Keluarga Dibaca 73 kali

Dear Single Dad, Ini Tips Bagi Waktu Antara Anak dan Karier

Share info ini yuk ke teman-teman
Kristal
Dear Single Dad, Ini Tips Bagi Waktu Antara Anak dan Karier

Menjalani peran sebagai seorang ayah tunggal pastinya bukan hal yang mudah. Ayah mesti pintar-pintar membagi waktu, perhatian, dan energi untuk banyak hal agar segalanya tetap berjalan ideal, terutama untuk anak-anak dan pekerjaan.

Tips Membagi Waktu Untuk Single Dad

Kondisi mungkin makin terasa menantang ketika tidak ada ART di rumah. Jadi, mau tak mau semua harus dikerjakan sendiri. Namun, tak perlu risau. Menjadi ayah tunggal bukan akhir dari segalanya, kok. Ini dia tips cerdas membagi waktu buat para single dad tangguh di luar sana.

  1. Buat To-Do-List

    Menyusun to-do-list harian adalah tips pertama yang wajib Ayah lakukan agar rutinitas tetap berjalan lancar. Cara ini juga akan membuat Ayah lebih terarah dalam menyelesaikan pekerjaan.

    Yang mesti diingat, buatlah to-do-list serealistis mungkin. Tidak perlu terlalu detail, yang penting sudah mencakup tugas-tugas utama seperti mengurus anak, mengerjakan tugas kantor/bisnis, menyelesaikan tugas domestik, dll.

    Buat to-do-list apa saja yang akan Ayah lakukan pada hari itu. Bila perlu, tentukan batas waktu agar semua terselesaikan dengan baik.

  2. Jadi Perfeksionis? Pikir Ulang!

    Keinginan untuk selalu menjadi sempurna dalam banyak hal ternyata bisa jadi bumerang buat para ayah tunggal, lho. Alih-alih membuat segalanya menjadi lebih baik, hal ini justru bisa menyebabkan tugas tidak akan pernah selesai.

    Tidak hanya itu, menurut Good Therapy, menjadi perfeksionis juga bisa membuat kita mudah stres dan burnout, lho. Jadi, tidak ada salahnya untuk mulai menurunkan standar hidup Ayah pelan-pelan. Asal anak sehat bahagia dan pekerjaan lancar, semua sudah lebih dari cukup, kan?

  3. Jangan Terlalu Ambisius

    Sebagaimana perfeksionis, menjadi terlalu ambisius juga bukan hal yang baik. Ayah tunggal memang memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Namun, ingatlah selalu bahwa Ayah juga manusia biasa yang punya keterbatasan, nggak cuma tenaga tapi juga pikiran.

    Maka dari itu, hindari bersikap terlalu ambisius dalam hal apa pun. Mulailah berkompromi pada hal-hal yang memang tak bisa Ayah kerjakan secara total dan maksimal. Ini bukan dosa besar yang memalukan kok, Yah. 

  4. Hindari Menunda Pekerjaan

    Tentu akan selalu ada waktu ketika Ayah merasa kurang bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Hal tersebut wajar saja kok. Namun, jangan sampai berlarut-larut ya karena kebiasaan ini justru akan bikin pekerjaan makin menumpuk.

    Sebaiknya hindari menunda pekerjaan, sekecil apa pun kelihatannya. Selesaikan tugas satu per satu dan hindari multitasking. Selain melelahkan, hal ini juga akan membuat pekerjaan Ayah tak kunjung selesai.

  5. Jangan Lupa Istirahat

    Menjadi ayah tunggal bukan berarti tidak boleh beristirahat. Ayah justru butuh menepi sejenak dari rutinitas agar tidak capek dan burnout. Bayangkan kalau Ayah sakit, siapa yang mau menjaga anak-anak dan mencukupi keperluannya?

    Untuk itu, sediakan waktu untuk selalu beristirahat, ya. Pastikan Ayah mendapat tidur cukup setiap malamnya. Bersantai tanpa melakukan aktivitas apa pun juga termasuk istirahat.

  6. Ayah Tunggal Juga Butuh Me Time

    Selain istirahat, sama halnya dengan single mom, single dad juga butuh me time, dan ini bukan sesuatu yang salah. Meluangkan waktu untuk diri sendiri justru bisa jadi salah satu tips untuk menghindari burnout.

