Terakhir diperbaharui .

Bunyi Nafas Grok-Grok Akibat Laringomalasia Pada Bayi

Laringomalasia merupakan kondisi bawaan berupa lemahnya jaringan laring di atas pita suara. Laringomalasia menjadi penyebab paling utama nafas berisik pada bayi. Struktur laring yang tidak terbentuk dengan baik menyebabkan jaringan ini berada di bukaan jalan udara dan sebagian menyumbatnya.

 

Pada kebanyakan bayi, laringomalasia tidak menjadi kondisi yang serius. Bayi mengalami nafas bunyi grok grok, tapi bisa menyusu dan tumbuh dengan baik. Untuk bayi ini, laringomalasia akan sembuh tanpa pembedahan saat usianya mencapai 18 atau 20 bulan. Tapi sebagian kecil bayi dengan laringomalasia kesulitan bernafas, menyusu, dan kesulitan menambah berat badan. Gejala seperti ini membutuhkan perhatian khusus.

 

Kategori laringomalasia

Laringomalasia dikelompokkan menjadi 3 kategori:

 

  1. Laringomalasia ringan

    Bayi di kategori ini mengalami laringomalasia yang tidak rumit dengan nafas berbunyi ketika ia bernafas tanpa obstruksi jalan udara yang signifikan.  Bayi mengalami nafas berbunyi yang mengganggu Anda, tapi tidak menyebabkan masalah kesehatan. Pasien biasanya bisa sembuh dari stridor (nafas berisik) di usia 12 sampai 18 bulan. Meski anak mengalami laringomalasia ringan, tetap penting untuk mengawasi tanda atau gejala yang bertambah buruk.

     

  2. Laringomalasia tingkat menengah

    Bayi di kategori ini mengalami gejala berikut:

    • Nafas berisik
    • Muntah atau gumoh
    • Obstruksi jalan udara
    • Sulit menyusu tapi tidak kesulitan menambah berat badan
    • Ada riwayat gejala jalan udara cukup parah sehingga perlu sering ke rumah sakit
    • GERD. Pasien biasanya berhasil mengatasi stridor di usia 12 sampai 18 bulan tapi membutuhkan penanganan untuk GERD.

     

    Meski anak mengalami laringomalasia tingkat menengah, tetap penting untuk mengawasi tanda dan gejala yang bertambah buruk.

     

  3. Laringomalasia tingkat berat

    Pasien di kategori ini sering kali membutuhkan pembedahan untuk penanganan dan mengurangi tingkat gejala. Dokter bisa merekomendasikan pembedahan bila anak mengalami gejala berikut:

    • Apnea yang mengancam keselamatan
    • Muncul warna biru pada kulit
    • Gagal tumbuh karena sulit menyusu
    • Dada dan leher tertarik ketika bernafas
    • Membutuhkan tambahan oksigen ketika bernafas
    • Masalah jantung atau paru-paru karena kekurangan oksigen.

     

Apakah laringomalasia bisa dicegah?

Bunda, kondisi laringomalasia tidak bisa dicegah. Penyakit ini juga tidak menurun dalam keluarga dan sulit mengetahui pasangan mana yang kemungkinan memiliki anak dengan kondisi ini.

 

Laringomalasia biasanya bertambah parah pada tahun pertama bayi, ketika ia mulai lebih bersemangat ketika bernafas. Di kebanyakan kasus, kondisi ini tidak berbahaya dan sembuh seiring waktu, tanpa kebutuhan intervensi medis. Stridor (nafas berbunyi) bisa bertambah parah ketika bayi tumbuh besar, dan hanya hilang secara perlahan ketika kartilage dan jaringan mulai kuat dan mendukung laring.

 

Penyebab laringomalasia

Laringomalasia bisa terlihat pada jalan udara anak selama prosedur microlaryngoscopy. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut laryngoscope yang diletakkan pada mulut untuk melihat lipatan pita suara. Mikroskop digunakan untuk memeriksa lipatan lebih detail. Dengan teknik ini, luka pada area ini bisa diangkat tanpa membuat irisan eksternal.

 

Penyebab pasti laringomalasia tidak diketahui. Relaksasi atau kurangnya kelenturan otot di saluran udara atas bisa jadi faktor penyebabnya. Bentuk laring yang tidak tepat bisa muncul saat lahir atau terlihat pada bulan pertama usia bayi. Refluks gastroesofagus bisa menyebabkan gejala laringomalasia semakin parah. Nafas berisik sering kali bertambah parah ketika bayi telentang atau saat menangis.

