Kelahiran Dibaca 216 kali

Serba-serbi Penyimpanan ASI yang Sering Bikin Galau Busui

Share info ini yuk ke teman-teman
Darin
Serba-serbi Penyimpanan ASI yang Sering Bikin Galau Busui

Para Ibu pekerja yang sudah habis masa cutinya dan masih ingin memberi ASI eksklusif untuk bayinya, perlu menguasai teknik-teknik penyimpanan ASI supaya stok ASI-nya tidak mudah basi. Selain untuk memperlama umur ASI perah (ASIP), cara penyimpanan ASI yang benar juga dapat membantu menjaga kandungan dan nutrisi di dalamnya supaya bayi tetap bisa merasakan manfaat ASI walau tidak menyusu langsung dari payudara Ibu. Kesalahan memberikan ASIP yang sudah rusak juga dapat membahayakan kesehatan bayi yang mungkin memicu kontaminasi bakteri, virus, atau bahkan parasit.

Sebenarnya tidak hanya Ibu pekerja saja yang perlu memahami trik-trik penyimpanan ASI perah. Para Ibu Rumah Tangga atau Ibu yang bekerja dari rumah juga bisa mempelajari cara penyimpanan ASI yang benar jika ingin menyimpan ASIP untuk berjaga-jaga ketika mendadak harus berpisah sebentar dengan si kecil. Menyetok ASIP juga berarti membuat Ibu harus rutin memompa payudara (di samping menyusui bayi secara langsung), dan aktivitas ini dapat mendorong produksi ASI menjadi semakin meningkat. Ingat prinsip supply by demand ya, Bu, semakin sering ASI dikeluarkan, baik dengan disusukan langsung ke bayi atau dengan diperah, maka payudara akan lebih banyak menghasilkan ASI.

Ada banyak pertanyaan dan kegalauan yang biasanya menghampiri busui pemula yang ingin menyetok ASIP, seperti misalnya bagaimana manajemen penyimpanan ASI perah? Berapa lama ASIP bisa tahan di suhu ruang, di kulkas, dan di freezer? Bagaimana trik memanaskan susu supaya kandungan di dalamnya tetap terjaga? Bagaimana metode pemberian ASI perah kepada bayi? Dan apa media penyimpanan ASI yang tepat? Nah, untuk dapat menjawab semua pertanyaan itu, mari simak ulasan lengkapnya berikut ini ya, Bu!

Ketahanan ASI perah

ASI perah memiliki ketahanan yang berbeda-beda, tergantung dari suhu dan lokasi penyimpanan ASI. Berikut panduan lengkapnya, seperti dilansir dari laman Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

  1. ASI segar yang baru diperah dan belum masuk kulkas atau freezer

    • Di suhu ruang (suhu sekitar 25 derajat celcius): 4-6 jam;

    • Di kulkas (suhu 0-4 derajat celcius): 3-8 hari (sebaiknya ASIP tidak disimpan di bagian pintu kulkas karena akan terpengaruh perubahan suhu saat kulkas dibuka-tutup);

    • Di freezer kulkas dua pintu: 3-4 bulan; atau

    • Di freezer khusus (suhu <10 derajat celcius): 6-12 bulan

  2. ASIP beku yang baru dikeluarkan dari freezer

    • Di suhu ruang: tidak lebih dari 4 jam;

    • Di kulkas: maksimal 24 jam; dan

    • Catatan: jangan membekukan kembali ASIP yang sudah cair.

  3. ASIP yang sudah dicairkan dan dihangatkan

    • Di suhu ruang: untuk diminum langsung;

    • Di kulkas: maksimal 4 jam; dan

    • Catatan: jangan membekukan kembali ASIP yang sudah dihangatkan. Bila ingin menghangatkan ASIP, tunggulah sampai ia cair sempurna dengan menurunkan ASIP ke kulkas semalaman. Jangan menghangatkan langsung susu yang masih dalam kondisi beku. Hindari juga memanaskan ASIP di atas kompor atau memasukkannya ke microwave karena akan merusak kandungan susu. Suhu susu yang terlalu panas juga bisa melukai bayi. Gunakan milk warmer khusus atau bisa juga dengan merendam botol atau kantong ASI dengan air hangat.

  4. Sisa ASIP yang tidak diminum bayi dan sudah terkena air liurnya

    Bayi yang minum ASIP melalui botol dot, seringkali menyisakan susunya. Biasanya karena sudah kenyang atau mengantuk. Sisa ASIP ini sebaiknya tidak diberikan lagi kepada bayi di jadwal minum selanjutnya, karena sudah terkontaminasi air liur. Sebaiknya langsung dibuang dan jangan pula menyimpannya dalam kulkas apalagi membekukannya kembali.

