ibu hamil, janin dikelilingi dan dilindungi oleh membran berisi cairan yang disebut cairan ketuban. Bila kantong ketuban bocor atau pecah sebelum persalinan dimulai, risiko gangguan plasenta tertentu akan meningkat.

  • Tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi bisa mempengaruhi plasenta Ibu hamil. Tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah yang terkait dengan plasenta. Tekanan darah yang tinggi biasa terjadi pada ibu hamil. Bila ibu hamil mengalami tekanan darah tinggi berlebih selama tahap kehamilan, ia membutuhkan pengobatan untuk menurunkan tekanan darah. Ini penting karena kondisi tekanan darah tinggi atau preeklampsia bisa berkembang bila plasenta tidak berkembang dengan baik.

  • Kehamilan kembar.Bila Ibu hamil dengan lebih dari satu janin, ada peningkatan risiko gangguan plasenta tertentu.

  • Gangguan pembekuan darah. Kondisi yang merusak kemampuan darah untuk membeku atau meningkatkan kemungkinan pembekuan dapat meningkatkan risiko gangguan plasenta tertentu.

  • Pembedahan rahim sebelumnya. Bila Ibu pernah menjalani pembedahan pada rahim, seperti operasi caesar atau pembedahan untuk mengangkat tumor, Ibu lebih berisiko mengalami gangguan plasenta tertentu.

  • Gangguan plasenta sebelumnya. Bila Ibu pernah mengalami gangguan plasenta selama kehamilan sebelumnya, Ibu lebih berisiko mengalaminya kembali.

  • Beberapa gangguan pada plasenta lebih umum terjadi pada wanita yang merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang, seperti kokain, selama kehamilan.

  • Trauma abdominal. Trauma pada perut, seperti akibat terjatuh, meningkatkan risiko gangguan plasenta tertentu.

Masalah pada plasenta yang sering terjadi

Selama Ibu hamil, masalah pada plasenta paling umum berupa abrupsi plasenta, plasenta previa, dan plasenta akreta. Kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan berat di vagina. Setelah melahirkan, plasenta yang tertahan juga kadang menimbulkan masalah.

  • Abrupsi plasenta. Bila plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum ibu melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya, kondisi ini dikenal dengan abrupsi plasenta. Abrupsi plasenta bisa menyebabkan berbagai tingkat pendarahan vagina dan nyeri serta kram. Abrupsi plasenta juga bisa menurunkan nutrisi dan oksigen. Pada beberapa kasus, kelahiran dini perlu dilakukan.

  • Plasenta previa. Kondisi ini terjadi ketika plasenta sebagian atau seluruhnya menutupi serviks, jalan keluar untuk rahim. Plasenta previa lebih umum terjadi di awal kehamilan dan bisa hilang ketika rahim membesar. Plasenta previa bisa menyebabkan pendarahan berat sebelum atau selama kelahiran. Bedah sesar biasanya perlu dilakukan bila plasenta previa terjadi di saat kelahiran.

  • Plasenta akreta. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim. Plasenta akreta bisa menyebabkan pendarahan vagina selama kehamilan trimester ketiga dan pendarahan parah setelah melahirkan. Penanganan plasenta akreta kadang membutuhkan bedah sesar diikuti pengangkatan rahim (hysterectomy). Masalah fatal bisa terjadi bila plasenta menyerang otot rahim (plasenta inkreta) atau bila plasenta tumbuh melalui dinding rahim Ibu hamil (plasenta perkreta).

  • Plasenta tertahan. Bila plasenta dilahirkan dalam 30 sampai 60 menit setelah melahirkan bayi, ini dikenal dengan retained placenta atau plasenta tertahan. Retained placenta bisa terjadi karena plasenta terjebak di belakang serviks yang tertutup atau karena plasenta masih menempel pada dinding rahim. Bila dibiarkan tanpa penanganan, retained placenta bisa menyebabkan infeksi berat atau pendarahan yang mengancam keselamatan Ibu.

Tanda-tanda masalah pada plasenta

Berikut adalah hal yang perlu diwaspadai oleh Ibu hamil dan segera konsultasikan ke dokter apabila terjadi:

Mengurangi risiko masalah pada plasenta

Kebanyakan masalah pada plasenta tidak bisa langsung dicegah. Tapi Ibu bisa lakukan beberapa hal untuk meningkatkan kesehatan kehamilan. Misalnya:

  • Kunjungi dokter secara teratur selama kehamilan

  • Kerja sama dengan dokter untuk mengatasi kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi

  • Jangan merokok atau menggunakan obat-obatan ilegal

  • Bicara pada dokter sebelum memutuskan untuk menjalani bedah sesar.

Untuk menguji fungsi plasenta yang baik bisa dilakukan melalui USG dan tes Doppler untuk menentukan aliran darah di tali pusar.

Bila Ibu sebelumnya pernah mengalami masalah plasenta dan berencana hamil, bicara pada dokter tentang cara menurunkan risiko mengalami kondisi ini lagi. Beri tahu dokter bila Ibu pernah menjalani pembedahan pada rahim di masa lalu. Dokter akan dengan seksama memonitor kondisi Ibu sepanjang kehamilan.

(Ismawati, Yusrina / Dok. Pixabay)