Keluarga Dibaca 250 kali

11 Karakter Orang yang Dapat Menjadi Teman Ibu

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur

Terakhir diperbaharui 30 September, 2019 10:09

11 Karakter Orang yang Dapat Menjadi Teman Ibu

Saat remaja dulu, tentu Ibu memiliki kelompok pertemanan yang biasa disebut geng. Layaknya film Ada Apa Dengan Cinta? yang sempat populer saat orang tua milenial masih berseragam putih abu-abu, teman-teman dalam geng Ibu pun memiliki sejumlah karakter khas masing-masing. Si populer, si tomboy, si kutu buku, ataupun si kocak menjadi karakter orang yang mampu mewakili berbagai sifat yang umumnya dimiliki oleh remaja dalam kelompok pertemanan.

Kini, keadaannya ternyata tidak jauh berbeda. Ibu menjalin pertemanan dengan sesama ibu yang memiliki berbagai macam sifat dan pembawaan. Pertemanan ini dapat terjalin karena memiliki kesamaan, seperti anak bersekolah di tempat yang sama, satu komplek perumahan, satu gym, dan bisa juga berasal dari interaksi di dunia maya. Yang awalnya hanya saling follow akun Instagram, berbalas komentar, lanjut direct message, kemudian menjadi teman. Yang awalnya mengikuti kuliah WhatsApp parenting, lanjut berbagi cerita dan curhat di grup WhatsApp setelah materi selesai, lalu menjadi teman. 

Uniknya, dari pertemanan semacam ini, Ibu dapat menemui berbagai macam karakter orang yang mampu menggambarkan sifat para ibu (ya, khusus ibu) yang belum pernah ibu temui sebelumnya. Meskipun karakter tersebut tidak berasal dari cabang ilmu formal, namun penggambarannya mampu mewakili karakter orang yang berteman dengan Ibu. Manfaatnya, apalagi kalau bukan mencari teman yang cocok dan menghindari konflik dengan ibu lain yang ternyata tidak sepaham. Penasaran apa saja karakter orang yang dapat menjadi teman Ibu? Simak penjelasan berikut!

1. Ibu Peduli Gizi

Jika ibu baru saja memasuki dunia per-MPASI-an, alias Makanan Pendamping ASI, berteman dengan Ibu Peduli Gizi tidak akan membuat Ibu clueless tentang menu MPASI sehat yang harus disiapkan. Ibu jenis ini tidak hanya jago memasak, namun juga rajin mencari informasi tentang kandungan gizi setiap bahan makanan, umur berapa makanan tersebut boleh disajikan untuk anak, bagaimana cara mengolah yang tepat agar gizinya tidak berkurang, serta tips dan trik yang dapat dilakukan untuk tetap memberikan makanan sehat di tengah padatnya kesibukan.

Karakter orang seperti ini biasanya perfeksionis, kreatif, tekun, dan pantang menyerah. Bagaimana tidak, mulai dari browsing menu, mencari bahan, mengolah, menyuapi, semua dilakukan sendiri. Repot tidak masalah, selama makanan anak terjamin nutrisinya dan higienis. Tanyakan pada Ibu Peduli Gizi tentang istilah-istilah seputar MPASI, dari EVOO, menu 5 bintang, sampai BLW. Ia pasti bisa menjelaskannya dengan fasih. Tidak lupa, merk-merk makanan bayi organik dari dalam dan luar negeri serta peralatan makan branded yang aman bagi bayi, ibu tipe ini hafal di luar kepala.

Yang bisa dicontoh dari Ibu Peduli Gizi adalah kekuatan tekadnya untuk memberikan hanya yang terbaik bagi ananda. Ia sadar betul bahwa nutrisi yang sempurna pada 1000 hari pertama kehidupan anak akan mempengaruhi kesehatan dan kecerdasannya di masa depan. Karakter orang seperti ini mungkin terkesan tidak fleksibel, apalagi jika lingkungan sosial tidak mampu mengikuti standar gizi yang ditetapkan Si Ibu. Pesta ulang tahun dengan sajian donat bertabur krim, goodie bag dengan makanan kemasan kaya vetsin, serta minuman tinggi gula bisa membuatnya urung menghadiri pesta. Atau, pilihan lain adalah melakukan briefing pada anak jauh-jauh hari sebelumnya untuk tidak makan junk food yang disajikan di pesta ulang tahun. 

