Keluarga Dibaca 9,480 kali

Yang Harus Dilakukan Suami Saat Menemani Istri Melahirkan

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
Yang Harus Dilakukan Suami Saat Menemani Istri Melahirkan

Jika saat ini istri Anda sedang hamil, maka sebagai suami, Anda perlu bersiap-siap. Kemungkinan besar Andalah yang akan menemaninya sebagai pendamping persalinan. Menjadi pendamping persalinan berarti Anda memegang peran yang sangat besar. Memang sih, tak hanya suami yang bisa berperan sebagai pendamping persalinan. Bisa saja anggota keluarga lain atau kerabat Anda yang dipercaya si calon ibu untuk mendampinginya.

Yang pasti saat menjalani persalinan, Ibu hamil membutuhkan pendamping persalinan untuk mendapatkan kekuatan dan semangat. Meski berat bagi Anda melihat ia kesakitan selama proses persalinan, pada akhirnya Anda akan merasa bahwa kelahiran si kecil merupakan momen yang luar biasa.

Sebelum Ayah benar-benar bertugas sebagai pendamping persalinan, pelajari dulu beberapa tips berikut ini:

  1. Menjadi juru bicara

    Selama proses persalinan, Ibu tidak dalam kondisi yang baik untuk membuat sebuah keputusan. Ia juga tidak mampu bersikap tegas terhadap beberapa pilihan. Bersiap-siaplah karena Anda akan menjadi perwakilan dari keputusannya. Misalnya, saat sang ibu berencana untuk menyusui bayinya, Anda harus memastikan ia dapat melakukannya segera setelah bayi lahir atau memastikan Ibu mendapatkan waktu Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Pastikan juga ada perawat atau seseorang yang dapat membantunya jika ia mengalami kesulitan.

  2. Pahami apa yang akan dilakukan

    Proses persalinan bukanlah saat yang tepat untuk membuka buku kehamilan atau melirik catatan dari kelas prenatal. Jadi sebaiknya Anda sudah menyelesaikan membaca teori yang perlu Anda ketahui. Ikuti birth class dengan pikiran terbuka. Di sana Anda akan mendapat informasi yang mendasar dan memadai. Anda juga akan belajar bagaimana pendamping persalinan lainnya mengatasi momen itu.

  3. Bersikap fleksibel

    Rencana persalinan yang sudah Ibu buat bisa saja tidak dapat diwujudksn. Sebelum tanggal perkiraan kelahiran tiba, luangkan waktu bersama calon ibu untuk membahas rencana dan langkah yang akan dilakukan serta opsi alternatif yang bisa dipilih. Nantinya Anda dan anggota keluarga lain bisa mengambil inisiatif bersama. Anda harus selalu siap untuk perubahan rencana apapun. Bagian dari tugas pendamping persalinan adalah mengambil tindakan yang kemungkinan akan berhasil dan menyisihkan langkah yang tidak bisa dilakukan.

  4. Jangan mudah tersinggung

    Wanita di masa persalinan seolah berada di dunianya sendiri. Melahirkan merupakan pekerjaan yang panjang dan tidak mudah. Sebagian wanita mengatasinya dengan emosional. Wanita saat dalam proses persalinan menjadi cenderung lekas marah. Misalnya, ia meminta Anda memijat punggungnya saat fase awal persalinan tapi kemudian ia menjadi jengkel saat Anda menyentuhnya. Jangan terlalu mengambil hati kondisi seperti ini. Sikapnya bukan bermaksud untuk menolak Anda, kok.

  5. Bawa juga barang-barang Anda

    Ibu hamil biasanya telah menyiapkan hospital bag yang berisi semua persiapan persalinan, seperti pakaian dan keperluan lainnya jauh hari sebelum tanggal perkiraan kelahiran si kecil. Berhubung Ayah juga kemungkinan harus menginap di rumah sakit, jadi jangan lupa kemasi beberapa barang yang Anda perlukan.

    Barang wajib yang perlu Anda bawa berupa beberapa potong pakaian ganti, sepatu yang nyaman, atau makanan ringan dalam kemasan. Pastikan makanan yang Anda bawa tidak berbau menyengat karena dapat mengganggu kenyamanan si calon ibu.

