Kesehatan Dibaca 2,245 kali

6 Cara Ampuh Menghindari Infeksi Vagina Saat Hamil

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 01 November, 2018 09:11

6 Cara Ampuh Menghindari Infeksi Vagina Saat Hamil
Bacterial vaginosis, yang biasa disingkat BV merupakan infeksi vagina paling umum pada wanita usia produktif (usia antara 15-44 tahun). Infeksi vagina disebabkan oleh bakteri yang tidak seimbang yang hidup di area vagina Anda. Vagina yang sehat memiliki banyak mikroorganisme di dalamnya. Mikroorganisme pada infeksi vagina antara lain Gardnerella, Mobiluncus, Bacteroides, dan Mycoplasma. Jika terjadi infeksi vagina, mikroorganisme ini meningkat jumlahnya sedangkan jumlah mikroorganisme yang sehat semakin sedikit.

 

Pada kondisi normal, bakteri baik, yang disebut lactobacilli, merupakan jumlah yang mayoritas dan menjaga jenis bakteri lain tetap terkontrol. Anda mengalami infeksi vagina bila terlalu sedikit jumlah lactobacilli, yang membuat bakteri lain tumbuh di luar kendali. Tak ada yang tahu pasti apa penyebab perubahan keseimbangan bakteri ini. Sekitar 1 dari 5 wanita mengalami infeksi ini pada saat hamil.

 

Penelitian telah menunjukkan bahwa terjangkit infeksi vagina ketika hamil diasosiasikan dengan peningkatan resiko kelahiran sebelum waktu dan memiliki bayi dengan berat badan rendah, pecah ketuban sebelum waktu melahirkan, dan infeksi peranakan setelah melahirkan. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara infeksi vagina dan keguguran pada trimester kedua.

 

Tapi kaitan antara infeksi vagina dan komplikasi kehamilan tidak benar-benar jelas. Para ahli belum mengetahui kenapa hanya beberapa wanita dengan infeksi vagina yang melahirkan prematur. Mereka juga tidak tahu apakah infeksi vagina bisa secara langsung mengakibatkan komplikasi seperti pecah ketuban sebelum waktu melahirkan atau jika wanita yang punya kecenderungan pada infeksi lain atau masalah yang bisa mengarah pada komplikasi ini juga mungkin mengalami infeksi vagina.

 

Dikatakan, kebanyakan wanita dengan infeksi vagina memiliki kehamilan yang normal. Dan hingga setengah dari jumlah kasus infeksi vagina pada wanita hamil hilang dengan sendirinya. Terkena infeksi vagina tidak berarti Anda lebih rentan pada penularan infeksi melalui hubungan seksual seperti chlamydia, gonorrhea, dan HIV. Pada wanita yang tidak hamil, infeksi vagina dikaitkan dengan peningkatan resiko pelvic inflammatory disease (PID) dan infeksi setelah pembedahan ginekologis. Ada kemungkinan penularan PID selama hamil, tapi jarang terjadi.

 

Jika Anda tidak memiliki gejala dan memiliki resiko rendah melahirkan prematur, Anda tidak perlu menjalani pemeriksaan untuk infeksi vagina. Meski wanita dengan infeksi vagina lebih mungkin mengalami kelahiran sebelum waktunya dan antibiotik sering kali bisa membersihkan infeksi, hampir semua penelitian menunjukkan bahwa mengobati infeksi vagina untuk kasus bebas gejala pada wanita yang belum pernah mengalami kelahiran sebelum waktu tidak mengurangi kemungkinan untuk melahirkan dini.

 

Bila Anda tidak memiliki gejala infeksi vagina tapi beresiko tinggi melahirkan sebelum waktunya, dokter mungkin tidak memeriksa Anda pada kunjungan pertama. Para ahli masih berdebat tentang keuntungan dari langkah ini karena bukti-bukti yang masih menjadi konflik.

 

Setidaknya setengah dari jumlah wanita yang mengalami infeksi vagina tidak menunjukkan gejala apapun. Jika muncul gejala, Anda mungkin melihat kotoran berwarna putih atau abu-abu dengan bau amis. Bau ini paling jelas setelah berhubungan seks, ketika  kotoran bercampur dengan air mani. Anda juga merasa terbakar ketika buang air keil atau iritasi di area genital, meski tidak umum terjadi. Beri tahu dokter jika Anda mengalami gejala ini. Ia akan memeriksa contoh cairan vaginal dan sekresi serviks untuk melihat jika Anda terkena infeksi vagina atau infeksi jenis lain, dan ia akan meresepkan pengobatan yang sesuai.