 

Bunda, segera menuju rumah sakit bila bayi Anda:

  • berhenti bernafas selama lebih dari 10 detik
  • bibir berubah berwarna biru dan nafasnya berisik
  • bagian leher atau dada tertarik meski setelah ia berganti posisi.

 

Tanda dan gejala laringomalasia

Bila bayi lahir dengan kondisi laringomalasia, gejalanya bisa muncul saat lahir, dan bisa menjadi lebih jelas terlihat dalam beberapa minggu pertama usia bayi. Wajar bila suara nafas bertambah parah sebelum kondisinya membaik, biasanya sekitar usia 4 sampai 8 bulan. Kebanyakan anak membaik di usia 18 sampai 20 bulan.

 

Gejala laringomalasia mencakup:

  • Nafas berisik (stridor). Suara nafas yang berisik terdengar ketika bayi menghirup udara. Kondisi ini bertambah parah ketika bayi menyusu, menangis, atau tidur telentang.
  • Sulit menyusu.
  • Sulit menambah berat badan.
  • Tersedak ketika menyusu.
  • Apnea (nafas terhenti).
  • Bagian dada dan leher tertarik ketika bernafas.
  • Berubah warna jadi biru (cyanosis).
  • Muntah karena refluks gastroesofagus.
  • Aspirasi (makanan tertelan ke paru-paru).

 

Tes dan diagnosa laringomalasia

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang masalah kesehatan bayi dan bisa merekomendasikan tes yang disebut nasopharyngolaryngoscopy (NPL) untuk mengevaluasi lebih lanjut kondisi bayi.

 

Selama tes ini, kamera kecil dengan lampu pada bagian ujungnya di masukkan melalui lubang hidung bayi ke bagian bawah tenggorokan di mana laring berada. Ini membuat dokter bisa melihat pita suara bayi. Bila terdiagnosa laringomalasia, dokter bisa melakukan tes diagnostik untuk mengevaluasi luasnya masalah dan melihat apakah jalan udara bawah terkena. Tes ini bisa berupa:

  • Penyinaran dengan sinar X pada leher
  • Fluoroscopy pada jalan udara
  • Microlaryngoscopy dan bronchoscopy (MLB)
  • Esophagogastroduodenoscopy (EGD) dan pH probe
  • Functional endoscopic evaluation of the swallow (FEES)

 

Penanganan laringomalasia

Pada 90 persen kasus, laringomalasia bisa pulih tanpa penanganan medis saat anak berumur 18 sampai 20 bulan. Tapi bila laringomalasia parah, penanganan anak bisa berupa pengobatan atau pembedahan.

 

Dokter bisa meresepkan obat anti refluks untuk membantu mengatasi refluks gastroesofagus (GERD). Ini penting karena kondisi leher dan dada yang tertarik akibat laringomalasia bisa memperparah refluks. Selain itu, refluks asam lambung bisa menyebabkan bengkak di atas pita suara dan memperburuk bunyi nafas bayi.

 

Pembedahan yang disebut supraglottoplasty menjadi pilihan penanganan bila kondisi anak parah. Gejala yang menandakan kebutuhan pembedahan antara lain:

  • Apnea (nafas berhenti) yang mengancam keselamatan.
  • Warna biru yang signifikan.
  • Berat badan tidak bertambah dengan menyusu.
  • Dada dan leher tertarik.
  • Dibutuhkan oksigen tambahan untuk bernafas.
  • Masalah jantung atau paru-paru terkait dengan anak yang tidak mampu mendapat oksigen yang cukup.

 

Pembedahan ini bisa tidak sepenuhnya mengatasi nafas berbunyi tapi bisa membantu:

  • Mengurangi keparahan gejala
  • Mengurangi apnea
  • Menurunkan kebutuhan oksigen tambahan
  • Lebih mudah menelan
  • Membantu anak menambah berat badan

Keamanan menelan pada anak akan dievaluasi setelah prosedur pembedahan.

 

Merawat bayi dengan laringomalasia

Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi masalah nafas berbunyi karena laringomalasia pada bayi. Tapi gejala lain terkait kondisi ini bisa diatasi, salah satunya masalah yang berhubungan dengan laringomalasia adalah GERD atau refluks gastroesofagus.