  6. Sadari dimana batas kemampuan Anda

    Banyak hal yang akan terjadi di ruang persalinan. Pastikan hal apa saja yang dapat Anda lakukan sendiri dan mana saja yang akan Anda serahkan kepada dokter dan paramedis. Misalnya, bila Anda tidak merasa nyaman saat memotong tali pusar, Anda harus mengatakannya. Meski pada awalnya Anda berencana akan melakukannya sendiri.

  7. Selalu ada di sisi Bunda

    Proses persalinan adalah salah satu momen terpenting. Meski pada akhirnya memang Anda harus menyerahkan sepenuhnya pada para ahli medis profesional, tapi kehadiran Anda sangatlah berarti. Apapun perasaan yang ada di benak Anda, tetap tunjukkan kepercayaan diri dan sikap tenang. Katakan pada pasangan Anda, “Sayang, kamu melakukannya dengan baik. Semua akan baik-baik saja.” Nantinya akan ada waktu bagi Anda untuk menenangkan diri.

  8. Bantu menghitung kontraksi

    Anda tidak perlu menghitung kontraksi ketika pertama kali istri mengalaminya. Setelah Anda berdua mengetahui kalau jarak antar kontraksi sudah berdekatan dan kontraksi terasa semakin kuat, ini adalah waktu yang tepat untuk menghitungnya dan melihat seberapa lama kontraksi berlangsung serta berapa jarak waktunya.

    Anda bisa download aplikasi contraction timer di handphone. Ada banyak aplikasi gratis yang bisa Anda download. Aplikasi ini mempermudah proses dan melacak kontraksi Ibu.

    Bila Anda tidak menggunakan smartphone, Anda bisa mencatatnya di kertas dengan memperhatikan jam. Anda perlu menghitung jarak kontraksi ibu, serta hitung frekuensi masing-masing kontraksi dalam satuan menit.

    Bila kontraksi berlangsung secara teratur dan intens selama 30 menit atau lebih lama, berarti Ibu sudah masuk ke tahap persalinan awal. Pastikan ia beristirahat cukup selama fase persalinan awal agar ia punya energi yang cukup untuk menjalani persalinan aktif dan mengejan.

  9. Cari tahu apa yang Ibu inginkan

    Setelah Anda berdua mengikuti kelas persiapan melahirkan, coba tanyakan ke Ibu tentang apa yang ia mau dan tidak mau selama persalinan. Sangat penting untuk membahas rencana persalinan. Bila Ayah memutuskan untuk tidak menggunakan jasa doula untuk membantu Ibu selama persalinan, berarti Ayah harus mengambil alih tugas tersebut dan sigap memberitahu dokter, bidan, atau perawat apa yang Ibu inginkan dan butuhkan selama persalinan.

    Untuk bisa melakukan ini, komunikasi selama kehamilan jadi kunci agar Anda tahu apa yang ia inginkan. Tugas utama dokter atau bidan dan perawat adalah memastikan Ibu dan bayi sehat dan baik-baik saja selama persalinan. Tapi Ayah punya peran penting dalam membantu pasangan merasa nyaman dan mengomunikasikan keinginannya. Kadang dokter akan merekomendasikan sesuatu yang tidak terlalu diperlukan, misalnya menyarankan untuk menggunakan pereda rasa sakit persalinan. Semua keputusan tetap ada di tangan Ayah. Ayah yang tahu apa yang Ibu mau dan Anda bisa secara jelas menyampaikan keinginannya.

    Bila Ibu dan Ayah punya rencana persalinan tertulis, pastikan untuk membawanya ke rumah sakit agar Anda bisa menunjukkannya ke perawat dan dokter. Dengan begitu, mereka bisa tahu apa yang Ibu dan Ayah inginkan selama persalinan dan Anda tidak perlu mengingat dan menyampaikannya berulang kali tentang keinginan dan kebutuhan istri.

  10. Siap menunggu

    Tidak seperti di film-film yang menampilkan proses persalinan dengan cepat, kebanyakan Ibu menjalani persalinan selama berjam-jam sebelum mereka masuk ke ruang melahirkan di rumah sakit. Memang akan lebih nyaman menjalani fase awal persalinan di rumah. Selain itu banyak juga rumah sakit yang tidak membolehkan Ibu menginap hingga ia mengalami kontraksi teratur yang selalu muncuk setiap lima menit.

