Keluarga Dibaca 646 kali

12 Perbedaan Setelah Memiliki Anak Kedua

Share info ini yuk ke teman-teman
Hadassah

Terakhir diperbaharui 23 Agustus, 2019 10:08

12 Perbedaan Setelah Memiliki Anak Kedua

Saat pertama kali memiliki anak, Ibu dan ayah pasti semangat dalam mencari segala perlengkapan bayi serta kebutuhan yang diperlukan ketika ia lahir ke dunia. Bahkan, sebisa mungkin si kecil bisa mendapatkan segala persiapan dengan kualitas yang terbaik. Segala bentuk perhatian pun semaksimal mungkin dapat diberikan kepada kelahiran pertama sang buah hati.

Lalu bagaimana bentuk perhatian Ibu ketika memiliki anak kedua? Saat memiliki anak kedua, pastinya Ibu dan juga ayah sudah mempunyai pengalaman dari anak pertama, mulai dari saat waktu kehamilan sampai waktu kelahiran tiba. Segala kebutuhan jauh lebih mudah untuk dipersiapkan karena pengalaman memiliki anak pertama tersebut. Berikut beberapa perbedaan yang membedakan kebiasaan serta perilaku Ibu saat memiliki anak pertama dan anak kedua.

    

12 Perbedaan setelah Memiliki Anak Kedua

1. Saat Ibu menyusui

Anak pertama: Jika Ibu memutuskan untuk menyusui langsung si kecil, pasti Ibu sudah mencari tahu informasi selengkapnya mengenai meng-ASI-hi si kecil. Dimulai saat belajar menyusui si kecil, penyimpanan ASI, pompa ASI untuk mengumpulkan stok susu si kecil jika Ibu tidak sedang berada dengannya, sampai nutrisi yang harus dipenuhi supaya ASI terus lancar dan jumlahnya cukup untuk si kecil.

Pokoknya, segala pengetahuan yang diberitahu oleh para ahli, Ibu cenderung untuk mengikuti semuanya, sehingga si kecil berhasil mendapatkan ASI sampai umur 2 tahun. Tak lupa untuk mempersiapkan peralatan menyusui yang dibutuhkan si kecil ketika Ibu sedang menyusui di luar rumah, seperti nursing wear dan nursing cover.

Anak kedua: Karena sudah berpengalaman dan segala persiapan untuk menyusui sudah dimiliki sebelumnya, maka akan lebih mudah untuk menyusui anak kedua. Yang penting, si adik bisa menyusui dan pasokan ASI mencukupi sampai umurnya 2 tahun deh!

        

2. Mainan

Anak pertama: Bermain adalah salah satu bentuk aktivitas yang dapat mendukung pertumbuhan otak si kecil, sehingga pasti Ibu akan memberikan beberapa permainan yang sesuai dengan tahap perkembangan si kecil setiap bulan. Si kecil pun dapat memiliki pertumbuhan serta perkembangan yang optimal, jika permainan yang diberikan kepadanya sesuai dengan perkembangan si kecil sesuai dengan umurnya.

Anak kedua: “Sepertinya, ada beberapa mainan kakak yang masih bagus. Ya udah kasih adik aja deh supaya gak beli mainan lagi.”. Atau mungkin, barang-barang di dalam rumah yang masih aman untuk si adik bisa menjadi “pilihan” untuk mainan si adik selagi masih aman untuk bisa dimainkan.

    

3. Saat anak ‘bobo’

Anak pertama: Waktu si kecil tidur, biasanya saat itu juga Ibu langsung mengerjakan hal lain yang belum sempat dikerjakan karena mengurus keperluan si kecil. Bahkan, bisa saja waktu si kecil tidur Ibu gunakan untuk ‘me time’ atau ikut tidur bersama si kecil.

Anak kedua: Saat si dedek tidur, eh si kakak masih bangun. Ya udah nonton drakor ditunda dulu deh.