 

Bila Anda terdiagnosa terkena infeksi vagina, Anda akan diberikan antibiotik yang dianggap aman selama hamil. Tidak seperti infeksi lain, pasangan Anda tidak memerlukan pengobatan. Penting untuk meminum semua obat yang telah diresepkan, meski jika gejala telah hilang. Pada kebanyakan kasus, antibiotik akan membersihkan infeksi pada vagina dan gejala yang dikeluhkan, meski sayangnya infeksi bisa kembali lagi.

 

Hingga 30 persen wanita mengalami gejala kembali dalam 3 bulan. Antibiotik biasanya membunuh kebanyakan bakteri penyebab infeksi vagina, tapi tidak ada cara untuk membuat bakteri baik tumbuh kembali lebih cepat agar bisa menahan bakteri buruk tetap terkontrol.

 

Beritahukan dokter jika Anda kembali mengalami gejala. Infeksi vagina biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan lain, tapi pada beberapa kasus bisa mengarah ke beberapa kondisi serius:

 

  • Jika Anda mengalaminya di saat hamil, infeksi vagina bisa meningkatkan resiko keguguran, kelahiran sebelum waktu, dan infeksi uterus setelah kehamilan.
  •  
  • Jika Anda mengalaminya ketika Anda menjalani prosedur seperti bedah sesar, aborsi, atau hysterectomy, Anda lebih rentan mengalami infeksi peranakan.
  •  
  • Jika Anda mengalaminya dan terpapar infeksi yang menular melalui hubungan seksual, Anda lebih mungkin terkena infeksi.
  •  
Karena tidak ada yang tahu penyebab ketidakseimbangan bakteri ini, tidak ada hal pasti yang bisa Anda lakukan untuk melindungi diri dari infeksi vagina. Tapi ada beberapa cara untuk mengurangi resiko terkena infeksi vagina:

 

  • Jaga keseimbangan bakteri vagina Anda. Bersihkan vagina setiap hari dengan sabun berformula ringan. Ketika ke kamar mandi, keringkan area genital anda dari vagina ke arah anus. Jaga agar kondisi di area ini tetap sejuk dengan mengenakan pakaian dalam yang berbahan katun. Hindari pemakaian celana yang sangat ketat .
  •  
  • Jika Anda merokok, salah  satu alasan untuk Anda agar berhenti adalah rokok bisa meningkatkan resiko Anda terkena infeksi vagina.
  •  
  • Lakukan pemeriksaan bagian pelvis secara rutin. Tanyakan ke dokter seberapa sering Anda perlu rutin menjalani pemeriksaan.
  •  
  • Tuntaskan minum obat. Jika Anda terkena infeksi vagina, tuntaskan meminum obat yang diresepkan oleh dokter. Meski jika gejala telah hilang, Anda masih tetap harus menghabiskan semua obat yang diberikan.
  •  
  • Lakukan aktivitas seks yang aman meski Anda atau pasangan melakukan hubungan seks dengan orang lain. Tidak jelas peran aktivitas seks yang memicu infeksi vagina, tapi infeksi jarang terjadi pada wanita yang belum pernah berhubungan seks dan paling umum pada wanita dengan banyak pasangan seks dan pasangan baru, juga lazim pada wanita lesbian.
  •  
  • Jangan gunakan alat semprot pembersih vagina atau sabun beraroma pada area genital Anda. Produk ini bisa merusak keseimbangan bakteri di vagina. Spray vagina juga tidak aman selama hamil. Pada kasus yang jarang terjadi, semprotan bisa memaksa udara melewati bagian bawah membran kantung ketuban dan masuk ke sirkulasi Anda, menyebabkan embolisme udara yang bisa mengancam keselamatan.
  •  
Dokter mendiagnosa infeksi vagina dengan menanyakan gejala yang diderita, melakukan pemeriksaan pelvis, dan mengambil sampel kotoran pada vagina. Sampel akan diuji untuk mengetahui apakah Anda menderita infeksi vagina. Tes infeksi vagina dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab pengeluaran kotoran yang tidak normal pada vagina atau gejala infeksi vagina lainnya seperti iritasi vagina atau rasa sakit.

 

Sebagai persiapan sebelum menjalani tes, jangan gunakan alat semprot vagina, jangan melakukan hubungan seks, dan jangan menggunakan obat-obat vaginal selama 24 jam sebelum tes dilakukan. Tes ini tidak biasa dilakukan selama periode menstruasi Anda.
(Ismawati)