Keluarga

15 Perasaan Bersalah Ibu dan Cara Mengatasi Minder

Terakhir diperbaharui

15 Perasaan Bersalah Ibu dan Cara Mengatasi Minder

Rasa bersalah atau minder yang dirasakan seorang ibu bisa muncul karena berbagai faktor, mulai dari seberapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama anak hingga jenis popok yang mereka gunakan. Tapi rasa bersalah atau minder dapat menjadi nilai positif selama tidak dianggap terlalu serius dan Ibu tahu cara mengatasi minder.

Rasa bersalah atau minder mampu menciptakan sebuah keseimbangan. Caranya adalah dengan mengontrol rasa bersalah atau minder tersebut ketimbang membiarkannya mengontrol Ibu. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang membuat Ibu merasa bersalah atau minder serta cara mengatasi minder.

 

1. Harus kembali bekerja

Situasi pekerjaan bisa menyebabkan perasaan bersalah ibu. Ibu merasa bersalah atau minder karena tidak ingin kembali bekerja tapi Ibu harus melakukannya, lalu Ibu merasa bersalah atau minder ketika meninggalkan anak karena pekerjaan.

 Bila Ibu mengalami hal ini, sebaiknya tunggu dan lihat yang terjadi. Apapun yang Ibu lakukan sekarang, baik bekerja atau tidak, tidak akan bersifat permanen. Bila Ibu merasa tidak cocok, Ibu bisa lakukan perubahan. Ini adalah cara mengatasi minder karena bekerja yang terbaik.

 

2. Tidak punya quality time bersama bayi

Baik pada ibu bekerja, ibu yang di rumah, atau ibu yang bekerja di rumah, sulit untuk menghindari perasaan bahwa ketika bersama anak, tiap momen harus berarti, menstimulasi, dan mengedukasi. Kadang quality time dan harapan orang tua di luar kontrol. Ada ibu yang merasa bersalah atau minder ketika meletakkan bayinya di ayunan.

Melakukan tugas penting bisa membuat Ibu merasa bersalah atau minder karena berarti jauh dari bayi. Ada ibu yang merasa bersalah atau minder karena harus melakukan tugas rumah. Karena anak tidak mau bermain sendiri, Ibu mungkin menyalakan TV agar bisa ke dapur untuk memasak atau mencuci pakaian. Cara mengatasi minder ini, sadari bahwa apa yang Ibu lakukan adalah untuk si kecil. Yakinlah bahwa Ibu mampu membagi waktu dengan baik, sehingga si kecil tetap bisa diperhatikan.

 

3. Tidak menjadi ibu yang sempurna

Perasaan bersalah ibu kadang muncul ketika keluarga harus sering makan di luar, bukan makan makanan rumahan yang bernutrisi buatannya sendiri. Sebagai ibu, sulit untuk tidak merasa bersalah atau minder karena kekurangan Ibu, seperti ketika Ibu tidak memasak, ketika rumah tidak rapi, dan ketika Ibu tidak punya cukup waktu bersama suami. Tapi ketika Ibu jadi lebih berpengalaman sebagai orang tua, akan lebih mudah untuk menjalani peran ini.

Lagi pula, Ibu juga perlu ingat, merasa bersalah atau minder tidak selalu jadi hal buruk. Perasaan bersalah ibu ketika batita terlalu banyak menonton TV membantunya untuk menilai dan lalu menguranginya. “Tiga jam sehari terlalu banyak untuk anak usia 2 tahun, saya harus cari cara untuk membuatnya terhibur dengan cara lain.”

Yang sulit adalah mengetahui apakah hal yang membuat Ibu stres adalah hal yang perlu Ibu ubah atau karena Ibu seorang yang perfeksionis. Di awal-awal menjadi ibu sangat penting untuk menjadi realistis, bila di akhir hari Ibu dan bayi tetap sehat dan bahagia, ini sebuah keberhasilan. Bila urusan cucian bisa selesai, itu sebuah bonus. Ketika Ibu  dan bayi tidur lebih teratur, hormon Ibu akan menyesuaikan dan lalu Ibu mulai bisa meningkatkan ekspektasi.

