Terakhir diperbaharui .

Perasaan Bersalah Ibu dan Cara Mengatasinya

Rasa bersalah yang dirasakan seorang ibu bisa muncul karena berbagai faktor, mulai dari seberapa banyak waktu yang mereka habiskan bersama anak hingga jenis popok yang mereka gunakan. Tapi rasa bersalah dapat menjadi nilai positif selama tidak dianggap terlalu serius.

 

Rasa bersalah mampu menciptakan sebuah keseimbangan. Caranya adalah dengan mengontrol rasa bersalah tersebut ketimbang membiarkannya mengontrol Anda. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang membuat Bunda merasa bersalah serta cara untuk mengatasinya.

 

  1. Harus kembali bekerja

    Situasi pekerjaan bisa menyebabkan perasaan bersalah ibu. Anda merasa bersalah karena tidak ingin kembali bekerja tapi Anda harus melakukannya, lalu Anda merasa bersalah ketika meninggalkan anak karena pekerjaan.

     

    Bila Anda mengalami hal ini, sebaiknya tunggu dan lihat yang terjadi. Apapun yang Anda lakukan sekarang, baik bekerja atau tidak, tidak akan bersifat permanen. Bila Anda merasa tidak cocok, Anda bisa lakukan perubahan.

     

  2. Tidak punya quality time bersama bayi

    Baik pada ibu bekerja atau ibu yang di rumah, sulit untuk menghindari perasaan bahwa ketika bersama anak, tiap momen harus berarti, menstimulasi, dan mengedukasi. Kadang quality time dan harapan orangtua di luar kontrol. Ada ibu yang merasa bersalah ketika meletakkan bayinya di ayunan.

     

    Melakukan tugas penting bisa membuat Anda merasa bersalah karena berarti jauh dari bayi. Ada ibu yang merasa bersalah karena harus melakukan tugas rumah. Karena anak tidak mau bermain sendiri, Anda mungkin menyalakan TV agar bisa ke dapur untuk memasak atau mencuci pakaian.

     

  3. Tidak menjadi ibu yang sempurna

    Perasaan bersalah ibu kadang muncul ketika keluarga harus sering makan di luar, bukan makan makanan rumahan yang bernutrisi buatannya sendiri. Sebagai ibu, sulit untuk tidak merasa bersalah karena kekurangan Anda, seperti ketika Anda tidak memasak, ketika rumah tidak rapi, dan ketika Anda tidak punya cukup waktu bersama suami. Tapi ketika Anda jadi lebih berpengalaman sebagai orangtua, akan lebih mudah untuk menjalani peran ini.

     

    Lagi pula, Anda juga perlu ingat, merasa bersalah tidak selalu jadi hal buruk. Perasaan bersalah ibu ketika batita terlalu banyak menonton TV membantunya untuk menilai dan lalu menguranginya. “Tiga jam sehari terlalu banyak untuk anak usia 2 tahun, saya harus cari cara untuk membuatnya terhibur dengan cara lain.”

     

    Yang sulit adalah mengetahui apakah hal yang membuat Anda stres adalah hal yang perlu Anda ubah atau karena Anda seorang yang perfeksionis. Di awal-awal menjadi ibu sangat penting untuk menjadi realistis, bila di akhir hari Anda dan bayi tetap sehat dan bahagia, ini sebuah keberhasilan. Bila urusan cucian bisa selesai, itu sebuah bonus. Ketika Anda  dan bayi tidur lebih teratur, hormon Anda akan menyesuaikan dan lalu Anda mulai bisa meningkatkan ekspektasi.

     

  4. Berteriak pada anak

    Batita Bunda berisik sekali saat si adik bayinya baru saja tertidur. Spontan Anda berteriak, “Kak, jangan berisik. Nanti adik kecil jadi bangun!” Ternyata teriakan Anda terdengar lebih keras dari yang Anda maksudkan. Si batita langsung terdiam dengan tatapan ketakutan.

     

    Tenang Bunda, tidak ada seorangpun yang merasa nyaman saat terpaksa berteriak atau membentak anak mereka. Memang, berteriak pada anak merupakan penyebab rasa bersalah nomor satu bagi ibu. Ketika hal itu terjadi, coba perhatikan kembali perilaku Anda sendiri. Apakah teriakan Anda di luar kebiasaan? Apakah biasanya Anda bersikap tenang? Jika ya, bebaskan rasa bersalah Anda dan jadikan hal ini sebagai kesempatan belajar bagi Anda dan si kecil. Bahkan orangtua yang paling tenang sekalipun bisa kehilangan kesabaran dan berteriak pada anak mereka.

