Kehamilan

10 Tips agar Ibu Hamil Tidak Melahirkan Bayi Cacat

Terakhir diperbaharui

10 Tips agar Ibu Hamil Tidak Melahirkan Bayi Cacat

SETIAP ibu hamil tentu mendambakan kehamilan yang sehat, anak pun lahir dengan lancar dan sempurna. Namun, tidak setiap ibu mendapatkan hal yang diinginkan. Kadang, ibu hamil mendapati janinnya meninggal dalam kandungan, lahir prematur, ataupun lahir dengan kelainan bawaan (kongenital).

Kelainan bawaan adalah kondisi kelainan struktural atau fungsional dalam organ, fungsi organ, atau keduanya yang ditemukan sejak lahir, termasuk gangguan metabolik. Kementerian Kesehatan Indonesia membagi kelainan bawaan menjadi 11 kelompok, yaitu:

  • Sistem saraf
  • Organ mata, telinga, wajah, dan leher
  • Sistem peredaran darah
  • Sistem pernapasan
  • Celah bibir dan celah langit-langit
  • Sistem pencernaan
  • Organ reproduksi
  • Saluran kemih
  • Sistem otot dan rangka
  • Kelainan bawaan lainnya
  • Kelainan yang disebabkan oleh kromosom yang abnormal.

 

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia setiap tahunnya lahir dengan kelainan bawaan. Bayi yang lahir dengan kelainan kongenital ini pun lebih rentan memiliki usia yang tidak panjang. Dari 2,68 juta kematian bayi, sebanyak 11,3% di antaranya disebabkan oleh kelainan bawaan. Kondisi bayi yang akan bertahan hidup setelah lahir dengan kelainan bawaan tergantung pada tingkat keparahan serta kondisi kesehatan bayi itu sendiri.

 

-- 5 Penyebab Bayi Lahir dengan Kelainan Bawaan

Kapan janin bisa dipastikan lahir dengan kelainan bawaan?

Bayi bisa divonis menderita kelainan bawaan bahkan ketika masih berada di dalam rahim ibu hamil. Ada pula yang langsung terlihat sesaat setelah dilahirkan, tapi tidak sedikit juga yang baru terdeteksi setelah usianya menginjak beberapa bulan, namun biasanya kurang dari satu tahun.

Hal ini dikarenakan kelainan kongenital tidak serta-merta bisa terdeteksi dengan mata telanjang. Untuk kelainan seperti bibir sumbing mungkin bisa, tapi tidak dengan kebocoran jantung atau ketulian yang harus dideteksi menggunakan alat khusus seperti ekokardiogram atau tes pendengaran, dan lain-lain.

Biasanya, kelainan bawaan terjadi ketika ibu hamil baru memasuki trimester pertama karena di fase inilah organ-organ bayi tengah terbentuk. Tetapi, bukan tidak mungkin juga bayi terpapar penyebab kelainan bawaan di trimester kedua atau trimester ketiga karena memang pembentukan sel-sel organ serta fungsi organ bayi terus berkembang hingga ibu hamil melahirkan.

Penyebab bayi lahir dengan kelainan bawaan pun beragam, bisa disebabkan satu faktor, bisa juga lebih. Namun, sebanyak 50% dari kasus bayi lahir dengan kelainan bawaan tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Ibu hanya bisa mengetahui hal-hal yang berisiko menyebabkan bayi lahir dengan kelainan bawaan sebagai berikut:

 

1. Faktor genetik

Genetik alias faktor keturunan merupakan penyebab utama bayi-bayi lahir dengan kelainan bawaan. Misalnya, di keluarga ibu ada seseorang yang memiliki bibir sumbing, maka bukan tidak mungkin anak ibu akan memiliki kelainan bawaan yang serupa. Selain itu, pernikahan sedarah (memiliki ikatan saudara) juga meningkatkan risiko bayi lahir dengan kelainan bawaan dan dua kali lipat meningkatkan risiko kematian bayi atau adanya gangguan intelektual, disabilitas mental, maupun kelainan lainnya.

 

2. Faktor sosial ekonomi dan demografi

Tingkat kemiskinan tidak dipungkiri merupakan salah satu faktor terbesar yang menyebabkan ibu hamil melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Diperkirakan 94% kasus ibu hamil dengan bayi mengalami kelainan dikarenakan malnutrisi atau terpapar infeksi karena tidak higienisnya lingkungan untuk mendukung kehamilan yang sehat.

