Konsepsi Dibaca 1,829 kali

Metode KB: Sterilisasi Wanita sebagai Pilihan Kontrasepsi yang Efektif

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 06 Oktober, 2017 15:10

Metode KB: Sterilisasi Wanita sebagai Pilihan Kontrasepsi yang Efektif
Seorang wanita bisa hamil ketika sperma pria bertemu dengan salah satu sel telur (ovum). Demi mencegah kehamilan, kontrasepsi diciptakan untuk memisahkan sel telur dan sperma atau bahkan menghentikan produksi sel telur. Ada banyak sekali metode kontrasepsi, mulai dari kondom, diafragma, pil kontrasepsi darurat, sampai female sterilisation atau sterilisasi perempuan yang akan menjadi topik bahasan Ibupedia kali ini. Mungkin istilah sterilisasi perempuan masih sangat awam di telinga Bunda, padahal tingkat efektivitas kontrasepsi ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan kontrasepsi lainnya.

Di mana bisa mendapatkan sterilisasi wanita?

Proses sterilisasi biasanya dilakukan di bawah anestesi umum, namun bisa juga dilakukan di bawah bius lokal tergantung pada metode yang digunakan. Operasi mencakup pemblokiran dan penyegelan saluran tuba yang menghubungkan ovarium ke rahim (uterus ). Hal tersebut dilakukan demi mencegah terjadinya pembuahan atau bertemunya sel telur wanita dengan sperma. Sel telur masih akan dilepaskan dari ovarium seperti biasa, namun sel-sel tersebut akan diserap secara alami ke dalam tubuh wanita.
 
Berikut adalah beberapa fakta seputar sterilisasi wanita yang perlu Bunda tahu:
  • Tingkat keberhasilan sterilisasi wanita, dalam banyak kasus, mencapai lebih dari 99 %! Wow, itu berarti cuma satu dari 200 wanita yang tetap hamil meski sudah memakai alat kontrasepsi ini
  • Anda tidak perlu memikirkan soal kontrasepsi setiap hari atau setiap kali ingin berhubungan seks. Jadi, sterilisasi wanita tidak akan mengganggu sesi bercinta Anda!
  • Sterilisasi dapat dilakukan kapan pun selama siklus menstruasi, jadi tidak sampai mempengaruhi level hormon.
  • Bunda masih bisa menstruasi meski sudah disterilisasi.
  • Anda akan membutuhkan kontrasepsi sesudah proses operasi sterilisasi selesai. Tetaplah pakai kondom atau alat kontrasepsi lainnya paling tidak sampai masa menstruasi Anda berikutnya tiba. Untuk lebih tepatnya, tunggulah 3 bulan sesudah sterilisasi (meski tergantung pada tipe sterilisasinya), sebelum saat itu tiba maka lebih baik Anda menggunakan kondom untuk berjaga-jaga.
  • Sama halnya dengan prosedur operasi lainnya, pasti sedikit banyak ada risiko terjadinya komplikasi. Nah, pada kasus sterilisasi wanita, Anda mungkin akan mengalami pendarahan dalam, infeksi, atau kerusakan organ meski kecil kemungkinan terjadinya.
  • Meski sedikit, tapi ada kemungkinan operasi tidak akan berjalan lancar. Tuba yang sudah diblokir bisa segera menyatu kembali atau membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali ke keadaannya semula.
  • Apabila operasi tersebut gagal, maka ada peningkatan resiko terjadinya ectopic pregnancy, yakni suatu kondisi dimana sel telur yang sudah dibuahi menempel di luar rahim (biasanya di tuba falopi).
  • Operasi sterilisasi wanita ini cukup sulit untuk 'diputarbalikkan'. Jadi, sekali Anda setuju untuk melakukannya, maka susah untuk mengembalikannya ke kondisi semula.
  • Sterilisasi wanita tidak bisa melindungi Anda dari penyakit seksual menular, sehingga Bunda dan pasangan sebaiknya tetap menggunakan kondom sebagai proteksi tambahan.

Bagaimana cara kerja sterilisasi wanita?