     

    Yakinkan anak Anda bahwa semua baik-baik saja, dan jelaskan apa yang terjadi. Katakan “Kadang orang berteriak saat sedang marah. Tapi itu dapat menyakiti perasaan orang lain. Bunda minta maaf, ya Sayang. Seharusnya tadi Bunda bilang ‘tolong jangan berisik, adik sedang tidur.’"

     

    Bila berteriak sudah merupakan kebiasaan, Anda perlu mengambil tindakan untuk mengatur kemarahan dan mengurangi tingkat stres. Bunda dapat menemui konselor, membaca buku atau artikel terkait, atau mendapat bantuan dari forum ibu dan anak.

     

  5. Kurang perhatian ke anak karena ada adik

    Punya anak lagi menambah perasaan bersalah ibu. Anda memberi perhatian lebih pada satu anak dibanding yang lain, terutama bila satu anak mengalami kolik sedang anak lainnya sehat, ini wajar tapi bisa membuat Anda merasa seperti ibu paling buruk di dunia.

     

    Lalu Anda semakin merasa bersalah ketika tidak punya waktu untuk bermain bersama anak yang lebih kecil seperti dulu Anda melakukannya pada anak pertama, bahkan sejak ia ada di kandungan. Anda terlalu sibuk dengan anak pertama hingga bahkan tidak sempat menghitung gerakan bayi yang ada di kandungan Anda. Lalu setelah ia lahir, Anda tidak langsung merasakan kedekatan dengannya seperti yang Anda rasakan pada anak pertama. Kembali, Anda merasa sebagai ibu yang tidak baik.

     

    Anda juga bisa dengan mudah merasa bersalah karena tidak bisa memberi perhatian tak terbagi pada anak yang lebih besar. Anda sibuk menyusui si kecil dan tidak bisa  menggendong anak yang lebih besar karena menjalani operasi caesar. Tentu kondisi ini tidak berlangsung selamanya, dan meluangkan waktu untuk melakukan hal istimewa bersama anak yang lebih besar bisa membuat Anda merasa lebih baik.

     

     

    Tapi memiliki anak lagi juga jadi kesempatan untuk pasangan Anda menjadi lebih dekat dengan buah hatinya. Anda mungkin tidak bisa melakukan aktivitas yang disenangi anak yang lebih besar seperti mengayun tubuhnya, tapi pasangan Anda bisa melakukannya dan ini memperkuat jalinan kedekatan ayah dan anak.

     

  6. Menjadikan televisi atau gadget sebagai babysitter

    Saat pekerjaan rumah menumpuk, Anda terpaksa mendudukkan si kecil di depan televisi. Memang disarankan anak di bawah usia dua tahun tidak boleh menonton televisi. Jadi seharusnya tak ada lagi pemutaran DVD saat Anda berada di kamar mandi atau menidurkan anak sambil menonton kartun. Rekomendasi ini menjadi pemicu kepanikan Bunda. Tapi bukan Anda sendirian yang melanggar aturan ini.

     

    Kenyataannya hanya 10 persen saja ibu yang sepenuhnya melarang anak batitanya menonton televisi. Sebesar 67 persen menganggapnya tak masalah membiarkan anak menonton beberapa program televisi, dan 69 persen ibu membiarkan anaknya menonton televisi. Tapi sebanyak 26 persen ibu berbohong tentang berapa lama anak mereka berada di depan televisi.

     

    Sebenarnya televisi tidaklah sebegitu jahat. Penggunaan acara pada televisi sebagai hiburan sudahlah tepat. Kuncinya adalah tidak berlebihan. Bila anak Anda di bawah umur dua tahun, gunakanlah waktu minimum dalam menonton televisi. Beri jeda selama 15 menit.

     

    Tonton acara televisi bersama anak, dan pilih acara yang sesuai. Jika ia bertambah besar, perhatikan dan taati panduan menonton televisi bagi anak prasekolah. Lalu, bersikap tenang dan buang jauh rasa bersalah Anda.

     

  7. Merasa tidak suka menjadi ibu

    Gambaran ibu di pikiran kita adalah sosok yang selalu perhatian dan ada ketika dibutuhkan, dan sulit untuk memenuhi hal ini. Meski Anda sangat mencintai si kecil, Anda tidak selalu suka dengan banyaknya hal yang harus dikerjakan untuk merawatnya. Perasaan bersalah ibu muncul ketika ia hanya senang menjadi ibu ketika melihat bayinya tertidur pulas.