2. Ibu Dokter Otodidak

Dengan tersedianya sumber informasi melalui internet, masalah kesehatan kini tidak harus berakhir di ruang praktik dokter. Ibu Dokter Otodidak mau berusaha ekstra untuk mencari informasi kesehatan secara otodidak/mandiri, membandingkan berbagai macam sumber untuk mencari yang paling valid, mengujinya melalui pengalaman pribadinya, serta hasil bertanya langsung pada dokter anak. Prinsip yang ia pegang adalah, jika bisa ditangani sendiri, mengapa harus pergi ke dokter? Apalagi, karakter orang seperti ini tidak mudah percaya orang lain kecuali ada fakta-fakta yang mendukung. Ibu dengan tipe ini terkadang meragukan hasil diagnosis dokter jika tidak sesuai dengan referensi yang ia percaya. Karenanya, ia biasanya hanya memiliki satu atau dua dokter kepercayaan. 

Jika ibu berteman dengan Ibu Dokter Otodidak, ibu bisa bertanya seputar keluhan kesehatan ringan yang dialami anak maupun anggota keluarga yang lain. Karakter orang Indonesia yang banyak bergantung pada dokter dan obat untuk mengatasi keluhan ringan membuat Ibu Dokter Otodidak menjadi rujukan alternatif tanpa harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah. Di negara barat, rata-rata ibu sudah mengerti fungsi dari berbagai jenis obat yang biasa diberikan pada anggota keluarganya, sementara di Indonesia masih banyak orang mengingat merk daripada kandungan dan dosis yang tepat sesuai usia anak.

3. Ibu Disiplin

Ibu ini disebut juga Ibu Tipe A. Segala hal yang dilakukannya berdasarkan jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Ibu Disiplin seolah menjadi contoh bahwa seorang ibu memang pakarnya multitasking dan tidak ada hal yang tidak mungkin jika direncanakan dengan baik. Ibu Disiplin tidak harus seorang ibu bekerja. Ibu rumah tangga pun memerlukan kedisiplinan agar semua tugas domestik terselesaikan, pengasuhan anak tetap berjalan baik, dan tetap eksis di pergaulan. 

Ibu Disiplin memulai hari berbekal to-do-list yang telah dibuat malam sebelumnya: pagi beribadah, olahraga, menyiapkan sarapan sesuai dengan menu yang telah dijadwalkan, membangunkan anak, mengantar sekolah kakak dan adik, rapat dengan panitia pentas akhir tahun sekolah anak, menjemput anak, mampir supermarket untuk berbelanja (sesuai daftar belanjaan yang telah dibuat), dan seterusnya. Sejumlah Ibu Disiplin menyertakan kolom waktu dalam jadwalnya, agar mampu memperkirakan jam berapa ia harus mulai kegiatan. Bagi ibu tipe ini, kebahagiaannya adalah ketika semua berjalan seperti yang ia rencanakan. 

Berteman dengan karakter orang seperti ini membuat Ibu tertular menjadi disiplin, setidaknya ibu tidak akan terlambat ketika memiliki janji dengannya. Ibu Disiplin juga dapat memberi inspirasi bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin jika memiliki manajemen waktu yang bagus.

4. Ibu Yang Penting Happy

Yang penting happy adalah prinsip dari ibu tipe ini. Ia tidak akan memaksakan diri melakukan sesuatu dengan standar tertentu jika hal tersebut membuatnya stres. Tidak sempat masak? Beli makanan jadi saja. Rumah selalu berantakan karena anak masih kecil? Tidak masalah. Orang lain pasti paham yang namanya punya anak kecil pasti seperti ini. Mertua selalu mengkritisi gaya pengasuhannya? Senyumin aja. Mendapat tugas membuat kostum dari sampah anorganik? Gunting tas kresek ukuran besar hingga menjadi rompi. Simpel kan? Ibu ini tidak peduli jika ibu-ibu lain all out dengan kostum anak mereka, yang penting kostum anaknya jadi. Terkena macet hingga anak terlambat sekolah? Ibu Yang Penting Happy tidak akan bersungut apalagi ngomel. Ia akan memutar musik atau mengajak anaknya ngobrol, untuk mengalihkan emosi negatif yang muncul.