Sterilisasi wanita bekerja dengan cara mencegah laju sel telur menuju tuba falopi. Itu berarti, sel telur wanita tidak akan bertemu dengan sperma dan otomatis kehamilan tidak akan terjadi.
Ada dua tipe sterilisasi wanita, yaitu:
  • ketika tuba falopi diblok (disumbat), misalnya dengan pemasangan clips atau cincin (tubal occlusion).
  • ketika implan dipasang untuk meyumbat tuba falopi (hysteroscopic sterilisation atau HS).
Operasi yang dilakukan sifatnya minor (kecil) jadi Anda dapat menjalani operasi dan pulang ke rumah di hari yang sama. Biasanya para wanita memilih sterilisasi dengan metode menggunakan tubal occlusion.
Sebelum melakukan prosedur operasi, Bunda akan diminta untuk menjalani serangkaian tes kehamilan untuk memastikan bahwa Anda sedang tidak dalam kondisi hamil. Hal ini sangatlah penting karena begitu dokter memblokir tuba falopi Anda (jika dalam keadaan mengandung), maka risiko terjadinya ectopic pregnancy cukup besar. Seperti yang kita tahu, apabila proses pembuahan terjadi di luar rahim, maka akan ada risiko pendarahan dalam yang cukup parah sampai bisa menyebabkan kematian.

Penyembuhan pasca operasi

Begitu Bunda sadar dari obat bius, mampu buang air kecil, dan mengonsumsi makanan, maka Anda akan diperbolehkan pulang ke rumah. Jangan lupa minta tolong teman atau pasangan untuk menjemput Anda dari rumah sakit. Bila perlu, pakailah taksi daripada harus mengemudi sendiri. Kalau Bunda memakai anestesi umum, maka jangan mengemudikan mobil sampai 48 jam setelah operasi. Pasalnya, meski mengaku sehat, cara Anda bereaksi atau mengambil suatu keputusan seringkali belum kembali ke tahap normal.

Apa yang akan Anda rasakan pasca operasi

Normal jika kemudian Bunda merasa tidak enak badan atau tidak nyaman selama beberapa hari setelah operasi. Beristirahatlah selama beberapa hari sampai kondisi badan membaik. Biasanya, Anda sudah boleh kembali bekerja setelah 5 hari pasca tubal occlusion. Hindari mengangkat barang berat ya, Bun! Kalau terjadi pendarahan vagina, maka gunakan handuk sanitasi alih-alih pembalut untuk membersihkan darah. Anda pun mungkin akan mengalami rasa sakit yang mirip dengan sakit menstruasi sehingga membutuhkan obat pereda nyeri untuk beberapa waktu. Kalau pendarahan atau sakit yang Anda alami tak kunjung membaik, maka segeralah memeriksakan diri ke dokter!

Mengobati luka operasi

Apabila Bunda memilih prosedur tubal occlusion untuk memblokir tuba falopi, maka akan ada beberapa jahitan di bagian perut. Benang jahit tersebut akan melebur dan hilang dengan sendirinya, namun ada juga bagian benang jahit yang harus dibuang. Jangan coba-coba membuangnya sendiri, melainkan buatlah janji temu dengan dokter yang bersangkutan untuk membantu membersihkan bekas jahitan. Apabila ada penutup luka, biasanya penutup tersebut boleh dibuang sehari pasca operasi. Setelah itu, Bunda dapat mandi seperti biasanya.

Berhubungan intim setelah operasi, bolehkah?

Meskipun sudah disterilisasi, para wanita tetap akan mengalami gairah seksual. Tidak apa-apa, Anda boleh melakukannya (jika kondisi badan memungkinkan) setelah operasi selesai. Jika Anda memilih prosedur tubal occlusion, maka jangan lupa untuk menggunakan kontrasepsi setidaknya sampai masa menstruasi yang berikutnya tiba.
Apabila Bunda memilih prosedur hysteroscopic sterilisation, maka tunggulah sampai 3 bulan pasca operasi sebelum melakukan seks tanpa kontrasepsi. Setelah pemeriksaan membuktikan bahwa implan yang ditanam sudah berada di posisi yang tepat menutupi tuba falopi, maka Anda boleh bebas dari kondom. Tapi ingat ya Bun, pastikan pasangan  Anda bersih dari penyakit seksual menular apapun terlebih dahulu! Sterilisasi wanita tidak dapat melindungi diri dari bahaya penyakit seksual, jadi pakailah kondom untuk berjaga-jaga. Atau, hindari gaya hidup bergonta-ganti pasangan dan tetaplah setia pada satu pria yang Anda yakin benar ‘bersih’ serta dapat diajak kompromi.

Siapa saja yang boleh melakukan sterilisasi wanita?

Semua wanita tentu saja berhak untuk disterilisasi. Meski begitu, prosedur ini umumnya dilakukan oleh wanita yang tidak menginginkan anak sama sekali atau tidak mau menambah anak lagi. Sterilisasi wanita adalah keputusan yang tegas dan susah untuk kembali ke kondisi semula apabila terlanjur dilakukan. Jadi, pikirkan keputusan Bunda sebaik mungkin dan bicarakan dengan suami atau keluarga besar terlebih dahulu sebelum menjalani sterilisasi.
(Yusrina)