Keluarga Dibaca 216 kali

Ketahui 7 Alasan Pasangan Milenial Menunda Kehamilan

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi
Ketahui 7 Alasan Pasangan Milenial Menunda Kehamilan

Jamak terjadi di masyarakat ketika ada pasangan yang baru menikah lalu sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Bagi kebanyakan pasangan, kehadiran anak adalah pelengkap kebahagiaan dan pelipur lara bagi orangtuanya. Ada pasangan yang tak perlu waktu lama menunggu datangnya kehamilan, namun tidak sedikit pula yang harus bersabar menunggu beberapa tahun, bahkan memerlukan bantuan medis untuk melakukan program kehamilan.

Tapi tahukah Ibu, ternyata tidak semua pasangan berpikir demikian? Terutama bagi pasangan milenial, menunda kehamilan rupanya masuk dalam daftar keputusan mereka setelah menikah. Biasanya, masyarakat dengan mudah akan berburuk sangka dan menilai negatif pilihan itu, tanpa memedulikan alasan apa sebenarnya di balik keputusan yang mereka ambil.

Pertama, tidak sedikit yang berpikir bahwa menunda kehamilan hanyalah tren. Pola pikir seperti ini terbentuk karena semakin banyaknya pasangan milenial yang mengambil keputusan itu. Kedua, tuduhan “tidak menyukai anak-anak” juga tak luput dilontarkan pada mereka yang memilih menunda kehamilan. Orang-orang yang tidak paham kondisi sebenarnya, akan cenderung mengatakan bahwa pasangan yang menunda kehamilan hanya memikirkan diri sendiri, tidak mau repot, serta tidak mau belajar untuk menyukai anak-anak dan mengasuhnya. Ketiga, tak bisa dimungkiri bahwa pasangan yang memilih menunda kehamilan dicap sebagai orang yang tidak punya keyakinan atau menganut agama tertentu yang menganjurkan untuk meneruskan keturunan. Tudingan yang terakhir ini tentu sudah masuk ranah SARA yang sangat sensitif dan tidak seharusnya menjadi urusan publik.

Alasan di Balik Keputusan Pasangan Milenial untuk Menunda Kehamilan

Setiap pasangan pasti memiliki tantangan, permasalahan, pengalaman masa lalu, dan rencana masa depannya sendiri. Tidak terkecuali pasangan yang memutuskan untuk menunda kehamilan. Kondisi ini memungkinkan mereka untuk mengambil langkah besar dalam kehidupan pernikahan, dan tak jarang sangat berpengaruh untuk kehidupan jangka panjang.

Melansir dari Huffpost, pakar sosiolog Amy Blackston dari University of Maine mengajak kita untuk berpikir lebih kritis dalam melihat pilihan berbeda yang diambil oleh tiap pasangan sebagai hak untuk membuat keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi pernikahan mereka. Sama halnya dengan pilihan menjadi orangtua, tiap-tiap pasangan juga berhak untuk memilih tidak menjadi orangtua dengan cara menunda kehamilan atau sama sekali tidak ingin memiliki keturunan. Lantas, apa saja alasan-alasan yang bisa memengaruhi keputusan tiap pasangan untuk menunda kehamilan dan tidak memiliki anak? Yuk, simak pemaparannya di bawah ini: 

  1. Kondisi Kesehatan Fisik

    Menunda kehamilan tidak selalu berarti negatif. Salah satu alasan terkuat yang bisa melatarbelakangi keputusan tersebut adalah adanya masalah kesehatan dari salah satu maupun kedua pasangan. Tidak hanya masalah reproduksi saja yang bisa membuat seseorang terpaksa menunda kehamilan, tapi juga masalah kesehatan lainnya yang membuat kehamilan menjadi berisiko bila memaksakan diri.

    Dalam kondisi ini, biasanya dokter akan menganjurkan untuk menunda kehamilan demi kebaikan calon Ibu maupun kondisi janin dalam kandungan nanti. Meski akan terasa sangat berat menghadapi kenyataan kondisi kesehatan fisik yang tidak memungkinkan, setiap pasangan mau tidak mau harus mengambil keputusan yang tepat, yaitu dengan menunda kehamilan. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada pasangan yang baru menikah. Beberapa masalah kesehatan juga bisa dialami oleh ibu yang telah memiliki anak pertama dan ingin merencanakan kehamilan kedua atau ketiga, sehingga menunda kehamilan harus dipilih sebagai upaya pencegahan kehamilan berisiko.

