Keluarga Dibaca 1,036 kali

7 Masalah Pernikahan Setelah Anak Lahir

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur

Terakhir diperbaharui 01 September, 2019 17:09

7 Masalah Pernikahan Setelah Anak Lahir

Saat sepasang kekasih memutuskan untuk menikah, mereka menyadari bahwa pernikahan tidak hanya membawa kebahagiaan namun juga akan dihadapkan pada sejumlah jalan terjal. Namun, kekuatan cinta dan niat untuk membangun rumah tangga tidak menyurutkan langkah keduanya untuk masuk ke dunia baru bernama pernikahan tersebut. Jika muncul masalah pernikahan kelak, keyakinan bahwa cinta dan komitmen mampu menjadi kekuatan suami dan istri untuk bersama-sama menghadapinya.

Honeymoon phase, atau fase bulan madu menggambarkan apa yang dialami oleh mereka yang baru saja menikah. Luapan cinta, gairah, semangat mewarnai hari-hari awal pernikahan. Semua yang dijalani terasa indah. Pada tahapan pernikahan yang paling penuh gairah ini, pasangan belajar untuk saling percaya, saling menghargai, dan membangun kedekatan emosional sebagai bekal berumah tangga secara jangka panjang. Menurut 7 Tahap Pernikahan, fase ini berlangsung setidaknya selama dua tahun sebelum akhirnya getaran-getaran tersebut perlahan menghilang seiring dengan munculnya masalah pernikahan. Cinta, kepercayaan, dan komitmen masih tetap ada, hanya saja hadir dengan cara yang berbeda. 

Kehadiran buah hati biasanya menjadi salah satu penanda beralihnya pernikahan ke fase realisasi, di mana pasangan mulai menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan ketidaksempurnaan itu terkadang cukup mengganggu, meskipun hanya berupa kebiasaan sepele. Pada fase ini, lahirnya si kecil mungkin akan semakin mempererat ikatan cinta ibu dan pasangan: keluarga kecil bahagia dengan seorang bayi mungil sebagai penyempurna. Namun, transisi dari pasangan yang bebas melakukan banyak hal berdua menjadi orang tua yang penuh tanggung jawab menimbulkan masalah pernikahan baru.

Agar munculnya masalah segera dapat diatasi, berikut ini adalah masalah pernikahan yang biasanya muncul setelah lahirnya buah hati:

   

1. Suami kurang responsif terhadap kebutuhan ibu baru

Merawat bayi membutuhkan kesehatan fisik dan mental. Ibu harus prima secara fisik karena harus menyusui bayi sesering bayi mau (jika ibu ingin memberi ASI eksklusif) selama 6 bulan pertama. Jika bayi bangun tengah malam dan menolak untuk tidur lagi, ibu pun harus berusaha menahan kantuk. Bagi ibu bekerja, hal ini belum ditambah dengan masalah yang muncul saat memompa ASI dan mencari pengasuh atau daycare. Energi ibu yang terkuras untuk merawat bayi dan waktu yang berkurang dengan diri dapat menimbulkan masalah pernikahan jika kurang mendapat respon positif dari suami.

Baik bekerja maupun wirausaha, seorang suami sebaiknya mau berbagi peran dengan istri dalam hal pengasuhan anak. Bagaimanapun, anak adalah buah hati kedua orang tua, bukan ibu saja. Namun, hal ini tergantung dari visi misi pernikahan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan. Ada yang memang dengan ikhlas menjalani peran pengasuhan dan urusan domestik dengan bantuan minimal dari suami, ada juga yang berbagai tugas hingga masalah mencuci popok dan bangun tengah malam. 

Masalahnya, tidak semua pasangan memiliki visi misi pernikahan maupun membicarakan dengan gamblang tentang pembagian peran di rumah tangga. Inilah yang dapat menjadi masalah pernikahan, bahkan berpotensi menimbulkan rasa iri istri terhadap suami. 

Solusinya adalah komunikasi. Mengingat laki-laki tidak sensitif seperti wanita, ada baiknya ibu bicarakan secara langsung jika ibu butuh bantuan dalam merawat bayi. Hindari bahasa tubuh seperti muka masam, perkataan ketus, atau bahkan pengabaian terhadap kebutuhan suami tanpa disertai penjelasan. Hal ini dapat memperburuk masalah pernikahan tanpa suami tahu apa yang ibu inginkan.