 

4. Cara mengatasi minder karena berteriak pada anak

Batita Ibu berisik sekali saat si adik bayinya baru saja tertidur. Spontan Ibu berteriak, “Kak, jangan berisik. Nanti adik kecil jadi bangun!” Ternyata teriakan Ibu terdengar lebih keras dari yang Ibu maksudkan. Si batita langsung terdiam dengan tatapan ketakutan.

Cara mengatasi minder ini, bersikaplah tenang Ibu, tidak ada seorang pun yang merasa nyaman saat terpaksa berteriak atau membentak anak mereka. Memang, berteriak pada anak merupakan penyebab rasa bersalah atau minder nomor satu bagi ibu. Ketika hal itu terjadi, coba perhatikan kembali perilaku Ibu sendiri. Apakah teriakan Ibu di luar kebiasaan? Apakah biasanya Ibu bersikap tenang? Jika ya, bebaskan rasa bersalah atau minder Ibu dan jadikan hal ini sebagai kesempatan belajar bagi Ibu dan si kecil. Bahkan orang tua yang paling tenang sekalipun bisa kehilangan kesabaran dan berteriak pada anak mereka.

Yakinkan anak Ibu bahwa semua baik-baik saja, dan jelaskan apa yang terjadi. Katakan “Kadang orang berteriak saat sedang marah. Tapi itu dapat menyakiti perasaan orang lain. Ibu minta maaf, ya Sayang. Seharusnya tadi Ibu bilang ‘tolong jangan berisik, adik sedang tidur.’"

Bila berteriak sudah merupakan kebiasaan, Ibu perlu mengambil tindakan untuk mengatur kemarahan dan mengurangi tingkat stres. Ibu dapat menemui konselor, membaca buku atau artikel terkait, atau mendapat bantuan dari forum ibu dan anak.

 

5. Kurang perhatian ke anak karena ada adik

Punya anak lagi menambah perasaan bersalah ibu. Ibu memberi perhatian lebih pada satu anak dibanding yang lain, terutama bila satu anak mengalami kolik sedang anak lainnya sehat, ini wajar tapi bisa membuat Ibu merasa seperti ibu paling buruk di dunia.

Lalu Ibu semakin merasa bersalah atau minder ketika tidak punya waktu untuk bermain bersama anak yang lebih kecil seperti dulu Ibu melakukannya pada anak pertama, bahkan sejak ia ada di kandungan. Ibu terlalu sibuk dengan anak pertama hingga bahkan tidak sempat menghitung gerakan bayi yang ada di kandungan Ibu. Lalu setelah ia lahir, Ibu tidak langsung merasakan kedekatan dengannya seperti yang Ibu rasakan pada anak pertama. Kembali, Ibu merasa sebagai ibu yang tidak baik.

Ibu juga bisa dengan mudah merasa bersalah atau minder karena tidak bisa memberi perhatian tak terbagi pada anak yang lebih besar. Ibu sibuk menyusui si kecil dan tidak bisa  menggendong anak yang lebih besar karena menjalani operasi caesar. Tentu kondisi ini tidak berlangsung selamanya, dan meluangkan waktu untuk melakukan hal istimewa bersama anak yang lebih besar bisa membuat Ibu merasa lebih baik.

Tapi memiliki anak lagi juga jadi kesempatan untuk pasangan Ibu menjadi lebih dekat dengan buah hatinya. Ibu mungkin tidak bisa melakukan aktivitas yang disenangi anak yang lebih besar seperti mengayun tubuhnya, tapi pasangan Ibu bisa melakukannya dan ini memperkuat jalinan kedekatan ayah dan anak.