    Beberapa masalah kesehatan yang biasanya membuat pasangan harus menunda kehamilan adalah:

    • Mengidap HIV/AIDS;

    • Masalah kesehatan jantung kronis;

    • Riwayat keguguran;

    • Kanker serviks;

    • Kanker payudara;

    • Hipertensi;

    • Obesitas;

    • Pertimbangan usia dan risiko kehamilan;

    • TBC; dan

    • penyakit lain yang berisiko tinggi pada kehamilan atas diagnosis dokter.

  2. Kondisi Kesehatan Mental

    Kesehatan mental seringkali diabaikan dan disepelekan. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dalam pernikahan, kesehatan mental justru memiliki peran besar yang menentukan keharmonisan. Kesehatan mental inilah yang menentukan bagaimana kita menghadapi pasangan kita, meregulasi emosi kita, dan tantangan-tantangan lain dalam pernikahan. Termasuk dalam hal memiliki keturunan.

    Setiap pasangan memiliki kesiapan mental yang berbeda-beda. Bahkan, setiap individu juga tak lepas dari persoalan kesehatan mentalnya sendiri. Baik istri maupun suami pasti memiliki kondisi mental yang dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya, hingga membentuk pola pikir dan perilakunya yang sekarang. Kondisi kesehatan mental ini pun yang menjadi pertimbangan tiap pasangan saat merencanakan atau menunda kehamilan.

    Berikut beberapa masalah kesehatan mental yang bisa memengaruhi keputusan untuk menunda kehamilan:

    • Memiliki Trauma

      Isu kesehatan mental kini memang semakin banyak dibicarakan. Trauma masa lalu atau childhood issue disebut oleh Austin E. Galvin, seorang psikoanalis dari New York dalam Parents.com, sebagai salah satu penyebab seseorang tidak ingin memiliki anak. Trauma masa kecil seperti pengalaman menjadi korban kekerasan fisik maupun herbal hingga pelecehan seksual, sangat membekas dan tidak bisa disepelekan. Pengalaman traumatis ini membuat seseorang menjadi khawatir akan melakukan hal-hal buruk kepada anaknya kelak atau tidak siap jika melihat anaknya nanti mengalami hal serupa, seperti apa yang telah dia alami saat kecil.

      Tidak hanya itu, bagi Ibu yang telah memiliki anak pertama, ada kemungkinan mengalami masalah kesehatan mental seperti baby blues dan postpartum depression. Kesulitan yang dihadapi dan bagaimana perjuangan untuk keluar dari keterpurukan itu tentu meninggalkan bekas atau trauma yang tak mudah dilupakan. Hal ini yang kemudian membuat Ibu atau Ayah memilih menunda kehamilan atau bahkan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk memiliki anak kedua.

      Akan tetapi ada satu hal yang harus diingat: justru merupakan hal yang baik jika seseorang memiliki kesadaran diri bahwa dia pernah mengalami trauma dan berusaha berdamai dengan masa lalu yang tidak bisa diubahnya itu, kemudian berpikir dengan lebih jernih dan hati-hati untuk menunda kehamilan hingga benar-benar merasa siap secara mental untuk memiliki anak. 

    • Bermasalah dengan Anger Management

      Masalah manajemen amarah juga tidak semestinya disepelekan. Banyak pasangan yang mengakhiri hubungan pernikahan karena masalah emosi yang sulit dikendalikan, terutama emosi berupa marah. Mengingat bahwa pengasuhan anak bukanlah pekerjaan main-main, tentu tiap pasangan harus memikirkannya dengan baik sebelum merencanakan kehamilan.

      Berbagai kasus yang marak diberitakan di media, seperti kekerasan pada anak, disinyalir memiliki kaitan erat dengan ketidakmampuan mengendalikan emosi dan trauma masa lalu yang semakin memperburuk keadaan. Hal ini tentu saja menjadi pertimbangan pasangan yang memiliki masalah dengan manajemen amarah saat merencanakan kehamilan. Mereka khawatir tak bisa menangani dan menghadapi anak yang tentu akan menguras energi dan emosi. Sehingga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, menunda kehamilan bisa jadi pilihan hingga pasangan tersebut sudah merasa siap dan mampu mengelola amarahnya.