     

    Pemikiran kalau hidup Anda hanya seputar bayi bisa menimbulkan rasa bersalah ketika Anda pergi keluar bersama pasangan atau melakukan sesuatu untuk kesenangan diri sendiri. Anda merasa bersalah ketika pergi ke salon untuk merawat diri. Padahal ketika Anda melakukan sesuatu untuk kesenangan diri sendiri, Anda bisa kembali ke rumah dengan suasana hati yang lebih baik, Anda jadi lebih bahagia bertemu anak.

  8.  

    Memberi susu formula

    Saat menyodorkan botol susu pada bayi Anda yang sedang menangis, Anda tersadar banyak mata yang memberikan tatapan aneh. Ternyata tatapan itu berasal dari para ibu yang memberi ASI eksklusif bagi anaknya. Anda langsung merasa bersalah. Lalu menganggap diri sendiri sebagai satu-satunya ibu yang memberikan susu formula di muka bumi.

     

    Hal itu tidak benar, kok, Bun. Banyak ibu yang mengandalkan susu formula sebagai suplemen atau pengganti ASI dengan alasan keterbatasan ASI, masalah pelekatan, kembali bekerja, atau sebab lain. Sebuah polling menunjukkan 79 persen ibu yang berhenti menyusui mengatakan mereka merasa bersalah. Akhirnya mereka beralih ke susu formula meski dengan perasaan tidak nyaman karena menyadari ASI adalah yang terbaik.

     

    Bila Anda harus berhenti menyusui sebelum waktunya, boleh saja merasa bersalah. Tapi Anda harus menerima bahwa apa yang Anda lakukan adalah yang terbaik. ASI memang yang terbaik tapi susu maupun makanan formula juga mengandung gizi. Hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk bayi Anda adalah dengan menjadi ibu yang bahagia. Dan jika itu berarti tanpa menyusui, maka itulah yang terbaik untuk Anda dan keluarga.

     

  9. Mengabaikan anak

    Tiap ibu di luar sana pernah sesekali cuek terhadap tangisan dan tantrum anak. Kita semua pernah mengalami ini, meninggalkan anak di kamarnya. Menjaga jarak dari anak di kondisi ini akan berguna juga bagi anak nantinya.

     

    Mengabaikan anak mengajarkan mereka kalau cara kontrol mereka tidak berhasil sekaligus juga menurunkan ketergantungannya pada Anda. Dengan mengabaikan anak sebentar, Anda bisa istirahat sejenak. Dan mengabaikan anak tidak selalu buruk bukan? Memang sulit untuk menyangkal perasaan bersalah ibu ketika melakukan ini. Tapi sesekali tak apa Bunda, anak-anak akan baik-baik saja.

     

  10. Memberi junk food untuk anak

    Memang ada beberapa anak yang tak pernah mengenal ayam atau kentang goreng dari rumah makan siap saji yang terkenal. Mungkin dulunya Anda juga seperti itu. Well, Anda tidak sendirian, Bun. Sebanyak 76 persen orangtua mengatakan bahwa mereka membeli junk food beberapa kali dalam sebulan. Kadang kita lupa bahwa junk food bukanlah makanan beracun meski nutrisinya sangat sedikit. Seperti halnya dengan menonton televisi, kuncinya adalah tidak berlebihan serta pilihan yang cerdas.

     

    Mengonsumsi fast food sebanyak dua kali seminggu tidaklah mengapa selama Anda memilih yang rendah lemak. Coba buat perubahan bila keluarga Anda sering sekali membeli fast food daripada memasak makanan sendiri di rumah.

     

    Anda sebenarnya bisa menyajikan makanan sehat tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di dapur.  Coba saja beli ayam yang siap dipanggang, atau potongan daging sapi yang siap Anda olah di dapur. Jika Anda membawa si kecil ke rumah makan siap saji, pastikan mereka tahu bahwa fast food hanyalah makanan yang sesekali saja disantap.

     

  11. Melatih anak tidur sendiri

    Satu hal paling sulit untuk ibu adalah melatih bayi untuk tidur sendiri di tempat tidurnya.  Melatih bayi tidur sendiri butuh kesabaran, dan ketika ini berhasil Anda akan memuji usaha Anda ini.

     

    Setelah bayi Anda terlatih untuk tidur sendiri, berarti Anda bisa tidur lebih tenang. Anda merasa sedih karena tidak bisa menggendongnya serta menenangkan tangisannya dengan ciuman dan pelukan. Anda merasa bersalah harus meletakkan bayi di tempat tidurnya dan meninggalkannya di kamar sendirian. Setelah ia beranjak besar, ia tidak akan mengingat hal ini, jadi buat kamarnya senyaman mungkin, nyalakan lampu dengan cahaya temaram, bila perlu Anda bisa nyalakan musik lembut dan biarkan si kecil terlelap di kamarnya sendiri.

