Keluarga

7 Tantangan Besar Menjalani Peran Ayah Baru

Dwi
7 Tantangan Besar Menjalani Peran Ayah Baru

Saat si kecil lahir, menjalani peran ayah tentu sama beratnya dengan menjalani peran sebagai ibu baru. Sama halnya dengan Ibu, Ayah juga memerlukan tekad kuat dan tidak berhenti belajar seputar mengasuh anak serta menjaga keharmonisan keluarga.

Melansir dari laman Essensial Baby, seorang project manajer di organisasi kesehatan mental ternama di Australia “Beyond Blue”, Dr. Martin Luke, memaparkan hasil risetnya bahwa: 1 dari 10 ayah mengalami stres dalam menjalani peran ayah baru, dan 1 dari 7 di antaranya mengalami tingkat stres akut. Ini membuktikan bahwa menjalani peran ayah bukanlah perkara sepele. Banyak tantangan dan masalah baru yang sangat berpotensi membuat ayah mengalami depresi.

Yuk, kita simak beberapa tantangan selama menjalani peran ayah baru yang jamak ditemui dan apa saja yang bisa ayah lakukan untuk mengatasinya:

  1. From Zero to Hero

    Tantangan mendasar yang dialami oleh New Dad biasanya meliputi cara merawat bayi baru lahir, mulai dari menggendong, memandikan, menyuapi, hingga pembentukan karakter anak. Di samping itu, peran ayah dibutuhkan untuk selalu mendampingi dan mendukung ibu terutama selama masa pasca melahirkan. Sama seperti Ibu, seorang ayah juga lahir bersama tangis pertama bayi yang dilahirkan ke dunia. Menjalani peran ayah baru pun ternyata perlu belajar dari nol hingga nanti menjadi ksatria pertama untuk si kecil. Terkadang, tantangan menjalani peran ayah ini juga bisa memicu stres pada ayah. Eits, jangan khawatir. Ayah bisa menerapkan hal di bawah ini:

    • Sejak merencanakan kehamilan bersama Ibu, Ayah bisa mulai belajar cara merawat dan mendidik anak dari berbagai referensi. Misalnya konsultasi kepada dokter dan psikolog, membaca buku, bertanya pada orang tua atau teman yang lebih berpengalaman, bahkan informasi bermanfaat juga bisa diakses secara online lho.

    • Berbagi peran dan tanggung jawab dengan ibu juga bisa mengurangi beban. Tugas di kantor dan kesibukan di rumah jadi lebih ringan jika dikerjakan bersama.

    • Jangan takut melakukan kesalahan selama ayah bertindak sesuai fakta ilmiah dan yakinlah bahwa ayah bisa memberikan yang terbaik untuk anak.

  2. Menghadapi Serangan Dad Shaming

    Sering kita dengar fenomena Mom-Shaming yang menyerang para ibu berkenaan dengan pilihan proses persalinan, ASI dan MPASI, hingga pola asuh yang berbeda-beda. Ternyata komentar menghakimi atau meremehkan yang mengganggu ibu juga dialami oleh para ayah lho. Perilaku Dad-Shaming ini bisa berupa kritik, komentar miring, bahkan celaan atas pola asuh atau pola didik yang ayah terapkan. Tidak jarang, Dad-Shaming ini berdampak pada penurunan kepercayaan diri ayah dan justru membuat ayah khawatir melakukan kesalahan dalam mengemban peran ayah baru.

    Tenang dulu, Ayah! Yang perlu dilakukan adalah fokus pada perbaikan diri dan menerima kritik hanya jika bermanfaat. Teguhkan hati agar tidak mudah baper diserang cercaan dan penghakiman selama pola asuh yang telah disepakati bersama ibu. Selektif dalam memilih teman berbagi seputar parenting juga perlu lho, agar ayah tidak mudah depresi dan selalu mendapat dukungan positif dalam menjalani peran ayah. Selebihnya, ayah harus yakin bahwa ayahlah yang paling mengerti sifat dan kebutuhan si kecil.

  3. Kebutuhan dan Pengeluaran Bertambah

    Salah satu pemicu stres yang kerap dialami oleh orang tua adalah masalah keuangan keluarga. Karena peran ayah biasanya sebagai pencari nafkah, maka tak heran bila Ayah yang paling banyak memikirkan masalah keuangan ini. Seiring meningkatnya kebutuhan keluarga, bertambah pula pengeluaran. Ayah bisa bekerja sama dengan ibu dalam mengatur ulang keuangan keluarga.

    • Dahulukan pengeluaran utama seperti kebutuhan anak, belanja harian, cicilan, dana kesehatan, dan tabungan. Kemudian ayah bisa menyimpan sisanya untuk kebutuhan sekunder seperti dana pensiun, tabungan rekreasi, dan pundi-pundi lainnya. 

    • Apabila diperlukan, Ayah dan Ibu bisa membuat bisnis kecil-kecilan atau melakukan pekerjaan sampingan yang tidak merepotkan namun bisa memberi penghasilan tambahan. 

    • Mencatat setiap pengeluaran bulanan juga sangat bermanfaat lho! Selain membantu mengingat detail pengeluaran, juga bisa menjadi sarana refleksi dan koreksi untuk pengeluaran di bulan berikutnya.