   

2. Berkurangnya waktu untuk pasangan

Salah satu masalah pernikahan yang paling banyak dikeluhkan oleh pasangan saat melakukan konseling perkawinan adalah hubungan yang merenggang setelah lahirnya buah hati. Shanna Donhauser, terapis anak dan keluarga di Happy Nest, Seattle, AS, menyatakan bahwa pasangan milenial cenderung memiliki pemahaman akan ilmu pengasuhan yang lebih baik. Karenanya, mereka rela menomorsatukan anak meski harus mengorbankan urusan lain, termasuk kebutuhan pasangan. 

Hal ini sepintas tidak masalah, namun sebenarnya ketika seseorang memprioritaskan hubungan dengan pasangannya, hal tersebut secara tidak langsung akan berdampak positif bagi kesehatan anak dan anggota keluarga. Karena itu, jika ibu mulai merasa ada yang mengganggu dalam hubungan ibu dengan suami yang tidak dapat diselesaikan berdua, ada baiknya ibu mengajak suami untuk berkonsultasi dengan konselor pernikahan. Tidak perlu malu menemui konselor pernikahan –mengingat di Indonesia banyak yang berkonsultasi ketika pernikahan telah berada di ujung tanduk. Salah satu manfaat konseling adalah untuk (kembali) memperkuat ikatan batin sekaligus fondasi pernikahan sehingga segala ujian yang datang menjadi lebih mudah dihadapi.

   

3. Masalah finansial

Kekawatiran terbesar seorang ayah ketika memiliki anak adalah, apakah ia mampu melindungi dan membiayai anaknya? Bayangkan saja. Yang semula ada dua penghasilan untuk dua orang  -jika ibu dan suami sama-sama bekerja-, kini berubah menjadi satu penghasilan untuk tiga orang! Kalau memakai hitung-hitungan manusia, tentu saja para calon ayah akan panik dibuatnya. Kebutuhan bayi saat ini mencakup biaya kesehatan, pakaian, makanan, mainan, dan tabungan pendidikan jika ingin mulai dipersiapkan sedini mungkin. Sebagai pasangan muda, biasanya suami baru menapaki tangga karir, masih mengontrak atau baru mulai mencicil rumah dan kendaraan. Beban finansial yang ditanggung suami ini bisa menjadi masalah pernikahan.

Solusinya, ibu dan suami bisa melakukan perencanaan keuangan keluarga. Jika sejak awal menikah tidak terdapat komunikasi yang terbuka mengenai hal ini, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Merencanakan keuangan keluarga dapat menghindarkan pasangan dari pengeluaran yang tidak penting, membantu memprioritaskan kebutuhan, dan “mengamankan” pengeluaran penting di masa depan. Banyak kasus perceraian yang berawal dari masalah finansial, karena itu mengelola keuangan dengan baik dapat menghindarkan pasangan dari masalah pernikahan.  

Jika memang keuangan suami sangat “pas” untuk segala macam kebutuhan, ibu dapat menggunakan pilihan-pilihan yang ramah di kantong. Memasak sendiri, menggunakan cloth diapers (clodi), mengurangi bepergian ke pusat perbelanjaan jika tidak ada perlunya (yang tentunya membuat lapar mata) bisa menjadi pilihan bijak di saat suami sedang memiliki kondisi finansial yang kurang mendukung. Yang penting, beri semangat dan dukungan pada suami agar kebahagiaan tetap ada, apapun kondisinya.

  

4. Frekuensi hubungan badan berkurang

Bagi suami, menahan diri untuk tidak berhubungan intim selama istri mengalami masa nifas merupakan sebuah ujian berat. Bagaimanapun juga, laki-laki memiliki kebutuhan seksual yang lebih besar daripada wanita. Namun, saat masa nifas usai, tidak semua istri mampu menikmati hubungan intim seperti sedia kala. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari trauma rasa sakit pada bekas jalan lahir, merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuh yang belum kembali ke bentuk semula, maupun rasa lelah yang mendominasi hari karena lelah mengurus anak. 

