Kelahiran Dibaca 4,294 kali

14 Hal Tentang Proses Menyusui Bayi yang Alergi Makanan

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 11 Februari, 2019 17:02

14 Hal Tentang Proses Menyusui Bayi yang Alergi Makanan

Alergi makanan bisa terjadi melalui beberapa faktor, salah satunya ASI! Kandungan protein serta bahan kimia pada makanan yang dikonsumsi oleh Ibu bisa berpengaruh pada ASI lantas menyebabkan alergi makanan pada anak. Bila bayi mengalami alergi makanan atau intoleransi terhadap makanan, bayi biasanya akan  menunjukkan reaksi tertentu.

Kondisi ini berbeda dengan intoleransi laktosa, mengingat laktosa menjadi komponen utama pada ASI yang diproduksi di payudara dan tidak berasal dari makanan ibu. Meski begitu, bayi bisa mengalami intoleransi laktosa skunder sebagai akibat dari alergi makanan atau intoleransi terhadap makanan yang masuk ke ASI.


  1. Apakah bayi yang menyusu bisa mengalami alergi makanan yang terkandung pada ASI?

    Meski lebih mungkin bayi bereaksi terhadap makanan yang diberikan langsung seperti susu formula atau produk susu lainnya, anak yang mengonsumsi ASI bisa menunjukkan reaksi alergi makanan terhadap sisa protein dari makanan ibu. Kurang dari 1 persen bayi yang menyusu eksklusif mengalami reaksi alergi makanan terhadap protein susu sapi pada ASI ibu.


  2. Hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko alergi makanan pada anak?

    Bila Ibu memiliki riwayat alergi makanan dalam keluarga, coba pastikan untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi selama setidaknya pada 4 bulan pertama dan lebih baik lagi bila selama 6 bulan. Hal ini diketahui dapat menurunkan risiko si kecil mengalami alergi makanan. Tidak ada cukup bukti kalau ibu yang menghindari makanan tertentu selama hamil atau menyusui akan menurunkan risiko bayi terkena alergi makanan. Berbeda jika buah hati Ibu sudah menunjukkan reaksi alergi makanan sejak awal, maka sebaiknya mulai batasi makanan Ibu.

    Di usia 6 bulan, bayi sebaiknya mulai mengonsumsi MPASI karena ia membutuhkan sumber zat besi dan zinc baru dari makanan. Sebagian ahli menganggap akan lebih baik bila Ibu sesegera mungkin memperkenalkan asupan yang bisa menimbulkan alergi makanan, agar bayi dapat menunjukkan reaksi alergi makanan terhadap jenis tertentu. Makanan ini antara lain kedelai, telur, kacang, dan ikan. Saat dikenalkan pada makanan baru, sebaiknya bayi tetap mendapatkan ASI  sebagai cara untuk menurunkan risiko alergi makanan.


  3. Apa yang menyebabkan alergi makanan ASI pada bayi?

    Ada beberapa teori yang menjelaskan peningkatan alergi makanan pada anak. Beberapa peneliti menghubungkan antara makanan yang dianggap menyebabkan alergi (susu sapi, kacang, telur, kedelai) dan penggunaannya pada susu formula bayi serta vaksin. Teori ini antara lain:

    • Riwayat alergi dalam keluarga seperti asma dan eczema, bisa menjadi pemicu bayi untuk memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi makanan.

    • Bayi yang menyusu ASI dan menerima susu tambahan berupa susu formula (termasuk susu formula kedelai) bisa mempengaruhi reaksi alergi makanan pada bayi. Semakin kecil usia bayi ketika menerima susu formula, semakin besar juga kemungkinan bayi mengalami alergi makanan. Meski gejala alergi makanan tidak selalu terlihat pada paparan pertama, paparan yang selanjutnya biasanya bisa memicu alergi makanan pada si kecil. Kadang tambahan susu formula secara medis dibutuhkan bila bayi hanya mengalami sedikit kenaikan berat badan saat mendapatkan ASI atau punya tingkat penyakit kuning yang tinggi dan bahkan tidak tersedia donor ASI. Sebaiknya bersegeralah melakukan konsultasi agar dokter bisa membantu Ibu membuat keputusan yang tepat ketika anak mengalami gejala alergi makanan.

    • Vaksin yang memiliki kandungan yang bisa menyebabkan alergi makanan seperti protein susu, gelatin, telur, dan kedelai bisa membuat bayi sensitif dan menyebabkan alergi makanan ketika berulang kali terpapar.