 

Untuk mengurangi GERD pada anak, Anda perlu:

  • Pastikan bayi duduk tegak ketika Anda menyusui dan tetap berada di posisi tegak setidaknya untuk 30 menit setelah menyusu. Ini akan mencegah ASI keluar lagi.
  • Jus atau makanan dengan rasa asam tidak boleh diberikan ke bayi. Ini termasuk jus jeruk atau buah asam lainnya.
  • Bayi tidak boleh berbaring telentang bersama botol pada mulutnya.
  • Ketika menyusu, anak harus disendawakan

 

Pada kasus yang serius, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter bayi tentang makanan mana yang paling tepat untuk bayi. Dokter bisa meminta Anda menghindari memberikan susu atau setidaknya mengurangi susu karena kadang dapat menyebabkan asam lambung lebih banyak.

 

Laringomalasia dan refluks asam lambung

Banyak anak mengalami laringomalasia dan refluks asam lambung. Refluks asam lambung bisa jelas terlihat karena anak sering muntah, tapi anak bisa juga mengalami yang disebut silent reflux, dimana anak tidak muntah. Silent reflux cukup berbahaya, karena asam lambung sering mencapai jaringan pada hidung dan jalan udara yang sangat rapuh dan tidak terlindungi. Anak dengan silent reflux kadang mengalami tersedak, batuk, asma, pneumonia kambuhan, infeksi telinga, dan infeksi sinus.

 

Penanganan pertama dilakukan untuk mengontrol refluks asam labung, jadi anak akan menerima obat untuk mengontrol GERD. Ini juga untuk membantu melindungi laring dari serangan asam lambung pada perut. Pada beberapa anak, obat tidak cukup untuk menyumbat asam lambung, dan dianjurkan prosedur Nissen fundoplication (bedah anti refluks).

 

Sebanyak 99 persen bayi sembuh dari laringomalasia, tanpa membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. Meski nafas bayi berbunyi dan membuat orangtua khawatir, tidak terjadi apnea, gangguan pernafasan, atau masalah pertumbuhan pada kebanyakan bayi.

 

Tapi pada beberapa anak, laringomalasia menjadi masalah medis yang serius. Komplikasi serius dari laringomalasia bisa berupa gagal tumbuh. Beberapa anak dengan laringomalasia parah, untuk bernafas membutuhkan kalori lebih banyak dibanding yang bisa diperoleh anak. Pada kasus seperti ini, anak tidak bisa tumbuh atau memperoleh berat badan yang seharusnya. Bisa juga terjadi anak bernafas dengan baik selama siang hari tapi mengalami apnea ketika jalan udara menjadi rileks di saat tidur. Sleep apnea bisa menyebabkan masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak kecil, jadi masalah ini perlu diatasi.

 

Pembedahan untuk mengatasi laringomalasia

Pada lebih dari 90 persen kasus, penanganan yang dibutuhkan untuk laringomalasia hanyalah waktu. Biasanya kondisi bayi perlahan membaik dan suara nafasnya yang berisik hilang di usia 2 tahun. Suara nafas tetap meningkat pada 6 bulan pertama, karena aliran udara meningkat seiring pertambahan usia. Pada beberapa kasus, tanda dan gejala laringomalasia hilang tapi  penyakit tetap ada hingga masa dewasa. Pada kasus ini, gejala atau tandanya bisa kambuh karena infeksi virus.

 

Anak dengan kondisi cyanotic (warna biru pada kulit)  yang parah dan apnea selama tidur bisa mengalami apnea tidur obstruktif terkait laringomalasia. Anak ini harus dievaluasi tidurnya. Prosedur bedah supraglottoplasty bisa menolong anak dengan gejala laringomalasia parah. Karenanya, riwayat tidur secara detail perlu dilihat pada semua bayi dengan gejala laringomalasia.

 

Bayi dengan laringomalasia memiliki risiko lebih tinggi mengalami disfungsi menelan. Karenanya terapi menelan digunakan pada anak dengan gejala laringomalasia tingkat menengah.

 

Bila bayi secara klinis mengalami hypoxemia (kurang oksigen dalam tubuh), suplemen oksigen harus diberikan. Data menyebut bayi dengan laringomalasia dan hypoxemia lebih mungkin mengalami pulmonary hypertension (tekanan darah tinggi yang terjadi karena saluran arteri pulmonal yang membawa darah dari jantung ke paru-paru menyempit/menebal). Karenanya anak dengan hypoxemia harus secara berkala menjalani evaluasi untuk pulmonary hypertension.

 

Bila menangis bayi normal, pertambahan berat badan baik, perkembangannya normal, dan suara nafas yang berisik terjadi dalam 2 bulan pertama, maka Anda tidak perlu lakukan apa-apa.