Karakter orang seperti ini biasanya tenang, karena ia paham bahwa meratapi ekspektasi yang tidak tercapai tidak ada gunanya. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Bukan berarti ia tidak punya ekspektasi terhadap kehidupan rumah tangga dan anak-anaknya, hanya saja semua harapan tersebut ia sesuaikan dengan kemampuannya saat itu. 

Berteman dengan Ibu Yang Penting Happy akan membuat Ibu tertular energi positifnya. Ia tidak segan menawarkan Ibu untuk mampir ke rumahnya meskipun berantakan, hanya agar Ibu bisa sedikit bersantai saat anak-anak bermain bersama. Darinya, Ibu belajar bahwa menjadi ibu tidak harus sempurna dan kebahagiaan itu tergantung dari bagaimana kita menciptakannya.

5. Ibu Aktivis Sekolahan

Di antara sekian banyak orang tua murid di sekolah anak, pasti ada satu dua ibu yang selalu bersemangat untuk mengurusi kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Ia tidak keberatan dimintai tolong oleh pihak sekolah untuk mengkoordinir orang tua murid lainnya. Di saat orang tua lain berusaha untuk tidak datang saat pemilihan pengurus komite sekolah, Ibu Aktivis Sekolahan dengan senang hati mengajukan diri. 

Menjadi pengurus di organisasi dan komunitas yang berhubungan dengan sekolah anak mampu membuatnya merasa berdaya dan memiliki peran, selain juga ingin meningkatkan performa kelas anaknya secara khusus atau prestasi sekolah secara umum. Berurusan dengan berbagai macam karakter orang menjadi salah satu keahlian ibu tipe ini, biasanya karena saat muda dulu sudah terasah dengan mengikuti berbagai organisasi.

Berteman dengan Ibu Aktivis Sekolahan sebetulnya banyak manfaatnya karena banyak informasi seputar kegiatan anak di sekolah yang bisa Ibu dapat. Namun, Ibu Aktivis Sekolahan juga tidak segan berulang kali mengingatkan orang tua lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, membujuk, bahkan sedikit memaksa. Karakter orang ambisius ada sedikit di dalam ibu tipe ini. Yang penting, acara yang ia jalankan berlangsung sukses.

6. Ibu Sibuk

Memastikan anak berada di sekolah yang tepat dan support system yang dapat dipercaya merupakan salah satu prinsip ibu sibuk. Biasanya, jadwal pekerjaan yang padat membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu anak secara langsung. Karenanya, Ibu Sibuk memanfaatkan teknologi komunikasi semaksimal mungkin untuk berkomunikasi dengan anak dan pantang membuat janji di akhir pekan karena hanya weekend lah ia dapat menghabiskan quality time dengan keluarga.

Jika berteman dengan Ibu Sibuk, bersiaplah untuk menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan seputar informasi terkini di sekolah anak, tawarkan bantuan jika ada tugas yang menuntut partisipasi orang tua, dan ajaklah ia untuk bergabung bersama komunitas yang ada di sekolah, meskipun hanya arisan atau sesekali playdate.

Ibu Sibuk mungkin tidak punya waktu (bahkan pada saat pentas anak atau terima rapor sekalipun!) untuk bersosialisasi di luar lingkup pekerjaannya, karenanya mengajaknya terlebih dahulu akan membuatnya merasa dihargai. Oh ya, karena waktu sangat berharga baginya, maklumi saja jika ia hanya menjadi silent reader di grup WhatsApp orang tua murid, apalagi hanya sekadar bergosip. Mengingat karakter orang seperti ini adalah disiplin, terencana, to the point, maka jangan baper jika ia tidak hadir dalam acara yang kita selenggarakan.