Selain itu, faktor usia ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan kelainan bawaan. Ambang batas aman bagi ibu untuk cenderung mengalami kehamilan sehat ialah 34 tahun, selebihnya, ibu hamil kemungkinan melahirkan bayi dengan kelainan kromosom, misalnya berbentuk bayi dengan down syndrome.

 

3. Faktor lingkungan

Ibu hamil yang tinggal di sekitar area pertambangan atau kawasan lain dengan kadar logam tinggi bisa berisiko melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Ancaman ini juga berlaku bagi ibu hamil yang gemar mengonsumsi makanan yang sudah tercemar limbah logam berat, seperti pestisida, timbal, merkuri, maupun zat radioaktif lainnya.

Inilah yang membuat ibu hamil disarankan untuk selalu memantau asupan makanan yang dikonsumsi. Selain itu, ibu hamil juga tidak disarankan mengonsumsi minuman beralkohol dan merokok (pasif maupun aktif) karena itu akan meningkatkan risiko bayi lahir dengan kelainan bawaan.

 

4. Infeksi

Di trimester pertama kehamilan, atau bahkan sebelum memulai program hamil, ibu bisa saja disarankan oleh dokter kandungan untuk menjalani tes TORCH (Toksoplasma, Other agents, Rubella, CMV, Herpes). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ibu pernah atau sedang terkena infeksi virus tersebut yang mengakibatkan bayi lahir dengan kelainan bawaan. Semakin dini diketahui, semakin mungkin infeksi virus bisa dilawan dan meminimalisir dampaknya terhadap janin di dalam kandungan ibu hamil.

 

5. Status gizi

Saat hamil, ibu selalu diingatkan untuk mengonsumsi makanan bergizi. Ini bukan tanpa alasan karena ibu hamil yang kekurangan zat iodium dan asam folat bisa membuat bayi lahir dengan kelainan neural tube. Obesitas serta Diabetes mellitus juga berhubungan dengan beberapa kelainan bawaan.

Meskipun demikian, ibu yang memiliki satu atau lebih dari 5 faktor risiko di atas belum tentu melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Sebaliknya, ibu hamil yang tidak memiliki salah satu faktor risiko di atas juga bisa saja melahirkan bayi dengan kelainan bawaan. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan ibu kepada dokter kandungan ya.

 

-- 3 Langkah untuk Mendeteksi Bayi dengan Kelainan Bawaan pada Ibu Hamil

Kelainan bawaan pada bayi baru lahir bisa dideteksi sedini mungkin, bahkan sejak ibu baru memutuskan untuk menjalani program hamil. Secara garis besar, inilah tiga tingkatan untuk mendeteksi kemungkinan bayi yang akan dilahirkan ibu hamil berisiko mengalami kelainan bawaan:

 

1. Sebelum masa kehamilan

Pada fase ini, dokter akan bertanya mengenai riwayat kesehatan keluarga. Dokter akan memberi catatan jika di keluarga ibu atau ayah terdapat anggota keluarga yang merupakan pembawa penyakit tertentu, misalnya down syndrome, diabetes, gangguan jantung, dan lain-lain.

 

2. Pada masa kehamilan

Ketika ibu hamil, dokter bisa melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mendeteksi adanya kelainan struktur organ. Dokter juga biasanya akan bertanya mengenai kebiasaan ibu hamil, terutama yang gemar merokok, minum alkohol, atau makan makanan mentah. Jika perlu, dokter bisa merekomendasikan tes TORCH untuk mendeteksi adanya infeksi virus.

 

3. Saat bayi lahir

Beberapa kelainan bawaan seperti Anensefali, Celah bibir, dan Talipes/Club foot dapat dideteksi secara langsung (terlihat kasat mata). Sedangkan kelainan bawaan lain seperti gangguan pendengaran dan kelainan fungsi organ lainnya harus dilakukan dengan menggunakan alat-alat tertentu.

 

-- 10 Tips untuk Meminimalisir Kemungkinan Ibu Hamil Melahirkan Bayi Cacat

Melahirkan bayi dengan kelainan bawaan kadang kala tidak dapat dicegah. Meskipun demikian, ibu tetap bisa melakukan 10 tips berikut untuk meminimalisir risiko melahirkan bayi dengan kelainan bawaan:

 

1. Program hamil sehat

Sebelum ibu memutuskan untuk hamil, ada baiknya ibu menjalani program kehamilan yang sehat. Ibu bisa mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan kondisi ibu saat itu sehat dan bebas penyakit, ataupun ibu bisa bertanya seputar kehamilan, bahkan menjalani serangkaian tes dan mengkonsultasikan hasilnya dengan dokter sambil bertanya bagaimana efeknya terhadap kehamilan ibu kelak.