  4. Waktu Bergerak Terlalu Cepat

    Setelah resmi menjalankan peran ayah, seringkali waktu 24 jam terasa kurang untuk mengerjakan segala hal. Bahkan terkadang Ayah juga mengalami hal yang sama seperti Ibu, yaitu kurang tidur. Apabila Ayah bekerja di kantor selama seminggu penuh, akan terasa betapa sedikit waktu yang dimiliki untuk keluarga. Jika demikian, maka berikut hal yang bisa ayah lakukan untuk menggunakan waktu dengan efisien dalam menjalani peran ayah dengan baik:

    • Ayah dan ibu harus bekerja sama membiasakan aktivitas terjadwal agar memudahkan manajemen waktu.

    • Keteraturan dan rutinitas akan mempermudah keseharian Ayah dalam menikmati setiap detik yang dilalui bersama keluarga.

    • Jika pada hari kerja seorang ayah lebih banyak di kantor, akhir pekan bisa jadi jalan alternatif untuk meningkatkan kualitas kebersamaan dengan keluarga. “Weekend bersama Ayah” akan jadi momen yang selalu ditunggu. Tidak harus bepergian jauh, kegiatan kecil dan bermakna seperti berenang bersama dan mendampingi seharian juga bisa sangat berkesan untuk anak.

  5. Memahami Ibu

    Sebagai pasangan yang egaliter, saling pengertian dan berbagi tugas sangat penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Peran Ayah dan peran Ibu sebaiknya disepakati dengan jelas sejak awal menikah. Salah satu tantangan pelik yang dihadapi ayah adalah kesulitan dalam memahami ibu dan kesalahpahaman yang menyertainya. Tak jarang, hal ini bisa memicu masalah rumah tangga yang serius. Tapi, ternyata ada kok upaya-upaya yang bisa ayah lakukan untuk mengurangi risiko berselisih paham dengan ibu.

    • Selalu sediakan waktu khusus untuk quality time bersama ibu. Bisa dengan menonton film berdua saat anak terlelap, sekadar menikmati pelukan tanpa suara, hingga berhubungan intim dengan mencoba variasi baru. Lakukan hal-hal menyenangkan yang membuat ayah dan ibu lebih rileks dan bahagia.

    • Melontarkan unek-unek juga tidak dilarang lho! Tentu saja perlu mencari waktu yang tepat dan cara yang baik agar bisa diresapi dan didiskusikan dengan kepala dingin.

    • Beri pujian dan sesekali kejutan untuk ibu agar api cinta selalu menghangatkan.

  6. Menjadi Teladan Anak

    Jika ayah pernah merasa khawatir apakah sudah menjadi teladan cukup baik untuk si kecil, maka beruntunglah si kecil karena dia memiliki ayah yang selalu mengupayakan yang terbaik untuk anaknya. Menjadi teladan bagi anak memang bukan perkara mudah. Apalagi anak lebih cepat meniru sifat dan perilaku yang dia amati langsung, bukan yang didiktekan. Lalu, bagaimana sebaiknya peran ayah dalam memberi teladan yang baik untuk anak?

    • Ayah bisa mulai dengan memperbaiki diri menjadi pribadi lebih baik dan menjalani peran ayah dengan penuh tanggung jawab. Mengaplikasikan perilaku yang ingin dimiliki anak kepada diri sendiri. Jika ayah ingin anak selalu membuang sampah pada tempatnya, maka ayah harus menerapkannya pada diri ayah sendiri terlebih dahulu. Sehingga anak akan meniru dan lama-kelaman menjadi terbiasa.

    • Ayah tidak perlu malu meminta maaf jika melakukan kesalahan. Justru dengan begitu, anak akan belajar berani dan bertanggung jawab atas setiap perilakunya.

    • Tak kalah penting, menjadi teladan anak adalah tentang menjadi diri sendiri. Karena anak yang baik tumbuh bersama orangtua yang baik pula.

  7. Menata Hati dan Pikiran 

    Tidak dapat dimungkiri, dalam menjalani peran ayah, tentu akan ada hari-hari penuh kekecewaan dan melelahkan. Pekerjaan yang semakin banyak, kebutuhan yang meningkat pesat, hingga diserang migrain karena tidak cukup tidur, dan lainnya. Hal tersebut tentu bisa membuat ayah frustrasi, tetapi juga sangat wajar terjadi. Berlarut-larut dalam kesedihan tidak akan menyelesaikan apa pun. Ayah harus bangkit dan mengatasinya. Beberapa hal yang bisa Ayah coba di antaranya:

    • Buat kesepakatan dengan ibu soal “me time”. Jangan lupa, ibu juga perlu me time, lho. Jika ayah ingin ikut turnamen futsal dengan teman kantor, atau sesekali ingin nongkrong di warung kopi bersama teman semasa kuliah hingga menjelang tengah malam, bicarakan baik-baik bersama ibu dengan mempertimbangkan waktu dan peran ayah yang utama dalam urusan keluarga.

    • Berterima kasih serta berdamai dengan diri sendiri merupakan hal terpenting untuk menjaga kejernihan pikiran. Karena perjalanan menjadi ayah terbaik masih sangat panjang. Ayah harus senantiasa tegar dan tidak berputus asa.

Ingatlah bahwa proses menjadi ayah adalah lifetime learning. Sehingga peran ayah bukanlah menjadi sempurna, tetapi terus berjuang yang terbaik untuk menjadi ayah andalan keluarga!

Penulis: Dwi Ratih