Balita Dibaca 406 kali

Stimulasi Tepat untuk Perkembangan Anak 1 – 2 tahun

Share info ini yuk ke teman-teman
Luciana
Stimulasi Tepat untuk Perkembangan Anak 1 – 2 tahun

Perkembangan anak dari waktu ke waktu selalu menjadi perhatian orang tua. Meski perkembangan anak tidak sama, biasanya selalu ada batas toleransi tahapan perkembangan anak yang harus dicapai pada usia tertentu. Akan tetapi, perlu Ibu tahu bahwa capaian milestone ini juga dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya asupan nutrisi dan stimulasi yang diterima oleh anak, hingga bagaimana lingkungan sekitar membentuk karakter si kecil.

Nah, lantas apa saja sih perkembangan anak di usia 1-2 tahun dan bagaimana membantu tumbuh kembang si kecil agar sesuai dengan tahapan usianya? Simak penjelasan lengkap yang sudah Ibupedia rangkum dari laman CDC di bawah ini:

Perkembangan anak usia 1 – 2 tahun

Tahapan perkembangan anak berikut ini meliputi segala aspek dari mulai sisi sosial (emosional), bahasa (komunikasi), kognitif (belajar, berpikir, dan memecahkan masalah), serta dari segi gerakan fisik. Berikut ini rincian lengkapnya:

  1. Perkembangan anak dari sisi sosial & emosional

    Melansir dari laman CDE, perkembangan sosial dan emosional merupakan perkembangan anak yang melibatkan pengalaman anak, ekspresi, dan cara anak mengolah emosinya untuk membangun hubungan positif yang akan bermanfaat saat ia bersosialisasi. Berikut ini beberapa contohnya:

    • Suka memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai sebuah permainan;

    • Si kecil sudah mulai menunjukkan beberapa jenis emosi, termasuk marah yang menyebabkan tantrum;

    • Memiliki rasa takut terhadap orang lain;

    • Mulai menunjukkan kasih sayang kepada orang yang ia kenal;

    • Bermain peran sederhana atau pretend play;

    • Pada beberapa situasi, ia menjadi sangat tergantung pada Ayah atau Ibu;

    • Menunjuk sesuatu bila itu menarik perhatiannya;

    •  Suka menjelajahi lingkungan sekitar sendiri, meski masih dalam pengawasan;

    • Meniru orang lain yang ada di dekatnya, sebaiknya orang tua hati-hati dalam berucap dan melakukan tindakan saat anak ada di fase ini;

    • Bersemangat saat bersama anak-anak lain;

    • Semakin menjadi lebih mandiri dari waktu ke waktu;

    • Terkadang menunjukkan perilaku menentang apa yang diminta Ayah atau Ibu (misal, jangan dilakukan, tapi ia tetap melakukannya); dan

    • Mulai tertarik untuk bermain dengan anak seusianya.

  2. Perkembangan anak dari sisi bahasa (komunikasi)

    Dikutip dari laman Raising Children, perkembangan bahasa meliputi kemampuan anak dalam berkomunikasi, berekspresi, dan memahami perasaan. Perkembangan bahasa akan berpengaruh banyak saat si kecil belajar membaca dan menulis. Yang meliputi perkembangan bahasa adalah:

    • Dapat mengatakan beberapa kata tunggal;

    • Berkata “tidak” sembari menggeleng;

    • Menunjuk barang yang ia inginkan;

    • Menunjuk benda atau gambar saat Ibu menyebutkannya;

    • Mengetahui nama seseorang yang dikenal;

    • Mulai mengenal bagian tubuhnya;

    • Mulai bisa mengucapkan 2 sampai 4 kata (untuk usia 2 tahun);

    • Bisa mengikuti instruksi sederhana;

    • Mengulangi kata-kata yang ia dengar; dan

    • Menunjuk segala hal yang ada di buku saat dibacakan buku cerita.

  3. Perkembangan anak dari sisi kemampuan kognitif 

    Menurut laman Help Me Grow, perkembangan kognitif merupakan perkembangan anak yang meliputi cara berpikir, memecahkan masalah dan belajar menjelajahi lingkungan sekitarnya. Perkembangan otak merupakan bagian dari perkembangan kognitif. Berikut ini ciri-ciri perkembangan kognitif pada anak:

    • Mengetahui fungsi dari barang-barang yang biasa ia lihat atau gunakan (misal telepon, sendok, piring, dsb);

    • Menunjuk atau melakukan sesuatu untuk mendapat perhatian orang lain;

    • Mulai mencoret-coret, misal dinding kamar dicoret-coret dengan crayon atau pensil;

    • Dapat mengikuti perintah yang diucapkan tanpa tambahan gerakan apapun, misal saat Ibu menyuruhnya duduk, dia akan langsung duduk;

    • Dapat menemukan benda yang disembunyikan saat bermain;

    • Mulai mengenal dan mengurutkan bentuk atau warna;

    • Melengkapi kalimat saat dibacakan buku cerita yang biasa ia dengar;

    • Mulai ikut bermain pada permainan yang sederhana;

    • Dapat membangun menara, menyusun benda ke atas;

    • Mulai usia dua tahun, ia bisa mengikuti perintah dua langkah seperti, “Taruh sepatu di rak.”; dan

    • Menyebutkan hewan atau benda yang ada di buku cerita.