7. Ibu Kreatif

Di setiap fase hidup Ibu, pasti ada setidaknya satu teman yang kreativitasnya sangat menonjol. Di kalangan ibu, kehadiran Ibu Kreatif dapat dideteksi ketika ia menjual kerajinan tangan hasil karyanya, gemar mengunggah mainan DIY (Do It Yourself) yang ia buat untuk anaknya di media sosial, karyanya saat menonjol dalam acara sekolah yang membutuhkan kreativitas orang tua, atau bersedia menjadi mentor ibu-ibu lain dalam acara sharing ilmu teknik handlettering, membuat kain teknik shibori, atau membuat macramé. 

Berteman dengan Ibu Kreatif bisa membuat ibu tidak pernah kehabisan ide untuk membuat hal-hal dekoratif. Selain itu, karakter orang kreatif biasanya dinamis dan suka tantangan sehingga Ibu yang sering merasa bosan, sering bingung saat menemui hambatan, bisa tertular energi positif Ibu Kreatif. Namun, jangan sampai terobsesi untuk menyamai produktivitasnya menghasilkan hal-hal kreatif ya! Terinspirasi boleh, namun kreativitas adalah hal yang sangat bergantung pada penilaian orang yang menikmatinya. Menciptakan kreativitas khas diri sendiri jauh lebih  penting. 

8. Ibu Gaul

Ya, nampaknya memiliki anak tidak membatasi ibu tipe ini untuk tetap tampil stylish, up to date, dan tidak melewatkan event-event penting yang sesuai minatnya. Demi menonton film box office terkini di bioskop, ia bisa membawa anaknya serta meski rating film tersebut untuk 13 tahun ke atas. Ibu Gaul bisa memberi rekomendasi coffee shop yang sedang populer saat ini hingga tren mode pakaian terkini. Masalah anak? Tentu saja ia tidak mau ketinggalan. Dari masalah mainan best seller di online shop terkemuka, trend fashion anak, hingga tempat playdate yang recommended bisa Ibu tanyakan ke Ibu Gaul.

9. Ibu Entrepreneur

Ibu Entrepreneur selalu mempunyai produk untuk ditawarkan. Baik itu buatannya sendiri maupun produk orang lain. Karakter orang seperti ini biasanya percaya diri, pantang menyerah, dan kreatif. Baginya, selama halal, berjualan bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Ibu Entrepreneur gemar berganti status media sosial untuk mempromosikan produknya, tidak menyia-nyiakan booth bazaar sekolah, serta bisa dimintai bantuan untuk mencari sponsor kegiatan karena memiliki jaringan relasi yang luas.

10. Ibu Baru

Jika berteman dengan Ibu Baru, jadilah teman yang supportive, pendengar yang baik, dan tidak segan menawarkan bantuan. Ibu manapun tahu repotnya menjadi ibu untuk pertama kalinnya. Ibu Baru biasanya sulit meluangkan waktu untuk berkumpul bersama, apalagi jika tidak memiliki support system. Jika berhasil pergi pun, ia akan membawa serta bayinya dengan “peralatan tempur” yang sangat lengkap. Ibu Baru mudah kuatir, yang membuatnya sering mengunjungi dokter spesialis anak ketika bayinya sakit. Ibu Baru lebih tepat jika disebut sebagai kondisi, karena karakter orangnya bisa saja berubah saat ia semakin terbiasa menjadi ibu.

11. Ibu Zero Waste

Zero waste, atau gaya hidup minim sampah yang sedang populer belakangan ini menyebar dengan cepat lewat media sosial dan membuat banyak orang tergerak untuk hidup lebih ramah lingkungan. Ibu zero waste selalu membawa botol minum sendiri, anti membawakan bekal makanan dan minuman kemasan pada anaknya, menghindari produk dalam kemasan, dan memilah sampah di rumah. Pada level yang lebih lanjut, Ibu Zero Waste mengusahakan agar acara sekolah ataupun komunitas tidak menggunakan plastik sekali pakai. Berteman dengannya membuat Ibu lebih sadar lingkungan, lho!

Seru ya, mengetahui berbagai karakter yang dimiliki para ibu. Kalau Ibu sendiri, termasuk tipe yang mana?

(Menur / Dok.Unsplash)