Ibu mungkin akan diminta untuk melakukan serangkaian diet atau mendapatkan vaksin ibu hamil tertentu sebagai langkah preventif mengingat beberapa vaksin memang tidak boleh disuntikkan ke tubuh ibu hamil, di antaranya ialah Hepatitis A, MMR (campak, gondongan, dan rubella), Varicella (cacar), vaksin untuk paru-paru (pneumococcal), polio (baik yang suntik maupun oral), serta vaksin HPV.

Sebaliknya, ibu hamil tetap boleh mendapatkan tiga imunisasi, termasuk vaksin pencegah penyakit tetanus alias DPT. Dua vaksin lainnya adalah injeksi vaksin Hepatitis B (tiga dosis dengan jarak 1 hingga 6 bulan) dan influenza (dengan virus non-aktif).

 

2. Ketahui faktor genetik dalam keluarga

Seperti disebutkan di atas, faktor terbesar dalam kelahiran bayi dengan kelainan bawaan adalah faktor genetik. Untuk itu, ada baiknya ibu mengetahui silsilah keluarga beserta penyakit bawaan yang mereka derita. Jika ada, dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes bagi ibu untuk menentukan apakah ibu juga memiliki risiko hamil dengan bayi berkelainan bawaan atau tidak.

 

3. Minum vitamin ibu hamil

Dokter kandungan atau bidan biasanya meresepkan asam folat sebagai suplemen ibu hamil di trimester pertama. Peyebabnya, ibu hamil memang memerlukan sedikitnya 0,4 mg asupan asam folat per hari untuk mencegah bayi lahir dengan cacat bawaan berupa neural tube defect alias kelainan di tabung syarafnya.

Asam folat ini sendiri sebetulnya direkomendasikan untuk dikonsumsi 1 hingga 2 bulan sebelum ibu hamil agar hasilnya lebih terasa. Namun, hal ini hanya anjuran, kecuali untuk ibu yang sebelumnya pernah melahirkan anak dengan kelainan tabung syaraf sehingga di kehamilan berikutnya harus mengonsumsi 4 mg asam folat per hari dimulai sebulan sebelum memulai kembali program hamil hingga kandungan minimal memasuki usia 9 minggu.

 

4. Bijak mengonsumsi obat-obatan

Ibu hamil tidak boleh sembarangan mengonsumsi obat-obatan, apalagi obat warung alias obat tanpa resep dokter, termasuk obat herbal, obat alternatif, maupun jamu. Bahkan, penggunaan obat yang boleh untuk ibu hamil pun harus dibatasi penggunaannya, misalnya ibu hamil boleh mengonsumsi parasetamol untuk meredakan sakit kepala atau meminum obat pegal untuk nyeri sendi, tapi dosisnya tetap harus dikontrol agar tidak membahayakan janin dan menyebabkan bayi lahir dengan cacat bawaan.

Ibu hamil sebaiknya selalu mengonsultasikan masalah kesehatannya kepada dokter untuk mendapatkan obat yang ramah terhadap ibu hamil, baik secara komposisi obat maupun dosisnya.

 

5. Jangan sampai obesitas

Ibu hamil mungkin akan mengalami peningkatan berat badan yang signifikan selama hamil, tetapi jangan sampai menjadi obesitas ya, Bu. Ibu hamil dengan kondisi obesitas berisiko mengalami preeklampsia serta diabetes sehingga berpotensi melahirkan bayi prematur atau lahir dengan kelainan bawaan berupa neural tube defect.

Eits, tapi jangan salah juga karena obesitas bukan semata soal badan yang terlihat menggendut, tapi lebih kepada index massa lemak di dalam tubuh alias body mass index (BMI). Misalnya, ibu memiliki berat badan 66 kg dan tinggi 155 cm, maka BMI-nya ialah [66 : (1,55 x 1,55) = 27,5] alias masih hanya sebatas 'overweight' alias kegemukan. Obesitas ialah sebutan untuk orang denga BMI di atas 30. Bingung? Sila konsultasi dengan dokter ya, Bu.

 

6. Gaya hidup sehat

Makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan janin atau bahkan rahim secara keseluruhan sebelum ibu hamil. Selain menjalani diet sehat, dokter juga biasanya akan meminta calon ibu dan ayah untuk berolahraga dan menjalani pola hidup sehat agar sel telur dan sperma bagus sehingga mengindarkan diri dari risiko bayi lahir dengan kelainan bawaan.

