Kehamilan Dibaca 66 kali

Awas, Gejala Mirror Syndrome Pada Bumil Ini Jarang Disadari

Share info ini yuk ke teman-teman
Yusrina
Awas, Gejala Mirror Syndrome Pada Bumil Ini Jarang Disadari

Mirror Syndrome, atau yang dikenal juga dengan sebutan Ballantyne Syndrome (triple edema) adalah sebuah gangguan di masa kehamilan yang tidak boleh disepelekan. Mirror syndrome pada ibu hamil terjadi akibat adanya kelebihan cairan yang tidak normal dalam janin dan sang ibu berpotensi mengalami preeklampsia karena tingginya tekanan darah

Kondisi ini memang jarang sekali terjadi, tetapi memiliki risiko fatal yang sangat tinggi apabila dialami oleh Ibu yang tengah mengandung. Lalu, apa sebenarnya mirror syndrome ini dan bagaimana pencegahannya? 

Dikutip dari Very Well Family, mirror syndrome adalah salah satu problem komplikasi dalam kehamilan yang sangat serius dan mematikan. Karenanya sangat penting untuk mengenali apa saja gejala mirror syndrome sejak dini agar bisa mendapat diagnosis secara cepat dan penanganan yang tepat. Peka terhadap gejala-gejala yang ditimbulkan sejak awal bisa menyelamatkan nyawa ibu hamil dan janinnya.

4 Gejala Mirror Syndrome yang Wajib Ibu Waspadai

Secara umum, mirror syndrome memperlihatkan gejala-gejala yang signifikan sejak awal kehamilan. Ibu dan Ayah bisa memperhatikan dengan saksama apabila ada keanehan yang terjadi selama proses awal kehamilan, maupun ketika ada rasa sakit atau tidak nyaman yang tidak wajar.

Berikut 4 gejala umum mirror syndrome

  1. Pembengkakan yang tidak wajar pada janin

    Saat hamil, pembengkakan adalah reaksi alami tubuh yang sangat wajar terjadi pada ibu hamil. Yang kemudian menjadi masalah adalah ketika pembengkakan tersebut terjadi secara cepat dan terdapat perbedaan yang signifikan. Pembengkakan ringan yang normal atau edema, menurut Medibank, bisa meningkat seiring usia janin dalam kandungan. Berbagai faktor dapat menyebabkan pembengkakan ini. 

    Awalnya, tubuh Ibu menahan lebih banyak cairan selama kehamilan. Sekitar 60% dari tubuh kita terdiri dari air, tetapi berkat hormon kehamilan, total volume air dalam tubuh Ibu bisa meningkat delapan hingga sembilan liter. Kedua, rahim Ibu yang tumbuh memberi tekanan pada vena panggul, ini menyebabkan aliran darah Ibu cenderung melambat dan cairan yang telah 'bocor' dari vena cenderung 'menggenang' di bagian tubuh yang paling bawah, seperti tangan dan kaki.

    Ini sebabnya kenapa tangan dan kaki ibu hamil terlihat besar dan membengkak, namun masih dalam batas wajar. Edema ini bisa menyebabkan Ibu tidak nyaman dan sakit, seperti merasa kesemutan, pegal-pegal, persendian kaku atau nyeri di bagian tubuh yang bengkak. Pembengkakan bisa semakin parah karena efek gravitasi dan suhu tubuh Ibu yang naik. Saat Ibu merasa kepanasan, pembuluh darah membesar dan pembengkakan jadi tidak terelakkan. 

    Selain itu, pembengkakan abnormal bisa terjadi jika Ibu mengalami gejala seperti pembengkakan tiba-tiba di area wajah, tangan, atau kaki, pembengkakan di sekitar mata, atau jika salah satu kaki bengkak dan sangat nyeri. Beritahu dokter jika Ibu mengalami gejala pembengkakan lain yang dirasa tidak biasa atau terasa aneh. 

  2. Tekanan Darah Tinggi

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil bisa berpotensi memunculkan mirror syndrome. Jangan sepelekan jika setelah ditensi tekanan darah Ibu tergolong tinggi! Apalagi jika kemudian muncul gejala-gejala seperti: sakit kepala, rasa nyeri di tulang rusuk, mual, pusing, dan penglihatan yang terganggu. Tekanan darah tinggi yang dibiarkan bisa memicu komplikasi preeklampsia dan menimbulkan masalah di organ ginjal, hati, otak, serta penyumbatan darah di tubuh.

  3. Kandungan protein dalam air seni

    Kelebihan kandungan protein dalam air seni disebut dengan istilah proteinuria. Komunikasikan dengan dokter apabila Ibu merasa tindakan pemeriksaan kadar protein dalam urin penting untuk dilakukan demi pencegahan mirror syndrome.

  4. Pertambahan berat badan yang pesat dan signifikan dalam waktu singkat

    Lakukan screening rutin berat badan dalam tiap konsultasi ke dokter atau bidan. Ibu bisa mencatat pertambahan berat badan harian dari rumah dan membuat tabel perbandingan berat badan dari hari ke hari. Lakukan evaluasi apabila jumlah rata-rata kenaikan berat badan signifikan dan berlangsung pesat.

    Selain itu, gejala mirror syndrome juga bisa terlihat jika Ibu melakukan tes darah hemodilution di laboratorium. Tes darah ini akan menunjukkan suatu kondisi di mana ada lebih banyak plasma dalam darah dan jumlah sel darah merah yang lebih rendah. Hal ini bisa terjadi karena kelebihan cairan yang menumpuk di dalam tubuh.