    

4. MP-ASI

Anak pertama: Asupan pertama si kecil harus yang bernutrisi dan mencukupi gizi yang menjadi kebutuhannya setelah menerima ASI ekslusif 6 bulan. Ibu akan cenderung untuk memerhatikan setiap bahan yang akan diolah untuk si kecil makan, tak lupa mempersiapkan bumbu alami yang akan digunakan untuk menambah rasa pada MPASI pertama si kecil sampai seterusnya. Persiapan yang cukup matang akan dilakukan oleh Ibu sampai sebelum waktu pemberian MPASI kepada si kecil tiba.

Anak kedua: Setelah MPASI si kakak waktu itu, Ibu menjadi lebih santai mempersiapkan bahan makanan untuk MPASI pertama si dedek. Bahkan, yang tadinya benar-benar menolak memberikan si kakak MPASI instan, bisa jadi si dedek juga diperkenalkan pada MPASI instan karena waktu persiapan yang tidak cukup banyak. Tentunya, yang terpenting adalah gizi kakak dan adik tetap tercukupi ya, Bu.

    

5. Mencari sumber atau pengetahuan

Anak pertama: Nah, momen pertama memiliki anak biasanya membuat Ibu menjadi lebih senang mencari banyak informasi serta pengetahuan dari berbagai sumber terpercaya pastinya. Buku-buku tentang kehamilan dan cara mendidik anak, serta ‘Mbah Google’ akan jadi teman sejati Ibu ketika merasa bingung atau ingin mencari tahu lebih banyak lagi informasi lainnya. Teman-teman sesama ibu yang sudah berpengalaman juga akan menjadi teman bincang Ibu atau meminta saran serta pendapat saat mengurus si kecil.

Anak kedua: Berbekal pengalaman dari anak pertama, Ibu akan cenderung ‘santai’ karena sudah memiliki pengetahuan yang cukup.

    

6. Dokumentasi

Anak pertama: Mau galeri handphone, album foto yang dicetak untuk dipajang, pasti sudah penuh karena wajah si kecil yang lucu. Bahkan setiap hal baru yang dilakukannya, pasti didokumentasikan, lalu dibagikan kepada semua anggota keluarga dan teman-teman dekat lainnya.

Anak kedua: “Setidaknya, punya beberapa foto si adik deh di galeri handphone…

    

7. Dekorasi kamar

Anak pertama: Baik Ibu maupun ayah, pasti semangat sekali mau menghias kamar si kecil saat ia hendak lahir ke dunia. Dimulai dari tema kamarnya, aksesoris yang membuat kamarnya lebih meriah, sampai pada memilih setiap perabotan yang cocok untuk si kecil tempati nantinya.

Anak kedua: Karena kamar adik sama dengan kamar kakak, jadi hanya tinggal ditambah tempat tidur satu lagi saja deh.

    

8. Kebersihan

Anak pertama: Kalau sebelum memiliki anak Ibu bukan tipe “pembersih”, setelah punya anak, apalagi anak pertama, seluruh rumah harus sering dibersihkan. Saat keluar rumah pun tak lupa membawa beberapa perlengkapan untuk membersihkan si kecil dari kuman dan sarang penyakit, atau membatasi si kecil untuk menjauhi tempat yang kotor.

Anak kedua: Selama si kecil tidak memasukkan tanah ke dalam mulutnya saat ia bermain di taman, berarti masih ‘aman’ dari sarang penyakit.

    

9. Tahap perkembangan anak

Anak pertama: Siapa yang tidak senang melihat setiap perkembangan anak? Kalau secara tiba-tiba ia bisa berguling, merangkak, atau berjalan, pasti Ibu dan ayah akan menyimpan momen-momen tersebut atau memerhatikan bagaimana tingkah si kecil yang semakin berkembang tiap harinya.

Anak kedua: “Si adik sudah mulai berguling? Nah, dikit lagi dia bisa melata dan merangkak tuh, kita tunggu saja bulan depan atau 2 bulan lagi. Si kakak juga dulu begitu.”

    

10. Saat anak sakit

Anak pertama: Saat si kecil panas, tanpa pikir panjang Ibu langsung membawanya ke dokter untuk segera diperiksa supaya si kecil cepat sembuh.