 

6. Menjadikan televisi atau gadget sebagai babysitter

Saat pekerjaan rumah menumpuk, Ibu terpaksa mendudukkan si kecil di depan televisi. Memang disarankan anak di bawah usia dua tahun tidak boleh menonton televisi. Jadi seharusnya tak ada lagi pemutaran DVD saat Ibu berada di kamar mandi atau menidurkan anak sambil menonton kartun. Rekomendasi ini menjadi pemicu kepanikan Ibu. Tapi bukan Ibu sendirian yang melanggar aturan ini.

Kenyataannya hanya 10 persen saja ibu yang sepenuhnya melarang anak batitanya menonton televisi. Sebesar 67 persen menganggapnya tak masalah membiarkan anak menonton beberapa program televisi, dan 69 persen ibu membiarkan anaknya menonton televisi. Tapi sebanyak 26 persen ibu berbohong tentang berapa lama anak mereka berada di depan televisi.

Sebenarnya televisi tidaklah sebegitu jahat. Penggunaan acara pada televisi sebagai hiburan sudahlah tepat. Kuncinya adalah tidak berlebihan. Bila anak Ibu di bawah umur dua tahun, gunakanlah waktu minimum dalam menonton televisi. Beri jeda selama 15 menit.

Tonton acara televisi bersama anak, dan pilih acara yang sesuai. Jika ia bertambah besar, perhatikan dan taati panduan menonton televisi bagi anak prasekolah. Lalu, bersikap tenang dan buang jauh rasa bersalah atau minder Ibu.

 

7. Merasa tidak suka menjadi ibu

Gambaran ibu di pikiran kita adalah sosok yang selalu perhatian dan ada ketika dibutuhkan, dan sulit untuk memenuhi hal ini. Meski Ibu sangat mencintai si kecil, Ibu tidak selalu suka dengan banyaknya hal yang harus dikerjakan untuk merawatnya. Perasaan bersalah ibu muncul ketika ia hanya senang menjadi ibu ketika melihat bayinya tertidur pulas.

Pemikiran kalau hidup Ibu hanya seputar bayi bisa menimbulkan rasa bersalah atau minder ketika Ibu pergi keluar bersama pasangan atau melakukan sesuatu untuk kesenangan diri sendiri. Ibu merasa bersalah atau minder ketika pergi ke salon untuk merawat diri. Padahal ketika Ibu melakukan sesuatu untuk kesenangan diri sendiri, Ibu bisa kembali ke rumah dengan suasana hati yang lebih baik, Ibu jadi lebih bahagia bertemu anak.

 

8. Memberi susu formula

Saat menyodorkan botol susu pada bayi Ibu yang sedang menangis, Ibu tersadar banyak mata yang memberikan tatapan aneh. Ternyata tatapan itu berasal dari para ibu yang memberi ASI eksklusif bagi anaknya. Ibu langsung merasa bersalah atau minder. Lalu menganggap diri sendiri sebagai satu-satunya ibu yang memberikan susu formula di muka bumi.

Hal itu tidak benar, kok, Bun. Banyak ibu yang mengandalkan susu formula sebagai suplemen atau pengganti ASI dengan alasan keterbatasan ASI, masalah pelekatan, kembali bekerja, atau sebab lain. Sebuah polling menunjukkan 79 persen ibu yang berhenti menyusui mengatakan mereka merasa bersalah atau minder. Akhirnya mereka beralih ke susu formula meski dengan perasaan tidak nyaman karena menyadari ASI adalah yang terbaik.

Bila Ibu harus berhenti menyusui sebelum waktunya, boleh saja merasa bersalah atau minder. Tapi Ibu harus menerima bahwa apa yang Ibu lakukan adalah yang terbaik. ASI memang yang terbaik tapi susu maupun makanan formula juga mengandung gizi. Hal terpenting yang dapat Ibu lakukan untuk bayi Ibu adalah dengan menjadi ibu yang bahagia. Dan jika itu berarti tanpa menyusui, maka itulah yang terbaik untuk Ibu dan keluarga.