    • Faktor seperti cara melahirkan, nutrisi, racun dan perubahan pada bakteri baik yang tinggal di tubuh bisa mempengaruhi kesehatan usus, bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja, dan respon terhadap penyebab alergi makanan.

  4. Bagaimana bila bahan pangan tertentu yang jadi penyebab alergi makanan?

    Bila Ibu mengira bayi bereaksi terhadap makanan tertentu, maka hindari makanan ini dari menu Ibu selama 2 sampai 3 minggu untuk melihat apakah gejala bayi membaik. Pantau apakah gejala bayi membaik dan tidak ada tanda-tanda alergi makanan. 

    Namun menghindari konsumsi satu makanan dari menu harian kurang dari 2 sampai 3 minggu bisa tidak efektif. Protein susu sapi misalnya, zat ini bisa tetap ada di tubuh ibu selama 1,5 sampai 2 minggu dan bisa butuh 1,5 sampai 2 minggu sebelum protein tersebut keluar dari tubuh bayi.

    Gejala alergi makanan pada bayi biasanya mulai membaik dalam waktu 5 hingga 7 hari setelah menghindari makanan yang menyebabkan masalah alergi makanan. Bayi mungkin tidak segera membaik, terutama bila ia menunjukkan reaksi alergi makanan yang telah menjadi bagian teratur pada menu ibu. Beberapa bayi kondisinya terlihat memburuk selama sekitar satu minggu sebelum gejala mulai membaik. Kadang butuh beberapa minggu untuk melihatnya sembuh dari alergi makanan.

    Satu cara untuk memastikan makanan yang menyebabkan alergi adalah dengan memberikan makanan yang sama pada bayi. Hal ini dapat membuat kita mengamati gejala yang nantinya ditunjukkan oleh bayi.  Semakin parah gejala awal alergi makanan pada bayi, semakin lama Ibu harus menunggu untuk menyertakan kembali makanan tersebut dalam menu Ibu. Namun jika reaksi alergi makanan terlihat sangat parah, sebaiknya jangan konsumsi kembali makanan tersebut sama sekali.

    Bila Ibu mencoba kembali asupan yang diduga membuat bayi alergi makanan dan bayi tidak menunjukkan reaksi yang sama seperti sebelumnya, maka bayi mungkin tidak sensitif terhadap makanan tersebut. Bila ia bereaksi sama, Ibu perlu membatasi atau menghindari makanan ini untuk sementara waktu, hingga bayi berusia lebih besar atau pada beberapa kasus hingga bayi disapih.

    Bila bayi hanya sedikit sensitif terhadap makanan tertentu, Ibu bisa membatasi jumlah yang Ibu makan, bukan menghindari sepenuhnya. Kebanyakan bayi kemungkinan tidak lagi sensitif terhadap makanan setelah ia berusia beberapa bulan hingga satu tahun, tapi ada beberapa kasus alergi makanan yang berlangsung dalam waktu yang lama. 

    Beberapa makanan lain yang kemungkinan juga menimbulkan alergi makanan pada bayi:

    • Makanan yang juga menimbulkan alergi dalam keluarga 

    • Makanan yang baru saja dimakan ibu dalam jumlah besar

    • Makanan yang baru pertama kali ibu makan

    • Makanan yang ibu tidak suka tapi dikonsumsi saat menyusui atau ketika hamil karena melihat manfaatnya bagi bayi

    • Makanan yang diinginkan ibu atau yang harus dimakan bila ibu merasa tidak mood.

    Kesadaran untuk suka dan tidak suka terhadap makanan bisa menjadi tanda kalau tubuh bereaksi dengan cara abnormal. Membuat jurnal makanan berisi makanan yang dimakan Ibu dan gejala yang ditunjukkan bayi, serta waktunya, bisa membantu Ibu mencari tahu makanan mana yang menimbulkan masalah alergi untuk si kecil.


  5. Penyebab alergi selain makanan

    Sebelum berasumsi bahwa bayi mengalami reaksi alergi makanan yang membuat Ibu ingin mengubah pola makan, sangat penting untuk mengetahui penyebab utamanya terlebih dulu. Beberapa hal yang bisa menyebabkan gejala alergi pada bayi ASI antara lain produksi ASI yang rendah, kelebihan laktosa karena ASI terlalu banyak, dan kondisi medis seperti gastro-oesophageal reflux, meski ini juga bisa terkait dengan alergi makanan atau intoleransi terhadap makanan, terutama terhadap susu sapi.