Anak kedua: “Ibu, si adik panas nih badannya.”, ungkap ayah. “Aku sudah cek, panasnya belum tinggi. Kemarin dokter bilang kalau panasnya belum tinggi, yang penting dikasih susu dan skin-to-skin saja, Yah.”, jawab Ibu.

    

11. Waktu untuk beristirahat

Anak pertama: Setelah berhasil menidurkan si kecil, waktunya Ibu juga ikut beristirahat untuk menambah tenaga atau melakukan pekerjaan lain yang belum sempat dilakukan karena menidurkan si kecil.

Anak kedua: Saat si adik tidur, Ibu sudah tidak ada waktu karena si kakak masih bangun dan belum mau tidur. Ya udah, saatnya temenin si kakak, membereskan rumah nanti malam saja deh, saat keduanya sudah tidur.

    

12. Rasa sayang

Anak pertama: Kebahagiaan kakak juga menjadi kebahagiaan Ibu dan ayah.

Anak kedua: Kebahagiaan kakak dan si adik, membuat kebahagiaan Ibu dan ayah semakin lengkap!

    

Apa yang Harus Dipersiapkan Jika Ingin Memiliki Anak Kedua?

Saat memiliki anak pertama, pasti Ibu sudah memiliki pengalaman yang cukup tentang kehamilan serta cara merawatnya ketika anak kedua telah lahir. Tetapi, ada beberapa hal yang harus Ibu dan ayah persiapkan jika memiliki rencana untuk kehadiran anak kedua. Dimulai dari bagaimana memberi pengertian kepada sang kakak, sampai pada cara mendidik anak pertama dan anak kedua. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui dan dipersiapkan jika ingin memiliki anak kedua.

Jarak umur yang ideal antara anak pertama dan anak kedua menjadi penentu kepribadian anak, terutama untuk anak pertama. Jeannie Kidwell, mantan profesor bidang studi keluarga di University of Tennessee di Knoxville, mengatakan bahwa waktu terbaik untuk memiliki anak kedua adalah ketika anak pertama berumur lebih muda dari 1 atau lebih tua dari umur 4 tahun. Bayi-bayi yang belum berumur 1 tahun, belum memiliki rasa “status eksklusif” mereka, sehingga mereka cenderung untuk tidak membenci “pendatang baru”. Sedangkan anak yang berumur lebih tua dari 4 tahun, memiliki waktu yang cukup atas perhatian yang diberikan oleh Ibu dan ayah – ditambah, mereka sedang berada pada tahap mengeksplorasi aktivitas lain yang sedang digemarinya.

Kehamilan yang terlalu dekat setelah memiliki anak pertama pun juga memiliki risiko yang cukup besar terhadap kelahiran anak kedua. Penelitian mengungkap bahwa jika Ibu telah antara 12 bulan setelah melahirkan, Ibu kemungkinan berada pada risiko tinggi kehamilan seperti abruptio plasenta, atau jika sebelumnya operasi sesar, plasenta previa. Memiliki anak kedua yang berjarak lebih dari 5 tahun pun juga memiliki beberapa risiko. Beberapa penelitian mengungkap bahwa bayi akan memiliki berat badan yang kurang, kelahiran sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir), dan Ibu akan memiliki risiko tinggi terkena pre eklampsia. Setelah melahirkan, tubuh Ibu membutuhkan waktu untuk mencukupi kembali vitamin-vitamin serta nutrisi yang dibutuhkan jika ingin memiliki anak kedua.

Kesiapan finansial juga tentunya menjadi pertimbangan yang harus didiskusikan bersama dengan ayah, Bu. Tak hanya mempersiapkan uang untuk dapat memenuhi kebutuhan anak kedua, tetapi juga keputusan apakah Ibu, khususnya Ibu yang bekerja, harus berhenti dari pekerjaan untuk mengurus kedua anaknya atau tidak. Kesiapan mental pun juga menjadi hal utama yang dapat dibahas. Ibu dan ayah bisa “berkaca” pada anak pertama, apakah jika menambah anak kedua, Ibu dan ayah sudah lebih siap atau belum. Jadi, coba luangkan waktu untuk membahas bersama dengan ayah ya, Bu, mengenai kesiapan memiliki anak kedua.

    

(Hadassah / Dok. Pexels)