 

9. Mengabaikan anak

Tiap ibu di luar sana pernah sesekali cuek terhadap tangisan dan tantrum anak. Kita semua pernah mengalami ini, meninggalkan anak di kamarnya. Menjaga jarak dari anak di kondisi ini akan berguna juga bagi anak nantinya.

Mengabaikan anak mengajarkan mereka kalau cara kontrol mereka tidak berhasil sekaligus juga menurunkan ketergantungannya pada Ibu. Dengan mengabaikan anak sebentar, Ibu bisa istirahat sejenak. Dan mengabaikan anak tidak selalu buruk bukan? Memang sulit untuk menyangkal perasaan bersalah ibu ketika melakukan ini. Tapi sesekali tak apa Ibu, anak-anak akan baik-baik saja.

 

10. Cara Mengatasi Minder Karena Memberi junk food untuk anak

Memang ada beberapa anak yang tak pernah mengenal ayam atau kentang goreng dari rumah makan siap saji yang terkenal. Mungkin dulunya Ibu juga seperti itu. Well, Ibu tidak sendirian, Bun. Sebanyak 76 persen orang tua mengatakan bahwa mereka membeli junk food beberapa kali dalam sebulan. Kadang kita lupa bahwa junk food bukanlah makanan beracun meski nutrisinya sangat sedikit. Seperti halnya dengan menonton televisi, kuncinya adalah tidak berlebihan serta pilihan yang cerdas.

Mengonsumsi fast food sebanyak dua kali seminggu tidaklah mengapa selama Ibu memilih yang rendah lemak. Coba buat perubahan bila keluarga Ibu sering sekali membeli fast food daripada memasak makanan sendiri di rumah.

Ibu sebenarnya bisa menyajikan makanan sehat tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di dapur.  Coba saja beli ayam yang siap dipanggang, atau potongan daging sapi yang siap Ibu olah di dapur. Jika Ibu membawa si kecil ke rumah makan siap saji, pastikan mereka tahu bahwa fast food hanyalah makanan yang sesekali saja disantap.

 

11. Melatih anak tidur sendiri

Satu hal paling sulit untuk ibu adalah melatih bayi untuk tidur sendiri di tempat tidurnya.  Melatih bayi tidur sendiri butuh kesabaran, dan ketika ini berhasil Ibu akan memuji usaha Ibu ini.

Setelah bayi Ibu terlatih untuk tidur sendiri, berarti Ibu bisa tidur lebih tenang. Ibu merasa sedih karena tidak bisa menggendongnya serta menenangkan tangisannya dengan ciuman dan pelukan. Ibu merasa bersalah atau minder harus meletakkan bayi di tempat tidurnya dan meninggalkannya di kamar sendirian. Setelah ia beranjak besar, ia tidak akan mengingat hal ini, jadi buat kamarnya senyaman mungkin, nyalakan lampu dengan cahaya temaram, bila perlu Ibu bisa nyalakan musik lembut dan biarkan si kecil terlelap di kamarnya sendiri.

 

12. Meninggalkan si kecil di tempat penitipan anak

Ibu menitipkan si kecil di tempat penitipan anak atau daycare dan tampaknya ia baik-baik saja, tapi Ibu sangat merasa bersalah atau minder. Air mata berjatuhan membasahi pipi saat Ibu memberinya kecupan selamat tinggal. Lalu Ibu menuju tempat kerja dengan perasaan campur aduk. Tidak perlu seperti itu, Bun. Ibu bekerja memang harus berjuang melawan rasa bersalah atau minder macam ini terutama saat mereka harus kembali ke kantor.