 

Bila orangtua masih belum merasa tenang dengan kondisi buah hati, bisa dilakukan prosedur diagnostik berupa flexible laryngoscopy atau bronchoscopy. Flexible bronchoscopy yang dilakukan dengan anak dianestesi bisa lebih spesifik dan sensitif hasilnya dibanding flexible bronchoscopy saat anak terjaga.

 

Bun, ada kelompok anak (usia lebih dari 2 tahun) dengan laringomalasia yang tidak sama seperti gejala nafas berisik bawaan lahir. Anak mengalami gejala selama menyusu, berolahraga, atau saat tidur. Banyak yang diidentifikasi sebagai gangguan nafas saat tidur dan kemudian didiagnosa laringomalasia setelah visualisasi langsung pada jalan udara. Pada kondisi ini, supraglottoplasty bisa bermanfaat untuk kasus sleep apnea menengah hingga parah.

 

Untuk anak dengan laringomalasia parah, dokter akan merekomendasikan pembedahan yang disebut supraglottoplasty. Untuk kebanyakan anak, pembedahan bisa mengatasi apnea, meksi stridor bisa tetap terjadi.

 

Teknik pembedahannya bervariasi, tapi anak akan berada di ruang ICU setelah pembedahan. Banyak anak membutuhkan intubasi jalan udara (penggunaan tabung melalui mulut atau hidung) setelah pembedahan untuk mencegah jalan udara menutup. Beberapa anak tidak mengalami bengkak setelah pembedahan dan saluran jalan udara diangkat.

 

Anak dengan refluks asam lambung tidak terkontrol bisa mengalami kembali laringomalasia karena paparan asam kronis dan bengkak jaringan pada laring. Refluks asam lambung harus sepenuhnya diatasi sebelum melakukan pembedahan.

 

Pilihan prosedur setelah pembedahan

Biasanya pasien menginap 48 jam setelah pembedahan selesai, tapi bisa lebih lama bila terjadi komplikasi. Pada beberapa kasus, pembedahan tdak berhasil mengontrol masalah yang diakibatkan oleh laringomalasia. Pada beberapa kasus, ada beberapa pilihan lain

 

  • CPap untuk laringomalasia

    Continuous Positive Airway Pressure (CPap) bisa direkomendasikan untuk mengatasi sleep apnea. Metode ini berhasil pada beberapa anak, dengan membelat bukaan jalan udara dengan cara meniupkan udara. Anak harus mengenakan masker dan terbiasa dengan mesin CPap. Beberapa anak tidak terbiasa mengenakan masker CPap, sehingga penanganannya jadi sulit. Selain itu, CPap atau mesin BiPap tidak selalu berhasil mengatasi apnea yang disebabkan oleh obstruksi jalan udara atas yang bersifat fisik.

     

    Anak dengan penyakit refluks parah bisa mengalami efek samping penggunaan mesin CPap, karena mesin bisa meniupkan refluks ke saluran hidung dan paru-paru. Sebaliknya, kadang CPap bisa mencegah refluks asam lambung, dengan mengangkat efek hisapan dari laringomalasia.

     

    Untuk anak yang menjalani prosesdur supraglottoplasty yang tidak berhasil dan terus mengalami sleep apnea, penggunaan CPap bisa dipertimbangkan sebagai pilihan penanganan.

     

  • Fundoplication dan revision supraglottoplasty

    Beberapa anak dengan GERD parah dan laringomalasia bisa tidak terbantu dengan supraglottoplasty karena refluks asam lambung yang tidak tekontrol. Pada kasus ini, refluks harus dikontrol sebelum supraglottoplasty dilakukan.

     

    Dokter bisa menganjurkan Nissen fundoplication, yakni prosedur untuk mengencangkan katup atas perut. Tingkat kesukesan Nissen fundoplication pada GERD lebih dari 90 pesen. Sayangnya, tingkat keberhasilan fundoplication untuk silent reflux lebih rendah, yaitu sekitar 70 sampai 80 persen. Supraglottoplasty baru bisa dilakukan setelah refluks terkontrol.

     

    Pada kasus yang sangat jarang, anak dengan masalah medis rumit dan laringomalasia parah bisa menempuh prosedur tracheostomy. Tapi ini sangat jarang terjadi, karena supraglottoplasty biasanya berhasil mengatasi masalah yang disebabkan oleh laringomalasia.

(Ismawati)