    • Butuh Waktu untuk Membekali Diri

      Menjadi orangtua bukanlah sebuah kemampuan yang didapat dengan cara instan. Berangkat dari pertanyaan kepada diri sendiri apakah bisa menjadi orangtua yang bertanggung jawab dan mendidik anak dengan baik dapat membuat pasangan berpikir ulang sebelum memutuskan punya anak. Bagi mereka yang telah mendengar maupun melihat pengalaman keluarga lain bahwa mengasuh anak bukanlah hal mudah dan rentan membuat kewalahan, mungkin akan memilih untuk membekali diri dengan ilmu parenting yang cukup sebelum memiliki anak. Sebagian memilih untuk belajar selama masa kehamilan, namun tidak sedikit pula yang memutuskan untuk menunda kehamilan agar memiliki waktu lebih lama untuk mempersiapkan segalanya. Tentu tidak ada yang salah dari pilihan-pilihan yang dilakukan secara sadar dan penuh pertimbangan tersebut. Karena keputusan itu dilakukan demi kebaikan diri sendiri, keluarga, dan anak kelak.

  3. Membutuhkan Quality Time Lebih

    Bagi sebagian pasangan menikah, memiliki anak tidak selalu menjadi cita-cita mereka. Banyak pasangan yang memutuskan untuk menunda kehamilan karena ingin menikmati masa pacaran setelah menikah. Misalnya dengan traveling berdua ke beberapa negara, mendaki gunung yang telah lama diimpikan, atau ingin menciptakan waktu berkualitas untuk saling mengenal lebih dalam sebelum adanya kehadiran sang buah hati.

    Pemikiran seperti ini tentu tidak salah ya, Bu. Banyak pasangan yang sering menyepelekannya padahal ini penting untuk menjalin kekompakan dan keharmonisan sehingga saat memiliki anak nanti, bisa meminimalisasi pertikaian dengan pasangan.

    Faktor lain yang melandasi keputusan pasangan untuk menunda kehamilan adalah karena mereka membutuhkan quality time di tengah kesibukan bekerja. Pasangan yang sama-sama bekerja di tempat berbeda, sehari-hari tentu lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Apalagi jika harus lembur dan mengorbankan akhir pekan dengan tetap bekerja. Hal ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri untuk tidak buru-buru memiliki momongan. Quality time tidak hanya bisa digunakan untuk saling merefleksikan karakter dari masing-masing pasangan, tapi juga bisa untuk membicarakan kapan saatnya melakukan program kehamilan, apakah salah satu akan resign supaya bisa mengurus anak sendiri, memilih antara daycare atau pengasuh, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.

  4. Hubungan Jarak Jauh

    Tidak bisa dimungkiri bahwa kehadiran penuh pasangan sangat dibutuhkan ketika Ibu sedang hamil, mengingat banyaknya perubahan tubuh dan hormon saat hamil yang menyebabkan kondisi psikologis ibu cukup rentan dan sering merasa kelelahan. Tak lupa juga tantangan menjadi ibu baru dalam merawat bayi di fase awal kelahiran nanti tentu tidak mudah. Menyadari kemungkinan itu, tidak sedikit pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance marriage memilih untuk menunda kehamilan hingga bisa tinggal satu atap kembali atau menemukan bantuan seperti kerabat atau ART untuk menemani istri selama menjalani kehamilan dan fase awal kelahiran.

  5. Kondisi Finansial

    Masalah keuangan adalah hal yang sering dihadapi pasangan, tidak hanya yang baru menikah akan tetapi yang telah bertahun-tahun menjalani hubungan pernikahan pun tidak luput dari persoalan keuangan. Bahkan, banyak penelitian dari para ahli yang mengatakan bahwa masalah keuangan bisa jadi salah satu alasan utama perceraian. Kondisi finansial setiap keluarga tentu berbeda-beda, dan tidak heran jika ada pasangan yang memutuskan untuk menunda kehamilan didasari oleh alasan ini. Bisa saja pasangan tersebut khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan si kecil. Sebelum memutuskan untuk memiliki momongan, memperbaiki kondisi finansial bisa jadi pilihan yang bijak.

