Kehamilan

Bisakah Hamil di Umur 40 Tahun? Temukan Jawabannya di SinI!

Terakhir diperbaharui

Bisakah Hamil di Umur 40 Tahun? Temukan Jawabannya di SinI!
Jumlah pasangan berusia 30 atau 40 akhir yang menginginkan kehamilan semakin meningkat. Menjadi hal umum untuk menunda memulai berkeluarga untuk beberapa alasan seperti hubungan kedua, tuntutan karir dan pendidikan, keinginan untuk mencapai stabilitas finansial, atau menunggu hubungan yang stabil. Tapi penting untuk dipahami bahwa kesuburan pada wanita menurun seiring bertambahnya usia, khususnya di akhir usia 30 atau 40. Hal ini merupakan bagian normal dari proses penuaan.

 

Ketika wanita bertambah tua, kesempatan untuk hamil menjadi lebih rendah, kemungkinan untuk mengalami keguguran menjadi lebih tinggi dan ada resiko kromosom yang abnormal yang lebih tinggi pada bayi. Pada populasi umum, kemungkinan hamil setelah usia 40 diperkirakan hanya 5% per siklus dibandingkan 20% per siklus pada kelompok wanita di bawah usia 40 tahun. Sebanyak 1/3 dari jumlah pasangan dengan wanita berusia lebih dari 35 tahun memiliki masalah kesuburan. Tidak ada yang bisa mengembalikan efek kesuburan disebabkan usia.

 

Seorang wanita disebut mengalami menopause ketika ia tidak lagi mendapat menstruasi selama 12 bulan. Menopause biasanya terjadi antara usia 48 hingga 55 tahun dengan rata-rata usia 52 tahun. Menopause terjadi lebih awal pada wanita yang merokok. Minoritas wanita mengalami menopause sebelum usia 40 tahun. Sebesar 50 hingga 60 persen wanita membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah menopause. Tapi ada juga wanita yang tidak mengalami gejala apapun.

 

Menopause terjadi karena ovarium wanita tidak lagi memiliki sel telur dan tidak lagi memproduksi estrogen. Salah satu tanda awal menopause adalah siklus menstruasi yang menjadi lebih pendek dari 28 hari menjadi 24 hingga 25 hari. Kemudian, siklus menjadi semakin jarang terjadi ketika wanita tidak berovulasi dan tidak memproduksi estrogen. Tertosteron masih tetap diproduksi di ovarium tapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

 

Gejala menopause yang paling umum adalah hot flush yang terjadi pada lebih dari 85% wanita. Hot flush paling sering  terjadi pada malam hari (berkeringat di malam hari). Gejala lainnya adalah kekeringan pada kulit, rambut, dan vagina, rasa sakit saat berhubungan seksual, sering buang air kecil, dan kehilangan libido. Gejala psikologis meliputi hilang ingatan, kecemasan, mood yang berubah-ubah, dan kurang energi. Keluhan umum lain bisa berupa sakit kepala, pusing, jantung berdebar, insomnia, dan nyeri otot.

 

Dua masalah besar yang berhubungan dengan menopause adalah osteoporosis (penipisan tulang) dan penyakit jantung. Kedua masalah ini bisa terjadi bertahun-tahun setelah permulaan menopause. Penipisan tulang terjadi lebih cepat setelah menopause karena berkurangnya estrogen. Diperkirakan 11% masalah penipisan tulang pada wanita usia 70 tahun disebabkan oleh menopause. Ciri umum osteoporosis adalah sakit pada punggung, tinggi badan berkurang, dan keretakan tulang. Keretakan umum terjadi pada tulang belakang, lengan atas, pinggang, pergelangan tangan, dan tulang rusuk. Pola makan rendah kalsium dan kurang olahraga bisa memperburuk osteoporosis yang terjadi saat menopause.

 

Selama masa reproduksi resiko penyakti jantung pada wanita lebih rendah dari pria. Tapi menopause meningkatkan resiko ini. Di Australia, untuk wanita usia lebih dari 55 tahun, pemicu penyebab kematian utamanya adalah panyakit jantung. Diperkirakan estrogen  memberi perlindungan terhadap penyakit jantung karena efeknya pada lemak darah.

 

Estrogen menyebabkan peningkatan HDL (lemak baik) dan berkurangnya LDL (lemak jahat). Kekurangan estrogen menyebabkan kebalikannya. Terapi penggantian hormon (Hormone replacement therapy / HRT) bisa digunakan untuk membalikkan gejala menopause juga untuk mencegah perkembangan osteoporosis dan penyakit jantung. Kebanyakan wanita menjalani terapi penggantian hormon untuk meredakan gejala ini dan terapi berhasil mengatasi masalah ini.