Ibu bekerja kadang merasa tidak nyaman karena menginginkan untuk kembali bekerja. Bila Ibu dalam posisi ini, ketahuilah bahwa kini tempat penitipan anak juga mendukung keterampilan kognitif, bahasa, dan sosial. Kurangi rasa bersalah atau minder Ibu dengan  memilih tempat penitipan atau pengasuh yang terbaik. Untuk mempermudah proses peralihan, akrabkan diri dengan tempat penitipan anak sebelum Ibu kembali bekerja. Berlatihlah, mungkin dengan cara meninggalkan anak Ibu di sana beberapa jam.

Hindari juga perang dingin antara ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Tinggalkan semua komentar yang menghakimi yang mungkin Ibu terima. Ingatlah, Ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan penting. Ibu harus tahu bahwa apa yang Ibu lakukan adalah yang terbaik bagi keluarga, baik itu bekerja untuk mendapatkan uang atau demi membuat Ibu merasa bahagia.

 

13. Tidak memandikan anak

Memandikan anak tidak selalu penuh tawa dan gelembung sabun seperti yang Ibu lihat di gambar majalah. Kadang waktu memandikan anak jadi penuh perlawanan. Bila anak masih usia newborn, waktu mandi bisa membuat cemas para orang tua baru. Karenanya tak masalah sesekali meninggalkan tugas ini demi menjaga kewarasan Ibu di rumah, kecuali bila tubuh si kecil penuh dengan kotoran atau muntah.

Hal penting yang Ibu perlu ingat, ketika anak kotor dan tidur bersama remahan makanan tidak akan membuatnya terbangun atau jadi sakit. Esok hari jadi kesempatan berikutnya untuk memandikan si kecil.

 

14. Cara Mengatasi Minder Saat Kumpul bersama teman-teman

Hanya karena Ibu seorang ibu tidak berarti Ibu tidak lagi berteman dan bersosialisasi. Sangat penting untuk merasa sebagai manusia normal. Bertemu teman berarti terhubung dengan orang lain dalam hidup Ibu. Meski berkali-kali Ibu menyadari pentingnya hal ini, pada akhirnya perasaan bersalah ibu tetap muncul. Tega sekali Ibu kumpul bersama teman sementara si kecil menangis tidak bisa tidur karena mencari-cari Ibu. Kenapa Ibu bisa begitu egois? Meluangkan waktu dari tugas ibu selama beberapa jam tidak akan membahayakan bayi Ibu. Pergilah ke kafe, nikmati secangkir kopi dan obrolan ringan bersama teman. Ibu layak mendapatkannya.

 

15. Tidak ramah lingkungan

Kantong sampah Ibu berisi banyak sekali popok bekas pakai si kecil dan styrofoam sisa wadah makanan, sedangkan tetangga Ibu menggunakan popok kain yang sangat ramah lingkungan. Hmmm, sepertinya memang tidak semudah ungkapan kata untuk bisa “go green”. Keberadaan popok  sekali pakai, botol minuman, atau tissue basah sangat membantu di saat kita kerepotan dengan urusan rumah. Memiliki anak kecil juga biasanya mengakibatkan konsumsi air, listrik, dan gas meningkat.

Tapi sebenarnya membesarkan anak juga bisa membuat kita tersadar akan dampak perilaku kita terhadap bumi ini. Sebesar 47 persen orang tua lebih peduli terhadap lingkungan sejak memiliki anak. Sebesar 55 persen benar-benar dan sangat peduli tentang masalah lingkungan. Lagi pula, kita menginginkan bumi dalam kondisi baik bagi anak-anak kita kan?

Mungkin sulit bagi Ibu untuk menggunakan transportasi umum, beralih ke popok kain, atau menyingkirkan semua alat dapur yang tidak ramah lingkungan. Fokus saja pada apa yang dapat Ibu lakukan. Coba cabut kabel peralatan dapur saat tidak digunakan. Gunakan lampu hemat energi sebagai penerangan di rumah, serta hal mudah lainnya. Tak usah terlalu khawatir dengan tetangga Ibu yang sangat “go green.” Lain waktu mungkin mereka yang perlu belajar dari Ibu.

 

(Ismawati, Yusrina / Dok. Pexels