     

  12. Meninggalkan si kecil di tempat penitipan anak

    Anda menitipkan si kecil di tempat penitipan anak atau daycare dan tampaknya ia baik-baik saja, tapi Anda sangat merasa bersalah. Air mata berjatuhan membasahi pipi saat Anda memberinya kecupan selamat tinggal. Lalu Anda menuju tempat kerja dengan perasaan campur aduk. Tidak perlu seperti itu, Bun. Ibu bekerja memang harus berjuang melawan rasa bersalah macam ini terutama saat mereka harus kembali ke kantor.

     

    Ibu bekerja kadang merasa tidak nyaman karena menginginkan untuk kembali bekerja. Bila Anda dalam posisi ini, ketahuilah bahwa kini tempat penitipan anak juga mendukung keterampilan kognitif, bahasa, dan sosial. Kurangi rasa bersalah Anda dengan  memilih tempat penitipan atau pengasuh yang terbaik. Untuk mempermudah proses peralihan, akrabkan diri dengan tempat penitipan anak sebelum Anda kembali bekerja. Berlatihlah, mungkin dengan cara meninggalkan anak Anda di sana beberapa jam.

     

    Hindari juga perang dingin antara ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja. Tinggalkan semua komentar yang menghakimi yang mungkin Anda terima. Ingatlah, Anda bekerja untuk memenuhi kebutuhan penting. Anda harus tahu bahwa apa yang Anda lakukan adalah yang terbaik bagi keluarga, baik itu bekerja untuk mendapatkan uang atau demi membuat Anda merasa bahagia.

     

  13. Tidak memandikan anak

    Memandikan anak tidak selalu penuh tawa dan gelembung sabun seperti yang Anda lihat di gambar majalah. Kadang waktu memandikan anak jadi penuh perlawanan. Bila anak masih usia newborn, waktu mandi bisa membuat cemas para orangtua baru. Karenanya tak masalah sesekali meninggalkan tugas ini demi menjaga kewarasan Anda di rumah, kecuali bila tubuh si kecil penuh dengan kotoran atau muntah.

     

    Hal penting yang Anda perlu ingat, ketika anak kotor dan tidur bersama remahan makanan tidak akan membuatnya terbangun atau jadi sakit. Esok hari jadi kesempatan berikutnya untuk memandikan si kecil.

     

  14. Kumpul bersama teman-teman

    Hanya karena Anda seorang ibu tidak berarti Anda tidak lagi berteman dan bersosialisasi. Sangat penting untuk merasa sebagai manusia normal. Bertemu teman berarti terhubung dengan orang lain dalam hidup Anda. Meski berkali-kali Anda menyadari pentingnya hal ini, pada akhirnya perasaan bersalah ibu tetap muncul. Tega sekali Anda kumpul bersama teman sementara si kecil menangis tidak bisa tidur karena mencari-cari Anda. Kenapa Anda bisa begitu egois? Meluangkan waktu dari tugas ibu selama beberapa jam tidak akan membahayakan bayi Anda. Pergilah ke kafe, nikmati secangkir kopi dan obrolan ringan bersama teman. Anda layak mendapatkannya.

     

  15. Tidak ramah lingkungan

    Kantong sampah Anda berisi banyak sekali popok bekas pakai si kecil dan styrofoam sisa wadah makanan, sedangkan tetangga Anda menggunakan popok kain yang sangat ramah lingkungan. Hmmm, sepertinya memang tidak semudah ungkapan kata untuk bisa “go green”. Keberadaan popok  sekali pakai, botol minuman, atau tissue basah sangat membantu di saat kita kerepotan dengan urusan rumah. Memiliki anak kecil juga biasanya mengakibatkan konsumsi air, listrik, dan gas meningkat.

     

    Tapi sebenarnya membesarkan anak juga bisa membuat kita tersadar akan dampak perilaku kita terhadap bumi ini. Sebesar 47 persen orangtua lebih peduli terhadap lingkungan sejak memiliki anak. Sebesar 55 persen benar-benar dan sangat peduli tentang masalah lingkungan. Lagi pula, kita menginginkan bumi dalam kondisi baik bagi anak-anak kita kan?

     

    Mungkin sulit bagi Anda untuk menggunakan transportasi umum, beralih ke popok kain, atau menyingkirkan semua alat dapur yang tidak ramah lingkungan. Fokus saja pada apa yang dapat Anda lakukan. Coba cabut kabel peralatan dapur saat tidak digunakan. Gunakan lampu hemat energi sebagai penerangan di rumah, serta hal mudah lainnya. Tak usah terlalu khawatir dengan tetangga Anda yang sangat “go green.” Lain waktu mungkin mereka yang perlu belajar dari Anda.

(Isma)