  6. Mempertimbangkan Faktor Sosial dan Lingkungan

    Setiap keluarga mempunyai value yang berbeda dalam memandang kehidupan. Jika Ibu pernah mendengar ada keluarga yang memilih hidup tanpa menggunakan plastik sedikit pun di rumah, atau menggunakan pola hidup dan makan ala vegetarian, sama halnya dengan pasangan yang memutuskan untuk menunda bahkan tidak ingin memiliki anak. Pasangan tersebut mengambil keputusan bukan tanpa pertimbangan yang matang ya, Bu. Tidak sedikit yang merasa terpanggil untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki kondisi sosial yang mulai mengkhawatirkan. Kondisi bumi yang dirasa semakin tidak lagi ramah untuk anak-anak dalam 10-50 tahun ke depan juga menjadi alasan kuat pasangan tertentu untuk menunda kehamilan atau tidak memiliki anak.

  7. Punya Pilihan Alternatif

    Bukan tidak mungkin apabila akhirnya banyak pasangan yang memilih untuk menunda kehamilan, atau tidak ingin memiliki anak karena beberapa alasan yang disebutkan di atas. Beberapa pasangan bahkan membuat keputusan untuk mengadopsi anak mulai dari usia bayi maupun usia sekolah. Hal ini disebabkan oleh kesadaran sosial mereka yang lebih ingin banyak membantu memperbaiki kehidupan anak-anak yatim-piatu atau tanpa orangtua yang tinggal di panti asuhan. Pilihan alternatif seperti ini justru dianggap sebagai kebaikan-kebaikan yang cukup mulia dan bijaksana.

Mempersiapkan Diri Bila Berencana Menunda Kehamilan atau Tidak Memiliki Anak

Meski pilihan menunda kehamilan lebih banyak diambil oleh pasangan milenial, bukan berarti ini karena tren semata. Alasan-alasan yang telah dikemukakan dia atas pasti telah dipertimbangkan dengan sangat baik oleh pasangan milenial. Nah, sebagai pasangan baru maupun yang telah menjalani pernikahan dan memiliki anak, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan sebelum merencanakan ataupun menunda kehamilan:

  1. Lakukan Perenungan dengan Mempertimbangkan Keinginan dan Kemampuan Diri

    Pernikahan membutuhkan kedewasaan diri dan tak jarang mengharuskan individu membuat keputusan-keputusan besar. Sebelum beranjak pada keputusan bersama, terlebih dahulu Ibu harus melihat lebih dalam pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya Ibu inginkan? Apakah kira-kira Ibu mampu menjadi sosok orangtua yang bertanggung jawab pada anak? Hal-hal apa saja yang kurang dan perlu diperbaiki sehingga Ibu bisa mempersiapkannya dari sekarang.

    Hal ini tidak hanya dilakukan oleh istri, tetapi suami juga perlu merefleksikan diri untuk memahami keinginan dan kemampuan diri. Sehingga memiliki anak bukan hanya soal melengkapi keluarga, tapi tentang membina keluarga agar menjadi manusia yang bahagia dan tidak merugikan, mengasuh dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

  2. Bicarakan dengan Pasangan

    Setelah melakukan perenungan diri, langkah selanjutnya adalah membicarakan ini dengan pasangan. Terkadang, ada pasangan yang tidak bersepakat soal menunda kehamilan. Namun harus selalu diingat bahwa tidak ada yang boleh merenggut hak masing-masing. Istri berhak menyuarakan pendapatnya jika tidak ingin memiliki anak, tentu dengan alasan yang kuat dan dapat diterima oleh suami. Begitu pun sebaliknya, suami yang memiliki trauma masa kanak-kanak yang suram juga membutuhkan waktu sebelum siap menerima hadirnya buah hati.

  3. Siapkan Mental

    Meskipun menunda kehamilan sudah tidak asing lagi di zaman sekarang, kita tidak bisa memungkiri bahwa masih ada saja orang yang menilai keputusan ini sebagai sesuatu yang negatif. Untuk itu, Ibu dan pasangan yang memilih menunda kehamilan atau bahkan tidak memiliki anak sebaiknya mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan adanya tudingan dan komentar negatif dari orang lain. Fokus pada value keluarga yang telah disepakati dan yakinlah bahwa keputusan yang dibuat berdasarkan kesadaran penuh dan tidak merugikan orang lain. Dengan begitu, Ibu dan pasangan akan lebih chill dan tidak mudah emosi saat kritik datang bertubi-tubi.

(Dwi Ratih)