    Bentuk me time seorang ayah tunggal bisa apa saja lho, mulai dari bertemu teman-teman, liburan seorang diri, melakukan hobi yang disukai, dll. Oh ya, jika Ayah butuh waktu sendiri tanpa diganggu siapa pun, boleh kok sesekali menitipkan anak ke daycare atau kakek-neneknya.

  7. Ajari Anak Tanggung Jawab

    Jika anak sudah bisa dilatih melakukan tanggung jawab sendiri, maka jangan ragu-ragu mengajarinya menyelesaikan tugas-tugasnya sendiri, seperti merapikan tempat tidur, menyimpan mainan, menyusun jadwal pelajaran, membereskan piring setelah makan, dsb.

    Cara ini tidak hanya efektif untuk mengurangi risiko kelelahan pada ayah tunggal, tapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan mandiri pada diri anak. Dengan begitu, anak tidak terus-terusan bergantung pada kehadiran Ayah.

  8. Belanja Kebutuhan Online

    Belanja kebutuhan sehari-hari seperti bahan masakan tentu akan sangat menyita waktu. Masalah bertambah ketika Ayah punya deadline pekerjaan yang cukup ketat. Nah, solusinya adalah berbelanja online.

    Belanja kebutuhan secara online adalah penyelamat buat para single dad yang sibuk. Keuntungannya adalah Ayah bisa menghemat waktu untuk mengerjakan tugas lain yang lebih prioritas.

    Begitu pun soal makanan. Jika Ayah tidak punya banyak waktu untuk memasak sendiri, tidak ada salahnya kok memanfaatkan jasa food delivery online.

  9. Buat Peraturan dan Batasan

    Ayah tunggal juga perlu membuat batasan-batasan jelas agar hidup lebih terarah, terutama yang berkaitan dengan anak-anak. Cobalah untuk menetapkan aturan seperti jam berapa anak harus makan, tidur, sekolah, bermain, dan sebagainya.

    Beri tahu juga anak tentang hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ketika anak sudah tahu apa saja batasan di rumah, Ayah juga akan lebih mudah dalam memanajemen waktu untuk keluarga.

  10. WFH Bila Memungkinkan

    Bekerja jauh dari anak terkadang membuat segalanya terasa lebih sulit. Bila memungkinkan, coba pertimbangkan untuk mulai bekerja dari rumah (WFH). Work from home bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi para single dad karena kita bisa menyelesaikan pekerjaan kantor tanpa harus meninggalkan anak di rumah.

  11. Temukan Pekerjaan yang Ideal

    Temukan juga jenis pekerjaan yang tepat dan memungkinkan Ayah membagi waktu dengan efektif. Cari pekerjaan yang ideal, terasa nyaman, dan fleksibel dijalani tanpa harus mengorbankan keluarga dan kebahagiaan diri sendiri maupun anak-anak. 

  12. Support Sytem Itu Penting!

    Manajemen waktu para ayah tunggal juga berkaitan erat dengan ada tidaknya support system di sekitar Ayah. Punya dukungan moral dan psikologis yang kuat adalah kunci keberhasilan menjalani peran sebagai seorang single dad.

    Support system ini ada banyak bentuknya, tidak melulu dari kehadiran pasangan baru. Dukungan dari orang tua, teman-teman kantor, sahabat, atau saudara juga merupakan berkah yang sungguh luar biasa lho, Yah.

Menghadapi “Pertanyaan Ajaib” dari Orang Sekitar

Sebagaimana single mom, single dad sangat mungkin kena serangan dad-shaming dan tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan ajaib seperti “kapan nih menikah lagi?” atau “kapan nih si adik dikasih ibu baru?”, dsb. Menjawabnya tentu bukan hal yang gampang, apalagi jika Ayah masih punya trauma dari pernikahan sebelumnya.

Cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan bersikap tenang. Tak perlu terlalu emosional dalam menanggapinya. Sebab bagaimanapun Ayah adalah satu-satunya orang yang paling tahu tentang diri Ayah sendiri, terutama soal kesiapan menjalin hubungan dengan orang baru.

Ingatlah bahwa fokus Ayah saat ini adalah kebahagiaan anak-anak dan diri sendiri. Jika sudah merasa cukup dengan itu semua, mengapa harus repot-repot mengundang dan melibatkan sosok baru ke dalam keluarga?

Tentu tak ada seorang pun di dunia yang ingin menapaki peran sebagai orang tua tunggal. Apa pun kondisinya, semoga Ayah dan anak-anak selalu berlimpah berkah dan kebahagiaan, ya. Amin…

Penulis: Kristal
Editor: Dwi Ratih