    Apakah bayi Ibu juga menunjukkan gejala alergi makanan lainnya, seperti ruam atau feses yang tidak wajar? Periksakan bayi ke dokter bila ada hal ganjil yang terjadi pada bayi. Bisa jadi ada masalah seperti infeksi telinga atau tenggorokan yang tidak ada hubungannya dengan pola makan Ibu.

    Bila ingin mengecek pola makan Ibu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah pola makan yang sedang Ibu jalankan, khususnya ketika Ibu menyusui. Ibu membutuhkan nutrisi cukup dan bila Ibu mulai menghindari makanan tertentu, Ibu perlu mengganti makanan yang dihindari dengan mengonsumsi makanan lain. Ahli gizi tentu sangat familiar dengan kasus intoleransi atau alergi makanan dan tentunya bisa membantu masalah ini.


  6. Alergi makanan dan intoleransi makanan

    Ada banyak jenis sensitivitas makanan pada bayi, termasuk alergi makanan dan intoleransi makanan. Istilah alergi biasanya merujuk pada reaksi yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Pada kasus ini, sebagian kecil penyebab alergi makanan justru bisa memicu reaksi besar pada anak.

    Jenis reaksi alergi makanan bisa terjadi dengan cepat setelah bayi disusui, seperti muntah atau ruam yang bisa terjadi berjam-jam atau hari. Dan biasanya, beberapa gejala alergi makanan seperti darah pada feses atau eczema juga terjadi pada bayi. Asupan paling umum yang menyebabkan reaksi alergi makanan dengan gejala seperti di atas adalah susu sapi, kedelai, telur, kacang, dan ikan.

    Sedangkan reaksi yang disebabkan oleh intoleransi makanan tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Dan biasanya, hal ini muncul secara  tertunda, mulai dari 24 sampai 48 jam atau lebih setelah bayi terpapar makanan. 

    Bayi dengan intoleransi makanan bereaksi terhadap zat kimia makanan yang ada di ASI. Alergi makanan tersebut berdasarkan pola makan ibu. Tak terkecuali zat tambahan serta zat kimia alami yang ditemukan pada beberapa bahan utama penyebab alergi makanan seperti produk susu, kedelai, dan biji-bijian.


  7. Gejala alergi yang umum pada bayi yang menyusu ASI

    Reaksi intoleransi makanan tidak melibatkan sistem kekebalan, tapi reaksi alergi bisa melibatkan sistem kekebalan tubuh dan gejala pada bayi yang menyusu ASI. Gejala alergi makanan atau intoleransi makanan umumnya berupa kolik atau gas di perut, gastro-oesophageal reflux, feses hijau dan berlendir, eczema. Beberapa bayi biasanya mengalami alergi makanan sekaligus intoleransi makanan.

    Gejala paling umum untuk alergi makanan pada bayi yang menyusu ASI antara lain terlihat di kulit (eczema) dan perut serta usus (misalnya ada darah di feses). Gejala alergi makanan lainnya bisa berupa:

    • Masalah kulit seperti kulit kering, cradle cap, ruam pada bokong, bengkak di kelopak mata atau bibir, pipi kemerahan, dan kulit terlihat pucat.

    • Masalah perut atau usus seperti refluks, nyeri perut atau diare, feses hijau, feses berdarahkonstipasi.

    • Masalah pernapasan misalnya gejala seperti flu, infeksi telinga, batuk terus-menerus, asma.
    • Gejala rewel, menangis, sulit menambah berat badan atau sulit tidur.

    Ibu, bisa jadi ada penyebab lain untuk gejala refluks, terbangun di malam hari, feses hijau atau rewel yang bisa saja tidak berhubungan dengan pola makan ibu atau alergi. Hal ini mungkin terjadi karena alergi makanan berdasarkan riwayat alergi dalam keluarga. Membahas gejala yang dialami bayi dengan dokter, tentu akan membantu Ibu menentukan penyebab dasar dari gejala alergi makanan yang ditunjukkan bayi.


  8. Memulai MPASI bila bayi alergi ASI

    Bila menemukan bayi bereaksi dan menunjukkan gejala alergi makanan terhadap asupan Ibu, Ibu perlu ekstra hati-hati ketika memperkenalkan MPASI. Reaksi setelah mengonsumsi makanan secara langsung bisa lebih serius dibanding ketika bayi bereaksi melalui ASI. Bila Ibu melihat adanya reaksi alergi, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum memberi asupan yang berisiko menimbulkan alergi makanan pada bayi.