Pelan tapi pasti, frekuensi berhubungan badan menjadi berkurang dan menjadi masalah pernikahan baru yang harus dihadapi. Padahal, hubungan badan memegang peranan penting dalam sebuah pernikahan dan dapat mempengaruhi keharmonisan sebuah pernikahan. Baik suami maupun istri memiliki kebutuhan biologis yang perlu dipenuhi. Sebaiknya, komunikasikan dengan suami apa saja hal yang kini membuat ibu enggak berhubungan intim, bukan tidak mungkin suami juga memiliki ketidaknyamanan yang perlu diungkapkan. Jika lelah adalah alasannya, mungkin ibu dan suami bisa berbagi tugas pengasuhan dan kerumahtanggaan, seperti mendelegasikan sebagian urusan rumah ke jasa laundry, ART, maupun layanan bersih-bersih online. Dengan demikian, ada waktu yang bisa diprioritaskan untuk quality time dengan pasangan.

Kabar baiknya, masalah pernikahan yang satu ini lama kelamaan akan menghilang dan keintiman seksual akan kembali menjadi hal yang menyenangkan, ungkap Anderson, terapis perkawinan di Denver, AS. 

    

5. Perbedaan pola asuh

Saat si kecil masih bayi, mungkin perbedaan pola asuh antara ibu dan suami belum terlalu nampak. Baru ketika anak sudah mulai mampu berkomunikasi lah masalah tersebut muncul. Bentuknya bisa jadi sangat sepele, seperti kebiasaan makan hingga yang bersifat prinsipil. Ibu melarang anak makan coklat, ayah membelikan coklat sepulang kerja. Ibu membatasi penggunaan gadget, sementara ayah memberikan gadget saat ia mulai kewalahan menemani anak bermain. Sebaliknya, ayah ingin anak mandiri, tapi ibu terus saja menyuapi. Hal sederhana semacam ini dapat menjadi masalah pernikahan yang serius jika terjadi terus menerus dan tidak segera dibicarakan secara terbuka.

Perbedaan pola asuh disebabkan oleh berbagai macam faktor. Pola asuh orang tua saat kecil, lingkungan, pemahaman tentang ilmu pengasuhan, bahkan peristiwa traumatis yang pernah dialami ibu dan pasangan pun dapat membentuk pola asuh. Karena itu, setiap pasangan wajib mendiskusikan tentang pengasuhan anak sejak awal. Hal ini mencakup tujuan yang ingin dicapai, nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak, cara untuk mencapai tujuan tersebut dalam berbagai area, peraturan yang perlu dibuat, bentuk konsekuensi, dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan sebagai orangtua dalam kaitannya dengan pengasuhan anak. 

Menentukan tujuan pengasuhan dan nilai-nilai merupakan hal mendasar yang harus dibicarakan oleh setiap pasangan karena perbedaan pada hal ini dapat menjadi masalah pernikahan. Sebagai contoh, ibu ingin anak kelak berprestasi dan serba bisa, sehingga anak diajak untuk mengenal berbagai macam aktivitas. Jika perlu, anak didaftarkan berbagai macam ekstrakurikuler dan les tambahan. Sebaliknya, ayah ingin anak memiliki landasan agama yang kuat agar tidak mudah terseret arus pergaulan saat ia remaja. Salah satu caranya adalah mendaftarkannya pada sekolah berbasis agama sejak dini dengan tambahan waktu untuk belajar ibadah ritual.

Nah, hal yang menyangkut prinsip semacam itu perlu dicari titik temunya sejak awal, karena tidak saja membuat anak bingung namun juga menyebabkan hubungan suami istri tidak harmonis. Karena itu, “perbedaan prinsip” kerap menjadi masalah pernikahan yang menyebabkan perceraian. Tentu saja, ibu tidak ingin hal tersebut terjadi kan? Mencari titik tengah dan kompromi dengan pasangan bisa menjadi solusi. Memikirkan pola asuh sebagai bagian dari tujuan pernikahan yang lebih besar akan memudahkan ibu dan pasangan untuk berpikir jernih dan tidak egois untuk memaksakan kehendak masing-masing.