  4. Perkembangan anak dari segi gerakan fisik

    Dilansir dari laman Virtual Web School, perkembangan fisik anak mengacu pada kemajuan atau penyempurnaan kemampuan motorik anak (kemampuan anak saat menggunakan dan mengendalikan tubuh mereka), contohnya:

    • Mulai berjalan sendiri;

    • Dapat berjalan menaiki tangga dan juga berlari;

    • Dapat bermain menarik mainannya sambil berjalan atau berlari;

    • Mulai bisa membantu membuka bajunya sendiri;

    • Bisa minum dengan cangkirnya;

    • Makan dengan sendok dalam pengawasan;

    • Melakukan gerakan berdiri berjinjit;

    • Dapat bermain menendang bola;

    • Sudah bisa berlari;

    • Naik dan turun dari furnitur tanpa bantuan;

    • Berjalan naik dan turun tangga dengan berpegangan;

    • Dapat melempar bola; dan

    • Pada usia dua tahun ada yang sudah mampu meniru membuat garis lurus atau lingkaran.

Waktu yang Tepat untuk Berkonsultasi ke Dokter Spesialis Anak

Perkembangan anak di atas merupakan milestone perkembangan anak usia 1 – 2 tahun, tak harus dapat melewati semua daftar di atas, namun bila Ibu menemukan anak Ibu mengalami hal-hal berikut ini, tak ada salahnya untuk berkonsultasi pada tenaga medis :

  • Belum mampu menunjuk pada suatu benda atau menunjukkan sesuatu kepada orang lain;

  • Belum mampu berjalan pada rentang usia 1 – 2 tahun;

  • Belum mengerti fungsi dari barang-barang yang sering ia lihat;

  • Tidak meniru orang lain, baik ekspresi atau kata-kata;

  • Belum berucap minimal enam kata;

  • Tidak menangis bila ditinggal pergi Ayah, Ibu atau pengasuhnya;

  • Kehilangan keterampilan yang pernah ia miliki;

  • Belum memakai 2 kalimat, misal: minum susu;

  • Belum mampu mengikuti instruksi sederhana; dan

  • Belum berjalan tanpa bantuan.

Stimulasi Sederhana Yang Bisa Dilakukan di Rumah

Sebelum mendatangi dokter untuk berkonsultasi mengenai kendala yang dihadapi si kecil pada daftar perkembangan anak yang Ibu rincikan, ada baiknya Ibu tetap melakukan stimulus pada perkembangannya, berikut ini stimulus yang dapat dilakukan Ibu untuk perkembangan anak usia 1 – 2 tahun:

  1. Pastikan asupan makanan yang bergizi, seimbang, dan tercukupi untuk si kecil

    Gizi yang cukup dan juga seimbang pada asupan makanan si kecil penting untuk membantu tumbuh kembangnya. Asupan makanan untuk si kecil juga dapat Ibu variasikan sehingga si kecil tak mudah bosan saat waktu makannya tiba.

  2. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman

    Berikan pujian dan konsekuensi yang wajar pada anak saat ia melakukan hal-hal baik atau buruk. Tumbuhkan rasa empatinya. Bila ia melihat anggota keluarga yang sedang sedih, ajak ia untuk memegang tangan orang tersebut atau memeluknya untuk mengurangi rasa sedih. Di sini ia akan belajar tentang empati terhadap orang lain. Tak hanya soal empati, ajarkan si kecil tentang berbagi dengan teman atau anggota keluarga lainnya. Teruslah konsisten dalam menciptakan hal ini, karena ini akan memenuhi kebutuhan dasar anak. 

  3. Ajak anak mengobrol dan membaca buku

    Perkembangan anak juga meliputi kemampuan berbicara, maka coba ajukan pertanyaan sederhana padanya untuk mulai berinteraksi. Hindari tergesa-gesa saat berbicara pada anak dan pilihlah kata-kata sederhana supaya ia mudah mengerti. Hindari mengoreksi kata-kata yang salah diucapkan, contohnya saat ia melihat buku dan ia menyebut “Itu bubu”, Ibu jangan langsung mengatakan “Salah, gimana sih kamu.” Tapi sebaiknya langsung membenarkan, “Itu buku nak.” Mengoreksi dengan cara yang salah tak baik untuk perkembangan anak. Jangan lupa untuk bantu si kecil dalam mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan karena ini merupakan bagian penting dalam perkembangan anak. 

    Selain berbicara, Ibu bisa mulai memperkenalkan buku cerita penuh warna pada si kecil sehingga saat bercerita Ibu menjadi lebih mudah berkreasi.

  4. Selektif memilih mainan

    Pilihlah mainan anak yang melibatkan penyelesaian masalah, misalnya bermain puzzle atau permainan papan lainnya. Menyebutkan objek-objek yang ada pada buku gambarnya. Meniup gelembung sabun dan biarkan ia memecahkannya. Ibu juga bisa menyediakan bola untuk si kecil supaya ia berlatih cara melempar dan menendang bola. Permainan seperti ini bermanfaat untuk perkembangan anak. 

  5. Beri anak kesempatan bereksplorasi dengan sekitar

    Menjelajahi dan ingin tahu apa saja yang ada di sekitarnya sudah menjadi hal yang alami untuk si kecil. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Ibu bisa mengajak si kecil ke ruangan terbuka seperti taman, teras depan rumah, atau halaman belakang rumah dan biarkan ia bereksplorasi dengan alam serta lingkungan sekitarnya.

  6. Coba ide kegiatan terarah yang bervariasi

    Lakukan banyak permainan yang melibatkan interaksi seperti bermain peran, menyembunyikan mainan kemudian biarkan ia bermain dengan mencari mainan tersebut. Bila ia sudah mampu berjalan dengan baik, Ibu bisa mencoba untuk meminta si kecil mengambil sesuatu untuk Ibu. Atau Ibu bisa mengenalkan si kecil dengan seni dengan memberinya buku gambar, krayon, atau pensil warna supaya ia bisa berkreasi dengan benda yang diberikan.

Penulis: Luciana
Editor: Dwi Ratih