Metode Pemberian ASIP

Saat stok di dalam freezer sudah mulai banyak, biasanya Ibu akan bingung, sebaiknya mana dulu yang harus diberikan ke bayi. Sebenarnya ada beberapa metode yang bisa Ibu pilih:

  1. LIFO (Last In First Out)

    ASIP yang paling ideal diberikan kepada bayi adalah ASIP yang paling baru diperah karena kandungannya paling mendekati kebutuhan bayi. ASIP yang terbaru ini memiliki kualitas yang lebih sesuai dengan kondisi terkini anakj dibandingkan dengan ASIP yang sudah disimpan lebih lama. Jika Ibu ingin memberikan ASIP dengan kualitas terbaik, metode LIFO cocok untuk Ibu gunakan.

    Beberapa Ibu juga ada yang memiliki lipase issue. Lipase sendiri adalah enzim yang berfungsi memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol sehingga akan lebih mudah dicerna tubuh bayi. Sebagian Ibu memiliki kandungan enzim lipase lebih tinggi dari yang lain. Seperti dilansir dari situs Exclusive Pumping, kelebihan lipase membuat penyimpanan ASI jadi sedikit lebih tricky karena ASIP yang disimpan terlalu lama menjadi berbau tengik (kadang bau telur atau logam) dan terasa asam. Meski bukan berarti basi, namun tidak sedikit bayi yang menolak minum ASIP ini karena rasa dan aromanya beda dengan ASIP yang masih segar. Jika Ibu memiliki kelebihan lipase, metode LIFO mungkin cocok untuk Ibu terapkan.

    Contoh: Ibu mulai memerah ASI tanggal 1 Oktober dan kembali masuk kerja tanggal 1 Desember. Maka tanggal 1 Desember Ibu bisa memberikan ASI yang diperah pada tanggal 30 November (atau yang paling fresh). Lalu pada tanggal 2 Desember, Ibu bisa memberikan ASI yang diperah di kantor pada tanggal 1 Desember, begitu pun seterusnya.

    • Kelebihan metode ini: ASIP yang dikonsumsi bayi masih berkualitas.

    • Kekurangan metode ini: akan ada banyak ASI perahan lama yang terbuang karena kedaluwarsa.

  2. FIFO (First In First Out)

    Tapi ada juga Ibu yang memiliki stok ASI berlimpah dan tidak ingin ada ASIP yang terbuang sia-sia. Biasanya metode FIFO akan lebih cocok diterapkan. Kebalikan dari LIFO, dengan metode FIFO Ibu akan mendahulukan ASI perah dengan tanggal terlama untuk diberikan ke bayi.

    Contoh: Ibu mulai memerah ASI tanggal 1 Oktober dan kembali masuk kerja tanggal 1 Desember. Maka tanggal 1 Desember Ibu bisa memberikan ASI yang diperah pada tanggal 1 Oktober. Lalu pada tanggal 2 Desember, Ibu bisa memberikan ASI yang diperah pada tanggal 2 Oktober, begitu pun seterusnya.

    • Kelebihan metode ini: risiko ASIP terbuang karena kedaluwarsa lebih kecil karena perputarannya mengadopsi sistem antrean, di mana yang paling lama antre, menjadi yang paling pertama keluar.

    • Kekurangan metode ini: kualitas ASIP yang paling lama disimpan di freezer sudah menurun, tidak sebaik ASIP yang masih segar.

  3. Penggabungan metode LIFO-FIFO

    Setiap metode di atas, baik LIFO maupun FIFO memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika Ibu tidak cukup condong ke salah satunya, Ibu bisa menggabungkan kedua metode tersebut lo.

    Contoh: Setiap hari Senin, Rabu, Jumat, Ibu bisa menggunakan metode LIFO. Lalu pada Selasa dan Kamis, Ibu menggunakan metode FIFO. Atau Ibu bisa membuat jadwal sendiri kapan anak minum ASIP segar, kapan ia minum ASI perahan lama.

Media Penyimpanan ASI

Ada dua media penyimpanan ASI yang paling umum digunakan dan paling dianjurkan, pertama menggunakan botol kaca atau plastik dengan penutup rapat, kedua menggunakan kantong ASI khusus yang banyak dijual di toko perlengkapan bayi atau e-commerce. Namun pastikan menggunakan botol kaca food grade yang sudah dicuci dan dibersihkan, atau botol dan kantong plastik yang bebas bahan kimia bisphenol A (BPA). Jangan menggunakan kantong plastik yang dirancang untuk keperluan rumah tangga sebagai media penyimpanan ASI, ya.

Selain memperhatikan media penyimpanan ASI, Ibu juga perlu memberi label tanggal dan waktu pada wadah tersebut supaya memudahkan pengasuh atau orang yang akan memberikan ASIP tersebut ke bayi. Gunakan label atau spidol permanen supaya tulisannya tidak mudah terhapus saat basah. Bila Ibu menitipkan bayi di daycare, pastikan Ibu juga menuliskan nama bayi di wadah ASIP untuk menghindari risiko ASIP tertukar.

Semangat mengASIhi ya, Bu!

Penulis: Darin Rania
Editor: Dwi Ratih