 

HRT juga mengurangi resiko osteoporosis dan keretakan pada pinggang serta tulang belakang 50 hingga 90 persen. Jumlah dosis estrogen yang cukup harus dikonsumsi sebagai pencegahan. Pola makan kaya kalsium dan olahraga juga menjadi wajib bagi wanita menopause. Asupan kalsium yang optimal pada wanita menopause adalah 1500mg/hari. Tiga jam olahraga dalam seminggu seperti berjalan kaki ideal dilakukan. Pengukuran  kepadatan tulang bisa dilakukan jika wanita tidak yakin untuk memulai terapi. Pada situasi ini, kepadatan tulang yang rendah menyebabkan terapi menjadi perlu. Jika kepadatan tulang normal, maka pengukuran bisa dilakukan dua tahun kemudian.

 

Terapi penggantian hormon dan terapi penggantian estrogen telah menunjukkan bisa mengurangi resiko serangan jantung dan stroke. Pengurangan resiko ini juga bagi wanita  dengan riwayat serangan jantung sebelumnya. Wanita dengan terapi penggantian hormon juga bisa mengalami tekanan darah yang lebih rendah jika mereka menderita tekanan darah tinggi. Pemeriksaan resiko penyakit jantung bisa dilakukan dengan mengukur kolesterol total dan tingkat HDL dan LDL.

 

Kekhawatiran utama yang para wanita ungkapkan berkaitan dengan HRT adalah jika resiko kanker payudara menjadi meningkat. Penelitian telah banyak menunjukkan tidak ada peningkatan resiko ini dan telah ditunjukkan bahwa jika wanita menderita kanker payudara ketika menjalani HRT, ia cenderung memiliki kondisi yang lebih baik karena tumor sering kali menjadi tidak berkembang. Wanita harus didorong untuk memeriksakan payudara setiap bulan dan mammogram harus dilakukan setiap 1 hingga 2 tahun.

 

Jenis terapi estrogen yang tersedia antara lain: tablet oral, krim dan tablet vagina, implan, dan koyo. Umumnya, kecuali untuk krim vagina, semua jenis pengobatan efektif untuk menyembuhkan gejala umum menopause dan melindungi dari osteoporosis dan penyakit jantung. Efek samping estrogen adalah payudara menjadi lunak dan peningkatan pada kotoran vagina. Keliru bila wanita mengira mereka akan mengalami penambahan berat badan karena HRT.

 

Terapi progesteron diberikan secara oral dalam bentuk tablet  dan bisa juga berupa koyo yang dikombinasikan dengan estrogen. Efek samping estrogen adalah payudara menjadi lunak dan gejala seperti pada pra-menstruasi. Terapi testosteron dilakukan dengan injeksi atau implan dan digunakan untuk meningkatkan libido. Penambahan testosteron khususnya penting bagi wanita yang ovariumnya diangkat. Efek samping testosteron adalah peningkatkan pertumbuhan bulu, kulit dan rambut berminyak, dan suara yang jadi mendalam dan tidak bisa dihilangkan.

 

Aturan terapi yang dipilih bergantung pada keberadaan uterus atau rahim. Jika tidak ada rahim, maka hanya terapi estrogen yang diberikan tiap hari. Jika uterus ada maka terapi estrogen perlu dilakukan selama setidaknya 12 hari setiap bulan. Kerugian potensial dari pengobatan ini adalah pendarahan bulanan yang teratur. Untuk mencegah hal ini, estrogen  dan progesteron bisa diberikan setiap hari. Setelah 6 hingga 12 bulan pengobatan kebanyakan wanita akan berhenti mengalami pendarahan sepenuhnya. Jika progesteron tidak bisa ditoleransi karena efek sampingnya maka bisa diberikan setiap 3 bulan selama 14 hari.

 

Berapa lama pengobatan harus berlanjut? Selama wanita ingin melanjutkannya. Gejala menopause seperti hot flush bisa berlangsung dalam waktu pendek. Jika HRT digunakan untuk tujuan ini maka pengobatan bisa dihentikan untuk melihat apakah gejala kembali terjadi. Tapi, efek perlindungan HRT pada tulang dan jantung berjangka waktu lama dan karenanya HRT harus dilanjutkan selama hidup jika digunakan untuk tujuan ini.
(Ismawati)