  9. Apa yang dimaksud allergic proctocolitis?

    Allergic proctocolitis adalah respon peradangan usus besar terhadap protein tertentu dari makanan. Gejala utama dapat terlihat pada popok bayi yang ditandai dengan feses encer dan berlendir disertai darah segar. Bayi umumnya akan terlihat baik-baik saja, tapi kadang bayi akan  mengalami anemia atau tingkat albumin rendah pada darah atau gagal tumbuh.


  10. Penanganan untuk alergi ASI

    Cara pertama yang direkomendasikan untuk penanganan alergi ASI pada bayi adalah dengan membatasi makanan untuk menghindari makanan pemicu alergi. Ahli nutrisi biasanya akan membantu proses ini untuk memastikan bahwa Ibu senantiasa mendapatkan makanan sehat.

    Sebuah teori menyatakan bahwa menyembuhkan usus ibu dengan pola makan yang tepat bisa membantu bayi yang menyusu saat mengalami  intoleransi makanan dan alergi makanan. 

    Beberapa langkah berikut bisa diterapkan pada gejala ringan hingga menengah bila dengan menghindari makanan tertentu saja tidak membantu:

    • Mengatasi penyebab alergi makanan lain.

    • Menyusui bisa terus dilakukan dengan memonitor penambahan berat badan dan pertumbuhan bayi.

    • Perhatikan tingkat hemoglobin dan albumin bila terus ada darah yang terlihat di feses.

    • Gunakan enzim pankreatik untuk ibu. Dosis umumnya satu atau dua kapsul pada cemilan dan 2 hingga 4 pada makanan, bergantung pada gejala bayi.

    • Pada gejala yang parah berupa masalah pertumbuhan, penurunan tingkat hemoglobin, atau penurunan tingkat albumin, penggunaan susu formula hypoallergenic bisa dipertimbangkan, tapi harus ada referensi dari spesialis.

  11. Bagaimana mencegah alergi makanan pada bayi?

    Pencegahan alergi makanan jadi hal penting pada bayi yang berisiko tinggi dan memiliki keluarga dengan riwayat alergi makanan. Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain:

    • Ibu yang menyusui bisa terus mengonsumsi makanan yang jadi penyebab alergi makanan seperti produk susu, ikan, telur, dan kacang selama hamil dan menyusui.

    • Perkenalkan makanan padat pada bayi sambil terus menyusui untuk melihat apa saja asupan yang bisa berisiko menyebabkan alergi makanan pada anak

    • Sebagian ahli menganjurkan memperkenalkan makanan yang berpotensi sebabkan alergi makanan ke bayi setelah usia 6 bulan.

    • Tidak ada bukti kalau menggunakan susu formula terhidrolisis bisa mencegah alergi makanan dan masalah kesehatan seperti kesehatan tulang yang buruk yang terkait dengan penggunaan eksklusif susu formula tertentu.

  12. Bagaimana bila dokter menyarankan untuk berhenti menyusui?

    Beberapa dokter khawatir penerapan pola makan tertentu tidak sehat untuk ibu atau bayi dan menyarankan penggunaan susu formula tertentu sebagai pilihan yang lebih baik untuk keduanya. Tapi tidak ada bukti tertentu kalau susu formula buatan industri lebih baik untuk mencegah alergi dibanding menyusui eksklusif. Meski bisa sulit bila menghindari alergi makanan tertentu, dengan pengawasan yang seksama dan bantuan dari ahli nutrisi, Ibu bisa terapkan pola makan yang sehat dan ASI akan jadi lebih mudah dicerna  oleh bayi.


  13. Bila bayi membutuhkan tambahan makanan, jenis susu formula mana yang baik?

    Ada situasi di mana ibu menyusui membutuhkan suplemen untuk bayi yang mengalami alergi atau muncul situasi di mana gejala alergi bayi sangat parah dan susu formula khusus dibutuhkan. Susu formula ekstensif terhidrolisis sering jadi rekomendasi. Dan pada beberapa kasus, susu formula asam amino juga dibutuhkan.


  14. Bagaimana dengan susu formula berbahan dasar kedelai, susu sapi, atau susu domba?

    Susu formula kedelai, susu kambing, atau susu domba tidak dianjurkan, karena kebanyakan bayi akan menunjukkan reaksi alergi makananserupa terhadap kandungan proteinnya. Kedelai sendiri merupakan protein yang sangat tinggi yang sering menyebabkan reaksi alergi makanan.

(Ismawati & Yusrina / Dok. Unsplash)