    Anda mungkin ingin menghitung kontraksi yang datang secara periodik agar Anda mengetahui perkembangannya. Tapi Anda tak perlu melakukannya terus menerus. Simpan dulu energi Anda. Dampingi si calon ibu di sisinya dan lakukan semua yang bisa Anda perbuat agar membuatnya rileks. Lakukan aktivitas seperti menonton tv, berjalan-jalan, atau menemaninya istirahat. Ini bukan lagi waktu bagi Anda untuk memikirkan tugas di kantor.

  11. Bantu istri fokus dan rileks

    Coba terapkan beberapa teknik dan metode yang telah Anda berdua pelajari di kelas prenatal. Misalnya, sarankan ia berganti posisi atau minta ia bernafas dengan teratur. Anda dapat memijat kakinya dan memintanya menatap wajah Anda agar ia fokus dan tidak tegang selama terjadi kontraksi. Saat ia merasa tidak sanggup, tugas Anda untuk membuatnya kembali berpikir positif.

Jangan lakukan hal ini saat Ayah mau menemani Ibu melahirkan

Ayah, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda hindari ketika mendampingi istri melahirkan:

  1. Jangan pergi ke rumah sakit terlalu awal

    Anda mungkin sangat bersemangat ketika istri memberitahu ia mengalami kontraksi, tapi jangan tergesa menuju rumah sakit. Jika Anda terlalu cepat ke rumah sakit, kontraksi Ibu mungkin belum cukup sering, belum cukup kuat, dan serviks mungkin belum cukup membuka untuk masuk ke ruang bersalin. Ini artinya Anda berdua harus kembali ke rumah.

    Agar tidak bolak-balik, coba untuk tidak melihat jam dan bantu menyamankan istri selama kontraksi berlangsung. Anda perlu pastikan istri mendapat istirahat yang cukup agar ia punya energi untuk menjalani persalinan dan mengejan.

    Anda juga bisa mengajak istri melakukan beberapa aktivitas. Anda bisa berjalan-jalan, pergi ke mall atau museum, menonton film, memasak kue, apapun yang istri sukai dan tidak membuatnya lelah. Rumah jadi tempat yang jauh lebih nyaman ketika Ibu mulai masuk ke fase persalinan. Di rumah, Ibu bisa makan, minum, berjalan-jalan leluasa tanpa infus dan monitor, dan ia bisa tidur di tempat tidur sendiri. Anda juga bisa beristirahat.

    Ingat, sebagai aturan umum, bila jarak antar kontraksi sudah 5 menit sekali atau lebih sering lagi, dan terus berlangsung dalam pola ini selama setidaknya satu jam, berarti Anda bisa menuju rumah sakit segera.

    Bila persalinan dimulai di malam hari, bantu istri kembali tidur selama beberapa jam. Coba gosok punggung bawahnya atau letakkan kompres hangat di punggung bawah untuk meredakan rasa sakit.

    Bila ketuban pecah lebih dulu, berikut ini pertanyaan yang perlu Anda tanyakan ke istri:

    • “Waktu ketuban pecah, apakah berupa semburan atau hanya tetesan?”
      Ini agar Anda tahu apakah yang terjadi sobekan atas atau sobekan bawah. Air ketuban akan terus keluar hingga bayi lahir jadi jangan cemas bila masih bocor.

    • “Apakah cairannya jernih atau ada warnanya?”
      Bila air ketuban berwarna kuning, coklat, atau kehijauan, maka ini berarti ada mekonium di cairan ketuban dan bisa jadi tanda kalau janin mengalami stress sehingga pup di dalam.

    • “Apakah baunya menyengat?”
      Cairan ketuban tidak memiliki bau yang Bila muncul bau yang sangat menyengat, ini bisa jadi tanda infeksi.

    • “Apakah gerakan bayi masih terasa?”
      Ini jadi pertanyaan yang paling penting. Bila ketuban pecah dan berupa semburan besar, tali pusar bisa terselip di serviks dan menghalangi oksigen dan sirkulasi ke bayi. Bila istri tidak merasakan gerakan janin, berikan minuman dingin dan minta ia berbaring miring. Tunggu 10 menit dan bila masih tidak terasa gerakan bayi, minta istri lakukan posisi berlutut dengan kepala di bawah dan bokong di udara, seperti gerakan sujud, lalu hubungi rumah sakit.