   

6. Campur tangan orang tua

Kehadiran buah hati tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan ayah dan ibu bayi, namun juga kakek dan nenek. Sayangnya, bentuk rasa sayang kakek nenek terhadap cucu seringkali bertentangan dengan kesepakatan yang telah dibuat ibu dan pasangan. Yang membuat masalah semakin besar adalah ketika orang tua memiliki kontribusi besar dalam rumah tangga, misalnya keluarga masih menumpang tinggal di rumah orang tua, masih bergantung secara ekonomi pada orang tua, termasuk menjadikan orang tua support sistem dalam mengasuh si kecil saat ibu dan suami bekerja. Ini yang membuat posisi tawar ibu dan pasangan lebih rendah, tidak mampu membuat batasan intervensi orang tua, sehingga berujung pada munculnya masalah pernikahan.

Menurut dr. Terri Apter, penulis buku What Do You Want From Me? Learning to Get Along with In-Laws, munculnya orang tua atau mertua dalam urusan anak sebenarnya berasal dari rasa takut akan tersingkir dari anak dan cucu mereka. Solusinya, yakinkan mereka bahwa pernikahan tidak akan membuat mereka terpinggirkan. Kunjungi mereka secara rutin, ajak mereka serta saat berakhir pekan, ciptakan quality time kakek nenek dengan cucu.

Katakan pula bahwa ibu menghargai segala kontribusi mereka dan nilai-nilai yang mereka anut. Namun, beri batasan terhadap beberapa hal yang memang hanya dapat diputuskan oleh keluarga inti demi kebaikan anak dan kesesuaian dengan nilai yang dianut keluarga. 

Satu hal yang perlu diingat, jangan minta suami untuk memilih antara ibu atau orang tuanya jika ternyata ibu dan suami tidak sependapat. Hal ini hanya akan membuat masalah pernikahan semakin besar. Cobalah bangun kedekatan dengan orang tua/mertua agar mereka segan untuk terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Namun, apabila ibu bukan tipikal orang yang fasih melakukan pendekatan dan meluluhkan hati, setidaknya ibu harus menjaga agar hubungan tidak semakin buruk.

   

7. Dunia maya vs dunia nyata

Mungkin, masalah pernikahan yang satu ini mulai muncul seiring dengan maraknya penggunaan media sosial. Setiap orang kini mampu memiliki kehidupan di dua dunia, yaitu dunia maya dan dunia nyata. Setiap orang juga mampu melihat kehidupan orang lain secara lebih detil. Yang berbahaya adalah ketika kehidupan orang lain tersebut membuat kehidupan pribadi tidak cukup baik.

Melihat ibu lain bisa membuat aktivitas DIY (do it yourself) untuk anaknya, ibu menjadi merasa tidak kreatif. Melihat postingan MPASI cantik dan bergizi, ibu mendadak merasa buruk karena memberikan MPASI instan. Melihat banyak keluarga rekan dan kerabat traveling, suami jadi mendadak merasa tidak mampu karena “hanya” bisa mengajak keluarga jalan-jalan di mal. Melihat pasangan lain tetap mesra meskipun anak mereka sudah tiga, ibu jadi merasa suami tidak romantis. Sebaliknya, melihat istri-istri teman yang selalu terlihat cantik dan stylish membuat suami merasa istri tidak merawat diri dengan baik. Padahal, orang tidak tahu apa masalah pernikahan yang bersembunyi di balik status media sosial. Semua pasangan pasti memilikinya.

Karena itu, penting bagi ibu dan suami untuk mengetahui tujuan yang ingin dicapai dalam keluarga dan tidak menjadikan media sosial sebagai perbandingan. Jika tidak, masalah pernikahan dapat muncul karena saat ini akses terhadap media sosial tidak dapat dihindari. Terus merawat komunikasi yang hangat dengan anak dan pasangan menjadi salah satu kunci pertahanan diri terhadap citra media sosial keluarga lain. Jika ibu memahami bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, ibu mampu memandang hidup dengan lebih positif dan mampu mensyukuri setiap anugerah yang didapat. Begitu juga dengan pasangan. Ayah dan ibu yang bahagia tentu membuat anak mereka merasa bahagia dan cukup dengan apa yang mereka miliki. 

(Menur / Dok. Freepik)