Penyebab Mirror Syndrome

Karena kasus sindrom ini sangat jarang terjadi, hingga saat ini para peneliti masih kesulitan menentukan apa penyebab pastinya. Biasanya, mirror syndrome disebabkan oleh kondisi yang disebut fetal hydrops. Yakni, suatu kondisi di mana cairan meninggalkan aliran darah dan menumpuk di jaringan janin. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal tergantung jenisnya, tetapi sering kali berkembang dari komplikasi yang mengganggu kemampuan alami janin untuk mengatur kadar cairan.

Dilansir dari UPMC Health Beat , fetal hydrops bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  1. Masalah jantung;
  2. Kelainan metabolisme tubuh;
  3. Anemia;
  4. Infeksi; dan
  5. Faktor genetik.

Jenis komplikasi yang menyebabkan fetal hydrops antara lain dapat berupa infeksi, sindrom genetik, masalah jantung, gangguan metabolisme dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, jika seorang wanita hamil anak kembar, sindrom transfusi bayi kembar dapat menyebabkan fetal hydrops.

Selanjutnya, komplikasi ini dapat berpotensi menyebabkan preeklampsia pada ibu hamil sebagai bagian mirror syndrome yang terjadi akibat kelebihan cairan di paru-paru.

Pemeriksaan Mirror Syndrome

Tidak ada pemeriksaan atau diagnosa khusus untuk mendeteksi mirror syndrome. Namun, pihak medis bisa mengambil hasil dari tes lain untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kelebihan cairan pada janin biasanya terlihat pada USG dan preeklampsia dapat didiagnosis oleh dokter berdasarkan hasil tekanan darah atau kandungan protein dalam air seni. Tes tekanan darah dan laboratorium serta laporan dari pasien dan observasi oleh dokter bisa membantu proses pemeriksaan mirror syndrome

Pengobatan Mirror Syndrome

Karena mirror syndrome sangat jarang terjadi, pengobatan yang dilakukan dapat bervariasi tergantung pada kasus yang dialami oleh sang ibu. Pengobatan yang diberikan oleh dokter tergantung pada penyebab yang mendasari terjadinya fetal hydrops serta tingkat keparahan preeclampsia. Jika penyebabnya diketahui sejak dini, maka pengobatan yang tepat dapat meringankan gejala mirror syndrome bagi ibu dan bayinya.

Dalam kasus lain, terutama jika preeclampsia serius, persalinan mungkin diindikasikan dan kemudian gejala ibu akan berkurang dalam hitungan hari. Setelah bayi dilahirkan, staf unit perawatan intensif bayi baru lahir (NICU) akan menangani hidrops dan memberikan perawatan yang tepat.

Pastikan untuk menyebutkan gejala yang mungkin Ibu alami, betapapun kecilnya, kepada dokter atau tenaga medis. Ada kemungkinan gejala mirror syndrome berubah menjadi nyeri kehamilan yang normal. Namun, jika gejala tersebut mulai mengganggu dan membuat Ibu jadi tidak nyaman, segera kemukakan ya. Komunikasikan dengan dokter atau bidan tentang tanda dan gejala yang Ibu alami, begitu juga dengan setiap perubahan gerakan janin Ibu. Perawatan prenatal rutin juga dapat membantu Ibu mengawasi perkembangan janin dan mencegah terjadinya preeclampsia.

Pencegahan Mirror Syndrome

Untuk mencegah mirror syndrome, yang harus Ibu lakukan adalah mencegah terjadinya pembengkakan yang tidak wajar yang bisa memicu fetal hydrops. Yakni, mengurangi aktivitas dan hal-hal yang bisa memicu terjadinya pembengkakan cairan tubuh khususnya cairan janin. Diantaranya;

  1. Tidur dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala

    Ibu bisa mencoba mengganjal kaki dengan bantal atau alas yang lebih tinggi dari posisi kepala saat bumil tidur, hal ini berguna untuk melancarkan peredaran darah dalam tubuh. Jika Ibu sedang bekerja atau duduk, letakkan bangku atau kotak di bawah meja untuk tempat kaki agar bisa naik dan tidak bertumpu di lantai. Posisi ini bisa membantu otot betis bertindak sebagai pompa yang membantu mengembalikan darah ke jantung.

  2. Minum banyak air

    Meskipun air adalah cairan, tapi Ibu tak perlu khawatir. Banyak minum air bisa menghidrasi tubuh dengan baik dan mengurangi pembengkakan. Usahakan minum air putih 2 sampai 3 liter sehari, nanti akan kelihatan dari air seni yang warnanya cenderung bening atau kuning jernih yang menandakan Ibu tidak kurang minum.

  3. Kenakan sepatu dan pakaian yang nyaman 

    Hindari menggunakan sepatu yang terlalu pas dan pakaian ketat ya Ibu, karena itu dapat membatasi aliran darah. Hindari strap, band, atau apa pun yang dapat menjepit pergelangan kaki atau betis Ibu.

  4. Perbanyak olahraga

    Tanyakan pada dokter atau bidan Ibu, olahraga apa yang diperbolehkan. Jogging di pagi hari sembari menghidup udara segar, berenang, atau bersepeda santai bisa jadi pilihan agar Ibu tetap aktif dan banyak bergerak. 

Kenali tanda-tanda mirror syndrome sejak awal kehamilan ya Ibu, agar risiko bisa dicegah dan ibu serta bayi bisa sehat dan selamat hingga proses persalinan tiba. Jangan segan melaporkan segala perubahan yang terjadi di tubuh selama periode kehamilan kepada dokter kepercayaan Ibu.

Penulis: Yusrina
Editor: Dwi Ratih