    Bila cairan ketuban jernih, tidak ada bau menyengat, dan istri bisa merasakan gerakan bayi, Anda punya waktu 12 jam untuk menuju rumah sakit. Jadi bila istri tidak merasakan kontraksi setelah ketuban pecah, ajak ia berjalan-jalan, duduk di bola besar, stimulasi puting, menekan titik akupresur, dan sebagainya untuk membantu kontraksi terjadi.

    Karena bila Anda pergi ke rumah sakit dan tidak ada kontraksi, tapi ketuban pecah, rumah sakit tidak akan mengizinkan istri pulang dan ia akan di induksi. Ini akan melipat-gandakan kemungkinan operasi caesar bila ini merupakan kehamilan pertama Ibu.

  2. Jangan tidur

    Pastikan Anda tidak tertidur, bahkan mendengkur saat menemani istri melahirkan. Memang, persalinan adalah momen yang sangat intens serta melelahkan bagi istri maupun suami. Tapi Ayah jangan sampai tertidur. Bila Ibu tidak tidur, Ayah juga tidak boleh tidur. Anda bisa begadang untuk menonton pertandingan sepak bola kan? Anda juga bisa lakukan hal yang sama ketika menemaninya melahirkan.

  3. Jangan malu bertanya

    Tanyakan pada petugas medis apa yang akan mereka lakukan dan kenapa hal itu perlu dilakukan. Anda harus banyak bertanya dan mencari informasi mengenai prosedur medis atau cara membantu istri merasa lebih nyaman. Jangan malu untuk bertanya, apalagi bila istri Anda merasa sungkan untuk bertanya sendiri.

  4. Jangan menjawab telepon

    Bayangkan ketika suami menemani melahirkan, lalu ia menerima telepon dari kantor di saat istri susah payah mengejan. Bila istri sudah mulai melakukan persalinan, segera matikan handphone Anda. Atasan, kolega, dan teman akan memaklumi. Selain staf rumah sakit, orang satu-satunya yang harus Anda dengar adalah istri sendiri.

  5. Jangan mengeluh

    Jangan sampai ketika suami menemani melahirkan, ia mengeluh capek karena memegangi tangan istri. Ini adalah waktu di mana istri berhak mendapat semua perhatian Anda. Kemungkinan ia telah mengalami kontraksi yang sangat sakit dan mungkin mengejan selama berjam-jam. Sekarang bukan waktunya mengeluh kalau punggung Anda sakit karena berdiri di sisinya atau Anda mengeluhkan otot sakit akibat olahraga kemarin. Jangan sampai ini Anda ucapkan.

  6. Jangan menonton TV

    Bayangkan saat suami menemani melahirkan, ia malah menonton pertandingan olahraga di TV. Kecuali Anda berdua memang menonton TV untuk menghabiskan waktu bersama, Anda tidak boleh memegang remote dan menonton acara yang istri Anda tidak ingin tonton.

    Ini termasuk menonton dari layar kecil handphone Anda. Lantas apa yang harus dilakukan suami? Tentu saja fokus pada pasangan. Para ahli menekankan pentingnya dukungan dan sentuhan saat persalinan. Ini bahkan bisa membantu persalinan berjalan lebih cepat dan lebih lancar. Ambil kursi, pegang tangannya dan tatap matanya, bukan menatap televisi.

  7. Jangan lontarkan lelucon konyol

    Simpan lelucon konyol Anda untuk waktu yang lebih tepat. Staf rumah sakit mungkin juga tidak berkenan dengan candaan Anda. Dan istri tidak merasa terhibur dengan lelucon Anda ketika ia sedang dalam kesakitan. Bila apa yang akan keluar dari mulut Anda tidak bersifat suportif, sebaiknya simpan dan jangan lontarkan.

  8. Jangan pingsan

    Saat istri sedang mengejan, suami yang seharusnya menemani melahirkan malah pingsan. Staf rumah sakit akan sibuk mengurus si suami. Bahkan bisa saja mereka malah memberikan oksigen yang tadinya diberikan ke istri.

    Hindari hal-hal seperti ini dengan mengikuti kelas persiapan melahirkan bersama pasangan dan pastikan Anda mengikuti seluruh sesinya. Cari info mengenai tentang tahap persalinan, apa yang akan terjadi selama operasi caesar dan cari informasi tentang perlengkapan medis yang akan digunakan. Bila Anda siap, Anda kemungkinan bisa melewati hari persalinan dengan lebih baik.

(Ismawati)