 

7. Jangan minum alkohol, merokok, dan mengonsumsi narkoba

Konsumsi alkohol, rokok, dan narkoba oleh ibu hamil sangat memengaruhi kondisi janin di dalam rahim karena kandungan zat-zat berbahaya di dalamnya masuk ke janin melalui tali pusar. Bayi yang terpapar alkohol kemungkinan lahir dalam kondisi disertai kelainan yang dinamakan fetal alcohol spectrum disorders (FASDs), yakni intelejensia kurang.

Ibu hamil yang mengonsumsi alkohol, merokok, dan narkoba juga meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan kecil, prematur, bahkan keguguran dan bayi lahir dalam kondisi meninggal dunia alias stillbirth.

 

8. Periksa TORCH

Mengingat janin di dalam tubuh ibu belum memiliki sistem kekebalan tubuh, maka virus bisa dengan mudah bersarang di tubuh bayi yang belum lahir itu. Virus akan mengganggu perkembangan organ tubuh bayi di dalam kandungan sehingga bukan tidak mungkin bayi akan lahir prematur, mengalami cacat bawaan, hingga meninggal dalam kandungan alias stillbirth.

Beberapa penyakit yang mungkin disebabkan oleh TORCH antara lain penyakit mata katarak, kurang berfungsinya indera pendengaran hingga mengalami ketulian, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan, kejang-kejang, dan penyakit kuning (jaundice).

Tingkat keparahan atas efek yang ditimbulkan virus TORCH bisa berbeda-beda pada setiap janin, tergantung kondisi dan usia janin ketika terpapar virus TORCH tersebut. Semakin muda umur janin, semakin parah pula efek yang ditimbulkan. 

Namun demikian, semakin cepat terdeteksi, virus TORCH semakin mudah dikendalikan sehingga efeknya terhadap bayi juga bisa ditekan. Oleh karena itu, banyak dokter menyarankan ibu hamil melakukan pemeriksaan TORCH di trimester pertama kehamilan atau bahkan sebelum memulai program hamil. Tujuannya, jika ada, virus TORCH bisa segera diambil tindakan untuk diminimalisir efeknya terhadap janin.

 

9. Imunisasi

Virus rubella belum lama ini menjadi momok di Indonesia sehingga pemerintah berinisiatif untuk melakukan kampanye imunisasi MR nasional sebagai tindakan preventif. Virus ini merupakan momok bagi ibu hamil karena bisa membuat anak mengalami kelainan bawaan saat lahir.

Sayangnya, tidak ada yang bisa ibu hamil lakukan ketika divonis terjangkit virus Rubella ini saat hamil. Untuk itu, tidak ada salahnya ibu meminta disuntik imunisasi Rubella sebelum memulai program hamil agar terhindar dari virus ini atau setidaknya meminimalisr efeknya.

 

10. Perhatikan lingkungan

Berhati-hatilah terhadap lingkungan yang terlalu banyak radiasi, polusi, serta zat-zat kimia berbahaya karena itu akan meningkatkan risiko bayi ibu lahir dengan kelainan bawaan.

 

-- Pengobatan untuk Bayi dengan Kelainan Bawaan

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Indonesia, pada periode September 2014 – Maret 2018 terdapat 1.085 bayi di Indonesia yang lahir dalam kondisi mengalami kelainan bawaan.

Delapan jenis kelainan bawaan terbanyak yang dilaporkan pada periode tersebut berturut-turut adalah adalah Talipes/kaki pengkor dan Orofacial cleft defect/kelainan celah bibir dan langit-langit, Neural tube defect, Abdominal wall defect, Atresia ani, Hypospadias, Epispadias, kembar siam, dan mikrosefali.

Meskipun demikian, ibu yang melahirkan bayi dengan kondisi spesial tersebut tidak perlu berkecil hati. Banyak jenis kelainan bawaan secara struktur organ dapat diperbaiki dengan cara operasi atau bedah pediatrik. Untuk kelainan bawaan secara fungsi organ seperti Thalassemia, kelainan sel sabit, dan Hipotiroid juga sudah bisa dilakukan pengobatan sejak dini.

Begitu pula kelainan bawaan lain seperti katarak, kelainan jantung, rubella, dan lain-lain, bisa relatif disembuhkan dengan terapi. Meski demikian, di negara berkembang kedua jenis terapi tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Selain soal biaya, keterbatasan skill yang dimiliki tenaga medis juga kerap menjadi kendala.

Sedangkan di sisi orang tua, terapi penyembuhan untuk anak yang lahir dengan kelainan bawaan juga membutuhkan kesabaran. Perawatan khusus, termasuk upaya rehabilitatif, mungkin diperlukan dalam jangka waktu panjang, bahkan mungkin seumur hidup.

 

(Asni / Dok. Freepik)